Makan bersama adalah suatu hal yang menyenangkan. Acara makan-makan sendiri seperti sudah merupakan ritual yang selalu ada dalam setiap budaya di seluruh dunia. Panci sup yang penuh dengan aromanya yang menguar menggoda selera, menghubungkan orang-orang yang baru datang dengan para penduduk asli Australia dalam sebuah acara makan malam. Inilah acara untuk ‘meruntuhkan’ tembok pembatas dari bangsa dan budaya yang berbeda. Saling berbagi makanan dan cerita membentuk suatu persahabatan yang kemudian menjadikan Sydney seperti rumah sendiri.

Bebas, setara dan saling terhubung. Kata-kata digunakan untuk mengungkapkan apa yang orang rasakan selama mereka menikmati makanan dalam acara makan malam di rumah seorang asing.
“Satu kata dariku, ‘memorable’,” ucap Minami Jin, mahasiswi asal Jepang. “Bagiku, makan malam seperti ini sangat menyenangkan. Aku merasa seperti dengan keluargaku saja.”
“Welcome Dinner Project berasal dari cerita yang kudengar dari orang-orang yang baru datang ke negara kami,” terang Direktur sekaligus penggagas joiningthedots, Penny Elsley. “Seseorang mengatakan bahwa dia telah berada di sini selama lima tahun tapi belum pernah sekalipun diundang ke rumah orang Australia asli, bahkan meskipun dia bekerja bersama mereka.
“Aku juga mendengar dari rekan-rekanku bahwa mereka ingin bertemu dengan orang-orang yang baru datang ke Australia, tetapi mereka tidak tahu bagaimana caranya dan takut jika mereka malah menyalahi budaya para orang baru itu. Jadi, ada keinginan dari kedua kelompok ini untuk saling terhubung—mereka hanya belum menemukan bagaimana caranya saat itu.”
Joiningthedots disusun selama 2 tahun perjalanan yang Elsley lakukan di tahun 2009 saat mengunjungi kamp pengungsian dan komunitas terpencil di seluruh dunia. Hingga kemudian saat ia kembali ke Australia dan mulai menemui para pengungsi lokal, gagasan tentang joiningthedots semakin jelas ingin ia wujudkan.
Menurut Elsley, joiningthedots bertumpu pada keyakinan bahwa kita semua bisa membangun suatu hubungan yang membawa perubahan di dunia ini. “Kita ingin menciptakan suatu tempat yang aman untuk orang-orang saling bertemu, tetapi juga mendorong orang-orang baru dan penduduk asli Australia untuk memikirkan lebih jauh tentang pertemuan mereka dalam sebuah cara untuk membantu menciptakan Australia yang lebih bersahabat.”
Welcome Dinner Project, didukung oleh Parramata City Council, Amnesty dan City of Sydney, kini hampir melengkapi awal tahun percobaannya. Sementara program SOUL dari UTS Shopfront, UTS Housing dan ActivateUTS semuanya telah mendukung, maka gagasan tentang makan malam ini semakin menjadi nyata dengan dukungan program Community Connection.
Community Connection lahir dari respon para mahasiswa internasional (yang jumlahnya mencapai seperempat dari total populasi di UTS) yang berjuang untuk merasa senyaman mungkin di Sydney. Program ini bertujuan untuk menciptakan rasa ikut memiliki dan sebuah komunitas yang akan membantu membentuk pengalaman mahasiswa baik di dalam kampus atau selama tinggal di Australia.
Pengurus Leadership and Community Connection, Melissa Ronca bekerja secara teratur dengan para mahasiswa internasional yang baru datang saat mereka mulai beradaptasi dengan UTS. Menurut Melissa, komplain yang paling sering ia dengar dari para mahasiswa itu adalah sulitnya bagi mereka untuk berteman dengan penduduk/mahasiswa lokal.
Banyak program dari Community Connection menyertakan kegiatan sukarela skala besar seperti acara Clean Up Australia Day. Ronca mengatakan bahwa Welcome Dinner Project membuat mereka bisa berkunjung ke rumah seseorang dan tak hanya mendapatkan sesuatu tetapi juga memberikan sesuatu.
Banyak kegiatan mahasiswa dan klub-klub di kampus, tetapi tembok bahasa dan budaya merupakan tantangan umum dalam membangun hubungan persahabatan di kampus. Bagi para staf universitas, hal itu seperti mengembangkan interaksi dua arah. Dengan makan malam, mereka meluangkan waktu dan berbagi cerita dan juga makanan mereka. Dan hal ini merupakan pengalaman yang sangat berharga.
Mereka yang tertarik dengan Welcome Dinner Project ini mendaftar di website joiningthedots.org dan menentukan pilihan apakah mereka akan menjadi pihak yang mengadakan makan malam atau yang berpartisipasi. Kemudian mereka akan saling berpasangan dengan orang-orang dan tuan rumah yang hidup di area yang sama.
Pada bulan Oktober dan November tahun lalu, Ronca dan Elsley bekerjasama dalam menyelenggarakan 2 Welcome Dinner resmi dengan para mahasiswa internasional UTS—yang mana salah satunya melibatkan Ronca sendiri sebagai tuan rumahnya.
Makan malam yang kedua diselenggarakan dengan keluarga Annandale, dengan kebanyakan mahasiswa mengatakan bahwa itu adalah pertama kalinya bagi mereka berada di rumah orang Australia. Salah seorang gadis mengatakan bahwa dia merasa seperti melihat ayahnya sendiri saat tuan rumah melambaikan tangan ketika mereka berpamitan pulang setelah makan malam usai.
Lalu bagaimana dengan makanannya? Ronca dan Elsley tak bisa terlalu banyak berbicara soal yang satu ini. Mereka mengatakan bahwa bagaimanapun mereka bisa cukup menikmati makanan tradisional yang telah dimasak dengan susah payah oleh para mahasiswa itu, yang mana banyak di antaranya dimasak dengan petunjuk dari ibu mereka melalui layanan telpon Skype.
Meskipun acara makan malam ini bisa dibilang sukses, baik Ronca maupun Elsley menyatakan bahwa masih banyak hal yang perlu dilakukan untuk menciptakan hubungan yang harmonis antara tuan rumah dan para fasilitator.
Ada dua fasilitator setiap makan malam yang dilatih untuk dapat memahami filosofi dari Welcome Dinner project ini. Fasilitator ini haruslah mengerti apa itu joiningthedots dengan baik. Mereka mempelajari proses makan malam dan apa saja yang perlu dilakukan di dalam acara itu agar makan malam berlangsung dengan seenak dan senyaman mungkin. Para fasilitator juga harus bisa memainkan perannya dengan baik seperti bagaimana menyelesaikan masalah yang mungkin timbul.
Sekilas, Welcome Dinner mungkin hanyalah sebuah makan malam, tetapi pada hakikatnya ini adalah langkah pertama yang sangat penting. Ini adalah titik tolak untuk menciptakan sebuah suasana dimana orang-orang bisa menjalin persahabatan tanpa membedakan asal-usul, perbedaan bahasa, bangsa dan budaya.
Ada hal yang ingin anda tanyakan ? Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .Email: info@konsultanpendidikan.com

















Dengan dunia yang terus berubah, bisnis pun terus berubah. Hal ini tentu memerlukan kesigapan pemikiran dan tindakan yang tepat sehingga setiap bisnis yang dilakukan bisa memeroleh hasil sesuai harapan. Menyikapi fakta inilah, UTS Business School hadir dengan program perkuliahan yang efektif bagi semua individu yang ingin belajar tentang seluk-beluk bisnis dari tangan-tangan ahli yang mana bisa memaksimalkan potensi mereka untuk berkembang menjadi pebisnis handal dan profesional yang relevan dengan tuntutan zaman.
UTS Business School telah diakui secara nasional dan internasional sebagai sebuah lembaga pendidikan yang berkualitas tinggi. Universitas ini terus mengembangkan setiap aspek yang dimilikinya sebagai sebuah lembaga pendidikan untuk memastikan bahwa mereka bisa membantu setiap mahasiswanya mengoptimalkan potensi mereka untuk menjadi seorang yang unggul dalam bidang pekerjaan pilihannya. Hal ini menjadikan UTS Business School sebagai salah satu sekolah bisnis unggulan di dunia.
Dengan prestasi dan akreditasi yang dimiliki UTS Business School, tentunya setiap pelajar yang mendaftarkan diri untuk menjadi mahasiswa di sekolah tinggi bisnis ini akan lebih terjamin jenjang karirnya kelak karena universitas tempatnya kuliah merupakan sebuah universitas yang sangat diakui baik di tingkat nasional maupun internasional. Dengan sistem pendidikan yang kreatif dan inovatif serta pelatihan kerja yang diberikan membuat setiap lulusan UTS Business School lebih berpeluang dalam meraih jenjang karir yang mapan dan menjanjikan.
UTS Business School memberikan jadwal kuliah yang fleksibel bagi kamu yang ingin bekerja sambil kuliah. Program S1 dan mayoritas S2 di UTS Business School dirancang dengan sedemikian rupa sehingga sangat memudahkanmu untuk menyeimbangkan antara kuliah dan bekerja. Hal ini tentu akan sangat membantu bagi kamu yang ingin kuliah mandiri atau yang ingin kuliah sambil mencari pengalaman kerja.
Salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh sebuah institusi pendidikan agar dapat disebut sebagai lembaga pendidikan bonafit tentu adalah dengan lokasi strategi dan lengkapnya fasilitas yang dimiliki. Dalam hal ini, UTS Business School memenuhi dua hal tersebut tentu saja.