Jutaan siswa memperoleh ijazah sekolah menengah mereka bulan ini. Dan saat topi dan gaun dikemas, generasi lain akan mulai melihat ke arah karir mereka. Sebagian besar akan menghabiskan waktu di pendidikan setelah sekolah menengah, tetapi sebagian besar tidak akan melanjutkan gelar empat tahun. Begitu pun pada perayaan kali ini, banyak lulusan yang khawatir. Mereka mendengar teknologi membunuh pekerjaan. Bahkan jika Anda dapat menemukan pekerjaan hari ini, siapa yang tahu apakah itu akan ada untuk karir jangka panjang?

Bagaimana jika para lulusan ini mengetahui bahwa seperempat dari semua pekerjaan yang mereka kenal sekarang akan hilang dalam masa hidup mereka?
Di satu sisi, ini bisa menjadi bencana besar bagi jutaan pekerja yang terlantar. Bagaimana kita mengatasinya?
Di sisi lain, hal itu sudah terjadi — hampir seabad yang lalu. Dan kami berhasil mengatasinya. Faktanya, kami berkembang pesat.
Ancaman historis terbesar bagi pekerjaan Amerika bukanlah kecerdasan buatan — melainkan traktor.
Dari tahun 1910 hingga 1960, industri pertanian berubah dari sepertiga dari semua pekerjaan AS menjadi hanya 8%, menggeser seperempat angkatan kerja keluar dari pertanian selama satu masa kerja. Saat itu, itu berarti 9,7 juta pekerjaan pertanian hilang; hari ini berarti sekitar 40 juta. Itu setara dengan semua pekerjaan di industri ritel, transportasi, manufaktur, dan jasa keuangan yang digantikan oleh industri baru. Kedengarannya sulit dipercaya, bahkan tidak dapat diatasi. Tapi itu terjadi, dan kami mengatasinya.
Transformasi ini bisa menyebabkan bencana ekonomi, tetapi sebaliknya, respons kolektif bangsa membuka jalan menuju kelas menengah terkuat yang pernah dikenal dunia. Alih-alih membiarkan generasi yang terlantar gagal, Gerakan Sekolah Menengah Amerika lahir.
Email: info@konsultanpendidikan.com

Ingin memiliki pengalaman global?
Penasaran ingin berkeliling dunia?
Tapi tetap ingin meraih prestasi akademik yang cemerlang?
Di Syracuse University, Kamu bisa dapat keduanya: prestasi akademis dan pengalaman global. Ya, meskipun kampus utamanya terletak di pusat kota New York, Amerika Serikat, namun Syracuse University juga memiliki banyak sekali kampus tambahan baik itu di kota-kota lain di Amerika Serikat seperti Washington DC dan Los Angeles, maupun di kota-kota yangterletak di negara selain Amerika Serikat, seperti Beijing di Tiongkok, Florence di Italia, Istanbul di Turki, London di Inggris, Madrid di Spanyol, Santiago di Cili, Strasbourg di Perancis, dan Wroclaw di Polandia.
Yang menarik, di negara manapun Kamu mendaftar, kurikulum yang diterapkan di semua kampus tersebut tetaplah sama, yaitu kurikulum yang mengacu pada kampus pusat di New York, Amerika Serikat.
Mengenai biaya perkuliahan, pihak universitas menetapkan harga yang berbeda-beda sesuai dengan program studi dan lokasi kampus yang kamu pilih.Dengan kata lain, biaya yang harus kamu keluarkan jika kamu memutuskan untuk berkuliah di Tiongkok tidak akan sama dengan biaya yang harus kamu penuhi jika kamu memilih kampus Madrid.
Jika kamu tertarik untuk mendaftar menjadi salah satu mahasiswa di Syracuse University, maka kamu harus memenuhi beberapa persyaratan yang dibuat oleh pihak universitas.Persayaratan itu sendiri berlaku baik itu bagi para mahasiswa lokal maupun internasional, seperti para calon mahasiswa yang berasal dari Indonesia.
Beberapa diantara syarat-syarat tersebut adalah: memiliki IPK minimal 2.5 dari skala 4.0 (minimum 3.0 untuk beberapa program) dan memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang baik (dibuktikan dengan sertifikasi kemampuan Bahasa Inggris).
Namun, meskipun kamu telah memenuhi semua persyaratan tersebut, belum tentu Kamu akan secara otomatis diterima sebagai mahasiswa di sana. Diterima atau tidaknya seorang mahasiswa akan ditentukan setelah pihak universitas mereview proposal Kamu secara keseluruhan dan membandingkannya dengan para pelamar yang lain.
Ada hal yang ingin anda tanyakan ? Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .
Mungkin beberapa dari kita ada yang mencari program kuliah 2 tahun sebelum akhirnya melanjutkan kuliah ke tingkat sarjana.
Bagaimana caranya kita dapat mengukur kepopuleran program MBA? Apakah kita harus melihat hal-hal didepan seperti banyaknya mahasiswa yang mendaftar?
Apakah kita perlu melihat nilai Graduate Management Admission Test atau Grade Point Average yang mereka dapatkan di tingkat sarjana?
Haruskah kita melihat hal-hal di kemudian hari seperti tingkat gaji mula-mula, tingkat penerimaan pegawai, dan pilihan pekerjaan yang tersedia? Belum lagi cara lain dengan menanyakan pendapat langsung pada para mahasiswa.
Tentu saja semua cara tersebut bisa dan benar untuk dilakukan. Namun jika kita mengevaluasi sekolah bisnis maka kebanyakan pendaftar akan menanyakan satu pertanyaan serupa yaitu apakah MBA akan dapat membantu mereka mendapatkan pekerjaan setelah 2 tahun belajar.
Dalam tingkat pemikiran manusia pada umumnya, perusahaan menerima orang-orang yang berasal dari sekolah yang juga membawa kesuksesan pada mereka.
Menurut survey ‘2014 Global MBA Rankings’ yang dilakukan oleh Financial Times, beberapa lulusan terlihat lebih menarik dibandingkan dengan lulusan yang lain.
Mereka memberikan pertanyaan pada para alumni untuk memberikan rekomendasi sekolah mana yang lulusannya akan mereka terima bekerja. Pertanyaan ini memiliki bobot 2 persen dalam penentuan peringkat sekolah mereka.
Pada survey yang mengukur kepopularan nama sekolah dan hasil akhirnya. Sekali lagi Harvard Business School muncul pada peringkat nomor 1 pada survey yang dikerjakan oleh para alumni, hasil ini sama seperti tahun sebelumnya. Hasil yang sama juga didapatkan pada survey yang dilakukan oleh U.S. News & World Report.
Namun pada survey yang dilakukan oleh Financial Times untuk mengukur keberhasilan dan prestasi hasil yang didapatkan sangat mengejutkan karena Harvard Business School jatuh ke posisi 50. Hal ini mengindikasikan bahwa para alumni Harvard merasa bahwa pendidikan yang mereka dapatkan tidak membantu mereka.
Babson College yang berada pada peringkat 95 pada survey menyeluruh Financial Times secara mengejutkan berada pada peringkat 30 di survey yang dikerjakan oleh para alumni. Universitas ini juga berada di peringkat 20 besar pada survey proses karir yang ditempuh alumni.
Beberapa universitas yang berada di posisi yang lebih tinggi pada survey yang dikerjakan oleh para alumni jika dibandingkan dengan posisi yang didapatkan pada survey menyeluruh Financial Times antara lain Western University/Ivey di Canada, Indian Institute of Management Bangalore di India, Brigham Young University, McGill University di Canada, Boston College, George Washington University, Arizona State University, dan Boston University.
Dan sebaliknya Cambridge Judge Business School di Inggris berada diantara sekolah yang hasil survey keseluruhannya melebihi hasil survey yang dikerjakan oleh para alumni. Universitas ini berada pada peringkat 16 pada survey keseluruhan sedangkan pada survey yang dikerjakan oleh para alumni ia berada di peringkat 47 selama 2 tahun berturut-turut. Selain itu ia juga berada pada peringkat 10 besar untuk survey hasil akhir, survey perjalanan karir, dan survey nilai uang yang dikeluarkan.