Quarter Life Crisis dan Cara Mengatasinya

econochannelfeunj.png

Permasalahan hidup pada seseorang bisa saja datang silih berganti. Saat menghadapi permasalahan seseorang bisa merasa sedih, galau bahkan mempertanyakan tujuan hidupnya? Kondisi ini bisa juga disebut dengan Quarter Life Crisis atau krisis seperempat abad. Namun apa sebenarnya arti dari Quarter Life Crisis tersebut?

Melansir akun Instagram Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Ditjen Diktiristek Kemendikbud Ristek), Quarter Life Crisis merupakan istilah psikologi yang merujuk pada keadaan emosional dimana seseorang merasakan krisis emosional ketika mereka harus membuat pilihan hidup. Kondisi ini umumnya dialami seseorang pada usia 18 hingga 30 tahun.

Biasanya seseorang mengalami kondisi ini ketika mulai mempertanyakan diri sendiri tanpa henti, kehilangan identitas atau mempertanyakan pilihan karier. Tanda-tanda Quarter Life Crisis yang bisa diketahui mahasiswa yakni:

  1. Merasa bingung apa yang harus dilakukan dengan hidup dan berusaha mencari tahu apa yang hilang.
  2. Mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan.
  3. Merasa kurang termotivasi.
  4. Merasakan ketegangan antara memilih kehidupan petualangan atau menetap menjadi dewasa.

Jika kamu termasuk seseorang yang sedang mengalami kondisi ini, Ditjen Dikti juga menjelaskan cara mengatasinya agar tetap produktif. Cara mengatasi kondisi Quarter Life Crisis antara lain: 

  1. Bersabar dengan proses diri karena setiap orang memiliki jangka waktu yang berbeda-beda untuk meraih kesuksesan.
  2. Jauhkan diri dari dampak negatif karena terjerumus ke dalam pergaulan toxic akan merugikan dan merusak ketenangan pikiran.
  3. Jangan membandingkan diri dengan orang lain, lihatlah kesuksesan orang lain sebagai motivasi.
  4. Bersyukur dengan pencapaian hari ini untuk mencapai ketenangan batin.
  5. Hiduplah di masa sekarang karena masa lalu tidak bisa diubah. Fokus untuk hari ini dan masa depan.  

Terus Semangat!

Sumber: kompas.com

Alamat Lengkap Kami

Email:  info@konsultanpendidikan.com

87 Persen Mahasiswa Indonesia Merasa Salah Jurusan

forbes.jpg

Memilih jurusan kuliah bukanlah hal sembarangan karena memerlukan pertimbangan sesuai minat, bakat, dan pandangan di masa depan. Tak jarang jika asal-asalan memilih bisa berakibat salah jurusan atau kurang menikmati kuliah.

Menurut ahli Educational Psychologist dari Integrity Development Flexibility (IDF), Irene Guntur menyebutkan bahwa sebanyak 87 persen mahasiswa di Indonesia salah jurusan.

Lantas mengapa banyak mahasiswa salah jurusan? berikut alasannya dikutip dari laman WEduShare.

1. Mengikuti Teman

Alasan pertama mahasiswa salah jurusan kuliah adalah saat mereka duduk di kelas 12 SMA, mereka hanya mengikuti teman-temannya. Alih-alih mempertimbangkan sesuai dengan minat, banyak pelajar yang akhirnya memilih jurusan agar bisa bersama teman-teman mereka. Padahal, belum tentu jurusan yang dipilih tersebut disukai.

Ketika memasuki kuliah dan mulai beradaptasi dengan pendidikan tinggi, mereka baru menyadari ada yang tidak disukai dari mata kuliah jurusan tersebut. Namun, mereka tidak mau pindah jurusan dengan alasan mereka merasa membuang-buang waktu jika memilih dan mempelajari jurusan baru.

2. Terlalu Banyak Menerima Saran

Memasuki tingkat akhir SMA, beberapa siswa menerima terlalu banyak saran atau nasihat. Mulai dari tawaran kuliah di luar negeri, tawaran pertemanan, ataupun jurusan kuliah yang menjanjikan. Ketika memiliki banyak pilihan, banyak siswa yang akhirnya memilih dengan terburu-buru tanpa rencana matang. Alhasil mereka baru menyadarinya saat sudah memasuki kuliah bahwa jurusan tersebut kurang disukai.

3. Karena Penawaran Beasiswa

Meski kurang disukai tapi sebagian mahasiswa mengambil jurusan karena ditawari beasiswa. Karena beberapa siswa berpikir untuk tidak ingin menghabiskan uang atau percaya bahwa beasiswa akan menghemat uang. Namun, pada akhirnya ketika mereka terbebas dari biaya kuliah, banyak pelajar yang tidak terbebas dari salahnya jurusan yang diambil. Maka dari itu, penting untuk siswa memilih beasiswa dengan jurusan kuliah yang paling diminati dan sesuai dengan bakat yang dimiliki.

4. Alasan Orang Tua

Alasan yang terakhir mungkin menjadi alasan yang paling banyak dirasakan oleh banyak mahasiswa. Beberapa siswa mempelajari jurusan yang tidak mereka sukai karena itu adalah cita-cita atau impian orang tua mereka.

Pertimbangan orang tua sangat penting karena mereka memiliki pengalaman yang belum dimiliki siswa. Namun, hal terpenting siswa bisa memilih jurusannya sendiri berdasarkan minat dan tekadnya untuk mempelajari suatu hal.

Sumber: detik.com

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami

Kejenuhan yang Sering Dialami Mahasiswa

kuliahdimana.png

Burnout tak hanya mengakibatkan kelelahan secara fisik namun yang lebih parah bisa mempengaruhi kesehatan mental.

Berikut pengertian, ciri-ciri, dan cara mengatasinya dilansir dari laman instagram Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Dikti).

Burnout merupakan keadaan kelelahan vital atau kondisi stres kronis atas pekerjaan yang belum berhasil dikelola.

Kondisi ini bisa disebabkan berbagai faktor mulai dari suasana di rumah yang tak mendukung untuk mengerjakan tugas, kebosanan, hingga jadwal kegiatan yang tidak teratur.

Fenomena burnout secara ekstrem ini marak terjadi di kalangan mahasiswa maupun pelajar lainnya. Misalnya saja banyak ditemukan di masa perkuliahan daring.

Banyaknya tugas yang harus diselesaikan, berujung membuat tubuh dan otak secara terus-menerus dipaksa untuk belajar maupun bekerja dalam waktu yang cukup panjang tanpa adanya jeda istirahat.

Untuk mengenali burnout, terdapat ciri-ciri yang bisa dirasakan, di antaranya:

– Tubuh merasa lelah berkepanjangan, sakit kepala, dan susah tidur

– Lelah mental, mudah frustasi maupun cemas hingga depresi

– Demotivasi dalam memulai segala aktivitas

– Kehilangan kemampuan akademik dan kepercayaan diri dalam melakukan sebuah aktivitas

– Kurangnya kemampuan untuk konsentrasi secara penuh

Cara Mengatasi Burnout

Agar tidak terjadi berkepanjangan, mahasiswa perlu mengatasinya dengan langkah-langkah berikut ini.

1. Luangkan waktu untuk mengistirahatkan pikiran dan lakukan kegiatan yang membuat rileks tubuh.

2. Perbanyak olahraga untuk meregangkan otot tubuh dan menyegarkan pikiran

3. Belajar manajemen waktu yang baik dalam mengerjakan tugas dan kewajiban lainnya

4. Hindari kebiasaan prokrastinasi atau menunda-nunda pekerjaan

5. Beri waktu sejenak untuk bersosialisasi dengan orang sekitar

6. Perbanyak minum air putih dan konsumsi makanan yang sehat dan bergizi

Sumber: detik.com

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami

Mahasiswa Kulit Putih Diterima di Harvard Melalui Jalur Khusus

transfez.jpg

Jika membayangkan Universitas Harvard, tentu bisa terpikir betapa sulitnya menjadi mahasiswa di salah satu kampus paling bergengsi di dunia tersebut. Akan tetapi, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Peter Arcidiacono, Josh Kinsler, dan Tyler Ransom dan dipublikasikan pada National Bureau of Economic Research pada September 2019 lalu mengungkapkan hal yang cukup mengejutkan.
Dikutip dari The Guardian, studi dengan judul Legacy and Athlete Preferences at Harvard ini menunjukkan, 43% mahasiswa kulit putih di Universitas Harvard yang diterima adalah atlet, siswa warisan, mereka yang ada dalam daftar minat dekan (orang tuanya adalah donatur), atau anak dari pegawai di Harvard, baik itu dari staf maupun fakultas. Mereka yang telah disebutkan di atas disebut dengan ALDCs. Kepanjangan dari ALDCs adalah Athletes, Legacies, Dean’s Interest List, dan Children of Harvard Employees. Hampir 70% dari seluruh pelamar dengan jalur khusus adalah kulit putih.

Penelitian ini juga menyebutkan, kesempatan orang kulit putih untuk diterima meningkat hingga tujuh kali lipat jika mereka punya keluarga yang sudah menyumbang ke Universitas Harvard. Sementara, mahasiswa Afrika-Amerika, Asia-Amerika, dan Hispanik jumlahnya kurang dari 16% dari mahasiswa ALDCs.

Universitas Harvard disebut mempunyai keketatan yang sangat tinggi. Tingkat penerimaan pada tahun 2025 adalah 3,43% . Ditambahkan dari sebuah laporan oleh NBC News, tingkat penerimaan di Universitas Harvard pada 2023 adalah 4,5%.

Dalam laporan itu dikatakan, dibandingkan dengan pelamar kulit putih yang jumlahnya 70%, pelamar non ALDCs adalah sebanyak 40%.

Menghapus preferensi atlet dan mahasiswa (warisan) ini akan secara signifikan mengubah distribusi ras siswa yang diterima, dengan jumlah siswa kulit putih turun dan semua kelompok lainnya naik atau tidak berubah.

Para peneliti ini menggunakan data dari tahun 2009 hingga 2014. Data mereka ini tersedia dalam gugatan terhadap Universitas Harvard mengenai diskriminasi pelamar sarjana Asia-Amerika. Gugatan ini dilayangkan pada 2014 oleh Students for Fair Admissions.

Sumber: detik.com

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami