
Memilih untuk bepergian dengan kereta api daripada pesawat telah menjadi pilihan populer bagi banyak pelajar dan mahasiswa, tetapi hanya sedikit yang berpikir keras tentang dampak lingkungan dari komputer yang mereka gunakan.
Hal ini mungkin akan segera berubah di salah satu universitas di Inggris, setidaknya di mana para mahasiswa ilmu komputasi akan secara rutin diajari dan dinilai mengenai implikasi keberlanjutan dari bidang studi yang mereka pilih.
Keputusan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Glasgow untuk mengintegrasikan isu-isu lingkungan ke dalam kurikulumnya – yang diyakini sebagai yang pertama untuk universitas di Inggris – muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran akan banyaknya energi yang digunakan oleh industri, khususnya oleh superkomputer yang menjadi sumber tenaga bagi alat kecerdasan buatan.
Diperkirakan, misalnya, setiap kueri ChatGPT mengkonsumsi 4,3 g CO2, dengan 16 kueri setara dengan merebus ketel, dan 139 kueri setara dengan menjalankan mesin cuci pada siklus panas.
Sekitar 70 persen dari emisi karbon sektor komputasi berasal dari pusat data yang menggerakkan algoritme tersebut, dan seperempatnya lagi terkait dengan produksi perangkat keras komputasi – dengan kesulitan mendaur ulang komputer yang semakin kompleks juga akan dibahas di kelas.
“Komputasi telah mengubah masyarakat selama hidup saya, memungkinkan kemajuan besar di bidang sains dan kedokteran, serta memberi kita cara-cara baru untuk berkomunikasi, berkolaborasi, dan berbagi ide secara instan,” ujar Wim Vanderbauwhede, kepala kelompok komputasi rendah karbon dan berkelanjutan di sekolah tersebut, yang telah memimpin perubahan kurikulum bersama dengan koleganya, Lauritz Thamsen.
“Namun, banyak keuntungan yang kita nikmati saat ini sebagai hasil dari kontribusi besar terhadap emisi karbon yang menyebabkan krisis iklim. Kompleksitas sirkuit terpadu yang terus meningkat, dan berkurangnya kemampuan untuk diperbaiki demi keusangan yang terencana, telah melampaui kemampuan kita untuk menggunakan setiap generasi komputer dengan cara yang paling hemat energi.
“Memikirkan kembali pendekatan kami terhadap pendidikan adalah salah satu cara untuk membantu memastikan bahwa generasi ilmuwan komputasi berikutnya, yang akan semakin terdampak oleh dampak krisis iklim, dapat dilengkapi dengan alat untuk membantu mereka mengatasinya.”
Sumber: timeshighereducation.com
Email: info@konsultanpendidikan.com



Jika kamu sekarang sudah di tahun tearkhir SMA atau sedang menempuh program diloma dan ingin kuliah di universitas luar negeri dalam bidang seni dan desain, maka kamu harus mulai menyiapkan yang namanya portofoliomu.
Dan inilah yang perlu kamu perhatikan dengan baik agar portofolio yang kamu buat bisa membantumu untuk masuk universitas luar negeri favoritmu.
Setelah kamu memutuskan jurusan dan institusi apa yang ingin kamu pelajari, langkah selanjutnya adalah memikirkan bagaimana caranya menampilkan karya yang akan kamu serahkan. Tujuan portofolio adalah agar calon tutormu melihat sekilas tentang ide, konsep, cara kerja serta potensi yang kamu miliki.
Portofolio adalah suatu cara yang bisa digunakan untuk melihat karyamu dimana dengan portofolio ini kamu bisa menunjukkan kemampuan dan gayamu sendiri.
Berdasar universitas yang kamu pilih di luar negeri nantinya, portofolio biasanya dikirimkan sebelum interview atau kamu bawa saat interview. Selain itu, portofolio yang kamu buat juga harus mampu mempresentasikan ide dan skill-mu sendiri tanpa kamu mempresentasikannya secara verbal. Ini karena seringkali kamu mungkin tak akan bisa mempresentasikannya secara penuh saat interview.
Seorang lulusan seni dari Westminter University bernama ED Jpjm, mengatakan bahwa para tutor sama sekali tak memberimu kesempatan untuk berdiri dan menjelaskan apa sebenarnya dalam portofolio milikmu.
Karena itu portofolio yang kamu buat harus jelas, dengan atau tanpa penjelasan, referensi atau klarifikasi. Anotasi, dalam buku sketsa atau yang dilampirkan dalam karya yang kamu serahkan, harus menjelaskan dengan gamblang mengenai media, skala (jika portofolio merupakan kopian atau foto), tanggal pembuatan dan berbagai macam catatan lainnya.
Sebagai contoh, jika kamu memasukkan gambar manual dengan tangan kiri, maka pastikan ada penjelasannya dalam portofoliomu. Dengan begini calon tutor akan memahami karyamu dan kemampuan yang kamu miliki dengan lebih baik.
Selanjutnya sebelum menentukan karya apa yang ingin kamu buat sebagai portofolio seni, lebih baik kamu cek dengan teliti setiap persayaratan untuk masing-masing jurusan. Hal ini biasanya bisa kamu temukan pada situs resmi universitas. Dan jika masih ada yang kurang jelas, kamu bisa menanyakan via telepon atau email agar kamu mendapat informasi yang lebih jelas.
Pertanyaan yang diajukan saat penjurusan kadang bisa sangat banyak dan detail, tapi saat mendapat pertanyaan balik, pihak penjurusan akan menjawa seefisien mungkin. Tanya lebih jelas mengenai ukuran, media dan jumlah sekaligus kapan deadline-nya.
Jumlah karya bervariasi. Rata-rata sebuah portofolio seni terdiri dari 20 lembar, dengan kertas ukuran A3 sebagai ukuran yang paling sering digunakan. Akan tetapi tak berarti bahwa hasil kerjamu harus dibuat dalam satu ukuran. Hasil karya yang berukuran lebih kecil bisa dilekatkan dan hasil karya yang lebih besar bisa dalam bentuk foto atau print-out. Tentu saja pihak universitas tak akan suka jika kamu mengirimkan sebuah lukisan cat minyak berukuran 4 x 8 kaki ke kantor penerimaan mahasiswa baru.
Saat kamu menyerahkan portofolio seni ke universitas, bersiaplah bahwa portofoliomu tidak akan dikembalikan. Di webssite universitas-universitas seni, biasanya dicantumkan dengan jelas jika kamu mengirimkan portofolio seni via pos, maka sebaiknya kamu tak menyertakan aslinya. Ini karena pihak universitas menerima sangat banyak portofolio seni dan karenanya mereka tak menjamin bisa mengembalikan lagi padamu.
Karya yang paling baru seringkali dianggap sebagai poin yang paling penting karena dari situ para tutor bisa melihat ide, kemampuan, metode dan minatmu. Meski begitu, karya yang kamu sertakan dalam portofolio seni tak harus diurutkan secara kronologis. Yang paling bagus adalah menaruh karya terbaikmu di halaman awal portofolio.
Meminta saran dari guru atau tutormu yang masih mengajarmu juga penting. Mereka baisanya lebih tahu kelebihanmu dan selain itu mereka bisa jadi memberikan perspektif yang berbeda yang bisa membuat peluangmu diterima jadi lebih besar. Tentu saja, pada akhirnya semua akan kembali pada dirimu sendiri karena portofolio itu adalah milikmu dan harus mencerminkan dirimu secara jujur.
Jurusan fashion di universitas sangatlah kompetitif, jadi apa yang perlu kamu lakukan agar personal statement alias essay yang kamu buat bisa tampak menonjol? Kuncinya tentu saja harus asli, berunsur bisnis dan jangan meniru!
“Fashion is not simply a matter of clothes; fashion is in the air, born upon the wind; one intuits it.” Ini adalah ucapan Coco Chanel—dan ini bukanlah cara yang boleh kamu gunakan untuk mengawali sebuah personal statement kalau kamu mau masuk jurusan fashion.
Ketika kamu mau kuliah di luar negeri dengan mengambil program studi pada bidang fashion, personal statement tidak akan dibaca jika portofolio yang kamu lampirkan tidak cukup menarik. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Willie Walters yang merupakan ketua jurusan fashion di Central St Martins. Ia tak akan mau repot membaca personal statement calon mahasiswa jika portofolionya tak tampak menarik.
Walter menyarankan para calon mahasiswa untuk membuat portofolio sejelas mungkin, menyertakan karya penelitian dan buku sketsa juga foto-foto dari karya desain. Hal ini karena yang dicari adalah originalitas dan sesuatu yang benar-benar baru.
Sementara itu, menurut Josephine Collins, seorang pengajar Fashion Journalism di London College of Fashion, mengatakan dirimu punya “passion for fashion” saat menulis sebuah pernyataan, adalah jelas sebuah kesalahan karena hal itu sudha biasa dilakukan oleh banyak orang. Umumnya, bagian penerimaan mahasiswa bahkan akan berjengit kalau lagi-lagi mereka harus membaca ucapan yang sama yang seolah sudah menjadi ikon jurusan fashion itu.

Selanjutnya, akurasi dan alur yang yang baik adalah hal-hal yang dianjurkan oleh banyak tutor jika kamu ingin membuat sebuah personal statement yang baik, tapi kamu tetap harus ingat untuk fokus pada apa yang benar-benar kamu ingin pelajari dalam jurusan fashion yang kamu ambil.
Ada banyak mata kuliah seperti fashion marketing, misalnya, tapi isi dari mata kuliah sangatlah luas dan bervariasi. Memahami jurusan yang kamu ambil dengan baik akan membantumu untuk membuat personal statement yang lebih baik.
Sementara itu, untuk program studi fashion dimana sebuah portofolio berporsi lebih besar daripada personal statement, kamu tetap saja perlu mengekspresikan dirimu dalam pernyataan yang baik.
Para tutor mengatakan bahwa individualitas dan karakter kuat adalah hal yang paling penting untuk disampaikan dalam personal statement. Tapi, jangan merekayasa sesuatu hanya untuk mengesankan tutor. Kamu cukup jujur, alami dan jadi dirimu sendiri.
Sekali lagi, intinya, dalam membuat personal statement kamu tak perlu mengutip Coco Chanel.