Tampaknya, orang tak kan bisa menyangkal lagi kalau bahasa Inggris adalah bahasa dengan penyebaran tercepat dalam sejarah bahasa manusia.
Semuanya menggunakan bahasa Inggris, baik itu di internet ataupun di media komunikasi lainnya. Juga fakta dimana setiap pegawai yang bekerja di perusahaan multinasional harus bisa menguasai bahasa tersebut.
Tetapi, ternyata bahasa Inggris saja tidak cukup lho.
Pada bulan Juni tahun lalu, CBI (Confederation of British Industry) melakukan survey pada 300 anggotanya dan dua pertiganya menyatakan bahwa mereka lebih suka dan butuh staf yang punya kemampuan bahasa asing lebih dari satu, dengan bahasa Arab dan Mandarin sebagai bahasa asing yang paling dibutuhkan.
Survey ini menunjukan betapa vitalnya bahasa dalam dunia bisnis.
Nyatanya, perusahaan-perusahaan tersebut harus menghadapi tantangan sulit dalam rekrutmen staf dengan keahlian berbahasa asing lebih. Dunia bisnis mencari serangkaian keahlian, termasuk di dalamnya team work dan kemampuan untuk mendemonstrasikan wawasan global sekaligus kompetensi khusus dari sektor yang dibutuhkan.
Meskipun banyak dari keahlian yang dicari tak sepenuhnya berhubungan dengan lulusan bahasa, tapi lapangan pekerjaan seringkali dikendalikan oleh kompetensi bahasa dan intelejensi budaya yang mengikutinya.
Dari sini kita tahu kenapa jumlah murid yang mendaftar pada universitas dengan banyak program bahasa semakin meningkat. Program-program ini umumnya bebas biaya dan merupakan pelengkap dari jurusan yang diambil.
Di Aston University, misalnya, mereka menawarkan 7 bahasa, dengan level tinggi untuk masing-masing bahasa. Tren ini semakin meluas di kalangan mahasiswa disebabkan tingginya keinginan mahasiswa untuk mengikuti pendidikan bahasa karena sadar akan pentingnya penguasaan bahasa asing.
Selain itu, negara juga memerlukan ahli bahasa agar dapat mengembangkan kapasitas internasionalnya. Seiring dengan bertambahnya penduduk dunia yang bisa berbicara bahasa Inggris, menguasai bahasa Inggris saja tidak cukup.
Program bahasa yang disediakan oleh universitas sangatlah penting untuk membantu para lulusan menjadi seorang ahli bahasa. Universitas diharapkan bisa memastikan lulusannya bisa mengelola berbagai macam kegiatan dalam dunia kerja di masa depan, dari percakapan dengan klien lokal hingga menafsirkan pandangan konsumen.
Salah satu tema yang muncul dalam obrolan dengan para pengusaha yang mempekerjakan lulusan Aston University adalah tentang akses global. Dalam obrolan tersebut, ada satu tim rekruitmen yang cukup signifikan menyatakan bahwa perusahaan mereka hanya ingin mempekerjakan lulusan yang punya pengalaman bahasa lebih dari satu.
Idealnya ditunjukkan dengan pengalaman minimal selama setahun kuliah di luar negeri atau pernah bekerja di luar negeri. Karenanya, hampir satu dari tiga murid bisnis di Aston University yang melakukan magang kerja, sekarang memilih untuk melakukannya di luar negeri.
Meskipun bahasa Inggris masihlah penting, tidak cukup bagi seseorang hanya menguasai satu bahasa tersebut. Dan dengan demikian, sudah jelas bagi kita akan pentingnya bahasa karena kegunaannya sebagai akses global, suatu cara menuju lingkungan dan lapangan pekerjaan internasional. Kita akan bisa menggunakannya untuk bisa berbaur dengan orang-orang dari seluruh dunia.
Jadi, jika sekarang kamu menjalankan sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang ekspor-impor, atau berencana membuka usaha di bidang ini, maka saat selanjutnya kamu berjuang di pasar saham atau saat kamu menghadapi masalah bisnis, solusi yang kamu perlukan mungkin saja bukan strategi pemasaran atau desain produk yang baru, tapi sebuah strategi bahasa yang menggunakan keahlian berbahasa untuk meraih keuntungan bisnis yang lebih besar.
Sekolah Bahasa Korea Langsung di Seoul National University, Korea
Worldwide School of English, Kuasai Bahasa Inggris langsung di Selandia Baru
Kuliah Sambil Perdalam Bahasa Jepang di Yokohama???Yokohama Design College is A Right Choice
Belajar Bahasa Jepang Intensive Di Yokohama Design College Comperehensive Japanese Department
Belajar Bahasa Inggris di Cornell Institute of Business and Technology, New Zealand
Belajar Bahasa Jepang di Marioka Japanese Language School Yuuukk~
Global Village, Kursus Bahasa Inggris di Kanada dan Hawaii~
Carl Duisburg Centren, Langkah Awal Buat Kamu Yang Pengen Kuliah di Jerman
Ada hal yang ingin anda tanyakan ? Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .Email: info@konsultanpendidikan.com










Kebanyakan orang berpikir kalau orang yang kuliah di luar negeri pasti akan fasih ngomong bahasa negara tempatnya kuliah itu.
Ups, ternyata tak selalu begitu lho. Banyak lulusan luar negeri yang ternyata skill speaking-nya biasa-biasa saja, tak lebih fasih daripada yang belajar di negeri sendiri.
Sedikitnya setahun dan seringkali lebih, kamu yang kuliah di luar negeri diharapkan kembali ke tanah air dengan menguasai gramatika asing yang sangat sulit beserta konjugasinya yang rumit.
Di sisi lain, fluensi tentu jauh lebih gampang dari gramatika dan tetek bengeknya ‘kan?
Dengan interaksi yang terjadi selama tinggal di luar negeri, harusnya fluensi sudah jadi sesuatu yang otomatis. Ini anggapan banyak orang.
Nyatanya, tak sedikit mahasiswa yang belajar di luar negeri mengaku kalau kemampuan bahasa mereka tak terlalu bagus meskipun mereka sudah lama tinggal di negara itu.
Stephanie Rogers, seorang mahasiswa pertukaran jurusan bahasa Prancis di Lancaster University mengatakan kalau kebanyakan orang di Lancaster yang berumur di bawah 40 tahun memiliki pemahaman bahasa Inggris yang sangat bagus, sehingga mereka sepertinya akan segera mengerti maksudmu begitu kamu mulai tergagap. Hal ini karena mereka mengira kamu tak mengerti benar. Jadi, yang perlu kamu lakukan adalah kamu harus percaya pada kemampuanmu sendiri dan ngotot dengan itu.
Kemajuan teknologi adalah hal lainnya yang bisa jadi menghalangi kita untuk benar-benar bisa menyerap budaya asing. Ini karena dengan banyaknya aplikasi, kita jadi keenakan buat mendapatkan bantuan saat kita kesulitan berbahasa asing. Misal kata, kamu tak tahu cara mengucapkan “aku telat karena bangun kesiangan” dalam bahasa Inggris, dengan beberapa sentuhan di layar smartphone-mu kamu sudah bisa menemukan jawabannya secepat kilat.
Selain itu, fasilitas internet seperti streaming TV atau radio, meskipun memang menyenangkan saat kita di perantauan, sebenarnya tak bagus bagi kita yang ingin lebih menyerap bahasa asing. Jika hampir setiap malam kita streaming TV Indonesia saat kita kuliah di London, misalnya, lalu bagaimana caranya kita bisa benar-benar fasih bahasa Inggris kalau kebiasaan saja tetap sama seperti saat di negeri sendiri?
Nah, karena itu saat di luar negeri, cobalah menyesuaikan diri dengan berpikir dan bertindak sesuai dengan budaya tempatmu berada. Perbanyak interaksi dengan bahasa dan budaya lokal tempatmu kuliah. Tentu saja kamu tetap harus aktif menyaring yang mana yang bisa kamu terapkan dan mana yang tak boleh.
Dan jika kamu merasa tenggelam dalam kebiasaan Indonesia-mu selama kuliah di luar negeru, inilah tips yang bisa kamu gunakan untuk meningkatkan interaksimu dengan bahasa negara tempatmu kuliah:
Mungkin kamu pernah mendengar perumpamaan ini: belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air. Dari perumpamaan ini mungkin kamu jadi berpikiran bahwa hampir mustahil untuk belajar hal baru saat usia sudah tidak lagi muda.
Sebenarnya perumpamaan ini ini tidak sepenuhnya benar.
Menurut sejarah neurosains—ilmu yang mempelajari otak—otak dewasa dianggap serupa struktur yang sudah pasti , yang sekali mengalami gangguan, tidak akan bisa diperbaiki. Akan tetapi hasil penelitian sejak tahun 1960-an menunjukkan hasil yang berlawanan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa struktur otak manusia sebenarnya merupakan struktur yang dinamis yang bisa berubah sendiri sebagai respons terhadap pengalaman baru dan beradaptasi terhadap cedera yang kemugkinan mengenainya. Inilah fenomena yang dikenal dengan neuroplasticity.
Secara kolektif, inti penelitian ini menyarankan bahwa seseorang tak pernah terlalu tua untuk mempelajari suatu hal baru, tetapi semakin tua usianya, semakin sulit baginya untuk memeroleh hasil maksimal. Hal ini dikarenakan neuroplasticity umumnya menurun seiring dengan bertambahnya usia seseorang, yang berarti bahwa otak menjadi kurang bisa fleksibel dalam merespon hal-hal baru.
Beberapa aspek pembelajaran bahasa menjadi lebih sulit seiring dengan usia, sementara aspek lainnya mungkin menjadi lebih mudah. Seperti yang dikatakan oleh Albert Costa—seorang profesor neurosains yang memelajari bilingualisme di Universitat Pompeu Fabra, Barcelona—bahwa orang-orang yang lebih tua memiliki perbendaharaan kata yang lebih banyak daripada orang-orang yang lebih muda, dimana hal ini memungkinkan bagi orang yang lebih tua untuk menjadi seperti pembicara bahasa asli.
Bagi orang yang lebih dewasa, menghafalkan kosakata dalam bahasa asing lebih mudah dilakukan daripada belajar gramatika ataupun syntax. Hal ini karena kata-kata baru dapat dengan mudah dipetakan ke dalam ranah pengetahuan yang sudah ada dalam diri seseorang.
Akan tetapi pelajar yang lebih tua biasanya akan lebih sulit untuk bisa fasih dalam hal pengucapan atau aksen dikarenakan fonem atau bunyi bahasa biasanya diterima lebih natural oleh anak-anak.
Mempelajari bahasa asing mungkin tidak mudah bagi orang dewasa, akan tetapi ada penelitian yang menyatakan bahwa dengan mempelajari bahasa asing akan membawa manfaat bagi kesehatan otak. Seiring dengan bertambahnya usia kita, kebanyakan dari kita akan mengalami penurunan fokus dan ingatan, dan bahkan pada beberapa orang ada yang mulai terkena Alzheimer atau penyakit lainnya yang berhubungan dengan kehilangan ingatan. Sejumlah penelitian menyarankan bahwa mempelajari bahasa asing bisa memperlambat gejala penurunan kinerja otak atau bahkan bisa menghindarkan dari penyakit hilang ingatan.
Para peneliti di Edinburg University baru-baru ini menguji catatan medis dari 648 pasien Alzheimer di Hyderabad, sebuah kota di India. Mereka menemukan bahwa orang-orang bilingual lebih lambat terkena penyakit hilang ingatan daripada orang-orang monolingual, dengan catatan rata-rata empat setengah tahun.
Mempelajari sebuah bahasa asing pada saat usia dewasa mungkin lebih bermanfaat daripada mempelajarinya lebih awal karena orang perlu mengerahkan usaha lebih saat melakukannya. Hal ini setara dengan latihan fisik, jalan-jalan lebih baik bagi kesehatanmu, tetapi tak sebaik lari.
Belajar—dan menggunakan—bahasa asing tampaknya meningkatkan sesuatu yang disebut para ahli psikologi dan neurologi sebagai fungsi eksekutif. Sebuah fungsi yang merujuk pada proses mental yang memungkinkan kita untuk menyelang-nyelingkan pikiran dan perilaku kita dari satu waktu ke waktu lainnya berdasarkan hal-hal yang dihadapi.
Lepas dari semua keseulitan yang dihadapi, belajarlah bahasa asing sebagai sebuah kesenangan dan menganggapnya seperti bermain puzzle yang harus diselesaikan. Anggaplah kegiatan belajar tersebut sebagai sebuah usaha untuk menjaga otak agar tetap aktif. Ketika kamu berhasil dan bisa mengekspresikan dirimu sendiri, rasanya akan seperti kamu sedang menggunakan bagian lain dari otakmu yang sebelumnya tidak kamu gunakan.
Jadi, kalau ditanya adakah batasan usia untuk belajar bahasa asing, kamu sudah mendapatkan jawabannya, ‘kan?






