Dokter Muda Indonesia di Mayo Clinic Amerika Serikat

Salah satu dokter di Mayo Clinic wilayah Rochester, Minnesota Amerika Serikat, rupanya adalah seorang perempuan asal Indonesia. Dia adalah Kharisa Rachmasari. Beberapa waktu lalu, Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Rosan Roeslani memperkenalkan dokter Kharisa melalui salah satu unggahan akun Instagramnya. “Saat jenguk Pak JK di Mayo Clinic, saya sempat berkenalan dengan diaspora Indonesia asal Magelang. Namanya Kharisa Rachmasari, M.D,.”

Seperti diketahui, Mayo Clinic merupakan salah satu rumah sakit terbaik di dunia. Selain di Rochester, Mayo Clinic tersebar di beberapa wilayah di AS seperti Arizona dan Florida. Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, November 2021 lalu juga memilih berobat ke Mayo Clinic Rochester setelah didiagnosis kanker prostat. Kharisa menjabat sebagai salah seorang dokter spesialis penyakit dalam di Mayo Clinic Rochester. Sosok asal Magelang, Jawa Tengah tersebut sebelumnya lulus dari Weill Cornell Medical College di Qatar.

Kampus yang disingkat juga sebagai WCM-Q ini merupakan perguruan tinggi medis Amerika Serikat pertama yang berlokasi di luar negeri Paman Sam. Weill Cornell Medical College Qatar didirikan pada 2001 melalui kerja sama antara Cornell University dan Qatar Foundation. Demikian dikatakan dalam laman resminya.

Rupanya, itu juga bukan kali pertama dokter Kharisa mengenyam pendidikan di luar negeri. Dikutip dari salah satu unggahan laman SMA Lazuardi GCS, setelah lulus dari sekolah tersebut pada 2010, dia melanjutkan kuliah di New York University di Abu Dhabi (NYUAD). Saat kuliah di kampus tersebut, Kharisa menekuni jurusan Biologi. “Kurikulum di NYUAD memberi keleluasaan kepada mahasiswanya untuk mencoba mata kuliah elektif di tahun pertama dan kedua, kemudian mendeklarasikan jurusan di akhir tahun kedua,” jelasnya.

Menurutnya, sistem perkuliahan seperti itu memberinya keleluasaan untuk menjelajahi bidang lain selain ilmu alam, seperti literatur, ekonomi, seni, desain, programming, dan lainnya. Dengan begitu, dia lebih memahami diri sendiri, utamanya mengenai apa yang dia suka dan dapat lakukan. Tak cuma itu, dengan pengalaman itu pula dia akhirnya berminat meneruskan pendidikan lebih tinggi di bidang kesehatan.

Selama kuliah di NYUAD, Kharisa memperoleh kesempatan untuk mengambil sejumlah mata kuliah di kampus NYU yang berlokasi di berbagai negara lain. Dia pernah mengikuti perkuliahan NYU di Buenos Aires, London, juga New York. Ketika libur musim panas, Kharisa menceritakan bahwa para mahasiswa di sana juga difasilitasi mengerjakan penelitian atau magang di mana pun.

“Pada musim panas tahun 2012, saya melakukan penelitian di Center for Genomics and Systems Biology di New York mengenai genetika parasit penyebab malaria. Di tahun terakhir, kami disyaratkan menyelesaikan Capstone project, hampir sama seperti skripsi. Saat itu, di Abu Dhabi saya meneliti tentang mekanisme komplikasi diabetes bersama para peneliti di Public Health Research Project,” ungkapnya.

Sumber: detik.com

Alamat Lengkap Kami

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Dengan keterbatasan Fisik, Bisa Lulus S2 di Jerman

academia-photos.jpg

Pernah terbayangkan bagaimana penyandang disabilitas bisa kuliah S2 di luar negeri hingga lulus? Jawabannya ada dalam kisah Mochamad Nur Ramadhani. Sosok dengan sapaan Dhani ini harus menelan kenyataan pahit bahwa kakinya harus diamputasi ketika usianya saat itu masih remaja. Dhani kehilangan kaki kanannya akibat kanker tulang yang dideritanya dulu.

Dia mengisahkan, waktu itu sangat berat untuk memutuskan apakah kakinya harus diamputasi atau tidak. Namun jika kaki tidak diamputasi, maka kanker yang dia derita akan menyebar ke seluruh tubuh. “Kalau tidak amputasi, kankernya bisa menyebar ke seluruh tubuh. Kalau diamputasi mungkin aktivitasnya akan terbatas,” ungkapnya.


Saat masih SD, Dhani sempat tinggal di Jerman bersama keluarganya. Kemudian, mereka pulang ke Indonesia karena ayah Dhani bertugas di tanah air. Kenangan semasa SD itulah yang membuat Dhani ingin mengambil S2 di negeri Panser.

Namun satu tahun setelah kepulangan bersama keluarganya ke Indonesia di tahun 2008, Dhani mengalami kanker tulang yang menyebabkan kakinya harus diamputasi.

Kehilangan kaki karena diamputasi saat masih 14 tahun sempat membuat Dhani merasa minder. Namun seiring berjalannya waktu dia merasa harus segara bangkit. “Seiring waktu saya belajar hidup harus terus berjalan,” kata dia.

Pria yang mengaku kerap ranking pertama selama SMA ini juga bercerita, saat mendaftar kuliah, dia awalnya bercita-cita untuk masuk ke Fakultas Kedokteran Umum. Namun ternyata bukan rezeki, Dhani tak mendapatkannya dan akhirnya mencoba mengikuti ujian tulis Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran (Unpad).

Hingga lulus S1 Unpad pun Dhani berkisah bahwa dia masih memakai tongkat. Bahkan, sebelumnya dia mendapat vonis hanya bisa sekolah sampai jenjang sarjana saja.

Terlepas dari segala kesulitannya itu, Dhani tetap gigih dan lulus ujian profesi. Dia pun masih menyimpan keinginan untuk kembali ke Jerman.

“Sekolah ketika saya SD di Jerman itu tidak mudah. Perjuangan selama kami tinggal di Jerman 7 tahun yang membuat mimpi itu muncul (bahwa) saya harus kembali lagi ke sana untuk mencapai mimpi-mimpi yang dari keluarga belum tercapai dan mengharumkan nama negara.”

Dokter gigi yang lulus S2 program Master of Science in International Health di Humboldt-Universitat zu Berlin ini mengatakan bahwa negara Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan para penyandang disabilitas.

“Di dunia ini banyak sekali kesempatan untuk kita berprestasi, melakukan ibadah, beramal, berkreasi,” pesannya juga untuk rekan sesama disabilitas di seluruh Indonesia.

Sumber: detik.com

Alamat Lengkap Kami

Email:  info@konsultanpendidikan.com