Kamu tertarik untuk dapetin beasiswa ini? Ini dia beberapa persyaratan yang harus kamu penuhi.
Requirements
Penerima beasiswa harus memiliki minimun IPK 3.0 (skala 4.00)
Memiliki kualitas kepemimpinan
Memiliki pengetahuan tentang budaya Indonesia dan internasional yang baik
Bersedia kembali ke Indonesia setelah lulus
Skore TOEFL minimum 550, skore IELTS minimum 6.0
Sedangkan untuk Ph.D student persyaratannya tidak jauh berbeda dengan persyaratan diatas. Namun kamu harus sudah memiliki skore minimum TOEFL sebesar 575 atau IELTS minimum 6.5.
Berikut Field of Study yang memenuhi syarat
Plant Genetics & Breeding
Plant Physiology
Plant pathology
Entomology
Apiculture
Tissue culture & plant Propogation
Agricultural Biotechnology
Agroecology/Farming System Research
Agricultural Engineering
Dan berikut beberapa dokumen yang harus kamu siapin, antara lain application form, sertifikat IELTS/TOEFL, Letters of reference, transkip nilai, dan fotocopy kartu identitas.
Nah itu tadi info tentang beasiswa AMINEF di Amerika. Kalo kamu masih ada pertanyaan tentang beasiswa ini kamu bisa tanya langsung ke email infofulbright_ind@aminef.or.id.
Jangan lupa juga deadline beasiswa ini sampai 15 April 2015.
Ada hal yang ingin anda tanyakan ? Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .
Email: info@konsultanpendidikan.com
Kebanyakan orang berpikir kalau orang yang kuliah di luar negeri pasti akan fasih ngomong bahasa negara tempatnya kuliah itu.
Ups, ternyata tak selalu begitu lho. Banyak lulusan luar negeri yang ternyata skill speaking-nya biasa-biasa saja, tak lebih fasih daripada yang belajar di negeri sendiri.
Sedikitnya setahun dan seringkali lebih, kamu yang kuliah di luar negeri diharapkan kembali ke tanah air dengan menguasai gramatika asing yang sangat sulit beserta konjugasinya yang rumit.
Di sisi lain, fluensi tentu jauh lebih gampang dari gramatika dan tetek bengeknya ‘kan?
Dengan interaksi yang terjadi selama tinggal di luar negeri, harusnya fluensi sudah jadi sesuatu yang otomatis. Ini anggapan banyak orang.
Nyatanya, tak sedikit mahasiswa yang belajar di luar negeri mengaku kalau kemampuan bahasa mereka tak terlalu bagus meskipun mereka sudah lama tinggal di negara itu.
Stephanie Rogers, seorang mahasiswa pertukaran jurusan bahasa Prancis di Lancaster University mengatakan kalau kebanyakan orang di Lancaster yang berumur di bawah 40 tahun memiliki pemahaman bahasa Inggris yang sangat bagus, sehingga mereka sepertinya akan segera mengerti maksudmu begitu kamu mulai tergagap. Hal ini karena mereka mengira kamu tak mengerti benar. Jadi, yang perlu kamu lakukan adalah kamu harus percaya pada kemampuanmu sendiri dan ngotot dengan itu.
Kemajuan teknologi adalah hal lainnya yang bisa jadi menghalangi kita untuk benar-benar bisa menyerap budaya asing. Ini karena dengan banyaknya aplikasi, kita jadi keenakan buat mendapatkan bantuan saat kita kesulitan berbahasa asing. Misal kata, kamu tak tahu cara mengucapkan “aku telat karena bangun kesiangan” dalam bahasa Inggris, dengan beberapa sentuhan di layar smartphone-mu kamu sudah bisa menemukan jawabannya secepat kilat.
Selain itu, fasilitas internet seperti streaming TV atau radio, meskipun memang menyenangkan saat kita di perantauan, sebenarnya tak bagus bagi kita yang ingin lebih menyerap bahasa asing. Jika hampir setiap malam kita streaming TV Indonesia saat kita kuliah di London, misalnya, lalu bagaimana caranya kita bisa benar-benar fasih bahasa Inggris kalau kebiasaan saja tetap sama seperti saat di negeri sendiri?
Nah, karena itu saat di luar negeri, cobalah menyesuaikan diri dengan berpikir dan bertindak sesuai dengan budaya tempatmu berada. Perbanyak interaksi dengan bahasa dan budaya lokal tempatmu kuliah. Tentu saja kamu tetap harus aktif menyaring yang mana yang bisa kamu terapkan dan mana yang tak boleh.
Dan jika kamu merasa tenggelam dalam kebiasaan Indonesia-mu selama kuliah di luar negeru, inilah tips yang bisa kamu gunakan untuk meningkatkan interaksimu dengan bahasa negara tempatmu kuliah: