
PIE News, bekerja sama dengan Oxford International Education Group (OIEG) dan Studyportals, menyelenggarakan sebuah pengarahan di mana para panelis mengeksplorasi strategi universitas, kolaborasi dengan pemerintah, dan keberlanjutan keuangan untuk model TNE yang sukses.
Ketika universitas-universitas internasional bersaing untuk membangun kemitraan TNE di India, University of Southampton menjadi yang terdepan, dengan kampus cabangnya di Delhi yang akan dibuka pada bulan Agustus 2025.
Kasia Cakala, direktur pengembangan jalur pendidikan di OIEG, yang berkolaborasi dengan Southampton dalam proyek ini, mencatat bagaimana penyedia pendidikan harus terus beradaptasi dengan ekspektasi yang terus berkembang dari model TNE.
“Tidak hanya universitas yang harus memperhatikan model yang mereka ambil di pasar yang sangat menantang ini, tetapi penyedia layanan swasta seperti kami juga perlu melakukan pivot, berubah, dan beradaptasi untuk mendukung universitas dalam kebutuhan mereka yang mendesak,” kata Cakala dalam pengarahan tersebut.
“Dengan Southampton, kuncinya adalah menentukan proposisi yang tidak hanya berkelanjutan tetapi juga selaras dengan prioritas pemerintah dan ekosistem mahasiswa dalam negeri.”
Cakala menekankan bahwa ketika mahasiswa dari negara-negara seperti India menjadi lebih cerdas, mengetahui apa yang mereka butuhkan dan mengharapkan lebih banyak dari institusi, universitas harus mengadopsi “strategi riset pasar yang canggih” untuk mendefinisikan proposisi mereka, terutama ketika mempresentasikan rencana ekspansi ke badan-badan pemerintah.
Sehubungan dengan perubahan ekspektasi tersebut, Carlie Sage, associate director, partnerships, APAC, Studyportals, menggarisbawahi pentingnya memahami perilaku mahasiswa dan tren pasar dalam membentuk strategi pendidikan internasional.
“Banyak universitas yang masih membuat keputusan tanpa benar-benar memahami lingkungan tempat mereka beroperasi,” kata Sage.
“Ada banyak data luar biasa di luar sana yang dapat membantu institusi menavigasi perubahan, memahami permintaan, mengidentifikasi kesenjangan, dan melihat apa yang terjadi secara real time.”
Menurut Aziz Boussofiane, direktur Cormack Consultancy Group, meskipun model TNE harus berkelanjutan secara finansial, model ini juga harus bermanfaat bagi universitas dan negara tuan rumah dalam jangka panjang.
“Bagi negara tuan rumah, keberhasilan (dalam TNE) berarti meningkatkan kapasitas dengan penyediaan yang berkualitas dan bagi universitas, hal ini harus selaras dengan misi dan tujuan strategis mereka,” kata Boussofiane, ketika berbicara kepada para hadirin.
“Ada beberapa faktor pendorong dan proses yang berbeda tergantung pada pasarnya, apakah itu India atau Nigeria, [dan] sering kali ini adalah tentang meningkatkan kapasitas di dalam negeri dan meningkatkan kualitas penyedia layanan lokal.”
Meskipun TNE secara luas dirangkul oleh universitas-universitas terkemuka di negara-negara tujuan studi utama, tantangan tetap ada dalam membangun model yang dapat diukur karena persepsi internasional yang berbeda-beda mengenai kualitas dan nilai, yang berdampak pada pengakuan.
Menurut Daniel Cragg, direktur Nous, meskipun TNE hanyalah tantangan lain bagi institusi, yang sudah berurusan dengan tekanan tenaga kerja akademik, tekanan baru dari AI, dan kebutuhan siswa yang terus berkembang, selera untuk kemitraan terus meningkat.
“Keinginan untuk berkolaborasi semakin meningkat – universitas ingin berbagi risiko, menyeimbangkan kesuksesan, dan menjadi lebih ahli di pasar,” kata Cragg.
“Dalam pendidikan internasional, rasanya seperti ada peristiwa angsa hitam setiap tiga atau empat tahun sekali. Namun, universitas terus beradaptasi, berinovasi, dan berkembang.”
Sementara universitas-universitas di Inggris dan Australia telah mendorong perluasan TNE besar-besaran dalam beberapa tahun terakhir, lembaga-lembaga di negara-negara seperti Selandia Baru, meskipun tertarik, memprioritaskan penguatan reputasi dan penelitian mereka di atas perluasan fisik.
“Selandia Baru adalah pemain kecil di TNE, namun kemitraan kami berfokus pada reputasi dan penelitian daripada ekspansi fisik ke luar negeri,” kata Meredith Smart, direktur internasional, Auckland University of Technology.
“Ada hubungan yang kuat antara strategi pemeringkatan dan strategi kemitraan kami reputasi itu penting.”
Seiring dengan tujuan pemerintah Selandia Baru untuk meningkatkan perekrutan internasional dari pasar negara berkembang sambil memperkuat kemitraan pendidikan di negara-negara seperti India dan Vietnam, institusi seperti AUT melihat adanya peluang, sekaligus belajar dari kesalahan langkah rekan-rekan mereka.
“Kami memiliki fokus pertumbuhan yang kuat. Pemerintah ingin kami berkembang. Mereka sangat ingin memenangkan pemilihan umum berikutnya, dan saya rasa mereka merasa bahwa pendidikan internasional dapat meningkatkan perekonomian,” kata Smart.
“Masyarakat Selandia Baru menyukai mahasiswa internasional, namun hal ini dapat berubah seiring dengan meningkatnya jumlah mahasiswa internasional. Kita harus secara aktif menunjukkan nilai internasionalisasi bagi ekonomi, industri, dan hubungan diplomatik kita.”
Hal ini ditegaskan kembali oleh Cragg, yang menyoroti bagaimana bekerja sama dengan pemerintah dalam pembuatan kebijakan sangatlah penting.
“Bekerja sama dengan pemerintah untuk membentuk kebijakan visa di masa depan sangat penting untuk memastikan pertumbuhan mahasiswa internasional yang berkelanjutan,” katanya.
“Nilai pendidikan internasional meluas di berbagai bidang pemerintahan, tidak hanya di dalam universitas.”
Sumber: thepienews.com
Email: info@konsultanpendidikan.com


Saat ini kita berada di era dimana perusahaan menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar lulusan MBA. Mereka ingin seseorang yang bergerak maju, terbuka pada sesuatu yang baru, dan penuh perencanaan. Karena itulah kita harus mendapatkan pendidikan dari sekolah bisnis terbaik.
Financial Times membuat penelitian akan sekolah bisnis di dunia untuk melihat yang manakah dari mereka yang memberikan efek terbaik dalam pertumbuhan pribadi maupun karir dari mahasiswa. Data penelitian diambil dari 10.986 responden yang berasal dari 153 sekolah bisnis terkemuka dunia.
Dalam survey yang dilakukan para mahasiswa dan alumni diminta untuk menjawab pertanyaan yang digunakan untuk memberikan ranking pada sekolah bisnis di dunia. Dan dari hasil penelitian tersebut Stanford Graduate School of Business berhasil naik ke peringkat pertama dari tahun sebelumnya saat ia berada di peringkat kedua.
Meskipun para alumni dari Stanford hanya berada di peringkat ke 100 pada penambahan gaji dan peringkat ke 99 pada nilai yang didapatkan dari uang yang dikeluarkan, namun mereka berhasil memperoleh gaji yang terbesar pada angka 184.566 dollar hanya dalam jangka 3 tahun setelah mereka lulus.
Pada peringkat selanjutnya ditempati oleh Ahmedabad di peringkat kedua dan Bangalore di peringkat ketiga. Keduanya berada pada posisi 21 teratas dalam tingkat kepuasan yang diperoleh oleh alumni. Para alumni dari Ahmedabad berhasil memperoleh gaji besar pada angka 157.459 dollar.
Peringkat keempat ditempati oleh Harvard Business School dan IESE Business School dari Spanyol berada di peringkat kelima. Harvard Business School sendiri berada di peringkat pertama pada tingkat kepuasan yang diperoleh oleh alumni. Secara keseluruhan pada posisi 25 besar ada 8 sekolah bisnis yang berasal dari United Kingdom dan ada 7 sekolah bisnis yang berasal dari Amerika.
Sementara itu University of Wisconsin tetap berada pada peringkat keseratus selama 2 tahun berturut-turut meskipun mereka berada pada peringkat kedua puluh enam dalam peningkatan karir dan memiliki 104 persen kenaikan gaji hanya dalam jangka 3 tahun setelah mahasiswa lulus.
Beberapa universitas yang lulusannya menerima gaji yang lebih kecil dari lulusan univ top di atas adalah Melbourne Business School, Washington University, University of California Irvine, dan the University of Toronto.
Sementara itu ada beberapa universitas yang diharapkan menempati peringkat yang lebih dalam hal perkembangan karir malah mendapatkan peringkat yang jauh lebih rendah yaitu University of Chicago pada peringkat ke-46, Duke University pada peringkat ke-63, dan Indiana University pada peringkat ke-92.
Kebanyakan mahasiswa yang berhasil mencapai kesuksesan dalam karir mereka berasal dari Stanford Graduate Schoolof Business dan IMD di Switzerland. Posisi teratas pada tahun sebelumnya didapatkan oleh London School of Business. Namun alumni dari IMD berhasil menggesernya setelah mahasiswanya berhasil mendapatkan gaji dengan angka 142.446 dollar hanya dalam jangka 3 tahun setelah mereka lulus.
Yang mengherankan adalah Ahmedabad yang berhasil mencapai posisi ketiga dalam kesuksesan karirnya justru berada pada peringkat ke-96 dalam pencapaian karir. Artinya meskipun alumni tersebut berhasil memperoleh karir yang baik namun mereka merasa belum melakukan hal yang mereka ingin capai setelah lulus kuliah.
Padahal pada kenyataannya kesuksesan dan pencapaian karir memiliki cara pengukuran yang sama. Para alumni yang memberikan data tentang perkembangan karir mereka untuk diteliti. Namun demikian berhasil mendapatkan suatu hal yang mereka ingin capai setelah lulus kuliah bukan berarti mereka akan berhasil dalam karir mereka.
Karena itulah agar kedua ranking bisa lebih adil maka seharusnya kedua rangking tersebut dibuat rata-ratanya. Setelah hasil rata-rata dikeluarkan ternyata Stanford Graduate School of Business tetap berada di posisi pertama dengan nilai rata-rata satu setengah point.
Tabel peringkat Sekolah Bisnis Terbaik berdasarkan penelitian Financial Times