beasiswa kuliah luar negeri, beasiswa chevening, kuliah di UK

Daftar Beasiswa S2 Selain Chevening untuk Kuliah di Inggris

Mimpi kuliah luar negeri di Inggris untuk S2 sering terhambat biaya kuliah yang tinggi, yaitu rata-rata £20.000–£40.000 per tahun plus living cost di London atau kota besar lainnya. Selain Chevening yang super kompetitif, masih banyak opsi beasiswa kuliah luar negeri lain yang bisa bikin kuliah S2 di Inggris lebih terjangkau, bahkan fully funded atau partial.

Di artikel ini, kami bahas secara garis besar beasiswa S2 ke Inggris selain Chevening, termasuk dari pemerintah UK, British Council, univ internal, dan lembaga donor lainnya. Cocok buat kamu yang lagi cari alternatif kuliah di Inggris tanpa harus bergantung satu beasiswa saja.

Mengapa Cari Beasiswa Selain Chevening?

Chevening memang prestisius (fully funded, leadership focus), tapi persaingannya ketat dan syarat pengalaman kerja minimal 2 tahun. Banyak calon mahasiswa Indonesia yang lolos univ top tapi gagal Chevening karena itu. Untungnya, ada beasiswa kuliah luar negeri lain yang:

  • Lebih fleksibel (kurang pengalaman kerja atau fokus akademik).
  • Partial (turunkan biaya kuliah signifikan, sisanya bisa dari tabungan/orang tua/LPDP combo).
  • Dari univ langsung (banyak univ UK tawarkan scholarship internal untuk international students).
  • Spesifik negara seperti Indonesia (misalnya GREAT Scholarships).

Ini bantu kurangi biaya kuliah di Inggris secara drastis, plus kesempatan networking di univ bergengsi seperti Oxford, Cambridge, UCL, Imperial, LSE, dll.

Beasiswa Utama dari Pemerintah & British Council (Selain Chevening)

  1. GREAT Scholarships

Program British Council + GREAT Britain Campaign, khusus mahasiswa dari 18 negara termasuk Indonesia. Untuk intake 2026/27, banyak univ UK tawarkan £10.000 (sekitar Rp 200 juta) potongan tuition fees untuk one-year master’s.

  • Cocok untuk berbagai jurusan (business, science, arts, dll).
  • Apply setelah dapat offer letter dari univ partner (seperti Birkbeck, University of Nottingham, SOAS, Southampton, dll).
  • Deadline biasanya April–Juni 2026.
  • Ini salah satu yang paling mudah diakses buat siswa Indonesia—banyak penerima tahun lalu.
  1. Commonwealth Master’s Scholarships

Dari Commonwealth Scholarship Commission (CSC) UK, untuk warga negara Commonwealth termasuk Indonesia (low/middle-income category).

  • Fully funded: tuition, living allowance, flights, dll.
  • Fokus sustainable development, leadership, dan impact global.
  • Apply via CSC portal, deadline biasanya Oktober–Desember untuk intake berikutnya.
  • Cocok kalau kamu punya visi kontribusi ke Indonesia setelah lulus.

Beasiswa Internal dari Universitas Top UK

Banyak univ UK punya dana sendiri untuk attract international students hal ini sering partial (£5.000–£20.000) atau merit-based:

  1. Gates Cambridge Scholarships (University of Cambridge): Fully funded untuk outstanding applicants, fokus akademik & leadership.
  2. Clarendon Scholarships (University of Oxford): Full tuition + living costs, awarded berdasarkan merit tanpa apply terpisah (otomatis dipertimbangkan saat apply univ).
  3. Rhodes Scholarships (Oxford): Prestisius, fully funded, untuk calon leader global.
  4. Think Big Scholarships atau Global Master’s Scholarships (UCL, Bristol, dll): Potongan tuition besar untuk postgraduate.
  5. University-specific awards seperti di Warwick, Edinburgh, Manchester, King’s College: Banyak yang £5.000–£15.000, apply setelah offer unconditional.

Tips: Selalu cek halaman “International Scholarships” di situs univ target. Banyak yang otomatis consider saat apply admission.

Beasiswa dari Lembaga Donor Lain & Combo dengan LPDP

  1. Jardine Scholarship (khusus Oxford & Cambridge): Fully funded untuk S2 tertentu, fokus Asia.
  2. British Council Scholarships for Women in STEM atau program khusus gender/subject.
  3. LPDP + Univ Partnership: Banyak siswa Indo pakai LPDP (fully funded dari Indonesia) untuk kuliah S2 di UK—LPDP cover tuition & living, cocok combo dengan univ scholarship partial.
  4. Lembaga lain: Seperti dari perusahaan (misalnya Jardine Matheson) atau foundation khusus.

Strategi Memaksimalkan Peluang Beasiswa Kuliah Luar Negeri ke Inggris

  • Apply univ dulu (dapat offer unconditional), baru apply scholarship.
  • Siapkan dokumen kuat: motivation letter, CV, reference, IELTS/TOEFL.
  • Bidik multiple beasiswa sekaligus (GREAT + univ internal + LPDP).
  • Pantau deadline 2026: GREAT biasanya buka awal tahun, Commonwealth Oktober.

Dengan strategi tepat, biaya kuliah di Inggris bisa ditekan drastis—bahkan nol kalau lolos fully funded.

Mau Kuliah S2 di Inggris dengan Beasiswa? Konsultasi Anti Ribet dengan Empower Education!

Jangan biarkan biaya jadi penghalang kuliah luar negeri impianmu. Empower Education sebagai konsultan pendidikan terbaik siap bantu mapping beasiswa S2 ke Inggris selain Chevening, pilih univ match, persiapan dokumen, motivation letter, hingga apply visa. Semuanya ANTI RIBET.

Kami punya track record bantu siswa Indonesia lolos beasiswa GREAT, Commonwealth, univ internal, dan combo LPDP.

Empower Education

Chat WA sekarang untuk konsultasi! Ceritain profil & jurusan impianmu, kami bantu cari beasiswa terbaik tanpa ribet!

kuliah di inggris, studi luar negeri

Panduan Lengkap Kuliah di Inggris untuk Lulusan SMA Indonesia

Bagi lulusan SMA di Indonesia yang bermimpi melanjutkan studi ke luar negeri, kuliah di Inggris (UK) sering jadi pilihan utama. Negara ini menawarkan pendidikan berkualitas dunia, universitas top seperti Oxford, Cambridge, Imperial College, dan UCL, serta program studi yang lebih singkat dibanding negara lain (undergraduate biasanya 3 tahun, master 1 tahun). 

Banyak pelajar Indonesia memilih kuliah di UK karena kemudahan adaptasi bahasa Inggris, jarak relatif dekat, dan prospek karir global yang bagus melalui Graduate Route (masih 2 tahun post-study work jika apply sebelum akhir 2026).

Di tahun 2026, minat kuliah di Inggris dari Indonesia tetap tinggi, meski prosesnya butuh persiapan matang. Berikut panduan garis besar untuk membantu kamu memahami cara kuliah di UK sebagai lulusan SMA Indonesia.

Mengapa Kuliah di Inggris Cocok untuk Lulusan SMA Indonesia?

  1. Durasi Pendek & Efisien : Hemat waktu dan biaya dibanding program 4 tahun di negara lain.
  2. Kualitas Pendidikan Top Dunia : Banyak universitas UK masuk ranking QS/THE terbaik global.
  3. Fleksibilitas Jurusan : Banyak pilihan program berbasis keterampilan seperti AI, business, engineering.
  4. Pengalaman Hidup Internasional : Budaya multikultural, kota-kota ikonik seperti London, Manchester, Edinburgh.
  5. Peluang Kerja Pasca-Lulus : Graduate visa memungkinkan stay & kerja setelah lulus (update: 2 tahun jika apply sebelum 31 Des 2026, turun jadi 18 bulan mulai 2027).

Langkah Awal Cara Kuliah di UK

1. Tentukan Tujuan & Jurusan

Mulai dengan riset jurusan yang sesuai minat dan prospek karir. Jurusan kuliah di UK yang populer di kalangan pelajar Indonesia antara lain:

  • Business & Management
  • Computer Science / Data Science / AI
  • Engineering (termasuk civil, mechanical, electrical)
  • Law / Hukum
  • Psychology
  • Media & Communication
  • International Relations

Kami sebagai Konsultan Pendidikan akan bantu menentukan dan memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan bakat kalian.

2. Persiapan Akademik & Bahasa

Lulusan SMA Indonesia biasanya perlu jalur Foundation Year atau International Year One untuk memenuhi entry requirements (karena Ijazah SMA setara tidak langsung diterima di semua universitas). Beberapa universitas menerima langsung dengan nilai tinggi (misalnya rata-rata 80-85% atau lebih), tapi Foundation lebih aman.

Tes bahasa Inggris wajib: IELTS minimal 6.0-6.5 (tergantung program) atau TOEFL equivalent.

3. Proses Aplikasi

Untuk S1, daftar via UCAS (bisa pilih hingga 5 pilihan universitas/program). Siapkan personal statement, transkrip nilai, dan rekomendasi. Timeline penting: intake utama September (apply paling lambat Juni), ada juga January intake.

4. Syarat Kuliah di UK & Visa Pelajar

Setelah dapat Conditional/Unconditional Offer (CAS dari universitas), apply Student Visa. Syarat utama:

  • Bukti finansial (biaya kuliah + hidup, sekitar £1,171–£1,529/bulan tergantung lokasi).
  • Kemampuan bahasa Inggris.
  • Genuine student check (pastikan niat belajar sungguh-sungguh).
  • Proses visa bisa 3 minggu, apply hingga 6 bulan sebelum course start.

5. Biaya Kuliah di UK

Biaya kuliah S1: £15,000–£38,000/tahun (tergantung jurusan & universitas). Biaya hidup: £12,000–£15,000/tahun.

Banyak beasiswa tersedia: universitas-specific, GREAT Scholarships, Chevening (untuk S2), atau partial awards untuk internasional.

Tips Sukses Kuliah di UK untuk Pelajar Indonesia

  • Mulai persiapan 12-18 bulan sebelum intake.
  • Fokus nilai SMA tinggi & tes bahasa.
  • Manfaatkan jalur Foundation jika nilai belum memenuhi direct entry.
  • Riset beasiswa sejak dini untuk hemat biaya.

Kuliah di Inggris bukan mimpi lagi! Banyak pelajar Indonesia sukses setiap tahun! Dengan persiapan tepat, kamu bisa meraih gelar dari universitas bergengsi dan karir global.

Jangan ragu mulai langkahmu sekarang. Tim kami, Empower Education siap bantu mulai dari konsultasi awal, pilih jurusan, apply universitas, sampai visa.

Empower Education

HUBUNGI KAMI DI:

📞 0877-0877-8671

📞 0877-0877-8670

📞 0818-0606-3962

Kunjungi lebih lengkapnya:

🌐 www.konsultanpendidikan.com

📸 www.instagram.com/empowereducation_id

🎥 www.tiktok.com/@konsultanstudiluarnegeri

Konsultasi GRATIS menanti kamu! Yuk, wujudkan mimpi kuliah di UK hari ini! 🚀

Krisis ‘melambung’ picu 800 pemutusan hubungan kerja di Australia

Serikat akademisi Australia menuduh para administrator universitas lebih mendengarkan para konsultan daripada bukti-bukti yang ada, setelah dua institusi lainnya menguraikan rencana pemangkasan pekerjaan secara besar-besaran.

Western Sydney University (WSU) dan University of Technology Sydney (UTS) mengusulkan untuk memangkas sekitar 400 posisi, dengan mengatakan bahwa keterbatasan pendapatan mereka telah membuat mereka tidak dapat menutupi pengeluaran yang membengkak.

UTS, yang telah memperingatkan adanya pemangkasan besar-besaran untuk memenuhi target penghematan sebesar A$100 juta (£48 juta), sedang berkonsultasi dengan para stafnya mengenai usulannya untuk memangkas sekitar 400 pekerjaan. Wakil rektor Andrew Parfitt mengatakan rencana pemulihan Covid untuk “mengelola defisit” hingga tahun 2026 tidak lagi dapat dilakukan karena berkurangnya pendanaan, “pertumbuhan pendapatan jangka pendek yang terbatas” dan “tekanan inflasi global terhadap biaya”.

WSU mengatakan bahwa mereka “tidak memiliki pilihan” selain mengurangi tenaga kerja antara 300 dan 400 orang, dimulai dengan penghapusan hingga 120 posisi kosong. Wakil rektor George Williams menyalahkan kebijakan pendidikan internasional, meningkatnya persaingan domestik dan tekanan biaya hidup yang telah memaksa banyak mahasiswa untuk berhenti kuliah atas peningkatan defisit yang diperkirakan akan terjadi tahun depan dari A$7 juta menjadi A$79 juta.

“Posisi anggaran kami yang memburuk berarti [kami] tidak akan memiliki pendapatan yang cukup untuk menutupi gaji dan biaya-biaya lain pada tahun 2026,” katanya. “Saya merasakan tanggung jawab yang berat dalam mengambil tindakan ini.”

Pemutusan hubungan kerja berskala besar telah terjadi di tempat lain, dan akan lebih buruk lagi. Serikat Pendidikan Tersier Nasional (NTEU) telah mengatur konsiliasi Fair Work Commission mengenai perubahan yang dikatakannya dapat menghilangkan 638 pekerjaan di Australian National University. Universitas Canberra telah mengundang ungkapan minat untuk melakukan pemutusan hubungan kerja secara sukarela, setelah memberhentikan sekitar 150 staf.

Universitas Wollongong dan Queensland Selatan, yang baru-baru ini memangkas sekitar 100 pekerjaan, sekarang sedang berkonsultasi mengenai proposal untuk menghapus setara dengan 335 posisi penuh waktu tambahan di antara keduanya. Universitas Griffith dan James Cook juga telah mengusulkan sejumlah pemutusan hubungan kerja, sementara institusi lain mengurangi jumlah staf lepas mereka.

NTEU menyalahkan “pola pengambilan keputusan” di mana “para eksekutif mengesampingkan keahlian staf, mengisolasi pengambilan keputusan dan mengabaikan peringatan internal”. Dikatakan bahwa proposal-proposal UTS bertentangan dengan “bukti dan logika”, namun permintaan staf untuk “dokumen-dokumen keuangan penting” telah ditolak karena konsultan-konsultan yang “hampir tidak memiliki pengalaman di sektor ini” menghasilkan “solusi-solusi” yang “jauh berbeda dengan kenyataan di lapangan”.

Presiden cabang UTS, Sarah Attfield, mengatakan bahwa “kegagalan dalam konsultasi dan transparansi” telah “melumpuhkan staf, membuat mereka semakin tidak mampu mengidentifikasi dan menantang” keputusan dari para pemimpin yang “jauh dari fungsi sehari-hari universitas”.

Presiden cabang WSU, David Burchell, mengatakan bahwa data keuangan dan pendaftaran tidak membenarkan skala pemutusan hubungan kerja yang diusulkan di universitasnya. “Ini bukan krisis yang besar,” tegasnya.

Laporan keuangan institusi, yang sejauh ini hanya diterbitkan oleh universitas-universitas negeri di Queensland dan Australia Barat, menunjukkan bahwa tahun 2024 merupakan tahun pemulihan keuangan yang kuat. Ke-11 institusi tersebut mencatat surplus rata-rata sebesar 9 persen karena pendapatan mereka tumbuh 13 persen dan pengeluaran mereka hanya naik 6 persen. Pendanaan federal dan pendapatan pinjaman mahasiswa meningkat rata-rata 10 persen, sementara pendapatan dari mahasiswa internasional melonjak 21 persen.

Aliran pendapatan ini, semuanya jauh lebih tinggi daripada masa sebelum pandemi, mendorong pendapatan rata-rata naik sebesar A$120 juta di 11 institusi. Hanya satu yang mengalami defisit, dibandingkan dengan enam institusi pada tahun 2023.

Namun, angka-angka ini didorong oleh pendapatan investasi yang kuat dan tingkat indeksasi yang sangat tinggi yang menambah 7,8 persen untuk hibah pemerintah dan kontribusi mahasiswa. Angka-angka ini juga mendahului dampak perubahan visa tahun lalu yang diperkirakan akan memicu penurunan tajam dalam pendapatan biaya kuliah internasional mulai tahun ini.

Laporan tahunan New South Wales, yang diperkirakan akan diterbitkan dalam beberapa minggu mendatang, dapat memberikan gambaran keuangan tahun 2024 yang kurang cerah bagi universitas negeri di negara bagian ini. Sembilan dari 10 universitas di tahun 2023 mengalami defisit, dan universitas-universitas di Sydney sangat bergantung pada pendapatan mahasiswa internasional.

UTS dan WSU sama-sama dirugikan oleh usulan pembatasan jumlah mahasiswa internasional yang akan menghambat rencana mereka untuk meningkatkan pendaftaran mahasiswa luar negeri pada tahun 2025. Meskipun batasan tersebut tidak pernah terwujud, para pengamat mengatakan bahwa proposal tersebut telah mengurangi permintaan secara efektif sehingga sebagian besar universitas hanya memiliki sedikit peluang untuk mencapai kuota yang diperdebatkan tahun ini.

WSU juga menghadapi persaingan yang semakin meningkat dari universitas-universitas di Sydney dan Wollongong, yang baru-baru ini mendirikan kampus di pusat kota Sydney barat, Parramatta dan Liverpool.

Sementara itu, UTS mendekati tenggat waktu 2027 untuk melunasi obligasi senilai A$300 juta yang ditanggungnya pada pertengahan 2017. Utang tersebut hanya sebagian dilunasi dari hasil

Sumber: timeshighereducation.com

Alamat Lengkap Kami

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Visa kerja pasca-studi di Australia dikecam dalam janji pemilu

Visa kerja pasca studi Australia dikecam dalam janji pemilu Menjelang pemilu federal 3 Mei, Koalisi telah menjanjikan tinjauan cepat terhadap visa 485, dengan alasan “penyalahgunaan” hak kerja pasca studi sebagai pintu belakang untuk mendapatkan pekerjaan dan migrasi permanen.

Visa kerja pasca studi Australia dikecam dalam janji pemilu Menjelang pemilu federal 3 Mei, Koalisi telah menjanjikan peninjauan cepat terhadap visa 485, dengan alasan “penyalahgunaan” hak kerja pasca studi sebagai pintu belakang untuk mendapatkan pekerjaan dan migrasi permanen. Jika terpilih, Koalisi mengatakan akan meninjau kembali Visa Lulusan Sementara (subkelas 485), dengan alasan pengaturan kerja pasca studi saat ini dieksploitasi sebagai jalur untuk mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal permanen.

Pengumuman ini muncul pada awal April, ketika pemimpin Oposisi Peter Dutton meluncurkan serangkaian kebijakan untuk sektor pendidikan internasional. Diantaranya: batas yang diusulkan untuk 240.000 kedatangan mahasiswa internasional baru per tahun, dan biaya visa baru sebesar 5.000 dolar Australia untuk pelamar yang menargetkan universitas-universitas terbaik di Australia.

Phil Honeywood, kepala eksekutif Asosiasi Pendidikan Internasional Australia (IEAA), berkomentar: “Semua yang telah diumumkan oleh Oposisi Federal selama kampanye yang berlarut-larut ini adalah anti mahasiswa internasional dan ditujukan kepada 250.000 warga Australia yang bekerja di sektor yang sedang mengalami kesulitan ini.”

“Oleh karena itu, kami skeptis dengan motivasi peninjauan 485 visa yang baru saja mereka umumkan,” tambahnya. “Jika masa lalu adalah sesuatu yang dapat dipercaya, maka hasil dari peninjauan ini sudah ditentukan sebelumnya: yaitu pengurangan penerapan visa, pembatasan durasi lebih lanjut dan bahkan potensi pembatasan pada mitra yang dapat berpartisipasi.”

“Hasil seperti itu akan menimbulkan beberapa masalah yang tidak terduga bagi Koalisi,” kata Honeywood.

“Misalnya, ketika mereka terakhir kali berada di pemerintahan, mereka setuju untuk memberikan mahasiswa India tambahan durasi 12 bulan untuk 485 visa mereka sebagai prasyarat untuk menandatangani Perjanjian Perdagangan Bebas Australia-India,” katanya.

“Sebaliknya, sejak dimulainya kampanye resmi, baik Partai Buruh maupun Partai Hijau tidak memilih untuk menjadikan mahasiswa internasional sebagai isu pemilu.”

Meskipun Honeywood percaya bahwa kondisi visa 485 saat ini “berfungsi dan layak dipertahankan”, ia percaya bahwa “mungkin ada” beberapa masalah yang dapat diatasi dengan peninjauan ulang yang tulus, dengan mengutip perlunya penyelarasan yang lebih besar antara keterampilan yang dibutuhkan dengan permintaan yang mengarah pada hasil migrasi yang lebih transparan. Dia menekankan pentingnya keterlibatan pemangku kepentingan yang tulus dalam tinjauan semacam itu.

Dalam sebuah posting blog baru-baru ini, Andrew Norton, komentator pendidikan tinggi dan profesor kebijakan pendidikan tinggi di Monash Business School, Monash University, menganalisis jumlah pemegang visa pascasarjana sementara saat ini dan yang diproyeksikan, dengan mencatat adanya potensi peningkatan yang signifikan pada jumlah total 485 pemegang visa dalam beberapa tahun ke depan.

“Australia menjalankan industri pelajar internasional yang bersifat transaksional dan harus menjunjung tinggi sisi tawar-menawarnya ketika menarik pelajar ke Australia dengan hak bekerja setelah studi,” katanya.

“Jika Koalisi menerima prinsip tersebut, mereka dapat mengurangi kelayakan untuk mendapatkan visa pascasarjana sementara bagi mahasiswa di masa depan atau mereka dapat mengurangi masa berlakunya. Hal ini akan berdampak pada pasar yang sensitif terhadap migrasi di negara-negara Asia Selatan.”

Norton menunjuk pada sejumlah besar mahasiswa baru pada tahun 2023 dan 2024, dengan mencatat bahwa jumlah total mahasiswa akan “tetap tinggi menurut standar historis”.

“Ketika mereka menyelesaikan program studi mereka, mereka akan membentuk kelompok besar pemohon visa pascasarjana sementara yang potensial,” jelasnya.

“Pada akhir Februari tahun ini, saya memperkirakan ada sekitar 1 juta orang di Australia yang menggunakan visa pelajar. Saya ragu jumlah ini akan turun secara signifikan dalam waktu dekat dan hal ini dapat menciptakan tekanan politik untuk kebijakan yang lebih ketat.”

Norton berpendapat bahwa hal penting yang dapat diambil dari kebijakan migrasi selama lima tahun terakhir adalah pentingnya mempertahankan kebijakan yang konsisten dengan penyesuaian secara bertahap, daripada membuat perubahan drastis sebagai tanggapan terhadap isu-isu jangka pendek.

Sumber: thepienews.com

Alamat Lengkap Kami

Email:  info@konsultanpendidikan.com

ApplyBoard meluncurkan fitur AI baru untuk aplikasi siswa

Fitur tersebut, yang diluncurkan pada Lokakarya Perekrut Terbaik ApplyBoard 2025 di Delhi minggu lalu, bertujuan untuk memungkinkan mitra perekrutan mengirimkan lamaran siswa dengan lebih cepat dan andal.

“Begitu Anda memilih program dan mengirimkan lamaran awal, di dunia tradisional, Anda harus menyerahkan dokumen dan menunggu sekolah, mungkin beberapa kali bolak-balik dan berminggu-minggu untuk mendapatkan umpan balik dan akhirnya mendapatkan tawaran itu,” Massi Basiri, salah satu pendiri dan presiden ApplyBoard.

“Di dunia kami, tempat kami meluncurkan Pengajuan Instan, saat Anda mengunggah dokumen terkait, Anda langsung mendapatkan umpan balik. Umpan balik ini dapat berkisar dari kualitas dokumen hingga apa yang kurang, hingga apakah dokumen tersebut memenuhi apa yang dicari sekolah.”

Dengan alat seperti 360 Solutions, yang melampaui sekadar proses lamaran, dan ApplyProof, layanan verifikasi dokumen, ApplyBoard telah mengembangkan pendekatannya terhadap cara menangani pendaftaran siswa internasional.

Baru-baru ini, platform tersebut memperkenalkan Capio, yang dirancang sebagai sistem “end-to-end” yang bertujuan membantu universitas mengelola pendaftaran mahasiswa internasional secara lebih efisien.

Menurut Sina Meraji, direktur senior pengembangan produk, ApplyBoard, peluncuran Instant Submission dibangun di atas teknologi baru yang dibentuk oleh kerja sama bertahun-tahun dengan mitra dan pengembangan berbagai produk terkait.

“Sebagian besar teknologi pada dasarnya adalah model LLM dan model pembelajaran mesin yang kami miliki. Dan itu adalah yang terbaru kami benar-benar membandingkan kinerja model terbaru dari berbagai mitra yang bekerja sama dengan kami dan berdasarkan kinerja tersebut telah mempercepat pembaruan kami,” kata Meraji.

Fitur ini sangat relevan di pasar seperti India salah satu pasar terbesar ApplyBoard di mana jumlah siswa yang pergi ke luar negeri telah melonjak secara signifikan selama dekade terakhir.

“Tingkat ekspektasi layanan dalam hal kecepatan belum pernah saya lihat di pasar lain mana pun,” kata Basiri.

Sementara platform tersebut membantu mitra rekrutmen ApplyBoard mengirimkan aplikasi siswa dan menerima umpan balik dengan lancar, aplikasi palsu dapat menimbulkan kekhawatiran yang signifikan bagi institusi.

“Penipuan menjadi sudut pandang kritis dari sekolah karena, sering kali, dianggap bahwa di dunia digital, lebih mudah untuk dirusak. Namun kenyataannya adalah bahwa di dunia digital, Anda dapat menemukan penipuan atau ketidakkonsistenan dengan lebih mudah. ​​Terkadang hal-hal bahkan tidak dapat dideteksi oleh mata manusia,” kata Basiri.

“Ada dokumen tertentu yang dapat diverifikasi, seperti nilai Bahasa Inggris. Dalam kasus tersebut, kami memeriksa sumbernya untuk memastikan bahwa dokumen tersebut asli. Apa yang disajikan pada dokumen tersebut dicocokkan dengan sistem back-end dari penyedia tersebut.”

Menurut Basiri, tidak semua dokumen memiliki kemampuan itu, jadi mereka mencari platform lain, seperti Digilocker di India, untuk memverifikasi dokumen.

“Jika tidak ada sumber lain, kami menggunakan model, AI, dan alat lain untuk mencari kejanggalan dan ketidakkonsistenan,” tambahnya.

Dengan “Penawaran Instan” ApplyBoard yang menjamin penawaran kepada mahasiswa setelah mereka menerima umpan balik atas aplikasi mereka dari institusi, Basiri membahas bagaimana organisasi tersebut dapat membantu mahasiswa jika mereka tidak mendapat tanggapan dari institusi pilihan mereka.

“Kami memiliki beberapa sekolah, sekolah-sekolah yang berpikiran terbuka dan lebih futuristik. Mereka tahu bagaimana teknologi dapat berkembang pesat. Kami bekerja sama dengan mitra-mitra dekat tersebut dan berintegrasi dengan cara yang lebih sistematis sehingga kami dapat mengeluarkan penawaran tersebut atas nama mereka,” kata Basiri.

“Selain itu, dalam sistem kami sekarang, kami memiliki teknologi AI lain yang benar-benar akan memungkinkan dan membantu siswa dengan hal-hal yang tidak umum atau hal-hal yang tidak mereka kenal. Misalnya, kami memiliki panduan SOP yang baru saja kami luncurkan, yang dapat mereka gunakan untuk memudahkan mereka memahami dan membuat draf.”

Menurut Hamed Karimian, manajer produk senior, ApplyBoard, platform tersebut berupaya meningkatkan peluang keberhasilan siswa dengan membantu menyaring sekolah berdasarkan kemungkinan penerimaan mereka, sekaligus melakukan penyesuaian pada kualitas dokumen dan materi aplikasi lainnya.

“Pertama, kami menyaring dan memilah-milah sekolah tempat siswa memiliki peluang tertinggi, lalu kami membantu mereka menulis SOP yang lebih baik, melakukan penyesuaian pada resume mereka, dan memastikan bahwa semua dokumen yang mereka berikan berkualitas baik, sehingga memberi mereka peluang yang besar,” ungkap Karimian.

“Setelah kami melakukan semua penyesuaian ini dengan siswa, dan membantu mengirimkan aplikasi ke sekolah, kami memiliki tingkat keberhasilan 95,7% untuk mendapatkan penerimaan dari sekolah tersebut.”

Sumber: thepienews.com

Alamat Lengkap Kami

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Apakah AS benar-benar membutuhkan Departemen Pendidikan?

Upaya Donald Trump untuk mengakhiri keterlibatan pemerintah federal dalam pendidikan mungkin merupakan pembayaran utang politik, namun pembentukan departemen ini juga bersifat politis dan, dapat dikatakan, tidak sesuai dengan konstitusi. Patrick Jack mempertimbangkan pandangan yang ditawarkan oleh sesama negara federasi, Kanada dan Australia.

Ketika para pendiri negara menyusun dokumen pendirian Amerika Serikat pada tahun 1780-an, mereka memastikan untuk mengabadikan kebebasan berbicara, kebebasan beragama, dan hak untuk memanggul senjata. Mereka juga meluangkan waktu untuk menetapkan klausul yang melarang negara bagian mencetak uang mereka sendiri dan melarang warga negara menerima gelar bangsawan sekaligus memungkinkan mereka menjadi bajak laut atas nama negara.

Namun, tidak ada satu pun penyebutan tentang pendidikan. Tidak dalam Konstitusi, Bill of Rights, atau dalam salah satu dari 17 amandemen berikutnya. Dan karena salah satu amandemen tersebut yang ke-17 menetapkan bahwa semua kewenangan yang tidak secara khusus diberikan kepada pemerintah federal menjadi tanggung jawab negara bagian, pendidikan selalu dipahami sebagai tanggung jawab negara bagian.

Sebelum tahun 1972, pemerintah pusat hanya memiliki komisaris pendidikan di dalam Departemen Dalam Negeri, yang dirancang murni untuk mengumpulkan data tentang sekolah. Itu kemudian digantikan oleh Kantor Asisten Sekretaris Pendidikan di dalam Departemen Kesehatan, Pendidikan, dan Kesejahteraan. Namun kemudian, pada tahun 1979, Departemen Pendidikan federal yang lengkap didirikan.

Pembentukan departemen ini merupakan langkah “politis”, menurut Stephen Joel Trachtenberg, mantan presiden George Washington University, yang merupakan asisten khusus komisaris pendidikan pada pemerintahan Lyndon Johnson. Hal ini dilakukan untuk memenuhi janji kampanye yang telah dibuat Jimmy Carter kepada serikat guru selama kampanye pemilihan presiden tahun 1976.

Namun, jika utang politik menyebabkan terbentuknya departemen ini, maka hal itu juga dapat menyebabkan kehancuran, menurut Trachtenberg. Dia melihat perintah eksekutif Trump yang mengharuskan menteri pendidikannya, Linda McMahon, untuk menutup departemen tersebut “sejauh yang sesuai dan diizinkan oleh hukum” sebagai balasan atas dukungan dari kelompok sayap kanan yang dipenuhi dengan “paranoia” bahwa pemerintah yang besar ingin mengambil alih kendali atas kurikulum sekolah. Trump mengatakan dalam kampanyenya bahwa menghapus Departemen Pendidikan (biasanya disingkat “ED” untuk menghindari kebingungan dengan Departemen Energi) akan “menguras rawa pendidikan pemerintah dan menghentikan penyalahgunaan uang pembayar pajak untuk mengindoktrinasi anak muda Amerika dengan berbagai hal yang tidak ingin didengar oleh anak muda kita”.

Trump akan membutuhkan persetujuan kongres untuk menutup departemen ini sepenuhnya dan kemungkinan akan menghadapi rentetan tantangan hukum di sepanjang jalan. Meskipun demikian, perintahnya telah memicu kegemparan di sebagian besar dunia pendidikan AS.

Pedro Noguera, dekan Sekolah Pendidikan Rossier di Universitas California Selatan yang bekerja sama dengan Emery Stoops dan Joyce King Stoops, mengatakan bahwa ED pada dasarnya diciptakan oleh Carter untuk melindungi hak-hak anak-anak yang kurang beruntung. “Jika hanya membubarkan ED dan menyerahkannya kepada negara bagian, pada dasarnya sama saja dengan menyerahkan kepemimpinan apa pun dari pemerintah federal dalam bidang pendidikan,” Noguera memperingatkan.

“Kita memiliki negara dengan banyak ketimpangan dan khususnya negara-negara bagian selatan telah terkenal karena tidak memberikan layanan yang layak bagi anak-anak minoritas selama bertahun-tahun. Jika itu terjadi, apa yang akan dilakukan pemerintah federal?”

Mengenai pendidikan tinggi, peran utama departemen tersebut adalah pengumpulan data; menegakkan perlindungan mahasiswa, termasuk terhadap diskriminasi; menyediakan sumber daya untuk meningkatkan akses bagi mahasiswa penyandang disabilitas dan kurang mampu, seperti Pell Grants; mengawasi berbagai perlindungan konsumen bagi mahasiswa; dan mengelola program pinjaman mahasiswa.

Jika program-program tersebut diserahkan kepada negara bagian untuk dijalankan, “program-program tersebut akan dihentikan begitu saja. Tidak akan ada yang turun tangan”, prediksi Trachtenberg, dengan mengutip posisi keuangan banyak pemerintah negara bagian yang berbahaya.

Pada kenyataannya, Trump telah mengindikasikan bahwa fungsi pemberian hibah dan pinjaman Departemen Pendidikan akan diambil alih oleh departemen pemerintah lain. Dan beberapa pihak di pihak kanan percaya bahwa hal ini akan menghasilkan layanan yang lebih baik.

“Washington terutama menjalankan program bantuan mahasiswa, dan berdasarkan sebagian besar indikasi [melakukannya] dengan buruk,” kata Neal McCluskey, direktur Center for Educational Freedom di Cato Institute yang beraliran libertarian. “Washington tidak memiliki keahlian dalam cara menyediakan pendidikan tinggi yang sebenarnya.” Ia memprediksi bahwa pemindahan pinjaman mahasiswa ke departemen yang mengkhususkan diri dalam instrumen keuangan akan membuat administrasi mereka lebih efisien dan efektif.

Namun kekhawatiran Trachtenberg adalah bahwa “minat dan gairah untuk pendidikan, komitmen terhadapnya, sedang terkuras” dari pemerintah oleh serangan terhadap Departemen Pendidikan, yang telah mengakibatkan 50 persen tenaga kerjanya diberhentikan.

“Dugaan saya adalah bahwa di masa depan, semakin sedikit inisiatif atas nama pendidikan yang akan muncul dari administrasi, dari Kongres, dan itulah yang harus Anda khawatirkan,” kata Trachtenberg. “Jika Anda tidak memiliki visibilitas dari sebuah departemen dan seorang sekretaris, Anda bisa kehilangan fokus, minat, dan dana federal.”

Sistem Kanada juga secara rutin dikritik karena kurangnya advokat yang tepat di tingkat federal, serta karena kurangnya infrastruktur data nasional tentang pendidikan tinggi. Konstitusi tetangga utara AS secara khusus menetapkan pendidikan sebagai masalah provinsi dan negara tersebut tidak pernah membentuk departemen pendidikan federal.

Formulasi konstitusional Kanada perlu mencerminkan sifat bilingual dan binasionalnya, kata Elizabeth Buckner, profesor madya pendidikan tinggi di Universitas Toronto. “Menyerahkan masalah kebijakan sosial, termasuk pendidikan, ke provinsi memungkinkan provinsi untuk mempertahankan pendekatan mereka yang berbeda dan, khususnya, memungkinkan minoritas Prancis untuk mempertahankan otonomi dalam domain budaya.”

Provinsi Kanada telah “dengan keras melindungi” otoritas mereka sejak konstitusi diratifikasi, tambah Glen Jones, profesor pendidikan tinggi di Toronto. “Sulit membayangkan partai nasional mana pun yang mengadvokasi semacam kehadiran nasional yang kuat di area ini.”

Ottawa terlibat dalam berbagai bidang kebijakan yang bersinggungan dengan pendidikan tinggi, khususnya pendanaan penelitian dan inovasi serta internasionalisasi. Namun, keterlibatan federal dalam isu-isu utama seperti bantuan keuangan masih sangat sedikit, kata Jones.

Namun demikian, meskipun provinsi-provinsi Kanada telah mengembangkan struktur dan keahlian untuk mengelola bantuan keuangan dan penilaian berstandar internasional dari waktu ke waktu, “Sulit untuk membayangkan setiap negara bagian AS mengembangkan program bantuan keuangan yang dikelola negara bagian untuk mahasiswa pascasarjana dari awal, lalu berkoordinasi dengan semua negara bagian lain saat seorang mahasiswa belajar di luar negara bagian, seperti yang saat ini dilakukan di Kanada,” kata Buckner.

Selain itu, meskipun sering ada seruan untuk koordinasi nasional yang lebih besar, Jones mengatakan pendekatan desentralisasi Kanada telah memfasilitasi jenis eksperimen kebijakan tertentu. Dan Trachtenberg melihat hal ini sebagai kemungkinan keuntungan dari ketergantungan yang lebih besar di AS pada struktur negara bagian yang berbeda, khususnya di tingkat sekolah dasar.

“Anda memiliki 50 eksperimen yang berlangsung pada waktu tertentu, dan sejauh sekolah berbeda, dan kurikulum berbeda, Anda memiliki kesempatan untuk melihat mana yang lebih baik atau mana yang lebih buruk, dan kemudian beradaptasi dan meminjam ide,” katanya. “Tidak semuanya suram, tetapi kemungkinan penutupan Departemen Pendidikan pada dasarnya bukanlah hal yang baik.”

Bukan hal yang tak terelakkan bahwa negara yang konstitusinya membingkai pendidikan sebagai kompetensi yang dilimpahkan harus menahan diri, selamanya, dari menambah tanggung jawab federal yang besar untuk universitas.

Sekitar 100 tahun setelah para perumus undang-undang AS menyerahkan pendidikan kepada negara bagian, hal yang sama terjadi di Australia. Negara bagian dan teritori di negara tersebut masih mengelola sekolah hingga saat ini, dengan sebagian dana berasal dari pemerintah Persemakmuran (nasional). Namun, pendidikan tinggi pada dasarnya telah menjadi perhatian federal, dengan apa yang Andrew Norton, profesor kebijakan pendidikan tinggi di Universitas Monash, sebut sebagai “sistem nasional tunggal”.

Meskipun universitas negeri di Australia didirikan oleh undang-undang negara bagian, sebagian besar pendanaannya berasal dari pemerintah federal, ungkapnya. Mantan perdana menteri Tony Abbott berpendapat bahwa negara bagian dan teritori harus mempertahankan tanggung jawab utama untuk menjalankan dan mendanai sekolah negeri, tetapi tidak pernah ada kampanye arus utama untuk menghapus departemen pendidikan federal, katanya.

“Dalam sistem seperti Australia, akan selalu ada ketegangan tentang siapa yang melakukan apa. Namun, menurut saya tren yang dominan adalah menuju sentralisasi tanpa mengusulkan pembalikan total dari tujuan konstitusional awal,” kata Norton. Dalam hal itu, ada “kebingungan” di Australia atas upaya Trump untuk menginjak-injak keterlibatan federal dalam pendidikan tinggi.

Gwilym Croucher, profesor madya di University of Melbourne dan wakil direktur Centre for the Study of Higher Education, setuju bahwa Australia berada di tempat yang sangat berbeda dari AS dalam hal pengawasan pendidikan tinggi paling tidak karena populasinya yang jauh lebih kecil.

“Beberapa sistem universitas negeri di AS sangat besar dan lebih mirip dengan Australia dalam hal jumlah mahasiswa yang mereka ajar, atau skala hasil penelitian mereka,” katanya.

Ia menambahkan bahwa tidak akan ada manfaat yang jelas bagi mahasiswa, universitas, atau bahkan anggaran federal jika Departemen Pendidikan ditutup karena pemerintah Persemakmuran kemudian “perlu mendanai negara bagian untuk mendukung universitas jika Australia tetap memiliki universitas negeri. Sulit untuk melihat bagaimana ini akan menghemat sejumlah besar dana dalam jangka panjang.”

Namun di negara yang sama waspadanya dengan AS terhadap pemerintahan yang besar, “argumen konstitusional” tampak besar, menurut Frederick Hess, peneliti senior dan direktur studi kebijakan pendidikan di American Enterprise Institute (AEI) yang konservatif.

“Washington, dalam menciptakan departemen pendidikan dan menciptakan program yang mulai mengarahkan cara sekolah atau perguruan tinggi beroperasi, telah melampaui batas konstitusionalnya. Dan ini bermasalah bagi mereka yang percaya bahwa pemerintahan yang terbatas itu baik dengan sendirinya,” katanya.

Daripada melindungi hak-hak sipil anak-anak dan kaum muda, seperti yang diinginkan oleh serikat guru, Carter, pada kenyataannya, hanya berhasil menciptakan “mimbar yang dapat diakses oleh semua orang yang ingin memengaruhi kebijakan”, imbuh Hess.

Jajak pendapat menunjukkan bahwa masyarakat Amerika tidak menyukai ED lebih dari hampir semua lembaga federal lainnya, tetapi ada perpecahan partisan yang besar. Dalam jajak pendapat tahun 2024 untuk Pew Research Center, 64% dari Partai Republik memandang departemen tersebut secara tidak baik, sementara 62 persen dari Partai Demokrat memandangnya secara baik. Namun, sementara Noguera bersikeras bahwa satu-satunya alasan untuk menutup ED adalah “ideologis”, Hess percaya bahwa, selain kasus konstitusional, ada argumen yang lebih pragmatis, berdasarkan pada fasilitasi departemen terhadap apa yang disebutnya menggemakan mantan menteri pendidikan Inggris Michael Gove “blob”: kelompok kepentingan pendidikan yang kuat, regulasi yang berlebihan, dan birokrasi.

Dalam pandangan Hess, universitas sangat enggan melihat departemen tersebut menghilang karena mereka telah mengembangkan “hubungan simbiosis yang mendalam” dengannya. “Pada dasarnya, ED adalah mesin pencetak uang raksasa bagi perguruan tinggi dan universitas di Amerika, jadi bukan berarti mereka mendukung departemen tersebut, melainkan mereka merasa departemen itu ada untuk melayani institusi mereka,” katanya.

Namun, dalam menghapus departemen tersebut, “Anda harus memastikan bahwa Anda benar-benar menyederhanakan apa yang sedang terjadi,” Hess memperingatkan. “Tujuannya bukan hanya untuk tidak memiliki departemen. Salah satu tantangan untuk membatalkan birokrasi yang telah berlangsung selama setengah abad adalah Anda benar-benar perlu mengubah undang-undang atau mengubah aturan yang ada dan itu membutuhkan staf, keahlian, dan waktu.”

Dalam hal itu, Hess memperingatkan bahwa menutup departemen berisiko menjadi sekadar gerakan simbolis. Dan ia percaya bahwa perubahan kebijakan lainnya berpotensi memberikan dampak yang lebih nyata di dunia.

“Kenyataannya adalah jika Anda membiarkan departemen tersebut tetap utuh dan Anda membuat perubahan dramatis pada pinjaman mahasiswa atau jika Anda merombak akreditasi secara radikal, seperti yang tampaknya akan dilakukan oleh administrasi tindakan tersebut akan berdampak jauh lebih besar pada perguruan tinggi di seluruh AS,” kata Hess.

Sementara itu, Trachtenberg setuju bahwa simbolisme merupakan kekuatan pendorong yang kuat di balik desakan Partai Republik untuk menghapus ED dan mungkin juga mendorong kebangkitannya suatu hari nanti. Namun meskipun kekalahannya akan berarti “anak muda dan mahasiswa akan terluka”, Trachtenberg tidak memiliki harapan besar akan kebangkitan pada akhirnya.

“ED ini telah menjadi ciptaan yang kontroversial sejak didirikan, dan saya kira tidak seorang pun akan mau melakukannya lagi karena ini akan menjadi pertarungan besar,” katanya “kecuali mereka memutuskan bahwa ini adalah pertarungan khusus yang ingin mereka lakukan lagi karena alasan simbolis berada dalam pemerintahan pasca-Trump.”

Sumber: timeshighereducation.com

Alamat Lengkap Kami

Email:  info@konsultanpendidikan.com