Perbedaan pertama : Mata kuliah
Walaupun beberapa jurusan pada umumnya ada di berbagai mata kuliah tapi ada nih jurusan yang hanya ada di Oxford tapi tidak ada di Cambridge. Contohnya Politics, Philosophy, and Economics yang ada di Oxford. Ada juga perbedaan lainnya lagi nih, di Cambridge kamu bisa fliksibel dalam memilih natural science degree. Berbeda ketika kamu kuliah di Cambridge hanya ada single-subject science courses.
Perbedaan berikutnya adalah City showdown
Cambridge:
- Terletak di kota kecil yang penduduknya kebanyakan didominasi oleh mahasisswa. Untuk kamu yang menyukai suasana kota kecil cocok banget untuk pilih kampus ini.
- Kehidupan malam di kota ini pun tidak seramai di Oxford
Oxford:
- Berbeda dengan Cambrideg, Oxford justru terletak di kota yang sangat sibuk sekali walaupun sama seperti Cambridge yang berada di kota kecil pula.
- Kehidupan malam di kota ini lebih ramai disbanding Cambridge, so buat kamu yang suka begadang ada banyak bar atau club disini.
Perbedaan selanjutnya: Best of The Best
Ngomongin soal best of the best pastinya kedua universitas ini udah the best of the world dong. Tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan diantara keduanya karena keduanya memiliki kelebihannya masing-masing. Kalo Oxford unggul dalam hal Social Science and Humanities, maka Cambridge gak mau kalah dalam hal Science.
The last but not the least: budaya atau kebiasaan sehari-hari
- Kalo di Oxford punya gaya mengajar yang disebut ‘Tutorials’, Cambridge juga punya gaya mengajar yang disebut ‘supervisions’
- Di Cambridge ada yang namanya May Week Tradition, yaitu sejenis perayaan ujian akhir tahun
Ada hal yang ingin anda tanyakan ? Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .
Email: info@konsultanpendidikan.com
















Selain di bidang kreatif media, meski tidak terlalu banyak, lulusan musik juga bekerja di bidang keuangan, perbankan, hukum dan konsultasi. Menurut Dr Robert Adlington, seorang dosen musik di University of Nottingham, kesuksesan dan bervariasinya bidang pekerjaan yang bisa dimasuki oleh jurusan musik adalah sebagai hasil dari tingginya keahlian yang dikembangkan oleh siswa jurusan musik selama masa studi mereka.
Pada tahun 2011, Confederate of British Industry menguraikan 7 skill yang menentukan peluang kerja: manajemen diri, team work, pengetahuan bisnis dan konsumen, problem solving (penyelesaian masalah), komunikasi, numerasi dan skill IT.
Adlington mengatakan bahwa siswa jurusan musik mengembangkan 7 skill ini. Berdasarkan hal ini, maka dapat disimpulkan bahwa lulusan musik adalah yang paling berpeluang bekerja di antara lainnya.
Sementara beberapa di antara skill tersebut dimiliki juga oleh siswa jurusan lainnya dari berbagai program studi—seperti misalnya team work, komunikasi dan manajemen diri—Adlington menunjukkan bahwa siswa musik memiliki kelebihannya sendiri.
Pengalaman siswa musik dalam mengorganisir, mengelola dan menampilkan diri dalam berbagai acara di depan publik membuat mereka memiliki keahlian melebihi siswa-siswa dari prodi lainnya. Sedikit jurusan yang memerlukan pengetahuan konsumen atau interaksi dengan publik, misalnya.
James Lister memelajari musik di University of Nottingham, tapi sekarang ia bekerja di bidang hukum di firma Charles Russel. Gelar sarjananya dalam musik “mengajarkannya keseluruhan hal yang tak akan ditemukan di tempat lainnya” seperti halnya public speaking dan self-expression. Menurut Lister, hal ini selain merupakan aspek analitis tinggi dalam sarjana musik, yang memungkinkan lulusan musik untuk membca, meggali dan membentuk pendapat dari serangkaian besar informasi, sangat membantunya dalam transisinya bekerja di bidang hukum.
Peluang kerja lulusan musik sepertinya akan semakin meroket. Selain mengcover elemen dasar yang biasanya dikuasai sarjana musik—seperti misalnya komposisi, performansi, teori, sejarah musik dan lain sebagainya—modul baru kuliah musik fokus pada bagaimana agar lulusan musik bisa mendapatkan peluang karir yang lebih baik.
“Para siswa tentu tak ingin menjadikan masa depannya terombang-ambing,” ucap Adlington, menyiratkan bahwa keterserapan lulusan musik di dunia kerja adalah salah satu hal inti.
Prospek karir yang sama menjanjikannya juga bisa diperoleh oleh yang mengambil jurusan musik di universitas dengan kurikulum pembelajaran yang lebih modern dan lebih menekankan pada praktik. SAE Institute (sebelumnya dikenal dengan School of Audio Engineering) menawarkan kelas musik yang menekankan nilai produksi dan mengajarkan siswanya standar profesi di dunia musik.
Salah satu lulusan terbaik SAE pada program studi audio production, Jordan O’Shea, mengatakan bahwa institusi tempatnya kuliah itu melacak jalur karirnya, membuatnya bisa lebih terbantu. Dia mengatakan bahwa kalau tanpa SAE, dia mungkin belum bisa melakukan perekaman albumnya sendiri. SAE mengubahnya dari seorang produser kamar menjadi seorang yang siap bersaing di kancah musik yang lebih luas.
“Tentu saja tak ada jaminan bahwa selanjutnya kamu bisa memproduseri artis sekelas Adele,” tambah O’Shea.
Siswa jurusan musik diajarkan untuk tidak bergantung pada akses studio saja, atau dukungan atau bantuan dana dari label rekaman. Sejak lulus SAE, O’Shea telah merancang untuk membangun studio miliknya sendiri.
Kesuksesan dari banyak siswa musik tersebut menunjukkan bagaimana perubahan yang terjadi dalam kancah industri musik dewasa ini. Kita bisa melihat bagaimana seorang musisi memproduksi dan mempublikasikan diri mereka sendiri. Dengan adanya internet yang semakin booming, publikasi jauh lebih mudah. Distribusi dan prosmosi juga lebih lancar.
Pendek kata, jurusan musik benar-benar menjanjikan banyak hal menarik disamping peluang karir yang luas dan meyakinkan. So, masih ragu kuliah musik?