Halo braaw. Sebelumnya kita sempat membahas tentang tips dalam beberapa pemakaian bahan untuk toning saat pembuatan manga. Buat kalian yang masih rada lupa, sekedar penasaran, atau belum sempet liat (fiuh banget yang ini) bisa coba cek secara lengkap di artikel ini ya braw.
Mungkin kebanyakan orang berpikir bahwa saat mewarnai manga hanya sekedar pemberian arsiran atau malah coretan belel yang pas jadi ternyata malah lebih belel dari patung pancoran (laah). Nah ternyata proses pembuatan toning/screentone dalam manga gak segampang yang kita kira braaw. Ternyata perlu ketelatenan lebih dan pastinya tata cara yang emang mesti dipelajari terlebih dahulu. Dalam artikel ini kita akan membahas tutorial tentang proses toning itu sendiri dalam pembuatan manga. Bagaimana caranya? Simak deh ulasannya di bawah ini 🙂
Tutorial Toning/Screentone Depot
Ada banyak seniman manga online yang tidak memiliki akses atau tidak mampu membeli screentones. Faktanya harga screentones memang sangat tinggi sih. Harga standarnya saja sekitar $9.00 US Dollars. Tapi jangan khawatir sobat manga sekalian, Asyura sudah berbaik hati memberikan beberapa tone digital, tutorial toning dan beberapa tips tentang digital toning buatan sendiri. Jadi nantinya kamu bisa lebih mudah dalam mempelajari proses toning dalam membuat manga buatanmu sendiri.
Jadi awalnya Asyura baru saja mengakuisis beberapa tone keren dari temannya yang bernama Hitomi, dimana ia memiliki akses yang bagus ke tone Jepang dan Korea yang ternyata benar-benar keren dan murah guys! Kemudian Asyura mencan semua tone yang ada, sayangnya sebagian terlihat sedikit kabur. Tone-tone yang sudah discan semuanya disimpan dalam format TIF bukan jpgs. Dia berasumsi bahwa sebagaian besar seniman manga di luar sana biasanya ingin karya-karya mereka discan dengan kualitas yang baik, sehingga format TIFs akan menjadi format yang lebih baik untuk digunakan.
Asyura juga menambahkan beberapa tone dari sebuah buku yang diterbitkan oleh nada Dover yang disebut Background Patterns, Textures and Tints. Jika kamu juga tertarik untuk memiliki buku tersebut berikut adalah referensinya ISBN 0-486-23260-3 diterbitkan oleh Dover , karangan Clarence P. Hornung .
Tata Tertib dan Peraturan Penggunaan
Tidak ada tata tertib dan peraturan khusus untuk menggunakan tone-tone milik Asyura ini guys. Kamu bebas mendownload tone-tone yang kamu suka dan menciptakan tonemu sendiri. Tapi, ada baiknya kamu memberikan sedikit penghargaan kepada si empunya tone yaitu Asyura sendiri dengan memberikan informasi jika kamu ingin mempublikasikan tone miliknya di webmu sendiri.
Cara Menggunakan
- Pastikan kamu menggunakan PC yang sudah terinstal aplikasi Photoshop di dalamnya.
- Scan foto kamu dan simpan dalam format TIF, kemudian masukan kedalam Photosop.
- Klik pada gambar persegi panjang dan tekan ctrl+A di gambar untuk mengambil keseluruhan gambar.
- Tekan ctrl+C untuk menyalin gambar, kemudian klik Edit dan pilih paste sebagai lapisan.
- Pilih Darken sebagai layar baru.
- Loan tone yang sudah ada.
- Gunakan fungsi rubber stamp untuk mengambil tone. Gunakan ALT+tombol kiri mouse untuk maeraih area yang kamu inginkan. Jika kamu memilih solid brush, maka pastikan untuk mempaste tonenya ditempat yang sama. Namun jika kamu memilih softer brush maka kamu akan mendapatkan sisi yang lebih lembut. Nantinya akan terlihat efek airbrushed.
- Resize tone disesuaikan dengan kebutuhanmu.
- Pastikan untuk bermain-main dengan airbush untuk menciptakan efek khusus seperti awan, glitters dll.
- Jika kamu memiliki printer laser maka hal pertama yang harus kamu lakukan adalah mencetak tone pada kertas.
- Pastikan kamu memiliki lembar aseton Chartpak DAFR8 (screentones yang bisa dicopy)
- Pergi ke tukang fotocopy dan tempatkan DAFR8 ke by-pass try
- Tempatkan hasil tone printout ke alat pengcopy, kemudian kamu sudah bisa membuat tonemu sendiri!
- Biaya untuk Chartpaks sekitar $42,00 dollar.
- Kamu bisa mendapatkan Chartpaks all in one supaya lebih murah
Yuk Ikutan Belajar & Praktek Langsung Screentone di Jakarta!!!!
Buat Kamu yang ngerasa agak keberatan untuk mengeluarkan kocek lebih, entah untuk biaya kursus atau buat pergi ke Jepang langsung buat belajar screentone, tenang aja braaw ada kesempatan yang super duper kece & pastinya gak akan datang dua kali. Yokohama Design College, yang notabene institusi pendidikan manga, khusus datang ke Jakarta untuk mengadakan workshop manga bersama Access Education. Di sini kamu gak cuma belajar tentang screentone, tapi bisa praktek langsung. Pengisi acaranya sendiri merupakan salah satu Mangaka kece dari jepang & merupakan jebolan Yokohama Design College juga, Watanabe.
Jangan khawatir tentang harga yang melambung, event ini gak akan menguras kocek kamu sampe dalem banget kok. Harga tiket untuk bisa terlibat dalam event ini bener-bener ramah lingkungan braw, terutama ramah banget buat dompet kamu 🙂
Kalo mau tau lebih detail kamu bisa coba cek di artikel kami yang ada di sini
Selamat berpetualang dalam kreativitasmu ya guys:D
Ada hal yang ingin anda tanyakan ? Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .
Email: info@konsultanpendidikan.com
Setiap ada polling atau survey tentang bahasa apa yang paling sulit dipelajari, bahasa Jepang hampir selalu menjadi jawaban yang paling sering dilontarkan.
Memang tak mengherankan sih jika banyak orang menganggap bahasa ini sulit dipelajari. Alasannya sangat jelas malah. Kita bisa melihat bagaimana bahasa Jepang memiliki keanehan dan keistimewaan yang akan membuat banyak orang—dan mungkin termasuk dirimu—terheran-heran bagaimana seseorang, bahkan orang Jepang sendiri, bisa berkomunikasi dengan begitu lancar dalam bahasa Jepang.
Nah, kawan, kalau kamu mau menelisik lebih detail nih, ternyata sebenarnya bahasa Jepang itu tak sesulit yang dibayangkan banyak orang lho. Bahkan pada beberapa hal, belajar bahasa yang satu ini bisa dikatakan mudah.
Penasaran? Baca saja yang berikut ini.
Pertama-tama kita coba kulik dulu nih salah satu permasalahan mendasar yang dikeluhkan banyak orang tentang bahasa Jepang, yaitu tentang adanya 3 jenis karakter/huruf yang digunakan untuk menuliskan bahasa tersebut.
Huruf yang pertama, diimpor dari China, disebut kanji, adalah halangan paling utama yang harus dihadapi—dan terus dihadapi—oleh para pembelajar bahasa ini jika mereka mau dikatakan fasih berbahasa Jepang.
Hal ini karena ada banyak sekali huruf kanji, ada sekitar 2000 karakter yang biasa digunakan.
Mempelajari 2000 karakter bukanlah sesuatu yang bisa dianggap main-main, tapi jumlah ini masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan syarat agar bisa dianggap fasih dalam belajar bahasa China. Beberapa kanji bahasa Jepang merupakan bentuk sederhana dari huruf China, membuatnya lebih mudah untuk diingat.
Selagi menghapalkan huruf kanji yang dianggap sebagai momok yang cukup menakutkan dalam belajar bahasa Jepang dan bisa mencapai masa kritis pengetahuan; yaitu satu titik dimana mereka memeroleh kemampuan untuk membedakan arti dari setiap kata yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.
Sebagai contoh, jika kamu tahu kalau arti dari kanji 着berarti mengenakan/menempatkan, 色berarti warna, dan 料berarti masakan, kamu mungkin akan dengan cepat bisa menebak bahwa 着色料berarti pewarnaan makanan, bahkan meski kamu tak yakin bagaimana cara melafalkannya (by the way, 着色料 : chakushokuryo).
Dua set huruf lainnya yang digunakan dalam bahasa Jepang bahkan lebih sederhana lagi dibandingkan huruf kanji. Hiragana, yakni huruf-huruf yang digunakan untuk menuliskan kata-kata dalam bahasa Jepang, terdiri dari 46 karakter. Awalnya, jumlah ini mungkin juga cukup membuat keder, tapi tak ada huruf Hiragana yang sangat kompleks, dan hampir semuanya cukup sederhana untuk dituliskan dengan 2 atau 3 goresan pulpenmu. Belajar 2 huruf Hiragana setiap hari, dan kamu akan dengan sepenuhnya bisa membaca dan menulis satu set huruf ini dalam waktu kurang dari 1 bulan!
Rangkaian karakter/huruf selanjutnya yang digunakan dalam bahasa Jepang adalah Katakana. Huruf jenis ini digunakan untuk menuliskan kata pinjaman dari bahasa asing ke dalam bahasa Jepang. Jumlah karakter Katakana yang harus dihapalkan juga ada 46 karakter. Tetapi, sebelum kamu merasa frustasi duluan dengan bahasa Jepang ini dan beralih untuk belajar bahasa lainnya, coba perhatikan betapa miripnya karakter Hiragana dan Katakana pada beberapa bunyi seperti berikut:
ri: り / リ
ka: か / カ
se: せ / セ
ki: き / キ
Begitu kamu sudah mempelejari Hiragana, Katakana akan menyusul dengan mudah. Dan yang paling menguntungkan adalah, sistem pengucapan Hiragana dan Katakana nyaris tidak memiliki sistem pengucapan yang bergeliat-geliut sebagaimana dalam bahasa Inggris dengan sistem vokal panjang-pendek dan konsonan keras-lemahnya.
Jika kamu melihat かtertulis dalam banyak kata, misalnya, huruf ini akan dieja “ka” dalam masing-masing dan setiap orang.
Bagi negara yang sangat menghargai ketepatan nilai dan waktu, bahasa Jepang secara mengejutkan malah sangat sederhana saat dikaitkan hubungannya dengan bentuk waktu/tenses. Dalam bahasa Jepang, kamu tak akan menjumpai adanya future tense (bentuk waktu yang akan datang). Jadi, “I write” and “I am going to write” akan diucapkan dengan cara yang sama dalam bahasa Jepang.
Meskipun hal yang semacam itu kadang lumayan memusingkan, konteks pembicaraan biasanya akan membuat maksudnya menjadi lebih jelas.
Karena bahasa Jepang tak memiliki future tense, maka setidaknya berkurang satu gramatika yang harus dihapalkan. Bahkan dalam bahasa Inggris, yang sangat mengatur dalam hal future tense, memiliki 2 cara eksklusif dalam mengungkapkan hal yang akan dilakukan di waktu yang akan datang (misalnya saat akan membukakan pintu karena belnya berdering, maka yang dianjurkan untuk digunakan adalah “I’ll get it” bukannya “I’m going to get it!”).
Kemudian soal past tense, bahasa Jepang memang memiliki bentuk lampau seperti ini, tetapi peraturannya lebih jelas dibandingkan dengan bahasa Inggris yang terkenal dengan kerumitan penggunaan irregular dan regular verb yang berubah saat digunakan untuk bentuk lampau.


































