Email: info@konsultanpendidikan.com
Hari: 2 Februari 2022
Lenoir-Rhyne University di Amerika
Jadi Pengantar Makanan Sambil Kuliah di Belanda

Bisa merasakan kuliah di luar negeri merupakan impian bagi banyak orang. Tak jarang banyak orang akan memanfaatkan waktunya sebaik mungkin ketika memiliki kesempatan itu. Mulai dari menambah pengalaman kerja di sana hingga menempuh dua program studi sekaligus.
Hal itu juga dilakukan oleh mahasiswa Indonesia yang belum lama ini viral karena postingannya di media sosial TikTok. Mahasiswa yang dimaksud adalah Baginda Mufti yang sedang menempuh pendidikan di University of Groningen, Belanda.
Mufti tak hanya fokus belajar akademik tapi mampu mengelola waktunya dengan sangat baik. Hal itu ia tunjukkan di akun TikToknya saat bekerja sebagai pengantar makanan.
Dalam unggahannya ia menceritakan pekerjaannya di salah satu restoran cepat saji untuk mengantarkan makanan dengan mengandalkan tas dan sepeda listrik. Mufti mengaku bahwa ia berani mengambil pekerjaan paruh waktu sebagai pengantar makanan karena waktunya yang tidak terikat. “Tempat kerjaku pake aplikasi, disitu aku bisa masukin kapan waktu kosongku sesuai sama jadwal kuliah/organisasi setiap bulannya,” ungkapnya.
Dalam dua bulan terakhir, Mufti mengatakan bahwa dirinya mengambil waktu pekerjaan sebanyak 2 kali seminggu. Selama satu hari, ia hanya bekerja selama empat jam dan mendapatkan upah sebesar Rp. 800 ribu (per hari). Jika dihitung dalam satu bulan maka Mufti bisa mendapatkan gaji sebesar Rp 6-7 juta per bulan.
Dalam video yang sudah ditonton lebih dari 290 ribu orang (per 24 November 2021), Mufti juga menceritakan bahwa pekerjaannya tak hanya mengantar makanan, tapi juga mencuci piring di restoran tersebut.
Mahasiswa bidang studi Bisnis Internasional ini juga menceritakan bahwa sebelumnya ia belum pernah merasakan bekerja. Bekerja sebagai pengantar makanan adalah pekerjaan pertama yang dijalankan sambil menyelesaikan kuliahnya di Belanda.
Awalnya Mufit mengaku ada sedikit kesulitan karena perbedaan budaya belajar yang harus fokus dan serius. Namun, ia tetap bisa menyesuaikan antara waktu belajar dengan waktu bekerjanya.
Meski pekerjaan yang dijalani banyak mengandalkan stamina tubuh, Mufti mengaku fokusnya masih bisa dipusatkan pada pendidikan yang akan dijalankan selama 1,5 tahun di kota Groningen, Belanda.
Sumber: detik.com
Email: info@konsultanpendidikan.com
University of Strasbourg di Perancis

Universitas Strasbourg berdiri sejak abad ke-16, tetapi institusi dalam bentuknya yang sekarang didirikan pada tahun 2009, setelah penggabungan universitas Louis Pasteur, Marc Bloch dan Robert Schuman. Universitas ini dibagi menjadi tiga institusi ini pada tahun 1971.
Universitas ini menawarkan berbagai gelar termasuk program diploma, sarjana, master, dan doktoral.
Proporsi terbesar dari siswanya mengambil kursus hukum, ekonomi, dan manajemen dan ilmu politik, tetapi ada juga kursus seni, sastra, dan bahasa; humaniora dan ilmu sosial; kesehatan; dan ilmu pengetahuan dan teknologi. Secara keseluruhan, Strasbourg memiliki 37 departemen pendidikan dan penelitian, fakultas, sekolah dan institut dan 72 unit penelitian lainnya. Institute for Advanced Studies universitas bertujuan untuk mendukung penelitian inovatif lintas disiplin ilmu.
Universitas ini memiliki sebagian besar mahasiswa internasional, yang sebagian besar berasal dari negara lain di Uni Eropa. Ada juga sejumlah besar siswa dari Afrika dan Asia, beberapa siswa dari Amerika, dan sebagian kecil dari Oseania. International University House universitas menawarkan layanan kepada mahasiswa, staf dan peneliti dari seluruh dunia dan termasuk akomodasi.
Universitas ini dikaitkan dengan tiga peraih Nobel: Martin Karplus, yang memenangkan hadiah kimia pada tahun 2013; Jules Hoffmann, yang memenangkan hadiah fisiologi/kedokteran pada tahun 2011; dan Jean-Marie Lehn, yang memenangkan hadiah kimia pada tahun 1987.
Strasbourg adalah anggota pendiri Liga Universitas Riset Eropa, sebuah asosiasi dari 21 institusi.
Universitas mengumpulkan €22,5 juta melalui kampanye penggalangan dana antara 2010 dan 2014 – jumlah terbesar yang dikumpulkan dalam kampanye oleh universitas Prancis. Ini telah memberikan kontribusi terhadap program penelitian dan pelatihan dan fasilitas dan beasiswa.
Pada tahun 2015, universitas mengubah kampusnya, dengan halaman rumput baru, jalan setapak, area tempat duduk dan rak sepeda, serta titik akses WiFi luar ruangan.
Sumber: timeshighereducation.com
Email: info@konsultanpendidikan.com
Tips Kuliah di Luar Negeri dari Alumni Universitas Bremen

Kuliah di luar negeri menjadi salah satu keinginan banyak pelajar di Indonesia. Namun, tak sedikit yang merasa kurang percaya diri karena persyaratan yang dibutuhkan.
Umumnya, kuliah di luar negeri membutuhkan kemampuan bahasa asing seperti bahasa Inggris. Persyaratan ini menjadi tantangan tersendiri bagi banyak pelajar Indonesia yang berkeinginan melanjutkan studi di luar negeri.
Selain itu, ada juga persyaratan lain yang kerap membuat pelajar kurang percaya diri yakni prestasi dan pengalaman organisasi.
Menurut alumni penerima beasiswa Universitas Bremen, Jerman, Joko Pamungkas, agar bisa meraih keinginan kuliah negeri, pelajar harus terus belajar dan berusaha.
“Kebanyakan orang agaknya memandang bahwa kuliah ke luar negeri dengan beasiswa itu hanya untuk “kaum terpilih” alias khusus bagi mereka yang cemerlang otaknya, cas cis cus bahasa Inggrisnya, seabrek prestasinya, dan lain sebagainya. Padahal, nggak juga. Kita yang biasa-biasa saja juga bisa mendapatkan beasiswa tersebut sepanjang kita mau dan terus berusaha,” ucapnya.
Untuk pelajar yang tidak percaya diri, Joko juga memberikan tipsnya agar keinginan kuliah di luar negeri bisa terus dicapai. Apa saja?
1. Meluruskan Niat
Joko mengatakan bahwa meluruskan niat adalah langkah pertama yang harus dilakukan. Pelajar perlu tahu niat untuk kuliah di luar negeri itu karena apa.
“Niat yang baik akan membuka berbagai pintu keajaiban, khususnya apabila kita tidak yakin dengan kemampuan diri kita sendiri,” katanya.
Lulusan S1 Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) ini juga menceritakan kisahnya saat menerima e-mail resmi dari Universitas Bremen yang menyatakan bahwa dia gagal memperoleh beasiswa DAAD (Jerman).
Saat itu, Joko menyadari bahwa sertifikat bahasa Inggris yang dilampirkan memang tidak diakui secara internasional.
“Saya pakai TOEFL ITP, mereka minta IELTS atau TOEFL iBT yang sekali tes biayanya sekitar dua juta. Skornya juga kecil: 500 pas maka pantas apabila saya gagal,” terangnya.
Mendapatkan pengumuman tersebut, niat Joko tidak hilang. Dia terus berusaha dan membenahi diri agar bisa lebih maksimal.
Kemudian beberapa minggu kemudian, sebuah e-mail resmi dari Universitas Bremen kembali didapatkan. E-mail tersebut menyatakan bahwa slot beasiswa masih tersisa satu dan mereka tertarik wawancara dengan Joko.
“Usai wawancara via Skype yang boleh dibilang nyaris tanpa persiapan karena waktu yang sangat mendadak, alhamdulillah saya lolos!” tuturnya.
2. Berusaha Meraih IPK yang Diperlukan
Jika pelajar memiliki keinginan kuliah di luar negeri maka harus dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Misalnya berusaha meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) yang diperlukan (biasanya minimal 3,00).
“Ini syarat administratif. Tipsnya saat kuliah, kerahkan seluruh usaha untuk mendapatkan nilai baik, meski mungkin kita tidak menyukai mata kuliah tersebut,” paparnya.
Selain itu, alumni Fakultas Biologi Unsoed juga menegaskan bahwa usaha yang dilakukan harus konsisten, terutama di bidang mata kuliah yang diminati.
3. Memiliki Kemampuan Bahasa Inggris beserta Pengalaman Kerja
Joko menyadari bahwa kemampuan bahasa inggris dan pengalaman kerja yang relevan adalah kunci untuk berkompetisi mendapatkan beasiswa ke luar negeri.
Menurutnya, pelajar tidak perlu merasa minder atau tidak percaya diri karena dengan terus berusaha konsisten, bisa mendapatkan hasil maksimal.
“Ingat, enggak harus jenius untuk bisa memiliki keempat hal tersebut. Cukup terus berusaha sambil percaya bahwa keunikan bidang yang kita geluti secara konsisten bisa menjadi modal untuk mengalahkan mereka yang jenius sekalipun,” pungkasnya.
Sumber: detik.com
Email: info@konsultanpendidikan.com