Pernah nonton atau penggemar film animasi? Berminat untuk belajar jadi animator handal? Vancouver Film School jurusan 3D Animation & Visual Effects bisa jadi pilihan buat kamu. Gak hanya sekedar jadi animator, tapi kamu juga bisa jadi film maker. Jurusan ini mengajarkan mahasiswa membuat animasi dan sebagai pelengkap cerita dalam film, dengan mengkombinasikan ilmu film dan teknologi. Bukan hanya diajarkan membuat film, tapi kamu juga diajarkan membuat film kamu sendiri. Dengan dukungan dosen dan staff berpengalaman, kamu akan mendapat ilmu animasi secara menyeluruh dan bisa diaplikasikan di dunia kerja nanti setelah lulus. Banyak film-film box office yang animasinya dibuat oleh lulusan VFS; seperti Avengers, The Hunger Games, Breaking Dawn, Harry Potter and The Deathly Hallows part 2, dan masih banyak film lainnya.
Durasi kuliah
- Lulus dengan gelar Diploma 3D Animation
- 1 tahun
Pelajaran
Pastinya skill kamu akan diasah dalam bidang design dan gambar, tapi diajarkan juga ilmu teknologi dan animasi yang lebih professional agar kamu siap di karir kedepan. Dimulai dengan belajar seni tradisional dan skill animasi komputer. Pada semester berikutnya, akan diajarkan sesuai dengan bidang yang kamu minati; 3D Animation Specialization, Modeling Specialization dan Visual Effects Specialization.
3D Animation Specialization
Dalam 3D Animation, kamu akan:
- Mengembangkan konsep film originalmu
- Meneliti konsep atau karakter dalam cerita film
- Menciptakan karaketr untuk film
- Membuat 2D dan 3D animatic storyboards
- Model karakter
- Menyiapkan karakter untuk animasi, termasuk detail wajah
Modeling Specialization
Dalam Modeling, kamu akan:
- Mengasah pemahaman kamu akan media tradisional
- Mengumpulkan referensi dan data untuk objek yang diperlukan
- Membuat element design untuk project
- Membuat geometri 3D
- Membuat alat peraga model dan lingkungannya
- Menciptakan karakter pelengkap animasi
- Membuat gambar komposit
- Memecahkan masalah
- Mengoptimalkan pekerjaan di bidang media lain seperti film dan games
Visual Effects
Dalam Visual Effetcs, kamu akan:
- Mengembangkan konsep visual effect original kamu untuk suatu adegan
- Meneliti konsep atau karakter dalam cerita
- Menulis naskah
- Merencanakan adegan
- Membuat animasi 3D
- Bekerja dengan green screen
Karir
Mahasiswa lulusan jurusan ini akan bekerja di industri film professional, dengan mengembangkan keahlian teknikal dan kreatifitas. Kamu juga bisa menjadi creator untuk karakter animasi buatan kamu sendiri. Selain itu, beberapa pekerjaan dibawah bisa menjadi jenjang karir setelah lulus:
- Visual Effects Artist
- Texture Artist
- Technical Director (TD)
- Lighting Artist
- Previsualisation Artist
- Character Animator
- Modeler
Kampus
Jurusan berada di:
151 West Cordova Street
Vancouver, BC, Canada, V6B 1E1
Toll Free Phone (North America) : 1.800.661.4101
Phone : 604.685.5808
Vancouver Film School – buat kamu yang berminat di bidang perfilman
Ada hal yang ingin anda tanyakan ? Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .Email: info@konsultanpendidikan.com
Mungkin kamu pernah mendengar perumpamaan ini: belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air. Dari perumpamaan ini mungkin kamu jadi berpikiran bahwa hampir mustahil untuk belajar hal baru saat usia sudah tidak lagi muda.
Sebenarnya perumpamaan ini ini tidak sepenuhnya benar.
Menurut sejarah neurosains—ilmu yang mempelajari otak—otak dewasa dianggap serupa struktur yang sudah pasti , yang sekali mengalami gangguan, tidak akan bisa diperbaiki. Akan tetapi hasil penelitian sejak tahun 1960-an menunjukkan hasil yang berlawanan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa struktur otak manusia sebenarnya merupakan struktur yang dinamis yang bisa berubah sendiri sebagai respons terhadap pengalaman baru dan beradaptasi terhadap cedera yang kemugkinan mengenainya. Inilah fenomena yang dikenal dengan neuroplasticity.
Secara kolektif, inti penelitian ini menyarankan bahwa seseorang tak pernah terlalu tua untuk mempelajari suatu hal baru, tetapi semakin tua usianya, semakin sulit baginya untuk memeroleh hasil maksimal. Hal ini dikarenakan neuroplasticity umumnya menurun seiring dengan bertambahnya usia seseorang, yang berarti bahwa otak menjadi kurang bisa fleksibel dalam merespon hal-hal baru.
Beberapa aspek pembelajaran bahasa menjadi lebih sulit seiring dengan usia, sementara aspek lainnya mungkin menjadi lebih mudah. Seperti yang dikatakan oleh Albert Costa—seorang profesor neurosains yang memelajari bilingualisme di Universitat Pompeu Fabra, Barcelona—bahwa orang-orang yang lebih tua memiliki perbendaharaan kata yang lebih banyak daripada orang-orang yang lebih muda, dimana hal ini memungkinkan bagi orang yang lebih tua untuk menjadi seperti pembicara bahasa asli.
Bagi orang yang lebih dewasa, menghafalkan kosakata dalam bahasa asing lebih mudah dilakukan daripada belajar gramatika ataupun syntax. Hal ini karena kata-kata baru dapat dengan mudah dipetakan ke dalam ranah pengetahuan yang sudah ada dalam diri seseorang.
Akan tetapi pelajar yang lebih tua biasanya akan lebih sulit untuk bisa fasih dalam hal pengucapan atau aksen dikarenakan fonem atau bunyi bahasa biasanya diterima lebih natural oleh anak-anak.
Mempelajari bahasa asing mungkin tidak mudah bagi orang dewasa, akan tetapi ada penelitian yang menyatakan bahwa dengan mempelajari bahasa asing akan membawa manfaat bagi kesehatan otak. Seiring dengan bertambahnya usia kita, kebanyakan dari kita akan mengalami penurunan fokus dan ingatan, dan bahkan pada beberapa orang ada yang mulai terkena Alzheimer atau penyakit lainnya yang berhubungan dengan kehilangan ingatan. Sejumlah penelitian menyarankan bahwa mempelajari bahasa asing bisa memperlambat gejala penurunan kinerja otak atau bahkan bisa menghindarkan dari penyakit hilang ingatan.
Para peneliti di Edinburg University baru-baru ini menguji catatan medis dari 648 pasien Alzheimer di Hyderabad, sebuah kota di India. Mereka menemukan bahwa orang-orang bilingual lebih lambat terkena penyakit hilang ingatan daripada orang-orang monolingual, dengan catatan rata-rata empat setengah tahun.
Mempelajari sebuah bahasa asing pada saat usia dewasa mungkin lebih bermanfaat daripada mempelajarinya lebih awal karena orang perlu mengerahkan usaha lebih saat melakukannya. Hal ini setara dengan latihan fisik, jalan-jalan lebih baik bagi kesehatanmu, tetapi tak sebaik lari.
Belajar—dan menggunakan—bahasa asing tampaknya meningkatkan sesuatu yang disebut para ahli psikologi dan neurologi sebagai fungsi eksekutif. Sebuah fungsi yang merujuk pada proses mental yang memungkinkan kita untuk menyelang-nyelingkan pikiran dan perilaku kita dari satu waktu ke waktu lainnya berdasarkan hal-hal yang dihadapi.
Lepas dari semua keseulitan yang dihadapi, belajarlah bahasa asing sebagai sebuah kesenangan dan menganggapnya seperti bermain puzzle yang harus diselesaikan. Anggaplah kegiatan belajar tersebut sebagai sebuah usaha untuk menjaga otak agar tetap aktif. Ketika kamu berhasil dan bisa mengekspresikan dirimu sendiri, rasanya akan seperti kamu sedang menggunakan bagian lain dari otakmu yang sebelumnya tidak kamu gunakan.
Jadi, kalau ditanya adakah batasan usia untuk belajar bahasa asing, kamu sudah mendapatkan jawabannya, ‘kan?











