
Waktu yang sebentar dihabiskan di universitas adalah kenangan indah dan pengalaman yang membahagiakan bagi sebagian besar orang, bukannya hidup dikampus tidak ada masa sulit. Pengalaman setiap siswa itu unik, tetapi ada beberapa masalah yang dihadapi hampir semua siswa setidaknya sekali selama mereka di kampus. Jika Anda sedang dalam perjalanan ke perguruan tinggi, pelajari cara menghadapi tantangan yang mungkin menghampiri Anda.
- Belajar
Masalah: Universitas menantang secara akademis. Bagi banyak orang, pelajaran di universitas membutuhkan lebih banyak upaya daripada kelas sekolah menengah. Tidak seperti kebanyakan sekolah menengah, universitas sering kali mengemas dua tahun konten menjadi satu tahun. Banyak siswa mengambil 15 sks, sementara yang lain mencoba menjejalkan hingga 18 atau bahkan 21 sks. Kadang-kadang, tampaknya mustahil untuk tetap berada di atas semuanya.
Solusi: Ketahui batasan Anda. Jika Anda tidak dapat menangani 18 sks, ada baiknya dalam jangka panjang untuk memperlambat dan mengambil hanya 15. Meskipun tujuan universitas adalah untuk belajar dan melanjutkan pendidikan Anda, itu tidak berarti belajar sepanjang waktu . Penting untuk menjadwalkan waktu untuk bersenang-senang dan beristirahat dari belajar agar pikiran Anda tetap segar dan jernih.
- Uang
Masalah: Biaya sekolah naik dengan kecepatan tinggi dan mengkhawatirkan. Ditambah dengan biaya makan, transportasi, dan buku. Dan Anda mengalami mimpi terburuk seorang mahasiswa. Mahasiswa putus sekolah setiap tahun karena mereka tidak mampu membayar kuliah. Yang lain dipaksa untuk mengubah jadwal akademik penuh waktu dengan pekerjaan penuh waktu untuk memenuhi kebutuhan. Menjadi semakin sulit bagi siswa untuk lulus tanpa hutang.
Solusi: Pinjaman mahasiswa relatif mudah didapat. Namun, banyak siswa tidak tahu cara kerja pembayaran kembali dan berapa tahun yang mereka habiskan untuk melunasi pinjaman mereka. Pertimbangkan untuk bekerja di kampus. Bekerja di kampus akan mengurangi biaya transportasi dan membantu Anda tetap lebih fokus secara akademis. Selain itu, buat anggaran untuk pengeluaran transportasi, makanan, akomodasi, dan biaya keperluan sehari-hari.
- Bekerja Sambil Kuliah
Masalah: Untuk membayar biaya kuliah yang tinggi, banyak siswa harus bekerja. Banyak siswa mencoba untuk bekerja dan akhirnya tidak cukup tidur. Tanpa istirahat yang cukup, pelajar rentan terhadap gangguan kesehatan.
Solusi: Putuskan apa yang penting. Prioritaskan dan jadwalkan setiap kegiatan. Dan perhatikan pilihan Anda saat mendapatkan pekerjaan. Universitas sering kali menawarkan pekerjaan kepada siswa yang sesuai dengan jadwal siswa.
- Rindu Rumah
Kerinduan adalah tantangan umum dan normal bagi mahasiswa, terutama bagi mereka yang sangat jauh dari rumah dan di tahun pertama sekolah. Jika Anda bisa, kunjungi rumah sekali atau dua bulan sekali.
Masalah: Sebagian besar siswa pada suatu saat akan rindu kampung halaman. Sangat umum bagi siswa yang pergi ke sekolah yang lebih dari tiga jam dari rumah merasa rindu rumah. Mahasiswa baru lebih menderita, karena ini mungkin tahun pertama mereka jauh dari rumah.
Solusi: Rencanakan untuk mengunjungi rumah sekali setiap bulan atau dua. Minta teman dan keluarga untuk mengirim email dan menelpon. Langkah-langkah ini akan sangat membantu dalam mengurangi perasaan rindu rumah.
- Depresi
Masalah: Setiap masalah dalam daftar ini dapat meningkatkan tingkat stres siswa. Beberapa merasa lega dan berpesta, dan yang lain (bahkan beberapa yang berpesta) mungkin mendapati diri mereka depresi.
Solusi: Jika stres dan depresi menjadi masalah, carilah dukungan profesional. Banyak kampus memiliki program konseling gratis bagi mahasiswanya. Konselor dilatih untuk mendengarkan dan membantu siswa kembali ke jalurnya. (Ini tidak berarti pesta juga harus dihentikan, selama siswa berpesta secara bertanggung jawab dan sesuai hukum.)
Ada hal yang ingin anda tanyakan? Jangan ragu, silahkan hubungi kami. Konsultasi dengan kami gratis.
Email: info@konsultanpendidikan.com
Misalnya nih, masalah pergaulan bebas. Di Negara-negara Barat, tinggal bersama sebelum menikah bukan sebuah persoalan dan nggak dianggap bertentangan dengan norma yang ada. Sementara, di Negara kita, persoalan seperti itu jelas bertentangan dengan norma. Ini yang dimaksud membedakan dengan tepat mana adaptasi, mana yang terseret arus westernisasi. Nggak melakukan hal itu, nggak lantas membuat kamu di cap kuno, kok. Begitu pula sebaliknya. Melakukan hal itu, nggak bikin kamu dianggap modern juga. Ini hanya masalah pilihan.
Kawan-kawan internasional pernah bertanya apakah saya lesbian. Tentunya saya kaget dengan pertanyaan itu. Namun, setelah ngobrol, saya paham kenapa mereka menyakan hal tersebut. Bagi mereka, perempuan tinggal sekamar dengan perempuan itu aneh, dan mengarah dengan indikasi homoseksual. Lalu, saya menjelaskan kepada mereka kenapa saya memilih roommate berjenis kelamin sama. Bukan karena saya lesbian, tetapi karena persoalan agama dan norma kebudayaan yang ada di Negara saya. Mereka pun bisa memahami alasan saya tersebut.
Baru menyadari hal ini ketika tinggal di Amerika. Pelajar Indonesia yang perempuan, punya kecendurangan suka jalan sambil bergandengan tangan. Hati-hati kalau melakukan hal ini diruang publik. Mereka bisa menganggap kamu homoseksual! Jadi, sebaiknya hindari jalan bergandengan tangan ditempat umum dengan teman yang memiliki kelamin yang sama.
Kalau kamu muslim dan termasuk pelajar yang berencana akan mencari kerja sampingan sambil sekolah nanti, sebaiknya kamu juga memerhatikan hal yang satu ini: waktu sholat. Sebaiknya, dari awal kamu menerangkan kepada bosmu ada jam-jam tertentu di mana kamu minta izin untuk melakukan ibadah. Kalau kamu nggak memberitahu mereka, lalu tiba-tiba menghilang waktu sholat tiba, hal ini bisa menimbulkan penilaian negative. Kamu dianggap mangkir. Upah kerja di luar negeri umumnya di hitung berdasarkan per-jam. Jadi jangan sampai kamu dianggap mencuri jam kerja buat bermalas-malasan.
Untuk menghemat biaya penginapan, saya menyewa satu kamar hotel. Ketika menjelang tidur, ketiga teman saya meninggalkan pakaian yang mereka kenakan. Teman perempuan saya yang berasal dari Polandia dengan cuek melepas semua pakaian hingga yang tersisa hanyalah pakaian dalam. Dua teman lelaki saya juga melakukan hal serupa. Mereka hanya mengenakan celana dalam. Saya memilih mengganti pakaian main saya dengan pakaian tidur—kaus dan celana pendek—di kamar mandi. Ketika saya keluar dari kamar mandi, kawan saya bertanya, “where will you go?”