Setelah Sampai di Negara Tempat Sekolahmu, Welcome to International Life : Toleransi (Part 8)

  1. Sorry, I Don’t Eat Pork!

Bagi kamu yang menganut agama Islam, sebaiknya berhati-hati dengan jenis makanan yang disajikan atau dijual. Baca dengan cermat bagian ingredient atau komposisi bahan makanan pada kemasan. Kalau kamu ragu makanan tersebut dibuat dari daging apa, maka nggak ada salahnya kamu menanyakannya terlebih dahulu kepada tuan rumah atau penjualnya. Mereka nggak bakalan marah atau tersinggung, kok.

p8Kamu juga harus bisa menjelaskan alasan apa yang membuat kamu nggak mengonsumsi daging babi. Kadang kala, budaya, dan suku bangsa, membutuhkan selera humor tersendiri untuk menyikapi apa pun yang mereka lakukan berkaitan dengan kebiasaan masing-masing.

Kebetulan, di lingkungan saya, saya satu-satunya yang beragama Islam. Jadi, kalau urusan makan, saya memang yang paling rewel. Sedari awal, saya suda memberi tahu teman-teman saya kalau saya nggak makan babi. Kawan Amerika saya adalah salah satu dari orang yang sangat memerhatikan kebiasaan saya makan. Setiap kali membeli makanan, dia yag terlebih dahulu akan bertanya mana yang babi dan bukan. Ketika saya mengundang untuk menghabiskan liburan awal musim dingin ke Virginia di rumah tantenya, dia sengaja menelpon tantenya dan memberitahu kalau saya nggak makan babi.

p8 6Namun, lain hal nya dengan kawan saya yang berasal dari Estonia. Rupanya, ia penasaran kenapa saya nggak juga makan babi selama tinggal di Amerika. Alasan Agama ternyata nggak cukup buat dia. Lalu, suatu hari, ia mengajak kami makan malam bersama dengan masakan khas negaranya. Ketika acara makan malam berlangsung, nggak ada salah seorang dari kami pun yang menanyakan terbuat dari daging apa makanan yang disajikannya. Saya pikir, dia tahu saya nggak makan babi. Kawan Amerika saya yang biasanya paling rewel urusan makan saya pun nggak bertanya. Dia malah yang mengambilkan makanan untuk saya. Selesai makan, salah seorang teman Polandia saya berkata, “Congratulation, Windy! You just eat pork!”

Nggak ada seorang pun yang berani berkomentar. Mereka semua melirik kearah saya. Suasana sempat agak kaku. Salah seorang kawan saya menegur si Estonia. Bilang kalau becandaannya kali ini sudah kelewata. “C’mon, it wasn’t a sin, right? You said, if you don’t know it, then it’s not a sin!” kilah kawan Estonia. Saya sempat bingung harus ngomong apa. Suasana menjadi kikuk. Kawan-kawan yang lain sepertinya nggak berani terlalu berkomentar. Akhirnya saya menjawan, “it’s okay. I already said bismillah before eating!” semua tertawa dan suasana kembali cair.

Malamnya, ketika semua sudah masuk kamar, kawan Estonia saya datang ke kamar. Ia meminta maaf karena telah melakukan hal tersebut. “that’s fine! But, please, don’t do it again,” kata saya menegaskan.

Ini yang saya maksud selera humor. Kamu nggak bisa marah dan mencak-mencak untuk membuat mereka mengerti. Buat saya, ini salah satu melatih cara kemampuan berdiplomasi kita.

2. Jangan sembarangan menyentuh

p8 2Ketika berbicara dengan kawan internasionalmu, maka hindari kontak tubuh yang nggak perlu kalau kamu nggak teralalu mengenal mereka. kadang, kita suka berbicara dengan menyentuh lawan bicara untuk menunjukan bahwa kita terbuka atau sekedar bersikap ramah. Nggak semua dari mereka suka di sentuh ketika sedang berbicara. Kontak fisik, misalnya dengan mendorong tubuh mereka, bisa dianggap tindakan lancang. Namun, orang Amerika, kalau sudah merasa cukup akrab dengan kita, suka memegang kepala. Jangan tersinggung kalau tiba tiba mereka memegang kepalamu. Mereka suka berbicara dengan menatap mata lawan bicara, namun nggak terlalu menyukai kontak fisik.

3. Party identik dengan minuman alkohol

Suatu saat, bisa saja kamu menerima undangan party. Party di luar negeri identik dengan minuman alkohol, sperti bir, vodka mix, atau cocktail. Kalau kamu nggak terbiasa minum- minuman berakohol, katakan terus terang. Menghindari undangan party terus-terusan hanya akan membuat kamu dituduh nggak suka bergaul. Sesekali datanglah. Jangan paksakan diri untuk minum kalau memang nggak bisa dan menurut agamamu nggak boleh. Di party biasanya juga menyediakan jus, kok.

p8 3O, ya ada perbedaan antara kebiasaan menerima undangan di Indonesia dengan di luar. Kalau di Indonesia, ketika menerima undangan pesta, kita umumnya cukup bawa badan doang. Tapi kalau di sana, kemungkinan kamu juga harus membawa makanan dan minumanmu sendiri. Tuan rumah biasanya hanya menyediakan tempat. Ketika menerima undangan, tanyakan, apakah kamu harus datang dengan membawa makanan-minuman sendiri, atau mereka yang menyediakan.

4. Jangan sembarang meneraktir tanpa ada kesepakatan

p8 4Kita sering menganggap teraktir adalah salah satu tindakan ramah. Kalau kamu ingin melakukannya, sebaiknya sedari awal kamu sampaikan hal ini kepada kawan yang berkaitan. Jangan sampai tindakan yang awalnya kamu maksudkan baik, justru disalahartikan oleh kawanmu dan membuat ia tersinggung.

Kalau kamu menerima ajakan keluar, bukan berarti si pengajak lantas akan menjamumu. Prinsipnya, kalian hanya hang-out together for fun. Kalau mereka ingin menjamumu, biasanya mereka akan mengatakan terus terang. Kalau mereka sudah mengatakannya, maka jangan menolak. Tindakanmu akan sangat menyinggung mereka.

5. Jangan menolak tip

Budaya memberi tip di luar negeri sudah jamak. Kalau seseorang memberi mu tip, maka terimalah. Mereka bakal tersinggung kalau kamu menolaknya. Bagi orang bule, memberi tip adalah bentuk penghargaan atas kerja kamu yang dinilai bagus dan memuaskan.

p8 5Begitu pula sebaliknya. Kalau kamu makan direstoran atau menginap di hotel, jangan lupa memberi tip kepada para pelayanannya. Coba perhatikan bill yang disodorkan kepada kamu. Kalau harga didalamnya belum termasuk uang service, maka kamu wajib memberi tip. Namun, kalau jumlah total yang kamu bayarkan sudah termasuk uang pajak dan service, maka kamu nggak harus memberikan tip kepada pelayan.

Ada hal yang ingin anda tanyakan ?  Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami

Setelah Sampai di Negara Tempat Sekolahmu, Welcome to International Life : Ayo Belajar Adaptasi (Part 7)

Jangan Salah Memaknai Kata Adaptasi

Salah satu tantangan terbesar di luar negeri adalah gaya hidup bebas. Di luar, khususnya Negara-negara Barat, kebebasanmu sebagai individu sangat dijunjung tinggi. Privasi adalah hal yang nggak boleh dilanggar. Perbedaan pola pikir dan gaya hidup ini merupakan hal paling mendasar.

Karena itu, kamu harus benar-benar bisa memahami apa yang dimaksud dengan adaptasi. Adaptasi bukan berarti lantas kamu menelan bulat-bulat semua yang menjadi kebiasaan di Negara tersebut. Menghargai dan menghormati bukan berarti mengikuti dan melakukannya. Filterisasi yang kuat harus kamu miliki. Nggak semua hal harus kamu ikutin. Pilih mana yang baik, dan sedapat mungkin hindari hal-hal yang nggak baik.

p7 6Misalnya nih, masalah pergaulan bebas. Di Negara-negara Barat, tinggal bersama sebelum menikah bukan sebuah persoalan dan nggak dianggap bertentangan dengan norma yang ada. Sementara, di Negara kita, persoalan seperti itu jelas bertentangan dengan norma. Ini yang dimaksud membedakan dengan tepat mana adaptasi, mana yang terseret arus westernisasi. Nggak melakukan hal itu, nggak lantas membuat kamu di cap kuno, kok. Begitu pula sebaliknya. Melakukan hal itu, nggak bikin kamu dianggap modern juga. Ini hanya masalah pilihan.

Ketika pertama kali akan mendiami rumah sewaan, pemilik rumah sempat bertanya, apakah keberatan tinggal serumah dengan orang yang berbeda jenis kelamin. Ketika itu saya menjelaskan, saya nggak keberatan sama sekali tinggal dengan orang dari berbagai bangsa dan jenis kelamin berbeda, tetapi sedapat mungkin, saya minta teman sekamar saya perempuan. Tentunya, saya memberikan alasan saya kepada pemilik rumah. Pemilik rumah bisa memahami dan menghargai alasan saya yang berkaitan dengan kepercayaan. Ini perlu kamu lakukan agar mereka nggak salah tangkap dengan alasanmu.

p7 5Kawan-kawan internasional pernah bertanya apakah saya lesbian. Tentunya saya kaget dengan pertanyaan itu. Namun, setelah ngobrol, saya paham kenapa mereka menyakan hal tersebut. Bagi mereka, perempuan tinggal sekamar dengan perempuan itu aneh, dan mengarah dengan indikasi homoseksual. Lalu, saya menjelaskan kepada mereka kenapa saya memilih roommate berjenis kelamin sama. Bukan karena saya lesbian, tetapi karena persoalan agama dan norma kebudayaan yang ada di Negara saya. Mereka pun bisa memahami alasan saya tersebut.

Pola hubungan lelaki-perempuan di sana pun umumnya berbeda dengan di indonesia. Kamu harus bisa memberi alasan yang memadai tentang hal ini agar hubungan persoalanmu dengan lawan jenis nggak terganggu. Misalnya, masalah tinggal bersama. Kalau kamu memang keberatan untuk tinggal bersama pasanganmu, katakana terus terang. Menghindari ajakan tinggal bersama dengan sejuta alasan yang nggak masuk di akal mereka hanya akan membuat hubunganmu nggak berjalan.

Sepele Tapi Bisa Menimbulkan Salah Persepsi

Memberi pemahaman kepada teman-teman internasional tentang latar belakang budaya, kebiasaan, dan pola pikir kita bisa mengurangi kesalahpahaman yang terjadi. Namun, sebaiknya, kita juga coba menghindari melakukan hal-hal yang bisa memancing salah paham. Berikut ada beberapa hal sepele yang sebaiknya kamu hindari agar nggak memancing salah paham

1. Jalan bergandengan tangan dengan teman sejenis

p7 1Baru menyadari hal ini ketika tinggal di Amerika. Pelajar Indonesia yang perempuan, punya kecendurangan suka jalan sambil bergandengan tangan. Hati-hati kalau melakukan hal ini diruang publik. Mereka bisa menganggap kamu homoseksual! Jadi, sebaiknya hindari jalan bergandengan tangan ditempat umum dengan teman yang memiliki kelamin yang sama.

2. Merokok ditempat umum pun sebaiknya kamu hindari

Kalau di Indonesia, kamu bisa saja merokok di kendaraan umum, di halte, atau di jalanan, maka sebaiknya daris ekarang kamu belajar mengurangi kebiasaan itu. Walaupun sangat individualis, masyarakat di Negara Barat, sangat menghargai kenyamanan orang lain. Kalau kamu tetap ngotot melakukannya, hm, reaksi yang timbul memang bisa macam-macam. Bisa dengan teguran langsung, tatapan sinis, atau… kamu bakal kerepotan menghadapi orang yang bolak-balik datang ke kamu dan meminta batang rokokmu!

p7 2

Yup. Ini serius. Teman saya pernah merokok sambil jalan di kota Atlanta. Setipa kali dia mengeluarkan rokok, setiap kali itu pula ada orang yang meminta rokok darinya. Serba salah itu yang kemudian dihadapi teman saya. Mau menolak memberi, dia berasa nggak enak karena jelas-jelas dia masih punya. Mau ngasih, harga rokok termasuk mahal. Bukannya senang, dia malah bunting akhirnya. Rokok yang seharga US$7 sekotak itu pun ludes dengan cepat.

3. Menghilang di waktu sholat tanpa memberitahu

p7 3Kalau kamu muslim dan termasuk pelajar yang berencana akan mencari kerja sampingan sambil sekolah nanti, sebaiknya kamu juga memerhatikan hal yang satu ini: waktu sholat. Sebaiknya, dari awal kamu menerangkan kepada bosmu ada jam-jam tertentu di mana kamu minta izin untuk melakukan ibadah. Kalau kamu nggak memberitahu mereka, lalu tiba-tiba menghilang waktu sholat tiba, hal ini bisa menimbulkan penilaian negative. Kamu dianggap mangkir. Upah kerja di luar negeri umumnya di hitung berdasarkan per-jam. Jadi jangan sampai kamu dianggap mencuri jam kerja buat bermalas-malasan.

4. Tidur dengan pakaian lengkap!

Yes, I am not kidding. Kamu harus bisa menjelaskan kepada mereka kenapa kamu tidur dengan pakaian lengkap ketika bermalam bersama mereka. saya pernah melakukan traveling dengan tiga kawan internasional saya: dua laki-laki dan satu orng perempuan.kebetulan, saya satu-satunya orangt Indonesia.

p7 4Untuk menghemat biaya penginapan, saya menyewa satu kamar hotel. Ketika menjelang tidur, ketiga teman saya meninggalkan pakaian yang mereka kenakan. Teman perempuan saya yang berasal dari Polandia dengan cuek melepas semua pakaian hingga yang tersisa hanyalah pakaian dalam. Dua teman lelaki saya juga melakukan hal serupa. Mereka hanya mengenakan celana dalam. Saya memilih mengganti pakaian main saya dengan pakaian tidur—kaus dan celana pendek—di kamar mandi. Ketika saya keluar dari kamar mandi, kawan saya bertanya, “where will you go?”

Mereka mengira saya akan pergi ke luar lagi! Saya pun menjelaskan bahwa saya biasa tidur dengan pakaian dalam tataran mereka dianggap lengkap dan rapi. Awalnya, mereka sempat curiga kalau saya nggak percaya dengan mereka. bahkan kawan saya yang laki-laki bilang., “I wont do anything on you. so, you could undress.”

Saat mengatasi situasi semacam itu, kamu harus menjelaskan dengan logika yang bisa mereka terima. Terangkan dengan cara yag manis bahkan mugkin diselingi sedikit lelucon. Sejak saat itu, kawan-kawan saya yang memberi julukan ‘Indonesia Strange Girl’ gara-gara, saya satu-satunya orang yang mereka kenal tidur dengan pakaian lengkap dan punya roommate cewek.

Ada hal yang ingin anda tanyakan ?  Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami