Jangan Salah Memaknai Kata Adaptasi
Salah satu tantangan terbesar di luar negeri adalah gaya hidup bebas. Di luar, khususnya Negara-negara Barat, kebebasanmu sebagai individu sangat dijunjung tinggi. Privasi adalah hal yang nggak boleh dilanggar. Perbedaan pola pikir dan gaya hidup ini merupakan hal paling mendasar.
Karena itu, kamu harus benar-benar bisa memahami apa yang dimaksud dengan adaptasi. Adaptasi bukan berarti lantas kamu menelan bulat-bulat semua yang menjadi kebiasaan di Negara tersebut. Menghargai dan menghormati bukan berarti mengikuti dan melakukannya. Filterisasi yang kuat harus kamu miliki. Nggak semua hal harus kamu ikutin. Pilih mana yang baik, dan sedapat mungkin hindari hal-hal yang nggak baik.
Misalnya nih, masalah pergaulan bebas. Di Negara-negara Barat, tinggal bersama sebelum menikah bukan sebuah persoalan dan nggak dianggap bertentangan dengan norma yang ada. Sementara, di Negara kita, persoalan seperti itu jelas bertentangan dengan norma. Ini yang dimaksud membedakan dengan tepat mana adaptasi, mana yang terseret arus westernisasi. Nggak melakukan hal itu, nggak lantas membuat kamu di cap kuno, kok. Begitu pula sebaliknya. Melakukan hal itu, nggak bikin kamu dianggap modern juga. Ini hanya masalah pilihan.
Ketika pertama kali akan mendiami rumah sewaan, pemilik rumah sempat bertanya, apakah keberatan tinggal serumah dengan orang yang berbeda jenis kelamin. Ketika itu saya menjelaskan, saya nggak keberatan sama sekali tinggal dengan orang dari berbagai bangsa dan jenis kelamin berbeda, tetapi sedapat mungkin, saya minta teman sekamar saya perempuan. Tentunya, saya memberikan alasan saya kepada pemilik rumah. Pemilik rumah bisa memahami dan menghargai alasan saya yang berkaitan dengan kepercayaan. Ini perlu kamu lakukan agar mereka nggak salah tangkap dengan alasanmu.
Kawan-kawan internasional pernah bertanya apakah saya lesbian. Tentunya saya kaget dengan pertanyaan itu. Namun, setelah ngobrol, saya paham kenapa mereka menyakan hal tersebut. Bagi mereka, perempuan tinggal sekamar dengan perempuan itu aneh, dan mengarah dengan indikasi homoseksual. Lalu, saya menjelaskan kepada mereka kenapa saya memilih roommate berjenis kelamin sama. Bukan karena saya lesbian, tetapi karena persoalan agama dan norma kebudayaan yang ada di Negara saya. Mereka pun bisa memahami alasan saya tersebut.
Pola hubungan lelaki-perempuan di sana pun umumnya berbeda dengan di indonesia. Kamu harus bisa memberi alasan yang memadai tentang hal ini agar hubungan persoalanmu dengan lawan jenis nggak terganggu. Misalnya, masalah tinggal bersama. Kalau kamu memang keberatan untuk tinggal bersama pasanganmu, katakana terus terang. Menghindari ajakan tinggal bersama dengan sejuta alasan yang nggak masuk di akal mereka hanya akan membuat hubunganmu nggak berjalan.
Sepele Tapi Bisa Menimbulkan Salah Persepsi
Memberi pemahaman kepada teman-teman internasional tentang latar belakang budaya, kebiasaan, dan pola pikir kita bisa mengurangi kesalahpahaman yang terjadi. Namun, sebaiknya, kita juga coba menghindari melakukan hal-hal yang bisa memancing salah paham. Berikut ada beberapa hal sepele yang sebaiknya kamu hindari agar nggak memancing salah paham
1. Jalan bergandengan tangan dengan teman sejenis
Baru menyadari hal ini ketika tinggal di Amerika. Pelajar Indonesia yang perempuan, punya kecendurangan suka jalan sambil bergandengan tangan. Hati-hati kalau melakukan hal ini diruang publik. Mereka bisa menganggap kamu homoseksual! Jadi, sebaiknya hindari jalan bergandengan tangan ditempat umum dengan teman yang memiliki kelamin yang sama.
2. Merokok ditempat umum pun sebaiknya kamu hindari
Kalau di Indonesia, kamu bisa saja merokok di kendaraan umum, di halte, atau di jalanan, maka sebaiknya daris ekarang kamu belajar mengurangi kebiasaan itu. Walaupun sangat individualis, masyarakat di Negara Barat, sangat menghargai kenyamanan orang lain. Kalau kamu tetap ngotot melakukannya, hm, reaksi yang timbul memang bisa macam-macam. Bisa dengan teguran langsung, tatapan sinis, atau… kamu bakal kerepotan menghadapi orang yang bolak-balik datang ke kamu dan meminta batang rokokmu!

Yup. Ini serius. Teman saya pernah merokok sambil jalan di kota Atlanta. Setipa kali dia mengeluarkan rokok, setiap kali itu pula ada orang yang meminta rokok darinya. Serba salah itu yang kemudian dihadapi teman saya. Mau menolak memberi, dia berasa nggak enak karena jelas-jelas dia masih punya. Mau ngasih, harga rokok termasuk mahal. Bukannya senang, dia malah bunting akhirnya. Rokok yang seharga US$7 sekotak itu pun ludes dengan cepat.
3. Menghilang di waktu sholat tanpa memberitahu
Kalau kamu muslim dan termasuk pelajar yang berencana akan mencari kerja sampingan sambil sekolah nanti, sebaiknya kamu juga memerhatikan hal yang satu ini: waktu sholat. Sebaiknya, dari awal kamu menerangkan kepada bosmu ada jam-jam tertentu di mana kamu minta izin untuk melakukan ibadah. Kalau kamu nggak memberitahu mereka, lalu tiba-tiba menghilang waktu sholat tiba, hal ini bisa menimbulkan penilaian negative. Kamu dianggap mangkir. Upah kerja di luar negeri umumnya di hitung berdasarkan per-jam. Jadi jangan sampai kamu dianggap mencuri jam kerja buat bermalas-malasan.
4. Tidur dengan pakaian lengkap!
Yes, I am not kidding. Kamu harus bisa menjelaskan kepada mereka kenapa kamu tidur dengan pakaian lengkap ketika bermalam bersama mereka. saya pernah melakukan traveling dengan tiga kawan internasional saya: dua laki-laki dan satu orng perempuan.kebetulan, saya satu-satunya orangt Indonesia.
Untuk menghemat biaya penginapan, saya menyewa satu kamar hotel. Ketika menjelang tidur, ketiga teman saya meninggalkan pakaian yang mereka kenakan. Teman perempuan saya yang berasal dari Polandia dengan cuek melepas semua pakaian hingga yang tersisa hanyalah pakaian dalam. Dua teman lelaki saya juga melakukan hal serupa. Mereka hanya mengenakan celana dalam. Saya memilih mengganti pakaian main saya dengan pakaian tidur—kaus dan celana pendek—di kamar mandi. Ketika saya keluar dari kamar mandi, kawan saya bertanya, “where will you go?”
Mereka mengira saya akan pergi ke luar lagi! Saya pun menjelaskan bahwa saya biasa tidur dengan pakaian dalam tataran mereka dianggap lengkap dan rapi. Awalnya, mereka sempat curiga kalau saya nggak percaya dengan mereka. bahkan kawan saya yang laki-laki bilang., “I wont do anything on you. so, you could undress.”
Saat mengatasi situasi semacam itu, kamu harus menjelaskan dengan logika yang bisa mereka terima. Terangkan dengan cara yag manis bahkan mugkin diselingi sedikit lelucon. Sejak saat itu, kawan-kawan saya yang memberi julukan ‘Indonesia Strange Girl’ gara-gara, saya satu-satunya orang yang mereka kenal tidur dengan pakaian lengkap dan punya roommate cewek.
Ada hal yang ingin anda tanyakan ? Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .Email: info@konsultanpendidikan.com












Umumnya, siswa internasional dan orang tua mereka hanya mengenal nama universitas yang sudah mendunia atau terkenal saja seperti, Harvard University, the University of Pennsylvania, atau Stanford. Padahal, ada lebih dari 2.000 colleges dan universitas yang ada di Amerika Serikat, kesemuanya menawarkan standar kualitas pendidikan yang tinggi dan terbaik. Kebanyakan siswa internasional yang ingin berkuliah di Amerika hanya berfokus pada universitas yang terkenal, dibanding pilihan universitas lainnya yang mungkin cocok dengan kemampuan akademis siswa internasional. Selain itu, sejak banyak siswa internasional mendaftar di universitas yang sama di AS, maka persaingan akan lebih sulit. Daripada begitu, akan lebih baik jika siswa internasional melihat kesempatan dan mengembangkan kemampuannya pada universitas lain yang juga memiliki kualitas pendidikan terbaik di Ameriak Serikat, walaupun universitas atau college tersebut belum begitu dikenal.
Banyak siswa internasional bertanya mengenai daftar college mana saja yang menawarkan beasiswa penuh untuk siswanya. Faktanya, universitas-universitas di AS tidak memberikan bantuan keuangan atau beasiswa untuk siswa internasional. Siswa internasional diminta untuk sedikitnya berkontribusi pada biaya pendidikan mereka. Jumlah yang harus dibayarkan dilihat dari kondisi keuangan keluarga, asset, dan hal lain yang berhubungan dengan keuangan, pembayaran dilakukan dengan memperhatikan kenyamanan orang tua dalam membayar. Penting untuk mempelajari aturan-aturan apakah tersedia bantuan keuangan yang disediakan oleh universitas.
Walaupun nilai dan skor tes tinggi bakal menjadi faktor penting dalam penerimaan di universitas yang kalian inginkan, tapi banyak college juga melihat dari hal lainnya selain nilai dan skor tes yang tinggi. Beberapa universitas atau college akan menanyakan hal seperti surat rekomendasi dari guru, untuk mengetahui tingkat intelektual dan kebiasaan yang kalian miliki untuk bisa sukses di dalam akademis yang dipilihnya. Universitas di Amerika juga tertarik perbedaan budaya yang dimiliki siswa internasional. Petugas pendaftaran akan melihat siapa kalian sebenarnya dan apa yang akan kalian bawa di dalam kelas.

Membuat catatan tentang betapa bangsa kita pada beberapa sisi unggul dibandingkan bangsa lain. Entah itu Amerika atau Eropa. Dan ini harus nya membuat kita nggak perlulah merasa minder bergaul dengan mereka. Memang, terkadang, kita menerima perlakuan dan sikap meremehkan dari mereka. hal itu terjadi hanya karena mereka kurang memiliki wawasan internasional dan jarang berhadapan dengan orang asing. Teman-teman yang sering kali bergaul dengan siswa internasional justru memiliki penilaian tersendiri tentang pelajar-pelajar dari Indonesia ataupun Asia pada umumnya. Mereka sering berkagum-kagum dengan kita yang sekolah sampai jauh dan memiliki pengetahuan yang sebenarnya luas. Luas karena sistem pendidikan kita memaksa kita belajar banyak hal. Walaupun terkadang, setelah itu kita juga nggak tahu apa gunanya mempelajari hal itu. Well, kegunaannya: agar bisa membuat bule-bule itu terkagum-kagum ketika kita bisa menjelaskan banyak hal.
Orang-orang asing yang berbahasa Inggris sering kali kagum dengan kemampuan kita berbicara menggunakan bahasa mereka. kita bisa berbicara menggunakan bahasa Inggris, sebaliknya belum tentu mereka bisa bicara dengan bahasa kita. Itu sudah jadi poin plus buat kita,loh, di mata mereka. belum lagi ternyata kita juga meguasai bahasa lain selain Inggris. Karena merasa bahasa mereka bahasa internasional, orang-orang asing itu seringkali menganggap nggak perlu mempelajari bahasa lain. Toh, orang dari Negara lain mempelajari bahasa mereka. Hal itu disadari mereka membuat mereka kurang memerhatikan kemampuan berbicara dengan bahasa selain Inggris.
Pelajar Indonesia juga dikenal ulet dan rajin. Pekerjaan yang biasanya dikerjakan tiga orang, mampu diselesaikan seorang pelajar Indonesia dengan sangat baik dan tepat waktu. Waktu, di Holiday Inn, hotel tempat bekerja selama musim panas, pemiliknya pernah menjamu semua pelajar Indonesia yang bekerja di hotelnya makan siang di restoran cina. Dalam kesempatan itu juga, Mr. Cooper bilang, undangan makan siang ini sebagai bentuk penghargaan dan terima kasihnya kepada pelajar-pelajar Indonesia yang bekerja dengan sangat baik selama musim panas. Padahal, selain pelajar dari Indonesia, masih ada pelajar dari Negara lain yang bekerja disana. Acara hari itu pun, pertama kalinya dalam sejarah holiday Inn, Cherokee, seorang pemilik menjamu pelajar internasional yang bekerja di hotelnya sebagai bentuk penghargaan dan terima kasih.
Orang Indonesia juga terkenal kreatif. Di Amerika, orang-orangnya terbiasa menggunakan barang yang mereka beli hanya satu kali. Kalau rusak ya dibuang dan beli baru lagi. Misalnya, ban sepeda. Kalau ban sepeda mereka bocor, biasanya mereka akan membeli ban baru dan menggantinya. Mereka nggak mengenal sistem tambal ban. Kawan saya yang asli Amerika pernah terlongo-longo waktu mendapati saya dan kawan saya yang juga berasal dari Indonesia sedang memperbaiki ban sepeda saya yang bocor. Begitupula ketika mereka mendapati, pelajar Indonesia bisa memperbaiki radio atau alat listrik yang rusak. Buat mereka, kalau sudah nggak bisa berfungsi, buang dan beli yang baru. Orang kita? Kalau masih bisa dibenerin dan dipakai, kenapa harus dibuang. Lumayan kan duitnya bisa dihemat!









