Tinggal di luar negeri mungkin terdengar sangat menyenangkan bagi teman-teman. Gimana enggak, kita bisa lihat berbagai hal yang sama sekali beda dengan Indonesia. Dari orang-orangya yang tinggi-tinggi sampai pemandangan dan budayanya. Namun, seringkali teman-teman akan mengalami culture shock ketika tinggal di suatu negara asing dalam waktu lama. Ini mungkin juga akan terjadi ketika teman-teman kuliah di luar negeri.
Tapi sebenarnya, apa sih yang dimaksud culture shock itu? Bagi teman-teman yang belum mengerti culture shock adalah perasaan bingung, resah, galau, tidak aman karena kondisi lingkungan yang baru karena belum terbiasa. Perasaan ini wajar kok buat teman-teman yang baru pertama tinggal di luar negeri.
Tapi, teman-teman ngga perlu khawatir karena culture shock bisa diatasi kok. Nah, berikut ini adalah langkah-langkah jitu untuk mengatasi culture shock.
Pertama, bro and sist mesti berpikiran terbuka. Pemikiran terbuka itu mesti gimana sih? Kita tau kan kalo di luar negeri semua hal pasti berbeda, maka teman-teman ngga boleh yang namanya negative thinking. Ngga perlu melihat segala sesuatu yang beda dengan kita sebagai sesuatu hal yang salah. Dengan berpikir seperti ini, teman-teman akan bisa menjadi seseorang yang obyektiv dan memahami sesuatu hal yang baru sebagai bahan pemahaman budaya setempat. Jadi, nanti kalau teman-teman dapat beasiswa dan berkesempatan belajar ke luar negeri, cara paling mudah mengantisipasi culture shock adalah mencari informasi mengenai negara itu. Misal teman-teman punya saudara atau sahabat di luar negeri, hubungi mereka dan pelajari tentang budanyanya, kepercayaan ataupun kehidupan sehari-harinya. Atau kalau ngga punya ya browsing bisa kok. Sekarang kan semua udah tersedia di internet, jadi lebih gampang kan?
Berpikiran terbuka di tempat yang sama sekali asing itu sangat berguna lho, karena siapa tau teman-teman bisa menemukan hal-hal baru yang ngga pernah diketahui sebelumnya. Jadi intinya, belajar itu penting bro.
Cara mengatasi culture shock yang kedua juga ngga kalah pentingnya. Belajar bahasa lokal akan sangat membantu karena dengan cara ini teman-teman bisa meningkatkan kemampuan berkomunikasi sehingga teman-teman bisa menyatu, atau memadu dengan kebudayaan setempat. Jadi, misalnya teman-teman akan belajar di Jepang atau Italia, belajar deh bahasa Jepang dan Italia. Selain berguna untuk dalam dunia perkuliahan nanti, ini juga akan membantu mengatasi culture shock. Selain itu, belajar bahasa lokal itu menunjukkan kalau teman-teman tertarik tinggal dan belajar di negara tersebut.
Nah,setiba di negara asing itu, teman-teman mesti mulai berkenalan dengan kondisi sosial tempat teman-teman tinggal. Dari informasi yang didapat lewat teman atau internet, coba deh diterapkan di kehidupan nyata, di negara teman-teman tinggal. Ngga perlu menganggap atau menafsirkan segala tindakan dari sudut pandang budaya asal karena tindakan itu bukan data. Misalnya saja orang Amerika sering menggunakan kalimat “How are you?”/”Gimana kabarnya?” hanya untuk mengungkapkan kalimat “Hello!”/”Halo!” Kebanyakan orang Amerika tidak menanggapi pertanyaan ini secara detail. Bahkan mereka cuma say hello dan kemudian pergi seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Kalau teman-teman menjumpai hal seperti ini ketika di luar negeri, ngga perlu kaget atau heran. Hal seperti ini udah biasa kok di Amerika sana, dan ngga dianggap ngga peduli, dibuat-buat ataupun ngga sopan. Orang Amerika memang seperti itu dan mereka ngga perlu merespon pertanyaan semacam ini secara serius.
Hal-hal baru memang banyak sekali akan ditemukan ketika teman-teman tinggal di luar negeri. Semisal teman-teman sudah memahami suatu hal tentang protokol, adat ataupun kebiasaan, teman-teman perlu berhati-hati karean informasi yang didapat belum tentu bisa memahami konteks secara keseluruhan. Sudah pernah dengar Geert Hofstede, seorang ahli Psikologi belum? Kaitannya dengan budaya, dia mengatakan bahwa budaya itu semacam kesatuan yang bisa dikupas lapisan demi lapisan untuk mengungkap isinya. Untuk memahami budaya setempat secara keseluruhan, akan memerlukan waktu lama. So, teman-teman mesti terus belajar dan bersosialisasi supaya kebudayaan tersebut bisa sedikit demi sedikit dipahami. Ngga susah kok, asal teman-teman mau keluar dan bersosialisasi, culture shock akan segera teratasi.
Cara jitu selanjutnya untuk mengatasi culture shock adalah dengan mengenal dan mengetahi orang-orang yang ada di lingkungan baru. Teman-teman mungkin perlu bertanya, membaca koran ataupun menghadiri berbagai macam acara dan festival yang diadakan di lingkungan sekitar. Di negara-negara maju seperti Eropa atau Amerika, acara sosial sangat banyak dan bervariasi. Tinggal teman-teman pinter-pinter membagi waktu untuk mengenal lebih jauh tentang lingkungan sekitar tempat teman-teman tinggal.
Selain itu, teman-teman perlu menyusun sebuah rutinitas kegiatan sehingga teman-teman akan merasa aman dan damai seolah-olah berada di negara sendiri. Kedengarannya susah ya? Ngga kok, mudah dan kalau teman-teman berada di situasi yang sulit karena ngga bisa memahami budaya mereka, tertawalah. Jadi, teman-teman mesti punya selera humor yang tinggi. Tertawalah pada diri sendiri, maka yang lain juga akan ikut tertawa. Beberapa orang akan mengagumi keinginan teman-teman yang mau mempelajari cara mereka.
Sekedar tips aja buat teman-teman, mengatasi culture shock memang memakan waktu, so teman-teman mesti sabar ya dan jangan mengisolasi diri sendiri. Selalu berhubungan dengan teman dekat atau keluarga di tanah air akan seangat membantu, tapi jangan keseringan ya, nanti malah jadi homesick yang berkepanjangan.
Eh.. ada tips menarik nih untuk menanggulangi culture shock versi mahasiswa Korea yang tinggal di Amerika. Mau tau? yuk intip videonya
Email: info@konsultanpendidikan.com

















Inggris sebagai negara maju memang menakjubkan dari segi apapun, termasuk segi pendidikannya. Ini pas banget buat temen-temen yang lagi cari opsi kampus luar negeri, kenapa ngga di Inggris? Temen-temen bisa kuliah di Anglia Ruskin University, sebuah kampus negeri yang juga merupakan salah satu kampus terbesar di East of England, Inggris.
Dengan jumlah mahasiswa 31.500 orang, universitas kampus di tiga tempat, yaitu Cambridge, Peterborough dan Chelmsford. Untuk reputasi di kancah internasional, 31% jurusan di Anglia Ruskin University mendapat raking ke-3 di tingkat dunia oleh Research Assessment Exercise (RAE) di tahun 2008 lalu. Kemudian, untuk Student Services-nya, kampus ini dikenal sebagai kampus dengan pelayanan terbaik okeh Times Higher Education Awards 2012. Dengan prestasi terakhir ini, sebagai mahasiswa internasional, kalian ngga akan dikecewakan atau ngga dilayani dengan baik.
Mau tau info yang lain tentang program dan jurusan, pendaftaran dan biaya hidup? Stay on this article!
Program dan Jurusan
Pendaftaran Mahasiswa Internasional
Akomodasi Kampus

Disamping pemilihan kata yang beda, sebenernya inti pertanyaan dari hampir semua pertanyaan esai itu sama: “Mengapa kamu berhak mendapatkan beasiswa ini?” Percaya atau gak, walaupun gak ditulis secara eksplisit, semua pertanyaan yang beda-beda itu sebenernya mengarah pada satu inti tersebut. Nah oleh karena itu, mau kaya apapun pertanyaannya, jawaban kamu harus mengarah ke inti pertanyaan tadi itu. Kalo kamu disuruh nulis esai tentang “Guru Masa Depan Indonesia”, kamu bisa mendiskusikan tentang pendidikan, mungkin dengan beberapa tambahan kutipan atau fakta tertentu, tapi kamu juga harus mastiin kalo kamu disitu menjelaskan gimana peran kamu dalam masa depan pendidikan tersebut. Kaya misalkan kamu cerita kalo kamu berencana jadi guru trus jelasin deh gimana cara kamu berkontribusi dalam membentuk hidup siswa-siswa kamu.
Langkah selanjutnya adalah menentukan pendekatan apa yang mau kamu pakai. Untuk satu topik aja bisa ada ratusan cara untuk menyampaikannya dalam esai. Kebanyakan topik terlalu luas untuk dituliskan hanya dalam 800-1000 kata, jadi kamu harus mengerucutkannya lagi dan hanya menuliskan sebagian kecilnya saja. Semua ini berhubungan dengan pendekatan apa yang ingin kamu tunjukkan dalam esaimu. Pendekatan tersebut harus dapat meyakinkan para penilai bahwa kamu berhak mendapatkan beasiswa itu.




