Universitas Teknik Munich di Jerman

sc16.supercomputing.jpg

Universitas Teknik Munich awalnya dikenal sebagai Royal Bavarian Polytechnic of Munich ketika didirikan pada tahun 1868.

Mengkhususkan diri dalam ilmu alam, beberapa penemu telah belajar di institusi tersebut, termasuk Carl von Linde, yang menemukan lemari es, dan Rudolf Diesel, yang menyusun mesin diesel.

Selain itu, 13 profesor atau alumni universitas telah menjadi peraih Nobel sejak 1927. Penerima terbaru termasuk Gerhard Ertl, mantan dosen di lembaga yang memenangkan Hadiah Nobel Kimia pada 2007, dan alumnus Wolfgang Ketterle, yang memenangkan Nobel Kimia. Hadiah Nobel Fisika pada tahun 2001. Pada tahun 2014, 165 penemuan dibuat oleh para ilmuwan di universitas, sementara pada tahun 2015, 69 paten diajukan.

Lembaga ini juga merupakan rumah bagi lima profesor Humboldt – akademisi yang diakui secara internasional di bidangnya – sementara 18 hadiah Leibniz diberikan kepada para ilmuwannya sejak 1987.

Universitas ini memiliki lebih dari 400 gedung di tiga kampus di negara bagian Bavaria: Munich, Garching, dan Weihenstephan. Lembaga ini tersebar ke 13 departemen, dan juga memiliki taman Olimpiade dan rumah sakit universitas.

Pada tahun 2002 dibuka kampus di Singapura yang disebut Institut Sains dan Teknologi Jerman – TUM Asia, termasuk gelar master dan program pelatihan untuk para profesional.

Pada tahun 2006 universitas meluncurkan strategi kelembagaan baru, memposisikan dirinya sebagai “Universitas Wirausaha”. Lebih dari 800 start-up telah dikembangkan oleh mahasiswa dan staf di institusi tersebut.

Wolfgang Hermann, yang menjadi presiden lembaga tersebut pada tahun 1995, adalah pemimpin terlama di universitas Jerman.

Sumber: timeshighereducation.com

Alamat Lengkap Kami

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Awalnya Ingin S2 di Luar Negeri malah Jadi Software Engineer Google

Chairuni Aulia Software Engineer Google Jerman

Sebagai salah satu perusahaan raksasa di dunia, tentunya tak mudah untuk diterima menjadi bagian dari Google. Namun, Chairuni Aulia Nusapati, atau yang akrab dipanggil Chai berhasil menembus perusahaan tersebut.
Chai kini merupakan seorang Software Engineer Google di Jerman. Ia saat ini tinggal di Munich.

Dirinya pindah ke Jerman sejak dua tahun yang lalu. Pada awalnya, Chai tidak benar-benar menjadikan Google sebagai tempat impiannya.

Chai mengaku bahwa pada mulanya ia sudah sempat bekerja di Indonesia dan justru ingin ke luar negeri untuk melanjutkan studi magister. Karena banyak senior di perusahaan sebelumnya yang kuliah S2 di luar negeri, ia pun tertarik.

Chai bercerita sudah sempat mendaftar ke beberapa universitas, salah satunya di New York University, Amerika Serikat. Kendati demikian, ia mengaku mendapati banyak halangan ketika proses mendaftar kuliah di luar negeri.

Chai mengatakan, setelah memikirkan hal tersebut, rupanya ia menemukan bahwa yang ia inginkan cenderung pada pengalaman untuk tinggal di luar negeri. Dirinya ingin tahu bagaimana cara pikir, cara bekerja, dan cara hidup penduduk di luar negeri, khususnya di negara maju.

Berawal dari sana, Chai mencari berbagai kesempatan melalui LinkedIn hingga akhirnya dihubungi oleh seorang perekrut dari Singapura.

Menurutnya, hal yang paling spesial dari menjadi karyawan Google adalah mengetahui bahwa perubahan-perubahan kecil yang ia lakukan dapat berpengaruh bagi milyaran orang. Ia mengaku merasa benar-benar menjadi bagian dari dunia.

“Karena penggunanya banyak sekali, tidak hanya mempengaruhi seribu orang atau 20 ribu orang. Tapi mempengaruhi milyaran orang,” sebut Chai.

Di samping itu, Chai menyatakan bahwa dirinya kini belajar memahami budaya dan kebiasaan lain. Sehingga ia lebih menghargai hidup.

Melalui pengalamannya bekerja di Google, Chai mengaku senang dapat melihat proses inovasi yang dipakai di dunia. Ia menyatakan bahwa pengalaman ini juga akan sangat menarik apabila kelak ia kembali ke Indonesia.

Meski sudah mencapai salah satu perusahaan termasif di dunia, Chai memaparkan bahwa Google bukanlah tujuan finalnya. Baginya, mimpi seharusnya dibuat secara bertingkat dan dicapai satu-persatu.

Ada tiga hal yang bagi Chai penting ketika berusaha mencapai sesuatu, yakni tetap bekerja keras, tidak hanya fokus pada satu kesempatan, dan tetap berbuat baik dalam prosesnya. Ia menjelaskan bahwa yang terakhir dikarenakan, ketika cita-cita sudah tercapai, pasti ada banyak dukungan dari orang lain serta supaya dampaknya juga kembali pada diri sendiri.

Software Engineer Google ini turut berpesan, “Saat mengejar mimpi, jangan seperti memakai ‘kacamata kuda’ sehingga terlalu fokus terhadap mimpi tersebut dan tidak melihat kesempatan-kesempatan lain yang sama baiknya.”

Sumber: detik.com

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami