
Beberapa universitas memiliki margin operasi yang cukup atau dana tunai dan cadangan investasi yang tersedia untuk menahan penurunan pendapatan biaya internasional yang berkelanjutan.
Tanpa peningkatan yang signifikan dalam pendanaan publik (yang kemungkinannya kecil), setiap universitas dalam berbagai tingkatan, perlu mengidentifikasi dan membangun aliran pendapatan tambahan.
Universitas secara aktif merencanakan dan menerapkan berbagai strategi untuk mengurangi potensi kerugian. Strategi terpenting akan mencakup:
- Menunda atau mengurangi pekerjaan modal yang belum terikat dan proyek-proyek besar lainnya.
- Penilaian ulang persyaratan infrastruktur untuk lingkungan pasca-COVID-19 dapat mewujudkan surplus aset untuk kebutuhan masa depan.
- Universitas dengan banyak kampus harus melakukan tinjauan besar-besaran tentang kelangsungan hidup masing-masing kampus di dunia pasca-COVID-19.
- Rasionalisasi kursus dan penawaran mata pelajaran untuk memastikan kelangsungan program individu dalam jangka panjang.
- Tinjauan yang cermat tentang biaya “pengeluaran lain”. Area yang memungkinkan untuk penghematan termasuk perjalanan, hiburan, penggunaan konsultan dan biaya pemasaran.
- Penilaian ulang struktur kantor pusat dan tingkat remunerasi, dengan tujuan untuk mengkonsolidasikan peran yang mungkin muncul dalam periode banyak.
Tinjauan lebih lanjut atas biaya staf administrasi dan profesional yang berjumlah A $ 8,6 miliar pada tahun 2018. Tolak ukur di seluruh sektor sudah tersedia untuk menilai efisiensi relatif berdasarkan fungsi per fungsi.
Mengingat biaya karyawan mewakili 57% dari total pengeluaran universitas, pengurangan lebih lanjut di bidang ini tidak dapat dihindari untuk mencerminkan penurunan pendaftaran siswa. Setiap universitas mungkin juga perlu menyesuaikan kemampuan tenaga kerjanya untuk memenuhi persyaratan masa depan yang berubah.
Salah satu tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya melibatkan para pemimpin universitas yang mencari kerja sama dengan serikat pekerja untuk mengubah perjanjian perusahaan yang ada untuk memungkinkan pembekuan gaji sementara. Namun, kehilangan pekerjaan akan tetap terjadi, dengan staf tetap dan jangka waktu tetap paling berisiko.
Pada saat yang sama, universitas perlu terus berinvestasi dalam pendidikan digital dan bentuk pengalaman mahasiswa baru yang mampu menarik dan mempertahankan pangsa pasar domestik dan internasional di era pasca-COVID-19.
COVID-19 akan menguji ketahanan semua universitas Australia dengan cara yang jarang pernah terlihat sebelumnya.
Ada hal yang ingin anda tanyakan? Jangan ragu, silahkan hubungi kami. Konsultasi dengan kami gratis.
Email: info@konsultanpendidikan.com
Saat ini kita berada di era dimana perusahaan menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar lulusan MBA. Mereka ingin seseorang yang bergerak maju, terbuka pada sesuatu yang baru, dan penuh perencanaan. Karena itulah kita harus mendapatkan pendidikan dari sekolah bisnis terbaik.
Financial Times membuat penelitian akan sekolah bisnis di dunia untuk melihat yang manakah dari mereka yang memberikan efek terbaik dalam pertumbuhan pribadi maupun karir dari mahasiswa. Data penelitian diambil dari 10.986 responden yang berasal dari 153 sekolah bisnis terkemuka dunia.
Dalam survey yang dilakukan para mahasiswa dan alumni diminta untuk menjawab pertanyaan yang digunakan untuk memberikan ranking pada sekolah bisnis di dunia. Dan dari hasil penelitian tersebut Stanford Graduate School of Business berhasil naik ke peringkat pertama dari tahun sebelumnya saat ia berada di peringkat kedua.
Meskipun para alumni dari Stanford hanya berada di peringkat ke 100 pada penambahan gaji dan peringkat ke 99 pada nilai yang didapatkan dari uang yang dikeluarkan, namun mereka berhasil memperoleh gaji yang terbesar pada angka 184.566 dollar hanya dalam jangka 3 tahun setelah mereka lulus.
Pada peringkat selanjutnya ditempati oleh Ahmedabad di peringkat kedua dan Bangalore di peringkat ketiga. Keduanya berada pada posisi 21 teratas dalam tingkat kepuasan yang diperoleh oleh alumni. Para alumni dari Ahmedabad berhasil memperoleh gaji besar pada angka 157.459 dollar.
Peringkat keempat ditempati oleh Harvard Business School dan IESE Business School dari Spanyol berada di peringkat kelima. Harvard Business School sendiri berada di peringkat pertama pada tingkat kepuasan yang diperoleh oleh alumni. Secara keseluruhan pada posisi 25 besar ada 8 sekolah bisnis yang berasal dari United Kingdom dan ada 7 sekolah bisnis yang berasal dari Amerika.
Sementara itu University of Wisconsin tetap berada pada peringkat keseratus selama 2 tahun berturut-turut meskipun mereka berada pada peringkat kedua puluh enam dalam peningkatan karir dan memiliki 104 persen kenaikan gaji hanya dalam jangka 3 tahun setelah mahasiswa lulus.
Beberapa universitas yang lulusannya menerima gaji yang lebih kecil dari lulusan univ top di atas adalah Melbourne Business School, Washington University, University of California Irvine, dan the University of Toronto.
Sementara itu ada beberapa universitas yang diharapkan menempati peringkat yang lebih dalam hal perkembangan karir malah mendapatkan peringkat yang jauh lebih rendah yaitu University of Chicago pada peringkat ke-46, Duke University pada peringkat ke-63, dan Indiana University pada peringkat ke-92.
Kebanyakan mahasiswa yang berhasil mencapai kesuksesan dalam karir mereka berasal dari Stanford Graduate Schoolof Business dan IMD di Switzerland. Posisi teratas pada tahun sebelumnya didapatkan oleh London School of Business. Namun alumni dari IMD berhasil menggesernya setelah mahasiswanya berhasil mendapatkan gaji dengan angka 142.446 dollar hanya dalam jangka 3 tahun setelah mereka lulus.
Yang mengherankan adalah Ahmedabad yang berhasil mencapai posisi ketiga dalam kesuksesan karirnya justru berada pada peringkat ke-96 dalam pencapaian karir. Artinya meskipun alumni tersebut berhasil memperoleh karir yang baik namun mereka merasa belum melakukan hal yang mereka ingin capai setelah lulus kuliah.
Padahal pada kenyataannya kesuksesan dan pencapaian karir memiliki cara pengukuran yang sama. Para alumni yang memberikan data tentang perkembangan karir mereka untuk diteliti. Namun demikian berhasil mendapatkan suatu hal yang mereka ingin capai setelah lulus kuliah bukan berarti mereka akan berhasil dalam karir mereka.
Karena itulah agar kedua ranking bisa lebih adil maka seharusnya kedua rangking tersebut dibuat rata-ratanya. Setelah hasil rata-rata dikeluarkan ternyata Stanford Graduate School of Business tetap berada di posisi pertama dengan nilai rata-rata satu setengah point.
Tabel peringkat Sekolah Bisnis Terbaik berdasarkan penelitian Financial Times