10 Universitas Terbaik di Dunia 2021 Versi QS World

QS World University Rankings kembali merilis daftar universitas terbaik di dunia 2021. Ada 1.000 universitas yang masuk dalam daftar teratas hasil pemeringkatan yang dilakukan QS World University Rankings tahun ini. Univeritas dan perguruan tinggi terbaik itu tersebar di seluruh dunia yang mencakup 80 lokasi berbeda. Termasuk Indonesia. 

Enam parameter utama dijadikan penilaian QS World University Rankings dalam menetapkan peringkat sebuah universitas. Di antaranya reputasi akademik, reputasi penyedia kerja, rasio fakultas/mahasiswa, sitasi per fakultas, rasio fakultas internasional, serta rasio mahasiswa internasional. Dari enam parameter penilaian tersebut, bobot penilaian paling besar diberikan untuk reputasi akademik yakni 40%, kemudian diikuti rasio fakultas/mahasiswa serta sitasi per fakultas masing-masing sebesar 20%.

Misalnya untuk menentukan reputasi akademik universitas, QS World University Rankings melakukan survei akademik yang melibatkan pendapat para ahli lebih dari 100.000 individu di bidang pendidikan tinggi terkait kualitas pengajaran dan penelitian di universitas dunia. 

Lalu, universitas mana saja yang masuk dalam peringkat 10 universitas terbaik dunia 2021 versi QS Wolrd? Berikut uraiannya:

1. Massachusetts Institute of Technology (MIT)

Peringkat pertama universitas terbaik di dunia 2021 ditempati oleh Massachusetts Institute of Technology (MIT). Kampus yang berlokasi di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat ini berada di urutan teratas melampui universitas-universitas tersohor dunia lainnya. MIT dikenal sebagai universitas riset dan teknologi terkemuka sejak lama. Berdiri mulai 1861, MIT menjadi incaran mahasiswa di berbagai negara. Bahkan, predikat urutan teratas sebagai universitas terbaik dunia tetap disandang MIT setidaknya dalam empat tahun terakhir.

2. Universitas Stanford

Universitas Stanford berada di urutan kedua dalam daftar 10 universitas terbaik dunia versi QS World. Kampus swasta yang berlokasi di Stanford, California, Amerika Serikat ini juga menjadi salah satu tujuan utama studi mahasiswa mancanegara. Berdiri sejak 1891, Stanford University terkenal terdepan dalam bidang perkuliahan dan riset. Dua pendiri Google, Sergey Brin dan Larry Page juga alumni dari kampus ini.

3. Universitas Harvard

Siapa tak kenal Universitas Harvard. Namanya populer karena rutin memuncaki peringkat universitas terbaik, terutama di lima besar. Di tiga tahun terakhir ini, Harvard University selalu berada di urutan tiga universitas terbaik dunia versi QS World University Rankings. Selain populer karena nama besarnya, kampus yang berdiri 1636 ini juga memiliki reputasi akademik yang mumpuni. Tidak heran peminat dari berbagai negara juga mengincar kuliah di Harvard University.

4. California Institute of Technology (Caltech)

Di urutan ke empat ada California Institute of Technology (Caltech). Kampus yang berada di Pasadena, California, Amerika Serikat ini merupakan salah satu universitas paling terkemuka dalam riset. Tahun lalu Caltech berada di urutan kelima, di bawah University of Oxford. Namun tahun ini naik satu tingkat melampaui kampus asal Inggris tersebut. Anda berminat melanjutkan studi di kampus AS satu ini?

5. Universitas Oxford

Jika di urutan empat besar, dinominasi universitas asal Amerika Serikat. Di peringkat kelima ditempati oleh universitas asal Inggris, University of Oxford. Kampus ini adalah yang terbaik di daratan Eropa. Selain karena reputasi akademiknya yang bagus, University of Oxford juga memiliki employer reputation yang sangat tinggi. Ini menunjukkan bahwa alumni Oxford banyak bekerja di perusahaan-perusahaan terkemuka dunia. Sehingga ikut mengangkat peringkatnya. Jika tertarik, Anda mungkin bisa mencoba Beasiswa Chevening yang didanai pemerintah Inggris untuk studi di kampus ini.  

6. ETH Zurich – Swiss Federal Institute of Technology

Berikutnya di urutan ke enam adalah ETH Zurich – Swiss Federal Institute of Technology. Satu-satunya universitas asal Swiss yang masuk peringkat 10 besar universitas terbaik dunia 2021. Ilmuan Albert Einstein satu dari sekian banyak alumni penting dari ETH Zurich, mungkin saja nama Albert Einstein lebih populer dibanding almamaternya. Nah, jika Anda ingin melanjutkan studi di Eropa, khususnya Swiss, ETH Zurich perlu masuk perhitungan.

7. Universitas Cambridge

Selain Universitas Oxford, Universitas Cambridge juga merupakan universitas asal Inggris yang langganan masuk 10 universitas terbaik dunia. Tahun ini QS World University Rankings menempatkan kampus asal Cambridge Britania Raya tersebut di urutan tujuh. Tidak bergeser dari peringkat sebelumnya. Berdiri sejak 1209, University of Cambridge menjadi kampus tertua kedua di Inggris. Banyaknya peminat ke kampus ini, membuat persyaratan masuk sangat ketat. Anda mungkin bisa memanfaatkan Beasiswa Gates Cambridge yang sedang buka untuk studi S2 dan S3 di kampus ini.  

8. Imperial College London

Imperial College London adalah satu di antara perguruan tinggi riset kelas dunia yang ada di Inggris. Universitas ini didirikan oleh Pangeran Albert pada 1907. Kampus ini menawarkan banyak jurusan-jurusan unggulan, seperti sains, kedokteran, teknik, dan bisnis. Peringkatnya tahun ini berada di urutan ke delapan sebagai universitas terbaik dunia 2021. Naik satu peringkat dibanding tahun lalu yang berada di urutan ke sembilan.

9. Universitas Chicago

Di peringkat sembilan, QS World University Rankings menempatkan universitas asal Illinois Amerika Serikat, Universitas Chicago. Di periode sebelumnya University of Chicago berada di urutan ke sepuluh. Naik satu tingkat di 2021. Mengikuti jejak universitas asal AS terbaik lainnya, University of Chicago membuktikan diri sebagai universitas swasta yang memuncaki urutan papan atas universitas kelas dunia.

10. UCL

Di urutan ke sepuluh ada University College London yang biasa disingkat UCL. Meski tidak berada di lima besar, UCL tetaplah satu di antara universitas paling bergengsi di dunia saat ini. UCL dikenal sebagai universitas paling besar yang berada di kawasan Kota London. Alumni mereka juga tersebar. Reputasi akademik yang sangat bagus membuat universitas riset publik ini berada di peringkat sepuluh sebagai universitas terbaik di dunia 2021. Setidaknya, empat universitas asal Inggris tahun ini berhasil berada di urutan 10 besar sebagai universitas terbaik dunia versi QS World University Rankings. Bagaimana dengan universitas lain? Urutannya bisa dilihat di 50 besar di bawah. 

11. National University of Singapore (NUS) (Singapura)
12. Princeton Unversity (Amerika Serikat)
13. Nanyang Technological University (NTU) (Singapura)
14. EPFL (Swiss)
15. Tsinghua University (Cina)
16. University of Pennsylvania (Amerika Serikat)
17. Yale University (Amerika Serikat)
18. Cornell University (Amerika Serikat)
19. Columbia University (Amerika Serikat)
20. The Univeristy of Edinburgh (Inggris)
21. University of Michigan-Ann Arbor (Amerika Serikat)
22. The University of Hong Kong (Hong Kong SAR)
23. Peking University (Cina)
24. The University of Tokyo (Jepang
25. Johns Hopkins University (Amerika Serikat)
26. University of Toronto (Kanada)
27. The Hong Kong University of Science and Technology (Hong Kong SAR)
28. The University of Manchester (Inggris)
29. Northwestern University (Amerika Serikat)
30. University of California, Berkeley (UCB) (Amerika Serikat
31. The Australian National University (Australia)
32. King’s College London (Inggris)
33. McGill University (Kanada)
34. Fudan University (China)
35. New York University (NYU) (Amerika Serikat)
36. Unversity of California, Los Angeles (UCLA) (Amerika Serikat)
37. Seoul National University (Korea Selatan)
38. Kyoto University (Jepang)
39. KAIST – Korea Advanced Institute of Science & Technology (Korea Selatan)
40. The University of Sydney (Australia)
41. The University of Melbourne (Australia)
42. Duke University (Amerika Serikat)
43. The Chinese University of Hong Kong (CUHK) (Hong Kong SAR)
44. The University of New South Walese (UNSW Sydney) (Australia)
45. University of British Columbia (Kanada)
46. The University of Queensland (Australia)
47. Shanghai Jiao Tong University (Cina)
48. City University of Hong Kong (Hong Kong SAR)
49. The London School of Economics and Political Science (LSE) (Inggris)
50. Thecnical University of Munich (Jerman)

sumber: beasiswapascasarjana.com

Ada hal yang ingin anda tanyakan? Jangan ragu, silahkan hubungi kami. Konsultasi dengan kami gratis.

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami

Meskipun rencana pandemi sekolah saya kuat, rencana itu gagal untuk menjawab pertanyaan paling kritis yang saya miliki tentang tahun ini

graduation coronavirus college university online face masks grad graduate students

Musim semi ini, perguruan tinggi dan universitas Amerika bertindak dengan sangat hati-hati. Pada bulan Maret, mereka memindahkan kelas secara online dan mengirim sebagian besar siswanya ke rumah tanpa ada satu pun kasus COVID-19 yang diketahui di kampus mereka.

Karena banyak dari institusi yang sama sedang menjajaki pembukaan kembali kampus mereka musim gugur ini, administrasi perguruan tinggi sedang mengembangkan rencana ekstensif dan perlindungan untuk membawa siswa kembali. Jika mereka memutuskan untuk melakukannya, mereka juga harus mengembangkan dan menerbitkan rencana penutupan potensial jika terjadi wabah di kampus.

Menetapkan Permulaan yang jelas

Saya seorang mahasiswa di Middlebury College, sebuah perguruan tinggi seni liberal kecil di Middlebury, VT dengan sekitar 2.800 siswa. Saya menyelesaikan karantina rumah selama 14 hari, tiba 11 hari sebelum kelas dimulai, menerima tes COVID-19 Hari Nol pada saat kedatangan, dan dimasukkan ke dalam karantina kamar. Setelah hasil tes negatif, saya dibebaskan ke karantina kampus dengan tes lain dilakukan pada Hari Ketujuh.

Middlebury telah menyatakan bahwa tingkat 25 kasus aktif, atau sekitar 1% dari populasi siswanya, akan menjadi Tingkat Empat “Peringatan Sangat Tinggi”, tingkat kewaspadaan tertinggi. Meskipun saya bukan ahli kesehatan masyarakat, saya merasa ini adalah ambang yang masuk akal bagi administrasi untuk memulai semacam penguncian di kampus, tetapi mungkin terlalu rendah untuk memulai evakuasi kampus penuh.

Namun, perguruan tinggi belum secara eksplisit menjelaskan apakah mencapai Level Empat itu akan memicu evakuasi semacam itu.

Dan justru itulah masalahnya.

Mahasiswa di seluruh negeri saat ini sedang membuat keputusan finansial dan akademik yang sulit, baik untuk berkomitmen kembali ke kampus, mengambil kelas di rumah, atau mengambil cuti satu semester atau satu tahun dari sekolah. Opsi-opsi ini masing-masing dinilai dengan berbagai tingkat risiko bersama dengan sedikit pengetahuan tentang seperti apa pandemi itu pada musim gugur.

Jika perguruan tinggi berkomitmen untuk menciptakan kerangka kerja yang aman dan menyeluruh untuk mengembalikan siswa ke kampus, saya merasa bahwa menciptakan peluang untuk pendidikan residensial sangat penting bagi banyak siswa yang ingin tinggal dan belajar jauh dari rumah.

Bagi mereka yang telah berkomitmen untuk kembali, terutama bagi siswa seperti saya yang mengalami penutupan tengah semester musim semi ini, banyak yang khawatir hal yang sama dapat terjadi lagi dengan mudah.

Kekhawatiran ini terutama menekan di tengah kemunduran sekolah seperti Universitas North Carolina di Chapel Hill. Setelah merebaknya lebih dari 100 kasus COVID-19 yang diketahui karena pesta di luar kampus, universitas memutuskan untuk menangguhkan kelas tatap muka dan mengirim banyak mahasiswa di kampusnya kembali ke rumah.

Pada musim semi, tidak ada institusi yang memiliki buku pedoman COVID-19 dan berhak memulangkan siswa. Musim gugur ini, bagaimanapun, perguruan tinggi harus berkomitmen untuk sepenuhnya dan memajukan transparansi dalam pengembangan ambang penutupan mereka.

Bagaimana cara untuk maju 

Dua solusi yang mungkin untuk ambang batas seperti itu adalah tes positif tertentu atau jumlah tertentu per kapita untuk apa yang diperlukan untuk menangguhkan kelas tatap muka. Perguruan tinggi harus berkomitmen untuk transparansi penuh dalam pengembangan jawaban mereka atas pertanyaan ini karena mereka mempertimbangkan kapasitas pengujian, ancaman penyebaran komunitas, dan faktor lainnya.

Yang penting, ambang batas ini akan memberi siswa lebih banyak informasi untuk menimbang risiko kembali ke kampus dan membayar uang sekolah, kamar, dan biaya papan.

Tanpa ambang batas seperti itu, perguruan tinggi dapat secara hipotetis, dengan cek biaya kuliah penuh di tangan, menyatakan penutupan hanya setelah satu kasus kampus COVID-19. Saya dengan sepenuh hati setuju bahwa dengan melewati ambang batas yang masuk akal dan dipublikasikan, penutupan kampus adalah tanggapan yang tepat dan harus dibahas. Namun, apa pun ambang batas itu harus ditetapkan dengan baik sebelum tanggal jatuh tempo biaya sekolah sehingga siswa mengetahui risiko yang mereka bayarkan dan daftarkan. Banyak siswa lebih suka mengambil cuti satu semester jika mereka menilai risiko pembukaan kembali terlalu besar dan kemungkinan sukses terlalu kecil.

Demikian pula, jika penutupan tengah semester terjadi di bawah ambang batas yang telah ditentukan ini, rencana harus ada hari ini yang akan memastikan proses keberangkatan yang lancar. Ini harus memerlukan pembaruan terus-menerus pada tes positif COVID-19, peringatan yang cukup, menyetujui akomodasi perumahan untuk siswa internasional atau mereka yang tidak memiliki rumah untuk kembali, antar-jemput gratis ke bandara, dan langkah-langkah lain untuk mencegah penyebaran lebih lanjut dan memudahkan proses evakuasi.

Setiap perguruan tinggi sudah menghadapi kesulitan dalam mengembangkan rencana pembukaan kembali sendiri berdasarkan ukuran, lokasi, dan situasi keuangan. Mahasiswa juga menghadapi gangguan akademik, sosial, dan ekstrakurikuler yang parah jika mereka kembali ke kampus. Dengan kesediaan mereka untuk hadir meskipun ada perubahan dalam kehidupan sehari-hari, perguruan tinggi berhutang kepada mahasiswanya untuk bersikap terbuka dan transparan tentang niat mereka terkait potensi penutupan kampus musim gugur ini dan setiap langkah yang dikembangkan untuk menjaga komunitas tetap aman.

Keberhasilan awal Middlebury bisa menjadi contoh strategi pembukaan yang efektif. Saya merasa yakin dengan kemampuan komunitas kita untuk membuat keputusan cerdas untuk menjaga kesehatan dan keselamatan kolektif kita. Dengan batasan eksplisit, Middlebury dan perguruan tinggi lainnya dapat dan harus memperluas komitmen mereka terhadap transparansi dan keamanan komunitas untuk terus memimpin dengan memberi contoh.

sumber: businessinsider.com

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami

Goncangan Besar Perguruan Tinggi Sedang Berlangsung

FBI Tries To Recruit Chinese-Born Professor As Spy

Penutupan perguruan tinggi, penghentian program akademik, dan penggabungan kelembagaan bukanlah hal baru di lanskap pendidikan tinggi. Mereka telah berlangsung selama beberapa dekade, terutama selama masa keuangan yang sulit. Tetapi tahun ini, selama apa yang tampak seperti fase awal pandemi virus corona, restrukturisasi administrasi berskala besar di pendidikan tinggi semakin cepat dengan kecepatan yang jarang, jika pernah, terlihat sebelumnya.

Tidak salah lagi: Perombakan Besar sedang berlangsung.

Penutupan Kampus

Selama tahun 2020, sejumlah perguruan tinggi terkemuka telah menutup pintunya atau diakuisisi oleh lembaga lain karena administrator menyadari bahwa kampus mereka tidak dapat bertahan dari trauma ekonomi yang ditimbulkan oleh pandemi. Di Illinois, MacMurray College ditutup dan Universitas Robert Morris telah diintegrasikan ke dalam Universitas Roosevelt. Concordia University-Portland telah menutup toko, begitu pula Holy Family College di Wisconsin, dan Nebraska Christian College, kampus cabang dari Hope International University. Di Ohio, Universitas Urbana, kampus cabang Universitas Franklin, dipanggil berhenti pada bulan April karena pandemi virus corona dan penurunan pendaftaran.

Meskipun seseorang dapat mengklaim bahwa penutupan ini sebagian besar melibatkan perguruan tinggi kecil yang telah mendaftar dan keuangan selama bertahun-tahun, dan karena itu bukan contoh terbaik dari sekolah yang tersingkir oleh pandemi, pandangan itu mengkhianati optimisme palsu dalam terang jurusan tersebut. universitas dan sistem universitas sekarang mempertimbangkan konsolidasi skala besar bersama dengan PHK yang sering mendahului atau menyertai mereka.

Konsolidasi Kelembagaan

Rabu lalu, Dewan Gubernur Sistem Pendidikan Tinggi Pennsylvania State menyetujui langkah selanjutnya dalam proses yang dapat mengakibatkan universitas California, Clarion dan Edinboro bergabung menjadi satu unit di Pennsylvania Barat bersama dengan kombinasi Bloomsburg, Lock Haven dan Universitas Mansfield di Tingkat Utara negara bagian.

“Kami mengambil kesempatan untuk bangkit bersama,” Kanselir PASSHE Dan Greenstein mengatakan kepada dewan untuk 14 universitas milik negara. Mencoba untuk menampilkan yang terbaik, Greenstein bersikeras bahwa merger akan memungkinkan sekolah untuk mempertahankan identitas mereka sendiri, menghemat uang, memberi manfaat kepada siswa, dan mengembangkan peluang untuk tumbuh.

Selain enam universitas yang ditargetkan untuk merger potensial, universitas lain dalam sistem PASSHE, yang dibuat pada tahun 1982, meliputi: Cheyney, East Stroudsburg, Indiana, Kutztown, Millersville, Shippensburg, Slippery Rock, dan West Chester.

Suara Dewan untuk bergerak maju dengan studi tambahan dan perencanaan untuk kemungkinan merger mencerminkan tekanan bertahun-tahun untuk menemukan penghematan dalam sistem. Selama dekade terakhir, pendaftaran keseluruhan di 14 universitasnya telah menurun dari 119.513 menjadi 93.708 pada musim gugur ini. Jadi sementara pandemi mungkin membantu memicu gerakan terbaru, pistol telah dimuat untuk beberapa waktu.

Menurut Pittsburgh Tribune-Review, “Di Pennsylvania Barat, California melihat penurunan pendaftaran sebesar 27%, Clarion turun 39% dan Edinboro menurun 50%. Di Tingkat Utara, pendaftaran menurun 16% di Bloomsburg, 42% di Lock Haven, dan 47% di Mansfield. ”

Program Akademik di Chopping Block

Minggu ini, dalam salah satu langkah restrukturisasi terbesar, University of South Florida (USF) mengumumkan bahwa mereka akan menutup Sekolah Tinggi Pendidikannya dan menghapus semua program pendidikan sarjana. Universitas menyalahkan masalah keuangan setelah pandemi Covid-19 atas keputusan tersebut.

Saat universitas negeri di Florida mempersiapkan rencana pengurangan 8,5% dalam pendanaan negara bagian untuk tahun fiskal ini, bagian USF adalah sekitar $ 36,7 juta, dengan pengurangan tahap kedua diantisipasi untuk tahun fiskal berikutnya. Sekolah mengeluarkan surat penjelasan kampus, yang sebagian berbunyi:

Seperti banyak Institusi Pendidikan Tinggi di seluruh Negara Bagian dan di seluruh negara – USF menghadapi tantangan anggaran yang signifikan dalam menghadapi COVID-19 sementara kami melanjutkan kemajuan kami sebagai universitas riset terkemuka yang terkonsolidasi. Sebagai bagian dari proses pembaruan anggaran strategis kami, USF harus mengurangi alokasi anggaran tahunan College of Education sebesar $ 6,8 M (atau 35%) selama dua tahun, sebuah tugas menantang yang menuntut penilaian komprehensif saat kami merencanakan masa depan Pendidikan di USF.

Untuk itu, kami secara strategis menata ulang dan mengkonfigurasi ulang Pendidikan di USF dari Sekolah Tinggi Pendidikan yang komprehensif menjadi Sekolah Pascasarjana Pendidikan yang lebih terfokus dengan afiliasi organisasi yang sesuai dengan perguruan tinggi lain seperti Sekolah Tinggi Ilmu Perilaku dan Komunitas.

USF tidak sendiri. Jurusan restrukturisasi akademik juga telah diusulkan oleh administrator di Universitas Doane di Nebraska dan di Universitas Illinois Wesleyan. Di Indiana University of Pennsylvania, Sekolah Tinggi Ilmu Humaniora dan Ilmu Sosial dan Sekolah Tinggi Seni Rupa dijadwalkan untuk digabungkan menjadi satu perguruan tinggi yang berfokus pada seni kreatif, humaniora, dan desain. Pengurangan 43 program akademik diantisipasi, bersamaan dengan pengurangan staf.

Presiden Universitas Dr. Michael Driscoll berkata, “Selama satu atau dua tahun terakhir saya telah sangat jelas dengan komunitas IUP bahwa kami memiliki beberapa pilihan. Kita dapat membuat keputusan strategis yang terinformasi dengan baik tetapi sangat sulit untuk menentukan masa depan kita sendiri, takdir kita sendiri, atau kita dapat duduk santai dan membiarkan orang lain membentuk takdir itu untuk kita. ”


Hingga kini, cuti dan PHK yang diberlakukan oleh banyak perguruan tinggi dan universitas sering digambarkan sebagai pemutusan hubungan kerja sementara, tindakan sementara yang akan diperlukan hanya selama operasi kampus dibatasi oleh pandemi. Lebih dan lebih lagi, pandangan itu terlihat seperti harapan palsu. Seperti yang dikemukakan Robert Kelchen baru-baru ini dalam The Chronicle of Higher Education, pendidikan tinggi dengan enggan mengakui “tanda-tanda yang berkembang bahwa perguruan tinggi akan melakukan pemotongan permanen untuk seluruh angkatan kerja mereka”. Dan dengan pengurangan-pengurangan itu akan datang lebih banyak restrukturisasi dan penghematan yang tak terelakkan yang ditakuti oleh banyak orang di pendidikan tinggi. Big Shake-Up dari tingkat atas telah hadir.

sumber : forbes.com

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami