Sistem biaya pascasarjana merupakan ladang ranjau yang etis – arsitek Hecs

Pendekatan “Bizantium” Australia terhadap tempat-tempat pascasarjana memungkinkan universitas untuk “menetapkan harga mereka sendiri”, memaksa ribuan mahasiswa tingkat tinggi untuk membayar biaya di muka, menurut arsitek sistem pinjaman mahasiswa yang banyak ditiru di negara tersebut.

Ekonom Bruce Chapman, seorang profesor emeritus di Australian National University, memperingatkan bahaya moral dalam sistem yang membingungkan dimana beberapa mahasiswa pascasarjana diberikan subsidi sementara yang lain membayar biaya penuh.

Profesor Chapman mengatakan beberapa orang membayar dua kali lebih mahal dibandingkan rekan-rekan mereka di kursus serupa, karena biaya untuk tempat-tempat yang tidak disubsidi tidak diatur. Meskipun mahasiswa biasanya mempunyai hutang tambahan sebesar A$28,000 (£14,305) dengan mengikuti studi pascasarjana, beberapa diantaranya melihat saldo pinjaman mereka melonjak hingga enam digit.

Hal ini membuat mereka melanggar batas pinjaman yang diatur, yang saat ini berjumlah A$121,844 untuk sebagian besar siswa. “Jika Anda mengikuti kursus yang cukup mahal dan mendapatkan gelar kehormatan dan mungkin master Anda akan melampaui batas,” kata Profesor Chapman kepada National Press Club di Canberra.

“Bagaimana caramu membayarnya? Saya tidak tahu bagaimana Anda membayarnya. Anda harus menemukan uang tunainya.”

Profesor Chapman mengatakan situasi ini “benar-benar bertentangan” dengan prinsip-prinsip yang mendasari Skema Kontribusi Pendidikan Tinggi (Hecs), yang dirancangnya pada akhir tahun 1980an untuk membantu mendanai peningkatan studi di universitas.

Dia mengatakan mungkin 20.000 orang membayar setidaknya sebagian dari biaya pascasarjana mereka di muka karena mereka telah melampaui batas pinjaman. “Hecs termotivasi untuk menghilangkan biaya finansial di muka untuk berpartisipasi dalam sistem ini,” jelasnya.

“Jika masyarakat harus membayar tunai, apa gunanya memiliki sistem Hecs? Jika pemerintah menganggap serius landasan konseptual sistem ini, maka hal ini perlu diatasi.”

Dia mengatakan mengizinkan universitas untuk menetapkan biaya mereka sendiri adalah “ide yang sangat buruk” ketika pembayar pajak menanggung semua risikonya, seperti yang mereka lakukan dalam skema yang bergantung pada pendapatan seperti Hecs.

Potensi risiko diilustrasikan oleh skema Bantuan Biaya Dokter Hewan, ketika perguruan tinggi pelatihan menipu ribuan siswa untuk mengambil pinjaman yang bergantung pada pendapatan untuk membayar program diploma yang kualitasnya dipertanyakan. Lebih dari A$7 miliar mengalir melalui skema ini sebelum dihapuskan pada tahun 2016. Ratusan juta dolar utang mahasiswa kemudian dihapuskan oleh pemerintah federal.

Ketidakjujuran sebesar ini sulit dibayangkan dalam pendidikan tinggi, dimana jumlah institusinya lebih sedikit dan peraturannya lebih ketat. Namun, Profesor Chapman menekankan potensi penyalahgunaan “instrumen keuangan yang kuat” seperti Hecs. “Itu adalah masalah etika yang cukup besar bagi saya,” katanya kepada Press Club.

Dia mengatakan universitas-universitas menggunakan biaya pascasarjana dalam negeri yang membengkak untuk melakukan subsidi silang terhadap penelitian, yang sebagai “barang publik” harus ditanggung oleh pembayar pajak daripada mahasiswa pascasarjana yang dibebani dengan “harga yang sangat tinggi”.

Namun dia mengatakan seruan untuk pendidikan tinggi gratis “sama regresifnya dengan kebijakan”, karena orang dewasa yang membayar pajak yang sebagian besar masih belum memiliki gelar sarjana akan menanggung biaya untuk sebagian kecil lulusan yang memiliki hak istimewa. “Hal ini akan sangat membantu kelompok yang diuntungkan dan membuat kelompok yang kurang diuntungkan menjadi lebih buruk,” katanya.

“Alangkah baiknya kalau bisa juga makanan gratis, perumahan gratis, cinta gratis, Willy gratis, semuanya gratis. Jika kebebasan ada di mana-mana, para ekonom tidak perlu berkutat dengan desakan kita yang menyedihkan dan suram bahwa ada trade-off yang harus dilakukan dalam semua keputusan kebijakan publik.”

Sumber: timeshighereducation.com

Alamat Lengkap Kami

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Inilah Perubahan Besar pada Tes SAT di Tahun 2016

1109-International-Flags-03 Bagi kamu yang akan atau berminat kuliah di luar negeri, khususnya di Amerika, ada berita baru nih. Kali ini adalah tentang adanya perubahan yang terjadi pada tes SAT. Seperti yang mungkin kamu sudah tahu bahwa SAT adalah salah satu tes wajib yang dikeluarkan oleh College Board yang diperlukan untuk mendaftar pada hampir semua universitas atau perguruan tinggi di negeri Barack Obama alias Amerika(lebih lengkapnya disini. Selain itu SAT ini juga banyak sekali kelebihan lainnya untuk kamu disamping untuk urusan admisi (lebih lengkapnya disini). Dikatakan bahwa perubahan besar akan diberlakukan pada tes SAT dikarenakan tes tersebut sudah terlalu tidak nyambung dengan apa yang diajarkan di sekolah menengah. Tes tersebut dianggap terlalu menegangkan bagi para calon mahasiswa, terlalu penuh misteri dan “trik” untuk meningkatkan skor yang mana semuanya tidak diperlukan untuk mencetak seorang mahasiswa yang siap masuk perguruan tinggi. Oleh karena itu SAT 2016 yang akan mulai dipublikasikan musim semi tahun depan (Spring) dirancang secara khusus untuk mengubah semua sisi negatif dari SAT sebelumnya. Tes ini akan mencakup 3 sesi: evidence-based reading and writing, math dan optional essay. Semuanya diperlengkap untuk mencegah para siswa mengerjakannya secara asal. Tes SAT akan mengubah skor maksimalnya dari 2400 kembali menjadi 1600, dengan skor yang terpisah pada kategori essay. Dengan begini, tak akan ada lagi cerita peserta tes ini dihukum karena memilih jawaban yang salah. Untuk mempersiapkan para siswa menjalani tes SAT, College Board akan bekerja sama dengan Khan Akademi untuk menyediakan persiapan materi tes gratis mulai musim semi tahun 2015. Selanjutnya, para calon mahasiswa yang memnuhi syarat akan menerima surat pernyataan bebas biaya sehingga mereka bisa mendaftar secara gratis di perguruan tinggi yang bersangkutan.

Kenapa tes SAT berubah

students-classroom-test Terakhir, perubahan pada tes SAT adalah pada tahun 2005. Waktu itu beberapa format pertanyaan diubah, ada tambahan esai tertulis dan mengubah skor maksimalnya dari 1600 menjadi 2400. Untuk perubahan ini, David Coleman selaku College Board President mengatakan bahwa keinginan untuk menciptakan lebih banyak peluang kepada para calon mahasiswa daripada menggugurkan mereka dengan pertanyaa-pertanyaan ujian yang dirasa tidak cocok dengan pendidikan mereka dan persiapan masuk universitas yang diperlukan. Coleman, yang bergabung di College Board pada tahun 2012, secara kritis telah mengupayakan agar tes yang dikeluarkan oleh organisasi yang dipimpinnya ini bisa dikembangkan dengan lebih baik. Para petugas bagian penerimaan mahasiswa baru dan konselor menyatakan bahwa mereka mendapati data ujian penerimaan sangat berguna tetapi juga menyatakan bahwa ujian ini sepertinya telah tidak cocok lagi dengan pembelajaran yang didapat para calon mahasiswa di sekolah menengah mereka dan ditambah lagi dengan tes persiapan yang mahal. Pada beberapa tahun terakhir, ujian masuk universitas lainnya, ACT, telah menjadi sangat terkenal jika dilihat dari banyaknya negara yang menggunakan tes tersebut sebagai tes standar mereka untuk ujian masuk. Sementara kebanyakan universitas program empat tahun (S-1) mewajibkan calon mahasiswanya memenuhi skor tes tertentu, ratusan sekolah telah mengubah kebijakan tesnya dimana mereka mengijinkan para siswa untuk memutuskan apa yang ingin mereka serahkan saat pendaftaran atau hanya sekedar menyerahkan nilai tes saja. Sebenarnya, seperti yang dilaporkan oleh National Association for College Admission Counselling 2013, prestasi akademis dan pengalaman siswa yang bersangkutan lebih dipertimbangkan daripada skor standar tes, ranking atau minat yang dimiliki dalam penerimaan mahasiswa baru. Laporan tersebut berdasar pada survey yang dilakukan di sekolah menengah negeri dan swasta, lembaga pendidikan pasca skeolah menengah dan data dari College Board, U.S. Department of Education dan U.S. Census Bureau. Steve Syverson, salah satu anggota NACAC dan dekan dari Lawrence University di Appleton, Wisconsin, mengatakan bahwa perubahan pada tes SAT ini diharapkan akan membawa lebih banyak kebaikan meskipun ia belum tahu pasti bagaimana tes ini akan memberikan pengaruh sebesar itu.

Bagaimana tes SAT akan berubah

quiz-test-exam-assessment-3 Sesi dari SAT yang telah dirancang ulang mungkin tak jauh beda dengan tes SAT yang sekarang, tetapi menurut David Coleman, perubahan tersebut sangatlah berpengaruh. Sesi reading dan writing akan mencakup pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan siswa untuk mencantumkan bukti-bukti dari jawaban pilihan mereka dan mencakup bacaan dari cabang ilmu yang lebih luas termasuk sains, sejarah, ilmu sosial dan literatur. Peserta ujian tak akan lagi diminta untuk melengkapi kalimat dengan kata-kata yang kurang jelas yang mungkin mereka ingat dari menghapalkan flash card. Malah, para peserta tes tersebut harus memikirkan konteks tentang suatu kata seperti bagaimana kata “synthesis” dan “empirical” digunakan. Sementara itu pada sesi matematika, penggunaan kalkulator tidak akan diperbolehkan. Ujian pada bidang matematika akan difokuskan pada analisis data dan pemecahan masalah dan beberapa di antaranya konsep matematika tingkat lanjut. Sementara itu kategori esai, yang pada tahun 2005 ditambahkan sebagai bagian utama, kini menjadi opsional. Nah jadi begitu guys info sekilas tentang wacana perubahan sistem SAT yang emang kebanyakan dipake sama siswa Indonesia buat masuk Universitas di USA. Semoga bermanfaat ya 🙂 the-top-10-business-schools Ada hal yang ingin anda tanyakan ?  Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami