Mahasiswa Luar Biasa di Cambridge University Pada Saat Ini (Part 2)

cambridge Setelah sebelumnya kita sempat membahas tentang 8 mahasiswa luar biasa yang ada di Cambridge University pada saat ini (bisa cek disini), kita akan lanjut bahas beberapa mahasiswa di Cambridge University pada saat ini yang gak kalah gokil nih braw. Langsung aja ya kita meluncur 😀

Justina Kehinde Ogunseitan – Memenangkan Penghargaan dalam Pembacaan Puisi & Pembicara di Konferensi TEDx Youth 

images (1) Justina Kehinde Ogunseitan mulai berpuisi lisan untuk menyuarakan masalah warna kulit yang dialami para wanita dan kemudian mendapati bahwa dirinya tak hanya menikmati kegiatan di bidang ini tapi juga menjadi sangat mahir. Pada bulan November 2012, dia memenangkan Benjamin Zephaniah Poetry Competition untuk sebuah puisi tentang mutilasi gen wanita. Justina kemudian menyadari bahwa penampilannya memiliki kekuatan tersendiri, menghibur sekaligus mendidik. Sejak saat itu, dia kemudian menulis masalah-masalah lainnya termasuk perdagangan manusia, kekerasan lokal dan rasisme. Atas keaktifannya ini, dia telah memenangkan beberapa kompetisi bergengsi. Pada bulan November 2013, Justina diundang menjadi pembicara kunci TEDc Youth Conference.
Dalam dunia panggung sendiri, Justina bukanlah seorang pendatang baru. Pada musim gugur 2012, dia menyutradarai, memproduseri dan berperan dalam sebuah pertunjukan yang semuanya dilakukan oleh wanita berkulit hitam. Dan ini menjadai pertunjukan pertama dalam sejarah Cambridge dimana semua kru pertunjukan adalah berkulit hitam dan ber-gender wanita. Pertunjukan tersebut, “For Colored Girls (Who Have Considered Suicide When Rainbow is Enuf),” didasarkan pada sebuah puisi terkenal karya Ntozake Shange, yang menggabungkan puisi, lagu dan tarian untuk mengkonfrontasi topik seperti pemerkosaan, persaudaraan kaum wanita, cinta dan aborsi. Pertunjukan yang tiketnya habis terjual ini tercatat sebagai satu-satunya pertunjukan satu malam yang tiketnya ludes terjual dalam 24 jam. Justina ikut menyumbang aktingnya dalam pertunjukan ini, bersama dengan sesama siswi Cambridge lainnya Ifeyinwa Frederick, Setelah lulus dari Cambridge, Justina berharap ia bisa bekerja di bidang keadilan sosial, pada bidang-bidang yang menangani masalah perdagangan manusia dan pelecehan seksual.

Michael Dunn Goekjian – Finalis di Turnamen Debat Tingkat Tinggi Dunia 

michael-dunn-goekjian-reached-the-finals-of-the-worlds-highest-level-debating-tournament Sebagai mahasiswa jurusan Matematika, Michael Dunn Goekjian tak menyangka bahwa dirinya akan banyak terlibat dalam masalah seni atau masalah-masalah yang sedang berkembang saat ini. Melalui pengalamannya di Cambridge Union Society—komunitas debat tertua di dunia, yang mana sekitar 70% anggotanya dari mahasiswa S1 Cambridge—Michael beradu argumen dengan mahasiswa-mahasiswa lainnya dari seluruh dunia dalam topik yang sangat beragam mulai dari suku bunga sampai penggunaan doping dalam dunia olahraga. Michael yang sekarang berumur 19 tahun merupakan ketua klub debat termuda yang pernah ada. Sebagai ketua, bertugas mengkoordinasikan debat mingguan dan susunan pembicara, mengatur komite yang beranggotakan 50-an orang dan memastikan bahwa komunitas debat ini mencapai tujuan jangka panjang dan tujuan kemanusiaannya. Michael mewakili Union pada turnamen di New York, Paris, Dublin dan India dan pada bulan April ia mencapai final HWD Round Robin, turnamen tingkat tinggi yang diikuti oleh para mahasiswa juara dari seluruh dunia. Setelah menyampaikan argumentasinya atas topik yang diberikan, pemuda ini kemudian disebut sebagai pembicara terbaik keempat dalam turnamen tersebut. Musim panas ini, Michael akan magang dalam bidang keamanan di Goldman Sachs. Ia berencana untuk berkarir dala bidang keuangan atau politik setelah lulus dari Cambridge.

Olivia Taylor – Memimpin Para Mahasiswa Pasca-Sarjana dalam Ekspedisi ke Beberapa Tempat di Dunia

olivia-taylor-leads-research-based-student-expeditions-around-the-world (1) Mengambil jurusan Geography Tripos, Olivia Taylor merupakan pemimpin organisasi kampus di Cambridge yang dikenal tangguh dalam ekspedisi, Cambridge University Expeditions Society. Organisasi mahasiswa yang satu ini sudah berumur lebih dari 110 tahun yang ada untuk mendukung para mahasiswa untuk melanjutkan tradisi agung Great British dalam penjelajahan. Setiap tahunnya, beberapa tim ekspedisi yang terdiri dari sejumlah mahasiswa yang disetujui kampus akan menjelajah tempat-tempat terkucil di di dunia. Taylor sudah menjelajah Svalbard, Pegunungan Alpen, Himalaya dan dengan mandiri mengorganisasikan sebuah ekspedisi yang semua anggotanya wanita menuju Islandia utara.

Ryan Anmar – Mengadakan Tur Internasional Sebuah Pertunjukan “Sketch Comedy” Pada Musim Panas Ini

ryan-anmar-is-internationally-touring-a-sketch-comedy-show-this-summer Ryan Anmar merupakan seseorang yang akan menonton “Lord of the Rings” tanpa suara sehingga bisa mengisi suara. Menggambarkan dirinya sendiri sebagai Kiwi—Anmar masuk ke Cambridge karena beasiswa yang diberikan pihak kampus kepada satu warga New Zealand setiap tahunnya—dia menyumbangkan bakat dan keahliannya dengan menjadi wakil ketua Cambridge Footlights, sebuah organisasi komedi kampus yang berumur 120 tahun. Selama keaktifannya di Footlights, Anmar meraih banyak prestasi. Adaptasi panggungnya dari karya Roald Dahl “Esio Trot” mendapat review yang memuaskan pada Edinburgh Fringe Festival dan 4 bintang dari The Times. Anmar juga menulis “The Golden Fleece” yang terdaftar dala Harry Porter Prize dan ditampilkan dalam pertunjukan yang laris manis. Selanjutnya, Anmar akan menjalani tur di bawah bendera Footlight selama hampir 4 bulan di London, Edinburgh, Heidelberg, dan US. Pertunjukan sketsanya mengombinasikan sketsa, monolog, dan lagu-lagu yang ditulis dan dibawakan oleh lima orang. Setelah lulus dari Cambridge, Anmar berharap bisa bekerja di pertelevisian, khususnya menulis skenario acara untuk anak-anak baik itu di Nickelodeon US atau Pukeko Production di New Zealand.

Steve Dudek – Mendapat Penghargaan Atletik dalam Olahraga Mendayung

steve-dudek-received-the-highest-athletic-honor-for-rowing Setiap tahunnya, lebih dari 7 juta penduduk Britania Raya menonton The Boat Race, sebuah perlombaan mendayung tahunan antara Oxford dan Cambridge. Selama kuliah di Cambridge, pemuda Wisconsin, Steve Dudek, telah menjadi figur yang dominan dan tak terbayangkan sebelumnya dalam salah satu olahraga paling digemari di negeri ratu Elizabeth itu. Steve berhasil meraih Triple Blues—yang merupakan penghargaan tertinggi dalam cabang atletik—atas kehebatannya dalam olahraga mendayung. Sebagai ketua Cambridge University Boating Club, Steve mengungkapkan perbedaan peran kapten tim dengan yang ia dapati di US. Sementara elemen kepemimpinan sama-sama merupakan hal penting, ia mewakili tim sekolah paling populer di depan khalayak Inggris. Steve telah diinterview oleh BBC dan media lainnya, berinteraksi dengan sponsor—termasuk suporter CEO Bank of New York Mellon—dan menjabat sebagai komite eksekutif. Sebagai wujud tanggung jawabnya, Steve berkomitmen untuk menyediakan waktu sebanyak 4- sampai 50 jam per minggu untuk berlatih dengan timnya. On top of those responsibilities, he commits 40 to 50 hours each week to training with the team. Raihan Steve lainnya adalah sebagai pemimpin di The Blues Committee yang merupakan organisasi kampus untuk tim olahraga pria yang sangat berpengaruh. Organisasi ini bertanggung jawab dalam memberikan penghargaan atletik dengan Full dan Half Blues yang prestisius. Untuk jurusan kuliahnya sendiri, Steve mengambil English and History di University of Wisconsin, Madison sebelum kemudian ke Cambridge untuk meraih gelar S-1 lainnya di bidang ekonomi. Ia ingin berkarir di bidang asset management atau investent banking.

Will Shackleton – Pemenang dalam U.K. Cyber-security Challenge di Tahun Ini 

will-shackleton-was-the-victor-in-this-years-uk-cyber-security-challenge U.K. cyber-security challenge merupakan kompetisi yang sangat keras dan kompetitif yang menguji masing-masing peserta baik dalam hal pengetahuan maupun keahlian dalam membuat simulasi cyber attack pada sistem keuangan di Inggris. Will Shackleton mengalahkan lebih dari 3000 peserta lainnya dalam kompetisi bergengsi tersebut dan 41 finalis lainnya dalam kompetisi tersebut tahun ini dan menerima hadiah yang bernilai lebih dari£100,000. Dalam turnamen itu, Will diberikan sebuah skenario realistis dimana sistem keuangan Inggris menghadapi cyber attack. Will harus mengakses situasi tersebut secara teknis, menuliskan laporannya, memecahkan kasus tersebut dengan kelompok ahli cyber security lainnya dan mengadakan pers conference yang difilmkan di BBC. Will mengikuti kompetisi tersebut tahun lalu tapi tidak berhasil menang. Dia lalu meningkatkan keahliannya dengan lebih banyak membaca dan mempelajari cyber security untuk memenangkan kompetisi yang sama pad atahun 2014 ini. Beberapa hadiah yang diperoleh Will diantaranya termasuk undangan konferenci, keanggotaan dalan organisasi cyber security profesional dan pelatihan peningkatan karir. Selain ahli dalam masalah cyber security, Will merupakan anggota dari 2 paduan suara dan bermain untuk band beraliran jazz-funk dengan murid Cambridge lainnya. Musim panas ini, Will akan magang di Facebook pada bagian backend programming. Ia berharap bisa berkecimpung lebih jauh dalam pengolahan data dan pengembangan perusahaan teknologi. Rencananya setelah lulus adalah berkarir dalam industri cyber security.

Yang-Fan Zhou – Seorang Master Catur Internasional

yang-fan-zhou-is-an-international-master-in-chess Yang-Fan Zhou telah disebut sebagai generasi emas catur Inggris. Pemuda yang pernah sekali menyabet gelar Master termuda di Inggris ini kemudian mengisi waktu senggang setelah kelulusan SMA-nya dengan meraih gelar Grand Master. Dalam sepuluh tahun terakhir, banyak generasi muda Inggris yang semakin menunjukkan prestasinya dalam catur. Zhou merupakan yang pertama meraih gelar master internasional sejak Gawain Jones dan David Howell. Zhou yang berhasil mempertahankan skor FIDE 2478, mengalahkan peserta di bawah umur 21 lainnya untuk menjadi juara dalam kompetisi catur Inggris kategori di bawah umur 21. Zhou merupakan ujung tombak Cambridge dalam kompetisi catur melawan rival berat mereka Oxford yang mana di tahun ini kedua tim tersebut seri. Dominasi permainan Zhou dalam catur diproyeksikan untuk memicu bakat-bakat lainnya—sebagaimana bintang catur pada tahun 70-an Tony Miles yang memicu kaum muda dalam catur. Dalam bidang akademis, Zhou masih akan menempuh studi jurusan Chemical Engineering dan berencana untuk langsung meneruskan ke program Master yang akan ia selesaikan pada tahun 2017. Yasmin Lawal – Menyingkap Diskriminasi di Cambridge yasmin-lawal-is-exposing-discrimination-at-cambridge Terinspirasi oleh kampanye “I, Too, Am Harvard” and “I, Too, Am Oxford” untuk menghapus kecurigaan dalam institusi-institusi elit, Yasmin Lawal memelopori kampanye “I, Too, Am Cambridge”, serial foto yang menandai berbagai insiden diskriminasi dan stereotype yang terjadi Cambridge. Akan tetapi Lawal juga mengekspos hal-hal positif lainnya. Pergerakan yang digalang Lawal menyebar ke seluruh negeri dan telah diungkap oleh banyak media ternama seperti The Guardian, Varsity, dan BuzzFeed. Sebagai ketua Cambridge Student Union Black and Minority Ethnic (BME), Lawal mengorganisasikan dan mempromosikan kegiatan-kegiatan BME yang bervariasi mulai dari diskusi akan adanya penghalang yang menantang dan ketidaksetaraan sampai sesi penu inspirasi tentang wanita dan kepemimpinan. Lawal juga anggota aktif komite Cambridge Student Union Women’s Society. Melalui Women’s Society, Lawal bekerjasama dengan Centre 33, organisasi sosial di Cambridge yang mendukung dewasa muda yang berperan sebagai pengasuh utama dalam keluarga mereka. Lawal berencana untuk mengorganisasikan sebuah konferensi di Cambridge tahun depan untuk meningkatkan kesadaran yang dihadapi pengasuh muda yang juga ingin menempuh pendidikan. Musim panas ini Lawal akan melanjutkan perjuangannya untuk membantu para pengasuh muda menghadapi masalah dan tahun depan akan melanjutkan pergerakan “I, Too, Am Cambridge” untuk fokus pada pendidikan, penerimaan mahasiswa baru dan mahasiswa minoritas di Cambridge. Di Cambridge, Lawal menempuh studi jurusan financial and legal sectors dan berencana untuk meraih gelar Master dalam International Law sambil belajar bahasa Arab. Nah itulah beberapa mahasiswa yang super duper kece yang emang aktif di Cambridge University. Semoga bisa menginspirasi kamu ya guys 🙂 cambridge_2333101b Ada hal yang ingin anda tanyakan ?  Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami

Mahasiswa Luar Biasa di Cambridge University Pada Saat Ini (Part 1)

A-man-at-Cambridge-Univer-001 Sebagai sebuah universitas, nama Cambridge University tentu sudah tak perlu diragukan lagi reputasi dan kualitasnya. Universitas ini adalah Harvard-nya Britania Raya. Dengan proses penerimaan mahasiswanya yang terkenal sangat ketat dan sulit—sekitar 16000 orang berlomba-lomba hanya untuk memperebutkan 3400 bangku di Cambridge—sudah bisa dibayangkan betapa sulitnya menjadi mahasiswa universitas ini ‘kan? Jadi, masuk akal sekali kalau orang-orang yang melewati interview yang panjang dan melelahkan bisa kuliah di Cambridge ini. Mereka ini adalah para penemu, aktor, atlit dan filantropis—dan merupakan mahasiswa-mahasiswa paling mengesankan yang pernah kita jumpai kuliah di Cambridge University. Dan inilah 8 mahasiswa paling keren di Cambridge University sekarang ini.

1. Adam Crafton – Menjadi Jurnalis Olahraga Untuk Salah Satu Media Cetak Terbesar di UK

image Sejak ia berumur 16 tahun, Adam Crafton telah menulis berita olahraga untuk The Daily Mail—koran terkenal Inggris Raya. Dan pada musim panas tahun lalu dia bahkan didaulat menjadi Manchester Football Reporter untuk divisi online harian tersebut, MailOnline. Dalam perannya yang ini, Crafton meng-cover semua interview eksklusif, merancang berbagai program dan breaking news. Crafton mengakui kalau dia tidak berbakat dalam hal olahrga, tetapi tulisannya tentang olahraga telah dibaca dan diakui secara luas oleh masyarakat. Pada bulan Februari, Crafton dinominasikan oleh Sports Journalist Association sebagai Young Sports Writer of The Year Award—sebuah pencapaian yang sangat mengesankan bagi seorang remaja 19 tahun. Setahun sebelumnya ia dinominasikan sebagai Feature Writer of the Year di The Guardian Student Media Awards. Saat semester aktif, Crafton bekerja sebagai contributor MailOnline, dan saat libur dia akan bekerja sebagai reporter penuh. Crafton kembali ke posisi full-time pada musim panas ini dengan fokus pada World Cup 2014 di Brazil. Dia juga merupakan penulis yang giat untuk Cambridge, termasuk diantaranya adalah sebagai editor yang berkontribusi di The Cambridge Tab, terbitan kampus paling banyak dibaca di UK. Selain bekerja sebagai penulis olahraga, Crafton juga telah menjadi pelatih sepakbola dan wasit sejak umur 14, dan setelah sebuah pelatihan intensif selama 4 minggu, dia berhasil meraih kualifikasi pelatih profesional. Mengambil jurusan French and Spanish, Crafton yang menguasai 5 bahasa ini, akan berangkat ke Barcelona di bulan Agustus mendatang untuk studi di sana selama setahun. Ia ingin mengkombinasikan mengajar di sekolah dengan jurnalisme olahraga di Barcelona sambil menulis buku.

2. Amber Cowburn – Membangun Sebuah Organisasi Kesehatan Mental Bertaraf Nasional Bersama Keluarganya

image (1) Amber Cowburn mengalami kehilangan besar yang sangat membuat dia dan keluarganya terpukul saat kakak laki-lakinya—setelah mengalami gangguan kejiwaan—bunuh diri pada tahun 2010. Atas kejadian ini Amber dan keluarganya memutuskan untuk menyikapinya dengan lebih positif. Mereka membangun The Invictus Trust, sebuah lembaga sosial yang bertujuan untuk mendukung para remaja dengan gangguan kejiwaan. Lembaga yang awalnya hanya sebuah organisasi lokal ini, kini telah mendapat dukungan nasional. Sekarang Amber dan saudari-saudarinya mengatur dan mengelola semua acara penggalangan dana dan memimpin usaha branding dengan Cowburn di situs jejaring sosial mereka. Hingga hari ini, mereka telah menghasilkan lebih dari £50.000, tiga film pendek yang dipilih dan disiarkan di Sky TV dan mulai melobi sebuah unit khusus kesehatan jiwa dewasa seharga £5 juta di Cornwall, pertama kalinya kelompok usia ini dikenali dalam perawatan pasien gangguan kejiwaan. Cowburn merupakan pengacara kesehatan jiwa di Cambridge University, ketua Student Minds yang mengorganisir konferensi kesehatan jiwa terbesar di Cambridge termasuk 5 pembicara utama dan benar-benar untuk pertama kalinya menghasilkan video mahasiswa tentag kesehatan jiwa. Acara yang digelarnya mendapatkan respon yang sangat postif dan dihadiri oleh pemimpin dari 3 organisasi kesehatan jiwa terbesar di Inggris. Di luar pekerjaannya dalam bidang kesehatan jiwa, Amber Cowburn menguasai banyak sekali bidang yang sangat bervariasi. Ia bekerja sebagai penari Bollywood profesional, fotografer, brand ambassador dan sangat menyukai fitnes. Nantinya setelah lulus, gadis ini berharap untuk terjun dalam dunia bisnis seperti ibunya yang pengusaha.

3. Carina Tyrrell – Kandidat Dalam Kompetisi “Miss England”

image (2) Bulan lalu, Carina Tyrrell bersaing dengan 11 wanita muda lainnya dalam ajang perebutan Miss Cambridgeshire dan berhasil memenangkannya. Dengan gelarnya sekarang ini, dia pun maju untuk ke ajang yang lebh presitisius lagi yaitu Miss England. Kontestan Miss Cambridgeshire tak hanya dinilai dari kecantikannya, tetapi juga dari sportifitasnya, kepribadiannya, kepeduliannya terhadap lingkungan, kemanusiaan dan bakat (Tyrrell merupakan tap dancer yang sangat ahli). Tyrrell aktif dalam kegiatan kemanusiaan dan tergabung dalam Beauty with A Purpose, sebuah lembaga nirlaba Miss World yang mendonasikan uang kepada anak-anak yang kurang beruntung di seluruh dunia. Ia telah berhasil meraih lebih dari £3.000 dari kampanye yang dilakukannya dan terus melanjutkan kampanye kemanusiaan hingga berakhirnya ajang Miss England, Juni ini. Tyrell merupakan mahasiswa jurusan kedokteran dan bercita-cita untuk bekerja di WHO di Geneva begitu ia lulus nanti. Ia ingin menjadi dokter yang bekerja di bidang pelayanan masyarakat internasional. Saat lulus nanti, Tyrrell akan menerima first class honor degree, sebuah gelar istimewa yang mana menunjukkan kesempurnaan nilai yang diraihnya dalam bidang akademis dan ini merupakan pencapaian luar biasa bagia seorang mahasiswa yang hanya akan diraih oleh satu orang dari 6 mahasiswa S1. Di kampusnya, Tyrrell juga menjadi ketua Cambridge’s Global Health Committee, organisasi intra kampus yang aktif menggalang projek untuk membantu para fakir miskin dan gelandangan di sekitar Cambridge.  

4. Isabel Adomakoh-Young – Telah Menjadi Penulis Handal & Telah Menghasilkan 5 Buku Anak-Anak Berkualitas

 image (3)

Isabel Adomakoh-Young telah menulis banyak buku fantasi untuk anak-anak bersama ibunya dengan menggunakan nama pena Zizou Corder sejak umurnya baru 7 tahun. Buku pertama yang mereka tulis adalah “Lionboy” menjadi trilogi terkenal tentang seorang anak laki-laki yag bsa berbicara dengan kucing.  Buku tersebut banyak menuai pujian dan Adomakoh-Young bersama ibunya kemudian menulis 2 buku lagi setelah trilogi tersebut yaitu: “Halo” dan “Lee Raven, Boy Thief.” Lionboy telah diterbitkan ke dalam 37 bahasa dan pengarang ini telah melakukan kontrak untuk memfilmkannya dengan DreamWorks dan Warner Brothers. Meski filmnya kurang sukses, tetapi bukunya kemudian diadaptasi ke atas panggung oleh kelompok teater Inggris yang berkeliling negara itu pada tahun 2013. Adomakoh-Young berperan sebagai konsultan kelompok teater tersebut dalam proses produksinya dan juga ikut menyumbang aktingnya. Di Cambridge, Adomakoh-Young merupakan editor utama Ladybeard, majalah feminis pertama dan menulis juga tampil di Pecs, sebuah pertunjukan yang semuanya wanita dan sangat terkenal di London dan Cambridge.

5. James Popper – Telah Menciptakan Alat Pendeteksi Api yang Telah Menyelamatkan Banyak Nyawa

image (4) Pada tahun 2010, James Popper mewakili Inggris dalam International Science and Engineering Fair (ISEF) di San Jose, California, dimana dia menunjukkan desain sebuah pendeteksi api murah, efektif dan praktis dengan memanfaatkan infrared. Tujuannya adalah untuk mengembangkan suatu alat dapur yang akan merespon dengan cepat melalui alarm tanda bahaya ketika terjadi tanda-tanda kebakaran. Atas inovasinya ini, Popper memenangkan Electrical and Mechanical Engineering, membuatnya partisipan paling sukses dari Eropa dalam ISEF 2010. Popper terus berupaya mengembangkan penemuannya dan ingin mempublikasikan lebih banyak alat pendeteksi api yang bisa digunakan oleh masyarakat luas.

6. Joseph Mambwe – Mengembangkan Sebuah Aplikasi yang Telah Di Download di Lebih Dari 130 Negara

image (5) Joseph Mambwe nyaris gagal pada pembuatan modul software di tahun pertamanya kuliah saat ia memulai perusahaan aplikasinya, Ruvix. Perusahaan ini didirikan hanya sebagai suatu cara bagi Mambwe untuk menantang dirinya sendiri tapi pada akhirnya ternyata berkembang menjadi serial aplikasi yang didowload oleh ratusan ribu orang di lebih dari 130 negara. Aplikasi buatan Mambwe, GysmStreak, ditampilkan di iTunes sebagai aplikasi fitnes nomor satu di Inggris. Mambwe kemudian menjalin kerjasama dengan orang lainnya dan kini ia memiliki banya pegawai yang membantunya untuk mengelola 11 aplikasi yang terus berjalan tersebut. Di Cambridge, Mambwe telah menjadi konsultan Manufacturing Engineering Department dan memenangkan 3 penghargaan Cambridge University Entrepreneurs (CUE) Ideas Take Flight 2013. Pemuda yang tumbuh di Zambia ini akan lulus dari Cambridge University tahun 2015 mendatang. Dia mengatakan bahwa dia akan menjadi seorang pengusaha hingga akhir hayatnya. Sekedar informasi, saat ini Mambwe dan perusahaannya tengah mengembangkan sebuah aplikasi yang akan dipatenkan dimana—meski ia belum bisa membocorkan apa sebenarnya aplikasi tersebut—katanya akan bisa mengubah cara jutaan orang dalam mengambil video.

7. Mark Chonofsky – Namanya Telah Di Abadikan Menjadi Sebuah Nama Planet

image (6) Saat masih duduk di bangku SMA tahun terakhir, Mark Chonofski meraih juara pertama pada 2009 Intel Internationa Science and Engineering Fair dengan projek plant-science-nya. Saat itu dia mengurutkan DNA Taxaceae, sebuah keluarga tanaman yang memiliki 30 spesies dan menggunakan informasi tersebut untuk memecahkan sejaraha evolusinya. Dan kamu tahu hadiahnya? Sebuah planet kecil! Ya, benar, kamu tak salah baca. Sebuah planet kecil yang ditemukan pada tahun 2000, planet 25662 kini menyandang namanya. Dan meski kemudian Chonofsky kehilangan minat dalam sistematika molekuler, kemenangannya ini membuatnya makin bersemangat dalam metode kuantitatif kontemporer dalam biologi. Di Cambridge, Chonofksy memfokuskan dirinya dalam biologi, kimia dan fisika.  Musim gugur tahun ini, Chonofsky akan mulai mengajar kelas 11 dan 12 pada mata pelajaran Matematika dan Fisika di London Timur. Dia berharap akan segera kembali melanjutkan penelitiaannya.

8. Skandar Keynes – Bermain Peran Sebagai “Edmund” Dalam Film ‘Chronicles of Narnia’

image (7) Saat umurnya 12 tahun, Skandar Keynes mengikuti sebuah kelas akting kecil setelah sekolah. Siapa yang menyangka kalau saat itu, ada seorang agen casting lewat dan saat dia melihat Keynes—dengan rambutnya kecoklatannya yang gelap dan pipinya bersemu merah—sang agen langsung merasa bahwa dia telah menemukan aktor yang akan memerankan Edmund Pevensie, salah satu karakter dari buku klasik anak-anak terkenal karya C.S. Lewis “Chronicle of Narnia”. Dan jadilah kita mengenal Keynes muda ini sebagai salah satu selebritis internasional setelah film yang dibintanginya—serial Narnia: “The Lion, The Witch and The Wardrobe”, “Prince Caspian”,  dan “The Voyage of the Dawn Treader”, menjadi booming di seluruh dunia. Bagi Keynes, dalam darahnya mengalir darah biru Cambridge. Dia adalah keponakan dari dua profesor Cambridge: Ahli Sejarah Simon Keynes dan neuroscientist Roger Keynes. Setelah aktor muda satu ini mendaftar dan diterima pada tahun 2010 lalu, dia pun kuliah di Cambridge University untuk mempelajari Arabic and Middler Eastern History. Ayah Keynes adalah seorang Inggris sedangkan ibunya seorang Libanon. Keynes sangat tertarik untuk mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan bahasa, kebudayaan dan sejarah dari pihak ibunya setelah menghabiskan musim panas masa kecilnya di Libanon. Pada tahun 2011, dalam sebuah wawancara dia mengatakan kalau keputusannya untuk mempelajari bahasa Arab adalah karena dia ingin benar-benar fasih dalam bahasa tersebut. Agar bisa menyelesaikan studinya tepat waktu, Keynes telah memutuskan untuk break sejenak dari dunia hiburan. Dia ingin fokus pada studinya dulu dan akan mempertimbangkan untuk kembali ke film setelah kelulusannya. Wah, ditunggu sekali nih akting Keynes, ya? Nah itulah beberapa orang yang sudah melakukan hal luar biasa di umurnya yang masih termasuk muda, dan pastinya bisa masuk Cambridge. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi kamu ya guys 🙂 clare460 Ada hal yang ingin anda tanyakan ?  Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami