Setelah Sampai di Negara Tempat Sekolahmu, Welcome to International Life : Mengenal Culture Shock (Part 2)

Udah sampe di negara tujuan, apa aja sih yang harus di siapain? Nih part 1 nyaa.. sekarang mau ngebahas tentang culture shock yang bakal hadir di sela-sela kehidupan baru kamu hehe

Neutralize Your Culture Shock

cs

Sewaktu melakukan perjalanan ke luar negri buat belajar, awalnya kita pasti ngerasa semua menyenangkan setibanya di sana. Serasa kayak lagi liburan aja! Semuanya serba baru dan menarik. Persoalan kecil yang tiba-tiba muncul bisa kita abaikan. Nggak kita ambil pusing!

cs2Tapi, nggak berapa lama, kita tiba-tiba mengalami perasaan sedikit depresi. Well, stelah semua perasaan excited berada ditempat baru, kita mulai merindukan hal-hal kecil tentang Negara asal yang selama ini ternyata bikin kita ngerasa nyaman. Kita mulai kangen keluarga, teman, maknan favorit, bahkan becandaan garing seorang kawan! Kita juga kaget. Kita juga kaget mendapati kenyataan bahwa ternyata pelajaran di sekolah lebih sulit dari yang dibayangkan, frustasi dengan kemampuan bahasa padahal kita yakin banget kalau bahasa Inggris kita gak jelek-jelek amat, mendapati kenyataan ternyata nggak gampang mendapati teman yang langsung klop, atau terganggu dengan kebiasaan penduduk lokalnya. Hampir semua mahasiswa Internasional mengalami kesulitan mengadapi perbedaan yang begitu besar antara Negara asal dengan Negara studinya, mulai dari sikap, kepercayaan, budaya, hokum, agama, dan keyakinan, seni, nilai-nilai, konsep diri, organisasi keluarga, organisasi sosial, pemerintah, sampai kebiasaan.

Fase inilah yang disebut dengan culture shock. Apa sih culture shock itu? Culture shock adalah kondisi psikologis yang mengalami kekagetan karena harus menyesuaikan diri dengan sesuatu yang baru dan asing, termasuk budaya baru yang mungkin sangat berbeda dengan budaya dinegara asal. Kita kaget mendapati kenyataan baru di sekitar kita, bahwa apa yang biasanya kita anggap normal dan merupakan kebiasaan sehari-hari justru nggak bisa diterima dinegara tersebut. Kita juga belum bisa beradaptasi dengan kondisi sehari-hari yang kita hadapi selama tinggal disana. Misalnya, iklim, pemandangan disekitar, orang asing, dan kebiasaan mereka yang kita anggap aneh.

cs5Kemampuan bahasa kita pun nggak berfungsi sebaik yang kita harapkan. Kita tiba-tiba ngerasa nggak bisa mengekspresikan apa yang pengen kita omongin. Ngerasa kemampuan bahasa kita nggak meningkat cukup cepat dan khawatir mikirin gimana nanti pas belajar. Bisa ngertiin omongan dosen nggak? ngerasa nggak pede setiap kali kita ngomong, orang menyerengitkan dahi, bahkan kalau mereka ngomong ke kita, selalu dibubuhi dengan, “do you understand?” kita tiba-tiba ngerasa idiot, masak gitu aja nggak ngerti. Merasa sendirian. Kesepian. Frustasi.

Belum lagi ritme hidup yang jauh berbeda. Misalnya, di Amerika yang memiliki tempo hidup sangat cepat. Kita merasa kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan kecepatan mereka. kadang, kita merasa sudah sangat meksikmal berupaya, namun dianggap masih saja lambat.

Tanda-tanda terkena culture shock
  1. Outcast - Loner Rejected by Clique Group is SadMerasa terisolasi dan frustasi. Kamu menjadi gugup dan mudah capek. Lebih sering tidur, bahkan setelah kamu bebas dari jetlag.
  2. Kamu mengalami homesick. Normal kok kalau kangen rumah, keluarga, dan teman. Sayangnya, kamu nggak bisa menemukan cara lain untuk mengatasinya. Sepanjang hari, kerjaanmu menelpon kerumah, menulis surat, dan menangis.
  3. Kamu merasa nggak nyaman yang berkepanjangan. Kamu menganggap orang-orang disekitarmu nggak cukup ramah dan memahamimu. Persoalan kecil membuat kamu kecewa dan marah berlebihan.
  4. Kamu menjadi tergantung dengan pelajar yang berasal dari Negara sama. Hubungan dengan teman senegara memang penting sih, dan biasanya akan saling mendukung. Namun, yang terjadi, kamu justru nggak punya teman-teman internasional. Pergaulanmu terbatas. Kamu nggan berhubungan dengan pelajar lokal atau asing lainnya.
  5. cs6Kamu mulai ragu dengan keputusanmu untuk sekolah diluar negeri. Pikiran-pikiran nggak penting masuk ke otakmu. “kenapa si orang-orang disini berbicara dengan cepat?” , “aduh, bisa nggak ya ngikutin pelajaran nantinya di kampus?” hal ini bisa terus bergema diotakmu dan bisa bikin tensimu naik!
  6. Kamu ngerasa nggak bisa bicara dalam bahasa Inggris atau bahasa Negara tersebut. Kamu khawatir dan nggak pede dengan kemampuanmu dan takut mereka nggak ngerti apa yang kamu mau. Akhirnya, kamu menarik diri dari pergaulan.

Tinggi rendahnya culture shock yang dihadapi masing-masing orang berbeda. Begitu juga dengan cara dan alamanya waktu yang diperlukan untuk mengatasinya. Gama Harjono yang memilih belajar bahasa Italia yang langsung dinegara asalnya butuh waktu tiga bulan untuk bisa mengatasi persoalan bahasa tersebut.

cs1Cullture shock ada walaupun minim, persiapan dua tahun sebelum berangkat sekolah minimal kita rajin baca buku tentang ‘hidup di italia’ atau tempat tujuan sekolah, liat film-film, dan macam-macam. Namun, persiapan sudah diperhitungkan dengan matang, sesampainya disana, kita kadang masih dibuat terkaget-kaget dengan bagaimana orang Italia atau native speaker berbicara.

cs4“Sampe di sana, yang terasa ialah, orang Italia bicaranya cepat dan sulit dimengerti. Tapi, tiga bulan kemudian, saya nggak ada lagi masalah komunikasi. Kata Gama, seorang pelajar di Italia, dia memang termasuk tipe siswa yang tahan banting. Dengan semua kemampuan bahasa yang ia miliki—Inggris, Prancis, dan Italia—rasa waswas pun masih menyerangnya. “Saya berusaha mencari tempat tinggal sendiri. Saya menelpon land lord dan memaksa diri saya berbicara serta mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Awalnya, karena gugup, saya agak kesulitan menangkap maksud mereka. jangankan buat ngomong, buat mengangkat dan memutar nomor telpon saja rasanya gemeteran banget!”

Sementara Shinta, merasakan frustasi dan kesepian selama dua bulan pertamanya di London. “Saya sering menangis sendrian . yang paling berasa adalah soal bahasa. Saya kesulitan memahami percakapan mereka yang cepat. Kalau saya meminta mereka mengulangi, wajah orang-orang seperti terganggu!” Shinta sempat merasa orang-orang Inggris yang tinggal di London nggak ramah, jahat, dan mengerikan karena nggak mau memahami kesulutian dalam berbahasa yang dihadapinya.

Nggak berbeda jauh dengan Gama dan Shinta, sebulan pertama ketika berada di AS, Rahma merasa betul-betul kikuk dan waswas. Rahma merasa bahasa Inggris dilontarkanoleh penduduk asli terdengar seperti dengungan tawon yang nggak saya bisa terjemahkan. Setiap kali seseorang berbicara dengannya, Rahma berusaha berkosentrasi penuh, khawatir nggak bisa menangkap maksud ucapannya. Rahma jadi tegang. Sialnya, semakin Rahma memaksakan diri berkosentrasi, semakin suara orang berbicara terdengar seperti dengungan.

cs7Waktu itu, pada suatu malam, Rahma meringkuk di kasur dan menangis. Rahma frustasi karena kemampuan bahasanya seolah nggak mengalami peningkatan. Rahma merasa nggak ada kendala dengan kebiasaan orang-orang disekitar, nggak bermasalah dengan makanan, bahkan sudah mengenal kota dengan baik hanya dengan beberapa hari di awal kedatangannya. Dalam seminggu Rahma sudah bisa mengetahui sistem perbankan dikota itu. Persoalannya hanya pada bahasa. Ternyata, bahasa Inggris penduduk asli yang memiliki aksen dan kecepatan berbicara yan berbeda dengan kelas bahasa Rahma di Indonesia menjadi kendala.

Ketika terkena culture shock, umumnya pikiran negatif gampang banget menyerang kita. Rasa takut dan waswas yang berlebihan membuat kita nggak bisa berpikir jernih. Kita suka membandingkan antara budaya kita dengan budaya Negara asing. Kita lebih fokus melihat apa yang menjadi kelemahan atau kekurangan budaya asing tersebut.  Hal ini justru membawa kita pada perasaan frustasi berlebihan dari pada ‘kangen’ rumah. Kita jadi menarik diri lalu memaksakan kondisi agar sama dengan di rumah. Indikasinya, kita mulai enggan berbaur dan hanya bersosialisasi dengan teman-teman sebangsa. Kita menjadi tertutup dan nggak mau menerima budaya baru.

Ada hal yang ingin anda tanyakan ?  Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami

Culture Shock? Hmm… Gak Usah Takut Lagi, Yuk Temukan Tips Menanganinya Di Sini!

culture shock Tinggal di luar negeri mungkin terdengar sangat menyenangkan bagi teman-teman. Gimana enggak, kita bisa lihat berbagai hal yang sama sekali beda dengan Indonesia. Dari orang-orangya yang tinggi-tinggi sampai pemandangan dan budayanya. Namun, seringkali teman-teman akan mengalami culture shock ketika tinggal di suatu negara asing dalam waktu lama. Ini mungkin juga akan terjadi ketika teman-teman kuliah di luar negeri. Tapi sebenarnya, apa sih yang dimaksud culture shock itu? Bagi teman-teman yang belum mengerti culture shock adalah perasaan bingung, resah, galau, tidak aman karena kondisi lingkungan yang baru karena belum terbiasa. Perasaan ini wajar kok buat teman-teman yang baru pertama tinggal di luar negeri. Tapi, teman-teman ngga perlu khawatir karena culture shock bisa diatasi kok. Nah, berikut ini adalah langkah-langkah jitu untuk mengatasi culture shock. Pertama, bro and sist mesti berpikiran terbuka. Pemikiran terbuka itu mesti gimana sih? Kita tau kan kalo di luar negeri semua hal pasti berbeda, maka teman-teman ngga boleh yang namanya negative thinking. Ngga perlu melihat segala sesuatu yang beda dengan kita sebagai sesuatu hal yang salah. Dengan berpikir seperti ini, teman-teman akan bisa menjadi seseorang yang obyektiv dan memahami sesuatu hal yang baru sebagai bahan pemahaman budaya setempat. Jadi, nanti kalau teman-teman dapat beasiswa dan berkesempatan belajar ke luar negeri, cara paling mudah mengantisipasi culture shock adalah mencari informasi mengenai negara itu. Misal teman-teman punya saudara atau sahabat di luar negeri, hubungi mereka dan pelajari tentang budanyanya, kepercayaan ataupun kehidupan sehari-harinya. Atau kalau ngga punya ya browsing bisa kok. Sekarang kan semua udah tersedia di internet, jadi lebih gampang kan? Berpikiran terbuka di tempat yang sama sekali asing itu sangat berguna lho, karena siapa tau teman-teman bisa menemukan hal-hal baru yang ngga pernah diketahui sebelumnya. Jadi intinya, belajar itu penting bro. Cara mengatasi culture shock yang kedua juga ngga kalah pentingnya. Belajar bahasa lokal akan sangat membantu karena dengan cara ini teman-teman bisa meningkatkan kemampuan berkomunikasi sehingga teman-teman bisa menyatu, atau memadu dengan kebudayaan setempat. Jadi, misalnya teman-teman akan belajar di Jepang atau Italia, belajar deh bahasa Jepang dan Italia. Selain berguna untuk dalam dunia perkuliahan nanti, ini juga akan membantu mengatasi culture shock. Selain itu, belajar bahasa lokal itu menunjukkan kalau teman-teman tertarik tinggal dan belajar di negara tersebut. Nah,setiba di negara asing itu, teman-teman mesti mulai berkenalan dengan kondisi sosial tempat teman-teman tinggal. Dari informasi yang didapat lewat teman atau internet, coba deh diterapkan di kehidupan nyata, di negara teman-teman tinggal. Ngga perlu menganggap atau menafsirkan segala tindakan dari sudut pandang budaya asal karena tindakan itu bukan data. Misalnya saja orang Amerika sering menggunakan kalimat “How are you?”/”Gimana kabarnya?” hanya untuk mengungkapkan kalimat “Hello!”/”Halo!” Kebanyakan orang Amerika tidak menanggapi pertanyaan ini secara detail. Bahkan mereka cuma say hello dan kemudian pergi seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Kalau teman-teman menjumpai hal seperti ini ketika di luar negeri, ngga perlu kaget atau heran. Hal seperti ini udah biasa kok di Amerika sana, dan ngga dianggap ngga peduli, dibuat-buat ataupun ngga sopan. Orang Amerika memang seperti itu dan mereka ngga perlu merespon pertanyaan semacam ini secara serius. Hal-hal baru memang banyak sekali akan ditemukan ketika teman-teman tinggal di luar negeri. Semisal teman-teman sudah memahami suatu hal tentang protokol, adat ataupun kebiasaan, teman-teman perlu berhati-hati karean informasi yang didapat belum tentu bisa memahami konteks secara keseluruhan. Sudah pernah dengar Geert Hofstede, seorang ahli Psikologi belum? Kaitannya dengan budaya, dia mengatakan bahwa budaya itu semacam kesatuan yang bisa dikupas lapisan demi lapisan untuk mengungkap isinya. Untuk memahami budaya setempat secara keseluruhan, akan memerlukan waktu lama. So, teman-teman mesti terus belajar dan bersosialisasi supaya kebudayaan tersebut bisa sedikit demi sedikit dipahami. Ngga susah kok, asal teman-teman mau keluar dan bersosialisasi, culture shock akan segera teratasi. Cara jitu selanjutnya untuk mengatasi culture shock adalah dengan mengenal dan mengetahi orang-orang yang ada di lingkungan baru. Teman-teman mungkin perlu bertanya, membaca koran ataupun menghadiri berbagai macam acara dan festival yang diadakan di lingkungan sekitar. Di negara-negara maju seperti Eropa atau Amerika, acara sosial sangat banyak dan bervariasi. Tinggal teman-teman pinter-pinter membagi waktu untuk mengenal lebih jauh tentang lingkungan sekitar tempat teman-teman tinggal. Selain itu, teman-teman perlu menyusun sebuah rutinitas kegiatan sehingga teman-teman akan merasa aman dan damai seolah-olah berada di negara sendiri. Kedengarannya susah ya? Ngga kok, mudah dan kalau teman-teman berada di situasi yang sulit karena ngga bisa memahami budaya mereka, tertawalah. Jadi, teman-teman mesti punya selera humor yang tinggi. Tertawalah pada diri sendiri, maka yang lain juga akan ikut tertawa. Beberapa orang akan mengagumi keinginan teman-teman yang mau mempelajari cara mereka. Sekedar tips aja buat teman-teman, mengatasi culture shock memang memakan waktu, so teman-teman mesti sabar ya dan jangan mengisolasi diri sendiri. Selalu berhubungan dengan teman dekat atau keluarga di tanah air akan seangat membantu, tapi jangan keseringan ya, nanti malah jadi homesick yang berkepanjangan. Eh.. ada tips menarik nih untuk menanggulangi culture shock versi mahasiswa Korea yang tinggal di Amerika. Mau tau? yuk intip videonya
Ada hal yang ingin anda tanyakan ?  Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami