Delft University of Technology di Belanda

scontent.fcgk18-2.fna.fbcdn.net.jpg

Universitas Teknologi Delft (TU Delft) berdiri sejak tahun 1842 ketika Raja Willem II dari Belanda mendirikan Akademi Kerajaan untuk melatih para insinyur dan pegawai negeri. Institusi ini diberikan status universitas pada tahun 1986 dan sekarang menjadi universitas teknologi tertua dan terbesar di Belanda.

Rumah bagi sekitar 16.000 mahasiswa, dengan komunitas mahasiswa internasional yang besar, universitas ini memiliki delapan fakultas dan menawarkan 14 program sarjana dan lebih dari 30 program pascasarjana dalam desain, teknik, dan sains. Sementara semua gelar Master diajarkan dalam bahasa Inggris, sebagian besar program tingkat sarjana diajarkan dalam bahasa Belanda.

TU Delft bangga menjadi institusi kreatif berwawasan ke depan dengan pandangan internasional, di mana pemecahan masalah melalui kerja tim ditekankan.

Menawarkan kemitraan strategis dengan industri, pemerintah, asosiasi perdagangan, dan banyak universitas di Belanda dan di seluruh dunia, pengajaran di TU Delft difokuskan untuk memberikan pelatihan teknologi, keterampilan analitis, dan pemikiran kritis kepada para siswa di fasilitas kelas dunia.

Program gelar universitas memungkinkan siswa untuk melakukan magang dan proyek penelitian yang dirancang untuk memberi mereka awal yang baik di pasar kerja lulusan, dengan mahasiswa universitas yang bertanggung jawab untuk mengembangkan proyek seperti mobil bertenaga energi surya, robot terbang yang menyerupai capung dan sandal dari ban mobil daur ulang.

Universitas menawarkan lebih dari 140 outlet olahraga dan kreatif melalui Pusat Olahraga dan Budaya, dan memiliki asosiasi studi untuk setiap program gelar di mana siswa dapat berpartisipasi dalam perjalanan studi dan kegiatan.

Jaringan alumni TU Delft memiliki lebih dari 50.000 anggota di seluruh dunia dan universitas mengklaim asosiasi dengan tiga Peraih Nobel: Jacobus Henricus van ‘t Hoff untuk kimia, dan Heike Kamerlingh Onnes dan Simon van der Meer untuk fisika.

Terletak di antara Rotterdam dan Den Haag, Delft sendiri adalah kota pelajar, dikelilingi oleh kanal. Pusat bersejarahnya berasal dari abad pertengahan dan pernah menjadi pusat Royal House of Orange.

Sumber: timeshighereducation.com

Alamat Lengkap Kami

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Jadi Pengantar Makanan Sambil Kuliah di Belanda

nusantaratv.jpg

Bisa merasakan kuliah di luar negeri merupakan impian bagi banyak orang. Tak jarang banyak orang akan memanfaatkan waktunya sebaik mungkin ketika memiliki kesempatan itu. Mulai dari menambah pengalaman kerja di sana hingga menempuh dua program studi sekaligus.

Hal itu juga dilakukan oleh mahasiswa Indonesia yang belum lama ini viral karena postingannya di media sosial TikTok. Mahasiswa yang dimaksud adalah Baginda Mufti yang sedang menempuh pendidikan di University of Groningen, Belanda.

Mufti tak hanya fokus belajar akademik tapi mampu mengelola waktunya dengan sangat baik. Hal itu ia tunjukkan di akun TikToknya saat bekerja sebagai pengantar makanan.

Dalam unggahannya ia menceritakan pekerjaannya di salah satu restoran cepat saji untuk mengantarkan makanan dengan mengandalkan tas dan sepeda listrik. Mufti mengaku bahwa ia berani mengambil pekerjaan paruh waktu sebagai pengantar makanan karena waktunya yang tidak terikat. “Tempat kerjaku pake aplikasi, disitu aku bisa masukin kapan waktu kosongku sesuai sama jadwal kuliah/organisasi setiap bulannya,” ungkapnya.

Dalam dua bulan terakhir, Mufti mengatakan bahwa dirinya mengambil waktu pekerjaan sebanyak 2 kali seminggu. Selama satu hari, ia hanya bekerja selama empat jam dan mendapatkan upah sebesar Rp. 800 ribu (per hari). Jika dihitung dalam satu bulan maka Mufti bisa mendapatkan gaji sebesar Rp 6-7 juta per bulan.

Dalam video yang sudah ditonton lebih dari 290 ribu orang (per 24 November 2021), Mufti juga menceritakan bahwa pekerjaannya tak hanya mengantar makanan, tapi juga mencuci piring di restoran tersebut.

Mahasiswa bidang studi Bisnis Internasional ini juga menceritakan bahwa sebelumnya ia belum pernah merasakan bekerja. Bekerja sebagai pengantar makanan adalah pekerjaan pertama yang dijalankan sambil menyelesaikan kuliahnya di Belanda.

Awalnya Mufit mengaku ada sedikit kesulitan karena perbedaan budaya belajar yang harus fokus dan serius. Namun, ia tetap bisa menyesuaikan antara waktu belajar dengan waktu bekerjanya.

Meski pekerjaan yang dijalani banyak mengandalkan stamina tubuh, Mufti mengaku fokusnya masih bisa dipusatkan pada pendidikan yang akan dijalankan selama 1,5 tahun di kota Groningen, Belanda.

Sumber: detik.com

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami