Kebanyakan orang berpikir kalau orang yang kuliah di luar negeri pasti akan fasih ngomong bahasa negara tempatnya kuliah itu.
Ups, ternyata tak selalu begitu lho. Banyak lulusan luar negeri yang ternyata skill speaking-nya biasa-biasa saja, tak lebih fasih daripada yang belajar di negeri sendiri.
Sedikitnya setahun dan seringkali lebih, kamu yang kuliah di luar negeri diharapkan kembali ke tanah air dengan menguasai gramatika asing yang sangat sulit beserta konjugasinya yang rumit.
Di sisi lain, fluensi tentu jauh lebih gampang dari gramatika dan tetek bengeknya ‘kan?
Dengan interaksi yang terjadi selama tinggal di luar negeri, harusnya fluensi sudah jadi sesuatu yang otomatis. Ini anggapan banyak orang.
Nyatanya, tak sedikit mahasiswa yang belajar di luar negeri mengaku kalau kemampuan bahasa mereka tak terlalu bagus meskipun mereka sudah lama tinggal di negara itu.
Stephanie Rogers, seorang mahasiswa pertukaran jurusan bahasa Prancis di Lancaster University mengatakan kalau kebanyakan orang di Lancaster yang berumur di bawah 40 tahun memiliki pemahaman bahasa Inggris yang sangat bagus, sehingga mereka sepertinya akan segera mengerti maksudmu begitu kamu mulai tergagap. Hal ini karena mereka mengira kamu tak mengerti benar. Jadi, yang perlu kamu lakukan adalah kamu harus percaya pada kemampuanmu sendiri dan ngotot dengan itu.
Kemajuan teknologi adalah hal lainnya yang bisa jadi menghalangi kita untuk benar-benar bisa menyerap budaya asing. Ini karena dengan banyaknya aplikasi, kita jadi keenakan buat mendapatkan bantuan saat kita kesulitan berbahasa asing. Misal kata, kamu tak tahu cara mengucapkan “aku telat karena bangun kesiangan” dalam bahasa Inggris, dengan beberapa sentuhan di layar smartphone-mu kamu sudah bisa menemukan jawabannya secepat kilat.
Selain itu, fasilitas internet seperti streaming TV atau radio, meskipun memang menyenangkan saat kita di perantauan, sebenarnya tak bagus bagi kita yang ingin lebih menyerap bahasa asing. Jika hampir setiap malam kita streaming TV Indonesia saat kita kuliah di London, misalnya, lalu bagaimana caranya kita bisa benar-benar fasih bahasa Inggris kalau kebiasaan saja tetap sama seperti saat di negeri sendiri?
Nah, karena itu saat di luar negeri, cobalah menyesuaikan diri dengan berpikir dan bertindak sesuai dengan budaya tempatmu berada. Perbanyak interaksi dengan bahasa dan budaya lokal tempatmu kuliah. Tentu saja kamu tetap harus aktif menyaring yang mana yang bisa kamu terapkan dan mana yang tak boleh.
Dan jika kamu merasa tenggelam dalam kebiasaan Indonesia-mu selama kuliah di luar negeru, inilah tips yang bisa kamu gunakan untuk meningkatkan interaksimu dengan bahasa negara tempatmu kuliah:
- Temukan teman online atau latihan percakapan kasual yang gratis dan reguler di universitas tempatmu belajar. Enaknya, dengan begini kemungkinan besar kamu akan dapat teman baru yang tak disangka-sangka.
- Gantilah bahasa default ponsel, komputer dan gadget lainnya yang sering kamu gunakan sehari-hari ke bahasa tempatmu kuliah. Cara ini sangat efektif dalam mendongkrak kosakata dan pemahaman istilah bahasa target lho.
- Cari majalah, berita koran atau artikel gratis yang bisa kamu gunakan sebagai bahan latihan untuk translasi.
- Ambil kelas tambahan di luar jam kuliah yang memungkinkanmu untuk bertemu dengan lebih banyak warga asli negara tempatmu kuliah. Berbaurlah dengan tetap memperhatikan etika yang lazim di negara tersebut.
Sekolah Bahasa Korea Langsung di Seoul National University, Korea
Worldwide School of English, Kuasai Bahasa Inggris langsung di Selandia Baru
Kuliah Sambil Perdalam Bahasa Jepang di Yokohama???Yokohama Design College is A Right Choice
Belajar Bahasa Jepang Intensive Di Yokohama Design College Comperehensive Japanese Department
Belajar Bahasa Inggris di Cornell Institute of Business and Technology, New Zealand
Belajar Bahasa Jepang di Marioka Japanese Language School Yuuukk~
Global Village, Kursus Bahasa Inggris di Kanada dan Hawaii~
Carl Duisburg Centren, Langkah Awal Buat Kamu Yang Pengen Kuliah di Jerma
Ada hal yang ingin anda tanyakan ? Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .Email: info@konsultanpendidikan.com
Mungkin kamu pernah mendengar perumpamaan ini: belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air. Dari perumpamaan ini mungkin kamu jadi berpikiran bahwa hampir mustahil untuk belajar hal baru saat usia sudah tidak lagi muda.
Sebenarnya perumpamaan ini ini tidak sepenuhnya benar.
Menurut sejarah neurosains—ilmu yang mempelajari otak—otak dewasa dianggap serupa struktur yang sudah pasti , yang sekali mengalami gangguan, tidak akan bisa diperbaiki. Akan tetapi hasil penelitian sejak tahun 1960-an menunjukkan hasil yang berlawanan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa struktur otak manusia sebenarnya merupakan struktur yang dinamis yang bisa berubah sendiri sebagai respons terhadap pengalaman baru dan beradaptasi terhadap cedera yang kemugkinan mengenainya. Inilah fenomena yang dikenal dengan neuroplasticity.
Secara kolektif, inti penelitian ini menyarankan bahwa seseorang tak pernah terlalu tua untuk mempelajari suatu hal baru, tetapi semakin tua usianya, semakin sulit baginya untuk memeroleh hasil maksimal. Hal ini dikarenakan neuroplasticity umumnya menurun seiring dengan bertambahnya usia seseorang, yang berarti bahwa otak menjadi kurang bisa fleksibel dalam merespon hal-hal baru.
Beberapa aspek pembelajaran bahasa menjadi lebih sulit seiring dengan usia, sementara aspek lainnya mungkin menjadi lebih mudah. Seperti yang dikatakan oleh Albert Costa—seorang profesor neurosains yang memelajari bilingualisme di Universitat Pompeu Fabra, Barcelona—bahwa orang-orang yang lebih tua memiliki perbendaharaan kata yang lebih banyak daripada orang-orang yang lebih muda, dimana hal ini memungkinkan bagi orang yang lebih tua untuk menjadi seperti pembicara bahasa asli.
Bagi orang yang lebih dewasa, menghafalkan kosakata dalam bahasa asing lebih mudah dilakukan daripada belajar gramatika ataupun syntax. Hal ini karena kata-kata baru dapat dengan mudah dipetakan ke dalam ranah pengetahuan yang sudah ada dalam diri seseorang.
Akan tetapi pelajar yang lebih tua biasanya akan lebih sulit untuk bisa fasih dalam hal pengucapan atau aksen dikarenakan fonem atau bunyi bahasa biasanya diterima lebih natural oleh anak-anak.
Mempelajari bahasa asing mungkin tidak mudah bagi orang dewasa, akan tetapi ada penelitian yang menyatakan bahwa dengan mempelajari bahasa asing akan membawa manfaat bagi kesehatan otak. Seiring dengan bertambahnya usia kita, kebanyakan dari kita akan mengalami penurunan fokus dan ingatan, dan bahkan pada beberapa orang ada yang mulai terkena Alzheimer atau penyakit lainnya yang berhubungan dengan kehilangan ingatan. Sejumlah penelitian menyarankan bahwa mempelajari bahasa asing bisa memperlambat gejala penurunan kinerja otak atau bahkan bisa menghindarkan dari penyakit hilang ingatan.
Para peneliti di Edinburg University baru-baru ini menguji catatan medis dari 648 pasien Alzheimer di Hyderabad, sebuah kota di India. Mereka menemukan bahwa orang-orang bilingual lebih lambat terkena penyakit hilang ingatan daripada orang-orang monolingual, dengan catatan rata-rata empat setengah tahun.
Mempelajari sebuah bahasa asing pada saat usia dewasa mungkin lebih bermanfaat daripada mempelajarinya lebih awal karena orang perlu mengerahkan usaha lebih saat melakukannya. Hal ini setara dengan latihan fisik, jalan-jalan lebih baik bagi kesehatanmu, tetapi tak sebaik lari.
Belajar—dan menggunakan—bahasa asing tampaknya meningkatkan sesuatu yang disebut para ahli psikologi dan neurologi sebagai fungsi eksekutif. Sebuah fungsi yang merujuk pada proses mental yang memungkinkan kita untuk menyelang-nyelingkan pikiran dan perilaku kita dari satu waktu ke waktu lainnya berdasarkan hal-hal yang dihadapi.
Lepas dari semua keseulitan yang dihadapi, belajarlah bahasa asing sebagai sebuah kesenangan dan menganggapnya seperti bermain puzzle yang harus diselesaikan. Anggaplah kegiatan belajar tersebut sebagai sebuah usaha untuk menjaga otak agar tetap aktif. Ketika kamu berhasil dan bisa mengekspresikan dirimu sendiri, rasanya akan seperti kamu sedang menggunakan bagian lain dari otakmu yang sebelumnya tidak kamu gunakan.
Jadi, kalau ditanya adakah batasan usia untuk belajar bahasa asing, kamu sudah mendapatkan jawabannya, ‘kan?
Berdasarkan obrolan dengan para pembelajar bahasa yang telah berpengalaman, hal pertama yang mereka sarankan adalah menanyai dirimu sendiri:
Apa yang ingin kamu raih dan kapan kamu ingin itu terwujud. Menurut Donavan Whyte, wakil direktur dari sebuah institusi pendidikan di Rosetta Stone, mengatakan bahwa pembelajaran bahasa akan memeroleh hasil terbaiknya jika dibagi berdasar target yang dapat dikelola dan dapat dicapai dalam beberapa bulan sejak dimulainya belajar.
Ini jauh lebih memotivasi dan realistis.
Pada awalnya mungkin kamu merasa sangat optimis begitu memulai belajar bahasa baru, akan tetapi jika kamu menargetkan untuk langsung fasih, sebenarnya itu bukanlah hal yang baik. Phil McGowan, direktur Verbmaps, menyarankan agar sebaiknya kamu membuat target yang realistis dan jelas seperti misalnya membuat target dimana kamu bisa membaca sebuah artikel koran dalam bahasa target tanpa bantuan kamus. Hal ini terbukti lebih efektif dan memicu motif belajarmu karena sifatnya yang lebih nyata.

Kadangkala—dan mungkin sering terjadi—ada perdebatan mengenai teknik yang tepat dalam belajar bahasa asing yaitu menggunakan pendekatan tradisional atau dengan memanfaatkan teknologi.
Bagi Aaron Ralby, direktur Linguisticator, perdebatan tentang cara yang tepat dalam belajar bahasa tersebut melewatkan suatu poin: “Yang perlu dipertanyakan bukanlah tentang bagaimana efektifitas teknik online versus offline atau aplikasi modern versus buku. Akan tetapi, lebih kepada bagaimana caranya kita mengerahkan elemen-elemen bahasa yang diperlukan untuk sebuah tujuan tertentu, kemudahan untuk menerapkannya, dan menyediakan sarana bagi para siswa untuk memahami elemen-elemen ini.”
Bagi banyak pelajar bahasa, membaca tak hanya berperan besar dalam meningkatkan kemampuan mereka mempelajari bahasa baru, akan tetapi juga merupakan aspek yang sangat menyenangkan.
Kenali topik-topik yang menarik minatmu dan temukanlah buku-buku, artikel atau bahan bacaan lainnya yang berhubungan dengan itu dalam bahasa target, kemudian mulailah membaca. Kamu akan mendapati dirimu lebih menikmati proses belajar bahasa tersebut. Buku pertama dalam bahasa target yang bisa kamu baca sampai selesai akan menjadi suatu catatan penting yang akan selalu kamu ingat dalam waktu yang lama.

Banyak orang beranggapan—dan ini mungkin karena mitos yang beredar luas di masyarakat—bahwa semakin dewasa seseorang, semakin sulit ia memelajari bahasa baru.
Benar, anak-anak memang cenderung lebih cepat dalam menyerap bahasa baru yang diajarkan kepada mereka, akan tetapi tak berarti ini membuat orang dewasa tidak bisa belajar bahasa baru dengan baik. Hal ini karena bahasa merupakan sesuatu yang bersifat organis dan sistematis.
Saat kita kecil kita belajar bahasa secara organis, berdasar insting dan saat kita dewasa kita bisa belajar bahasa secara sistematis.
Dalam belajar bahasa asing, sebaiknya kamu tidak terpaku pada satu macam pendekatan saja. Menggunakan beberapa macam metode dan teknik tentu akan lebih efektif dalam menunjang proses belajar.
Sekali kamu sudah meraih level tertentu dalam bahasa asing dan sudah menguasai sedikit tata bahasanya, perkembangan belajar seringkali justru akan menurun. Pada tahap inilah translasi memegang peranan yang cukup penting karena cara ini akan membantumu lebih memahami antara bahasa sumber dan bahasa target dengan lebih baik.
Banyak pelajar bahasa mewaspadai kefasihan berbicara dalam bahasa target.
Kefasihan sendiri merupakan hal yang sangat sulit karena seseorang tentu tidak mungkin sepenuhnya fasih dalam bahasa asing selayaknya pembicara aslinya. Karena itu waspadailah kefasihan dengan wajar, jangan terlalu menekan diri untuk sefasih mungkin selayaknya pembicara asli karena bahasa merupakan hal yang alami, berhubungan dengan budaya yang telah mengakar dalam diri dan senantiasa berkembang.
Contoh simple soal bicara yang banyak dibuat-buat itu adalah bahasa Inggris–yang penting itu pronounce nya bukan logat yang dibuat-buat ala british.
Opsi yang satu ini bisa jadi tidak cocok untuk beberapa orang, akan tetapi mengunjungi negara yang menggunakan bahasa target memegang peranan besar dalam peningkatan kemampuan bahasa tersebut. Melakukan perjalanan ke luar negeri dan tinggal di sana beberapa lama akan membuatmu lebih mudah meningkatkan kemampuan berbahasa target, terutama kemampuan mendengar dan berbicara.
Rusia: Lomonosov Moscow State University
Peringkat dunia: 48
Lokasi: Moscow, Rusia
Kampus ini banyak disebut “complex” oleh orang-orang karena di kampusnya terdapat 1.000 bangunan. Perpustakaannya menjadi perpustakaan terbesar di Rusia dengan koleksi buku sebanyak 9 juta buku. Total mahasiswa yang kuliah disana sebanyak 47.000 mahasiswa dan 12 alumninya merupakan pemenang Nobel.
Arab Saudi: King Saud University
Peringkat dunia: 420
Lokasi: Riyadh, Arab Saudi
Berdiri sejak tahun 1957 dan menjadi universitas tertua di Arab Saudi. Yang paling menarik, biaya untuk 36.000 mahasiswanya gratis dan tersedia beasiswa juga. Jurusan yang paling diminati adalah natural and social sciences, humanities, dan professional studies.
Singapura: National University of Singapore
Peringkat dunia: 74
Lokasi: Singapura
Universitas ini memiliki 3 kampus di seluruh Singapura. Universitas ini terkenal akan penelitiannya dalam bidang teknik, life sciences and biomedicine, ilmu social, dan ilmu alam. Ada 37.500 mahasiswa yang berkuliah disana. Beberapa presiden Singapura pernah menjadi mahasiswa disana dan Margaret Chan, GM World Health Organization (WHO).
Afrika Selatan: University of the Witwatersrand
Peringkat dunia: 114
Lokasi: Braamfontein, Johannesburg, Afrika Selatan
Universitas ini memiliki 28.000 mahasiswa yang tersebar di fakultas yang ada seperti commerce, law and management; engineering and the built environment; health science; dan humanities and science. Universitas memiliki 2 perpustakaan utama dan 14 perpustakaan tambahan, 14 museum dan galeri seni, dan lebih dari 100 klub mahasiswa.
Korea Selatan: Seoul National University
Peringkat dunia: 24
Lokasi: Seoul, Korea Selatan
Univeritas ini merupakan universitas pertama di Korea Selatan, dengan jumlah mahasiswa sebanyak 28.011 yang kuliah di 16 fakultas, satu S2, dan 9 sekolah professional. Selain reputasinya yang baik, biaya kuiah universitas ini lebi murah dibanding private universities yang ada di Amerika. Banyak pemimpin dunia yang pernah kuliah disana seperti UN Security-General Ban Ki Moon dan Song Sang Hyn, presiden International Criminal Court.
Spanyol: University of Barcelona
Peringkat dunia: 120
Lokasi: Barcelona, Spanyol
Universitas yang berlokasi di kota klub sepak bola ternama FC Barcelona ini memiliki 6 kampus, satu university school dan 8 university institutes yang tersebar di Barcelona. Ada 63.020 mahasiswa dengan 64 mahasiswa S1 dan 138 mahasiswa S2.
Swedia: Karolinska Institute
Peringkat dunia: 73
Lokasi: Solna, Swedia
Universitas medis yang ikut andil dalam lebih dari 40% penelitian medis di Swedia. Jurusan farmasinya menduduki peringkat 7 dunia dan jurusan kedokterannya menduduki peringkat 16 dunia. Universitas hanya menerima mahasiswa sebanyak 7.050 mahasiswa.
Ada hal yang ingin anda tanyakan ? Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .






