Culture gap: Bisa bikin sakit hati, bisa juga bikin malu

Di bab-bab awal, sempat disinggung bagaimana perbedaan budaya kerap kali bikin kita salah bersikap. Kasus menawarkan kursi di transportasi public kepada perempuan hamil, nyolot karena di puji seksi, GR karena mendaptkan ajakan keluar dari seorang teman yang hanya sekedar mencoba “nice”, dan tersinggung ketika seseorang memberikan penilian jujur atas penampilan kita yang memang jelek.
Kalau menghadapi kejadian itu nantinya, entah dialami sendiri atau orang lain, jangan buru-buru sakit hati dan menganggap mereka nggak tau diri! Untuk ukuran orang asing, apa lagi yang kita sebut Negara-negara Barat, itu biasa saja, loh! Nggak ada yang salah. Budaya mereka mengajarkan seperti itu kepada mereka. nggak perlu basa-basi dan nggak perlu sungkan. Di mata mereka, sikap kita—orang timur—yang sungkan dan basa-basi justru dinilai berlebihan dan nggak punya sikap.
Ini di alami teman saya. Ia diajak berkunjung ke rumah temannya yang penduduk asli Amerika. Sesampai disana, ibu sang teman menawarkan makanan. Jujur, saat itu dia lapar berat, tapi dasar bawaan orang Indonesia, dia sungkan untuk bilang mau. Apalagi, itu pertamanya ia bertamu ke sana. Akhirnya ia memilih sikap yang untuk ukuran orang Indonesia netral. Tersenyum sambil bilang, “Thanks”. Ibu temananya menatap ke arah teman saya dengan pandangan heran lalau bertanya kepada anaknya, “Does he Understand what I talk about? He wants or not?”
Bahasa Inggris teman saya nggak jelek. Bagus malah. Dia sangat mengerti pertanyaan yang di lontarkan si ibu. Kontan mukanya memerah. Untunglah, si teman yang asli Amerika bilang, “We’re hungry, Mom!” kalau nggak, teman saya bisa seharian menahan lapar. Dari sini, saya membuat catatan, bilang aja terus terang, mau apa nggak, lalu jangan lupa bilang terimakasih.
Achmad Adhitya, salah seorang kawan yang menuntut ilmu di Jerman sempat mengalami hal ini. budaya teman-teman yang suka terus terang membuat Adhit merasa kurang nyaman di awal. “saya biasanya agak malu kalau langsung berbicara terbuka sehingga banyak ucapan teman yang awalnya saya nilai sangat kasar. Namun, akhirnya setelah terbiasa, saya jadi paham bahwa ahal itu memang budaya mereka tanpa bermaksud menyakiti perasaan,” cerita Adhit.
Culture gap dalam hal positif malah di rasakan Jeffri Fernando. Jeffri yang menyelesaikan program undergraduate-nya di Australia ini malah terkagum-kagum dengan sistem birokrasi dan hukum yang berjalan baik di Negara itu. Sangat tertib, katanya. “kalau kena tilang atau harus ngurus surat apa, gue tinggal datang ketempat yang bersangkutan dan beres deh tanpa prosuder yang yang terbelit-belit. Gue nggak khawatir bakal dibikin repot atau diminta duit ngga jelas. Ngga ada yang namanya SUAP!”
Jeffri yang tinggal selama empat tahun di Australia mengamati bahwa kultur masyarakat Australia punya ritme yang khas. Cendrung santai. “bukannya mereka main-main melulu. Tapi mereka tau kapan saatnya kerja, kapan waktunya senang-senang,” jelas Jeffri. Di akhir minggu, biasanya mereka jalan-jalan sama keluarga, nonton football, makan di resto,dan semua aktivitas yang menyenangkan. “ beda sama di Indonesia, Jakarta khususnya. Ritmenya terasa cepat, dan kayanya semua orang tergesa-gesa mo nyari duit. Bahkan di sabtu-minggu pun, orang tetap kerja demi nyari rupiah.”
Atau katakanlah tentang budaya tidur siang. Di Indonesia, sedari kecil kita diajarkan tentang aktifitas tidur siang ini, sementara, Negara seperti Jerman dan Amerika nggak mengenal jam khusus untuk tidur siang.
Kehebohan pernah terjadi saat seorang kawan menggoreng ikan asin. Ceritanya, sehabis belanja di Asian Mart, dia pelajar Indonesia ingin menggoreng ikan asin yang baru saja dibeli. Saat menggoreng inilah hal konyol terjadi. Minyak yang terlalu panas menyebabkan ikan yang digoreng mengeluarkan asap yang berlebihan. Akibatnya, smoke detector yang ada di langit-langit trailer berbunyi.
Di trailer, dihuni oleh pelajar-pelajar lain yang berasal dari Negara berbeda. Otomatis, ketika smoke detector berbunyi, mereka mengira terjadi kebakaran dan berlari keluar kamar. Ternyata, meskipun berasal dari Eropa, sebagian besar dari mereka bingung, bagaimana cara menghentikan smoke detector. Mereka mukul-mukul alat itu dengan sepatu.
Hal konyol berkaitan dengan persoalan culture gap lainnya ketika berada di Jepang. Kejadiannya waktu itu di Narita International Airport, Tokyo. Ceritanya, pergi ke kamar kecil hendak mencuci muka dan gosok gigi. Saat itu, kondisi didalam kamar kecil sepi. Hanya ada saya dan seorang perempuan yang tampaknya berasal dari Timur Tengah. Kami berdua berdiri di depan wastafel, sama-sama mengamati kran air di hadapan kami. Saya bingung, bagaimana cara nya mengeluarkan air dari kran itu. Ia hanya menggidikkan bahu dan menggeleng sembari tersenyum. Saya tekan bagian atas kran, air tetap nggak mau keluar. Saya coba putar corong airnya, tetapi kemudian saya sadar, itu tindakan bodoh. Perempuan Timur Tengah hanya tersenyum melihat upaya saya. Pada titik saya sudah hamper menyerah, kemudian masuklah seorang gadis cilik. Ia berjalan menuju wastafel yang berada diantara saya dan perempuan Timur Tengah. Lalu, dengan tenangnya ia mengeluarkan kedua telapak tangannya ke bawah kran . Voila! Air pun mengucur! Ternyata, kran air itu bekerja dengan mendeteksi telapak tangan kita! Saya dan si Perempuan Timur Tengah hanya tersenyum-senyum sendiri menyadari kegagapan kami.
Sebenarnya, restroom atau kamar kecil punya banyak cerita tentang culture gap ini. karena persoalan dikamar kecil ini bisa beragam, saya selalu member catatan buat diri sendiri sebelum melakukan aktivitas apa pun di restroom: Amati terlebih dahulu cara kerja peralatan yang ada didalamnya. Bagaimana cara flush toilet dank ran air bekerja. Apakah toilet paper tersedia di dalam bilik atau di luar. Hal-hal kecil seperti ini penting agar kita nggak kebingungan sendiri di kamar kecil.
Di Negara-negara maju, umumnya toilet yang mereka sediakan adalah toilet kering. Hal ini mungkin nggak terlalu cocok dengan orang Indonesia yang biasanya menggunakan toilet basah. Kita merasa kurang bersih kalau hanya menggunakan tisu dan bukan air untuk membersihkan kemaluan kita. Seorang kawan saya yang sama-sama berasal dari Indonesia selalu membawa air dalam botol untuk persiapan ke toilet. Sangat merepotkan memang, dan sering mengundang tanda tanya teman-teman lain yang berasal dari Negara berbeda. Tapi, dia merasa lebih nyaman, kok! Saya? Saya sih memilih membawa tisu basah dari pada air dalam botol. Itu baru contoh-contoh kecil. Semua orang punya cara masing-masing untuk bertahan dan beradaptasi, kok! Termasuk kamu.
Ada hal yang ingin anda tanyakan ? Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .Email: info@konsultanpendidikan.com