
Mungkin Anda yang sedang mempertimbangkan jurusan kuliah mungkin bingung memilih antara minat dan masa depan. Banyak pakar menyarankan calon mahasiswa untuk selalu memilih bidang yang disukai agar lebih mudah saat menjalaninya. Namun tak sedikit pula yang menyarankan agar Anda juga memikirkan apakah jurusan itu menjanjikan di masa depan. Jika begitu, hasil riset berikut mungkin bisa jadi referensi.
Setelah lulus kuliah, mahasiswa tentu menginginkan ilmu yang telah dipelajarinya berguna dan menghasilkan banyak uang. Meski jurusan kuliah tak jadi standar kesuksesan, tapi tak dapat dipungkiri pula jika hal tersebut juga mempengaruhi. Pemilihan jurusan yang tepat bisa membuat Anda mendapat kerja lebih cepat dan berpenghasilan lebih besar.
Mengetahui hal tersebut, sebuah riset dilakukan Institure of Fiscal Studies dan BCC. Temuan dari penelitian tersebut pun cukup menarik. Terungkap bahwa orang-orang yang mengambil 10 jurusan kuliah berikut tergolong berpendapatan lebih rendah dalam lima tahun terakhir.
10. Ilmu sejarah dan filosofi
9. Ilmu sosial
8. Sains biologis
7. Ilmu gabungan
6. Pendidikan
5. Bahasa Inggris
4. Psikologi
3. Komunikasi (termasuk ilmu media, jurnalistik, dan publikasi)
2. Agrikultur
1. Seni kreatif dan desain
Meski begitu, sukses atau tidaknya seseorang memang tidak selalu bergantung dengan jurusan kuliah. Apalagi standar kesuksesan semua orang tidak melulu soal finansial. Banyak pula pekerja yang mengambil jalur karier yang bertolak belakang dengan jurusan kuliah pilihannya dan menjadi sukses di bidang tiu.
Nah, Jadi Jurusan kuliah yang diketahui menghasilkan pendapat lebih besar, seperti kedokteran atau hukum mungkin memang tampak lebih menjanjikan. Namun disarankan pula untuk kemampuan dan ketertarikan Anda dengan jurusan tersebut agar bisa lebih menjiwai dalam mempelajarinnya. Dengan kesungguhan, setiap orang pasti bisa tetap sukses apapun jurusan kuliahnya.
Email: info@konsultanpendidikan.com

“Kandidat tentu tahu ini tipe pertanyaan yang jawabannya bukan benar/salah. Pertanyaan ini juga bukan tentang seseorang yang benar-benar ingin ditemui para kandidat, tetapi mengenai masalah apa yang kandidat ingin cari tahu dari orang yang ingin diwawancarai tersebut. “Terkadang kami memberi keberanian pada para kandidat untuk berpikir melalui orang-orang yang mereka pilih untuk ditemui dan mencari informasi dari orang yang ingin ditemui tersebut (dan kami memberi sedikit waktu untuk mengubah isu yang mereka inginkan dan memikirkan ulang mengenai orang yang mereka akan temui),” ucap Stephen Tuck.
“Pertama-tama kandidat harus mendefinisikan arti kata “lebih mudah” – yang memiliki arti tidak sulit, tidak banyak energi, tidak banyak tingkatan, dan lain-lain? Selanjutnya kandidat akan berpikir mengenai masalah tentang hidup di laut, seperti tekanan tinggi, kurangnya cahaya, dan lain-lain. Selanjutnya adalah masalah hidup di darat, yang berarti harus membutuhkan tambahan lainnya seperti kaki, tangan, dan lain-lain. Setelah selesai, Aku akan bertanya lagi mengenai dimana dari kedua ekosistem tersebut dimana binatang dan tumbuhan bisa hidup secara sukses? Nah sekarang para kandidat harus mendefinisikan kata “sukses”.
“Pertanyaan ini akan memicu diskusi dari eror dan bias pernyataan manusia. Ketika kita mencari sebuah informasi lalu menggabungkan terlalu banyak informasi dengan informasi lainnya, terkadang kita terlalu percaya diri terhadap keputusan yang kita buat. Contohnya, informasi tentang siswa Oxford? Mengapa kita memilih itu? Bagaimana kita tahu informasi tersebut valid atau tidak? Apa sebenarnya validitas itu? Apa yang kita lakukan untuk memprediksi sesuatu (apa kriterianya?)? ketika mencari informasi yang kita inginkan dan menemukannya, bagaimana kita mengkombinasikannya? Dan seterusnya yang akan melatih psikologi seseorang dalam menjawab pertanyaan yang bersangkutan.