Ada hal yang ingin anda tanyakan? Jangan ragu, silahkan hubungi kami. Konsultasi dengan kami gratis.
Email: info@konsultanpendidikan.com
Konsultan Pendidikan Luar Negeri Terbaik Empower Education
Kuliah ke Luar Negeri Anti Ribet
Ada hal yang ingin anda tanyakan? Jangan ragu, silahkan hubungi kami. Konsultasi dengan kami gratis.
Email: info@konsultanpendidikan.com
Email: info@konsultanpendidikan.com
Ini masalah yang pasti selalu dirasakan oleh perantau manapun. Karena kita akan mengalami proses peralihan dari zona yang lama ke zona yang baru.
Gegar budaya ini biasanya hanya dirasakan pada pertengahan bulan pertama saja, bukan di awal kedatangan kita.
Karena saat pertama kali kita menginjakkan kaki di Jepang, yang ada hanyalah euphoria-euphoria. Dan seiring dengan berjalanannya waktu, euphoria tersebut mulai tergeserkan dengan culture shock ini.
Banyak hal yang harus segera kita sesuaikan, mulai dari makanan, bahasa, lingkungan, termasuk juga prosedur membuang sampah berdasarkan jenis dan hari, bahkan sampai penyesuaian jam biologis yang baru.
Dan termasuk bagaimana mempertahankan kebiasaan baik yang biasa dilakukan ketika di Indonesia.
Hal terbaik yang kamu lakukan adalah, mencobalah berbaur dengan masyarakat Jepang. Karena mereka lah yang akan menjadi orang terdekat yang akan membantumu untuk lebih mengenal budaya mereka.
Kalau waktu belajar di Indonesia, maka kita hanya butuh memahami materinya saja, mengingat pendidikan tersebut disampaikan dengan bahasa Indonesia.
Sedangkan jika di Jepang, kita harus melewati dua tahapan memahami, yaitu memahami apa yang dimaksudkan sensei, baru kemudian memahami materi kuliah itu sendiri.
Kemampuan bahasa Inggris sensei juga bervariasi, ada yang fasih, malah ada yang sering campur dengan nihonggo.
Bahasa Inggris lebih sering digunakan ketika dalam forum zemi (seminar), jyugyou (kuliah), dan akademi lainnya. Selama itu berada dalam lingkungan akademik (lab, kelas, seminar), bahasa Inggris biasa jadi pengantar.
Tapi, jika di luar itu, orang-orang Jepang kerap menggunakan bahasa lokal. Tidak peduli kepada orang asing sekalipun, nampak tidak ada rasa bersalah di wajah mereka saat orang asing kebingungan karena tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan.
Sebagai solusinya, kamu harus mengikuti kelas nihonggo. Semua akan lebih mudah jika kamu menguasai atau fasih nihonggo (bahasa Jepang).

Dan ini yang ga kalah penting, mumpung lagi di Jepang, manfaatkan setiap kesempatan yang ada.
Jangan terlalu perhitungan dengan uang sehingga melewatkan kesempatan jalan-jalan. Jangan terlalu sibuk dengan tugas-tugas, sehingga melewatkan kumpul dengan teman-teman.
Jangan menutup diri sehingga melewatkan acara yang cuma ada di Jepang. Manfaatkan waktu untuk hal-hal di luar kuliah. Make friends everywhere, jalin pertemanan lewat media organisasi dan olahraga.
Mumpung lagi ada kesempatan di luar negeri, manfaatkan sebaik-baiknya.
Homesick ini wajar, tapi ga usah lebay.
Ingat tujuan awal kamu ketika ingin merantau, dan berterimaksihlah karena kamu telah diberi kesempatan menuntut ilmu ke negeri orang.
Kalo saran saya, kalau kamu diberi pilihan: diberi liburan, ingin jalan-jalan di Jepang atau pulang ke Indonesia~
Lebih baik kamu memilih jalan-jalan.
Mumpung lagi ada kesempatan di luar negeri, manfaatkan untuk menjelajah XD
Di era teknologi komunikasi yang makin modern ini, ada banyak “obat” untuk penyakit homesick tersebut.
Kamu bisa ber-skype-an dengan keluarga atau teman-teman di Indonesia. Bergaulah selalu dengan orang-orang Jepang karena mereka memiliki pemikiran yang positif sehingga kamu akan ikut terbawa optimis.
Saat homesick melanda, teman-temanmu di Jepang akan saling menguatkan dan menghibur.
Konon, gejala homesick ini akan berubah menjadi homeshock saat kita kembali ke tanah air kita Indonesia dan ujung-ujungnya kamu malah harus adaptasi lagi (^.^)
Nah, setelah membaca semua ini, udah ga ada alasan buat kamu untuk canggung berada dalam masyarakat Jepang.
Dekatlah dengan mereka, karena hal ini secara tidak langsung akan membantumu dalam menimba ilmu di negeri sakura ini.
Ganbareba dekiru!
Ada hal yang ingin anda tanyakan ? Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .
Email: info@konsultanpendidikan.com
Pengen banget kuliah di Jepang?
Kalo iyah, banyak banget hal-hal yang kamu persiapkan untuk memuluskan langkahmu kepada negeri matahari terbit ini.
Ada baiknya kamu coba cek artikel ini dan di link ini juga untuk nambah informasi agar kamu siap terbang ke Jepang ^o^
Tapi nih, sebelum itu semua, ada baiknya nih buat kamu untuk mengenal kultur masyarakat Jepang, terutama siapa dan bagaimana sih kebiasaan mahasiswa mereka, dan kehidupan sehari-hari akademiknya.
Biar kalo kamu udah tiba di Jepang, kamu ga kaget dan dapat berbaur dengan mereka.
Mumpung di Jepang, inilah moment yang tepat untuk menambah jumlah temanmu, khususnya yang berasal dari Jepang.
Saatnya me-heterogen-kan daftar temanmu sembari meraih pendidikan.. ^^
Ganbatte!!
Pada dasarnya, mereka itu manusia yang terfokus. Maksudnya, mereka menguasai suatu bidang secara khusus alias telaten.
Misalnya seorang mahasiswa tertarik di bidang fisika maka dia akan memfokuskan dirinya hanya pada fisika, khususnya penelitian yang ingin dipelajarinya.
Mereka tidak tertarik pada bidang-bidang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan fisika.
Mereka juga terbiasa menguatkan pondasi.
Dasar-dasar ilmu diutamakan sebelum beranjak ke tahap penerapan.
Mereka memiliki pola pikir “kaizen” yang bagus.
Kaizen itu bisa disebut sebagai evaluasi dan perbaikan. Khususnya dalam penelitian, mereka akan berusaha untuk menghasilkan yang lebih dan lebih baik lagi.
Dari poin-poin diatas, mari kita tarik kesimpulan lagi apa yang dimiliki oleh mahasiswa Jepang tapi tidak dimiliki mahasiswa Indonesia pada umumnya.
Konon orang Jepang itu memiliki kemampuan bahasa Inggris yang buruk, jadi mereka kerap berbicara dengan bahasa Jepang, sekalipun itu terhadap orang asing.
Ini sangat berbeda dengan orang Indonesia, meskipun kurang paham bahasa Inggris, orang Indonesia tetap berusaha berbicara bahasa Inggris kepada orang asing, meskipun itu terbata-bata.
Ini menandakan bahwa orang Indonesia sangat terbuka kepada orang asing.
Di Jepang, kamu akan merasakan kesantunan yang mungkin tidak akan kamu dapatkan di Indonesia terutama di jalanan.
Kamu tidak perlu takut atau waspada ketika menyeberang jalan karena mobil tidak akan mendahului sepeda motor dan sepeda, sepeda motor mengalah pada pesepeda, dan pesepeda takluk pada pejalan kaki.
Disini, pejalan kaki adalah Raja Jalanan!
Bagaimana dengan Indonesia, khususnya Jakarta?
Well, saya rasa kamu tau sendiri jawabannya.
Kebanyakan mahasiswa Jepang yang suka memakai celana training.
Ketika di kelas pun, ada saja yang memakai celana training.
Apakah ada hubungan antara celana training mereka dengan olahraga??
Yang pasti, orang Jepang tidak akan betah jika tidak menggerakan tubuh mereka. Bahkan, orang tua pun gemar berolahraga.
Di Jepang, kamu pasti akan sering melihat para orang tua mengajak jalan-jalan anjing mereka ke taman-taman.
Maka, jangan heran jika kamu bertanya kepada mereka siapa saja anggota keluarganya, anjing-anjing mereka pun akan mereka hitung.
Setiap kamar kecil atau toilet sepertinya didesain dengan konsep kering dan serba otomatis. Lantai basah sedikit saja langsung dikeringkan oleh janitor.
Sedikit banyak akan menyulitkan kamu yang lebih terbiasa dengan toilet basah seperti di Indonesia.
Dan ini juga menyulitkan bagi yang muslim, karena harus berwudhu dengan air. Untuk berwudhu, kamu bisa berwudhu dari wastafel jika sedang di kampus. Dan jika lantai sampai basah, cepat-cepat dikeringkan.
Melihat orang Jepang yang gemuk mungkin akan sulit untuk kamu temui.
Rata-rata berbadan kurus dan proporsional. Paling banter berbadan gempal, itupun bisa dihitung dengan jari.
Padahal, orang Jepang bisa makan sampai 10 tumpuk piring sushi malah sampai habis 30 piring. Tapi, anehnya badannya tetap saja kurus, mungkin karena memang makanan orang Jepang kebanyakan mengandung protein.
Mungkin ada hubungannya dengan kebiasaan mereka yang gemar olahraga. Mungkin juga masalah gaya hidup?
Secara umum, perkenalan biasanya selalu diiringi dengan salaman. Tapi, di Jepang ini tidak berlaku.
Yang kamu perlukan hanya menyebutkan nama, kemudian membungkukkan badan sembari mengucapkan “yoroshiku onegai shimasu”.
Untuk moment lainnya pun, kamu cukup membungkukkan badan.
Orang-orang Jepang sangat loyal terhadap peraturan dan santun kepada orang lain, termasuk untuk urusan mengantri.
Antri sudah menjadi budaya disiplinnya orang-orang Jepang.
Mungkin mayoritas dari orang Indonesia lebih nyaman untuk duduk bersebelahan ketika mengobrol.
Karena merasa lebih bebas ,tidak canggung, dan lebih santai.
Tapi, kebiasaan orang Jepang lain lagi. Justru mereka risih jika duduk bersebelahan. Mereka lebih memilih duduk berhadap-hadapan.
Jikapun ada orang yang duduk disampingnya, bisa jadi karena keterbatasan kursi atau memang harus duduk dengan posisi seperti itu (seperti di bis, kereta).
Oke sekian dulu part Inya…episode selanjutnya akan segera ditayangkan.
Cekidot lanjutannya di Pengen ke Jepang? Cekidot Budaya Mahasiswa di Jepangnya Dulu~ part II 😉
Ada hal yang ingin anda tanyakan ? Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .
Email: info@konsultanpendidikan.com
WhatsApp us