Semakin banyak perguruan tinggi dan universitas yang menggunakan pipa bawah tanah untuk memanaskan dan mendinginkan gedung mereka tanpa membakar bahan bakar fosil.

Ketika para administrator di Universitas Princeton memutuskan untuk mengurangi emisi karbon yang berasal dari pemanasan dan pendinginan kampus mereka, mereka memilih metode yang semakin populer di kalangan perguruan tinggi dan universitas.
Mereka mulai mengebor lubang jauh ke dalam tanah.
Universitas ini menggunakan bumi di bawah kampusnya untuk menciptakan sistem baru yang akan menjaga suhu gedung tetap nyaman tanpa membakar bahan bakar fosil. Proyek bernilai jutaan dolar ini, menggunakan proses yang dikenal sebagai geoexchange, menandai perubahan signifikan dalam cara Princeton mendapatkan energinya, dan merupakan kunci dari rencana universitas untuk berhenti menambahkan gas rumah kaca ke atmosfer pada tahun 2046.
Pengeboran tersebut menghasilkan kekacauan yang sangat berlumpur, namun jika semuanya sudah dikatakan dan dilakukan, lebih dari 2.000 lubang bor yang direncanakan untuk kampus tersebut tidak akan terdeteksi, meskipun melakukan sulap yang mengesankan. Selama bulan-bulan panas, panas yang diambil dari gedung-gedung Princeton akan disimpan dalam pipa-pipa tebal jauh di bawah tanah hingga musim dingin, ketika panas akan ditarik kembali.
Perubahannya signifikan. Sejak didirikan pada tahun 1746, Princeton telah memanaskan bangunannya dengan membakar bahan bakar berbasis karbon, berupa kayu bakar, kemudian batu bara, kemudian bahan bakar minyak, dan kemudian gas alam.
“Momen ini sungguh luar biasa,” kata Ted Borer, direktur pembangkit energi di sekolah tersebut. “Ini adalah saat kita beralih ke sesuatu yang tidak memerlukan pembakaran.”
Sumber: nytimes.com
Email: info@konsultanpendidikan.com


