Jika Anda benar-benar Belajar Bagaimana cara Memperhatikan, maka Anda akan Melihat Bahwa ada Pilihan Lain

David Foster Wallace
David Foster Wallace at Kenyon College. 
Steve Rhodes

“Ini bukan masalah kebajikan,” kata Wallace. “Ini adalah masalah pilihan saya untuk melakukan pekerjaan entah bagaimana mengubah atau membebaskan pengaturan default alami saya yang terprogram, yang menjadi sangat dan benar-benar mementingkan diri sendiri dan melihat serta menafsirkan segala sesuatu melalui lensa sendiri.”

Melakukan itu akan sulit, katanya. “Dibutuhkan kemauan dan usaha, dan jika Anda seperti saya, suatu hari Anda tidak akan mampu melakukannya, atau Anda hanya tidak mau melakukannya.”

Tetapi melepaskan diri dari lensa itu dapat memungkinkan Anda untuk benar-benar mengalami kehidupan, untuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan di luar reaksi gagal Anda.

Sangat sulit untuk melakukan ini, untuk tetap sadar dan hidup menjadi dewasa
hari demi hari. Pendidikan Anda benar-benar adalah pekerjaan seumur hidup.

sheryl sandberg
“Tidak semua yang terjadi pada kita terjadi karena kita.” – Pidato Sheryl Sandberg 2016 di UC Berkeley

Selama pidato pembukaan COO Facebook yang sangat pribadi tentang ketahanan di UC Berkeley, dia berbicara tentang bagaimana memahami tiga P yang sangat menentukan kemampuan kita untuk menghadapi kemunduran membantunya mengatasi kehilangan suaminya, Dave Goldberg.

Dia menguraikan tiga P sebagai:

· Personalisasi: Apakah Anda yakin suatu peristiwa adalah kesalahan Anda.
· Pervasiveness : Apakah Anda yakin suatu peristiwa akan mepengaruhi semua bidang kehidupan Anda.
· Permanen: Berapa lama menurut Anda perasaan negatif akan bertahan.

“Ini adalah pelajaran bahwa tidak semua yang terjadi pada kita terjadi karena kita,” kata Sandberg tentang personalisasi. Butuh pemahaman ini bagi Sandberg untuk menerima bahwa dia tidak bisa mencegah kematian suaminya. “Dokternya belum mengidentifikasi penyakit arteri koronernya. Saya seorang jurusan ekonomi; bagaimana saya bisa?”

Ada hal yang ingin anda tanyakan? Jangan ragu, silahkan hubungi kami. Konsultasi dengan kami gratis.

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami

Saya tidak berpikir siswa harus kembali ke kampus, meskipun itu berarti saya mungkin melewatkan tahun terakhir saya di kampus.

college empty coronavirus
Seorang guru memberikan kelas online di Politecnico di Milano pada 05 Maret 2020 di Milan, Italia. businessinsider.com

Ketika sekolah beralih ke pembelajaran online musim semi ini sebagai tanggapan terhadap pandemi COVID-19, beberapa kekhawatiran terbesar dari orang tua dan siswa berpusat pada satu kelompok yaitu mahasiswa tahun akhir.

Semester terakhir kuliah mereka – waktu yang sangat formatif – akan sepenuhnya terganggu. Bagaimana mereka bisa mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman mereka sebelum babak kehidupan mereka berikutnya dimulai?

Sebagai lulusan perguruan tinggi yang baru masuk, saya pikir jawabannya mudah: Saya lebih suka tetap aman dari COVID-19 daripada menyelesaikan gelar saya secara langsung. Saya adalah siswa generasi pertama, jadi pengalaman di kampus bukanlah sesuatu yang saya anggap remeh, tetapi saya rela melepaskannya sehingga teman sekelas saya dan saya dapat tetap sehat untuk melihat bab selanjutnya dari kehidupan kami.

Dalam survei terhadap 10.000 siswa sekolah menengah dan perguruan tinggi AS, 77% mengatakan pengajaran secara langsung “menarik” dibandingkan dengan pembelajaran hybrid atau online. Namun, para siswa ini menyatakan bahwa mereka lebih menyukai arahan secara langsung.

Adegan di Kampus

Saya kuliah di Mercer University, perguruan tinggi seni liberal swasta yang berlokasi di Macon, Georgia. Mercer telah mengumumkan bahwa mereka tidak memiliki rencana untuk instruksi online musim gugur ini, yang berarti bahwa siswa harus datang ke kelas secara langsung atau mengambil cuti. Dengan menolak menawarkan pilihan pembelajaran online, mereka secara efektif memaksa siswa untuk memilih antara kesehatan dan pendidikan mereka.

“Jika mereka tidak disarankan untuk mengikuti tes, itu bukan kebijakan kami. Saya tidak mengatakan itu tidak mungkin terjadi. Mungkin saja itu bisa terjadi,” katanya. “Tapi itu bukan kebijakannya.”

Dia mengatakan dokter mungkin telah memberi tahu siswa bahwa mereka tidak perlu tes berdasarkan evaluasi dokter dan bahwa siswa mungkin salah menafsirkan panduan itu. Tes, kata Brumley, selalu tersedia bagi siapa saja yang menginginkannya.

Brumley juga mengatakan bahwa sementara administrator tidak secara spesifik mengatakan bahwa siswa harus “pindah” sekolah, siswa yang bertanya apa “pilihan” mereka musim gugur ini jika mereka tidak nyaman menghadiri secara langsung diberitahu bahwa mereka dapat “hanya duduk sampai Anda merasa nyaman datang ke kampus. Itu adalah pilihan. Atau Anda selalu bisa – Anda bisa pergi ke tempat lain jika Anda merasa Mercer tidak cocok untuk Anda. “

Namun, bukan inisiatif Mercer yang membuat saya khawatir; ini adalah kepatuhan siswa pada inisiatif tersebut, fakta bahwa kita disuruh pergi ke tempat lain ketika kita mengkritik sekolah yang kita bayar.

Seperti apa tampilan karantina di kampus perguruan tinggi yang dipenuhi siswa asrama yang tinggal dua atau lebih dalam satu ruangan dan berbagi kamar mandi bersama? Dan seperti apa isolasi diri ketika siswa menghadiri kelas saat sakit setiap tahun?

Hanya 36 negara bagian yang membutuhkan masker di depan umum setiap saat; di Georgia, Gubernur Brian Kemp sebenarnya melarang kota-kota untuk meminta mereka (meskipun di Macon-Bibb County, komisaris menentang perintah dan telah mengamanatkan penggunaan masker di depan umum sampai setidaknya 20 Agustus). Ini berarti bahwa siswa akan meninggalkan kampus tanpa masker, kembali ke asrama mereka, berolahraga di gym kampus, dan menginfeksi komunitas, rekan kerja, dan profesor mereka setiap hari.

Ada hal yang ingin anda tanyakan? Jangan ragu, silahkan hubungi kami. Konsultasi dengan kami gratis.

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami

Why Waseda?

Waseda ini merupakan salah satu dari dua universitas swasta bergengsi di jepang loh..
Dan dikenal sebagai tempat lahirnya politisi

Well, sebelum kamu memulai kuliah di Jepang kamu harus sekolah bahasa selama 1tahun sampai 1,5 tahun karna bahasa yang digunakan bukan bahasa inggris melainkan bahasa jepang , bahasa inggris saja sudah sulit apalagi harus belajar lagi dari huruf dna penulisan ya, tapi selagi ada tekat pasti bisa

Hidup asyik bersama teman dilingkungan yang aman

Bagi mahasiswa asing yang baru datang ke Jepang dan langsung masuk asrama, ada manajer asrama (orang jepang asli) yang tinggal di asrama atau RA (asisten penghuni) yang akan membantu. Tinggal di asrama akan mendorong pertukaran budaya yang aktif dengan hidup bersama mahasiswa lain sambil tetap menjaga privasi. Selain itu, Waseda juga menyediakan banyak sistem supaya para mahasiswanya bisa membangun jaringan yang akan berguna sepanjang hidup.

Biaya kuliah di Waseda

Kalau ngomongin kuliah apalagi swasta tentunya yang paling kita tunggu-tunggu biayanya ya,
Biaya masuk 200.000 JPY (Rp. 27.500.000)
Biaya kuliah pertahun 999.000 JPY (Rp137.662.600) mahal ya?, tapi tenang Waseda memiliki banyak jenis beasiswa jadi kamu bisa kuliah dengan biaya 0 rupiah.

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami

Pengen ke Jepang? Cekidot Budaya Mahasiswa di Jepangnya Dulu~ Part II

Ohayoouuu \(^o^)/ Melanjutkan artikel sebelumnya Pengen ke Jepang? Cekidot Budaya Mahasiswa di Jepangnya Dulu~ Part I ya~ Mari di baca 😉 Setelah kamu mengenali kelebihan dan kebiasaan-kebiasaan mahasiswa Jepang pada khususnya dan masyarakat Jepang pada umumnya. Sekarang saatnya kamu memprediksi apa aja yang akan menjadi problems selama di Jepang. Lebih baik mempersiapkan dirimu hingga untuk hal yang tidak menyenangkan. Kuliah di Jepang, pastinya akan memberikan pengalaman yang menyenangkan, tetapi di belakang itu yang namanya masalah juga sudah pasti ada. Disini, kamu harus belajar untuk mencoba mengatasi masalah tersebut. Carilah “masalah” sebanyak mungkin supaya nanti kamu tahu penyelesaian dari berbagai masalah tersebut. Tentu aja  cari “masalah” di sini adalah berusaha terus mengeksplorasi hal-hal yang baru. Beberapa ini adalah kasus dari “masalah” tersebut.

Culture Shock

culture shock_ Mango ToursIni masalah yang pasti selalu dirasakan oleh perantau manapun. Karena kita akan mengalami proses peralihan dari zona yang lama ke zona yang baru. Gegar budaya ini biasanya hanya dirasakan pada pertengahan bulan pertama saja, bukan di awal kedatangan kita. Karena saat pertama kali kita menginjakkan kaki di Jepang, yang ada hanyalah euphoria-euphoria. Dan seiring dengan berjalanannya waktu, euphoria tersebut mulai tergeserkan dengan culture shock ini. Banyak hal yang harus segera kita sesuaikan, mulai dari makanan, bahasa, lingkungan, termasuk juga prosedur membuang sampah berdasarkan jenis dan hari, bahkan sampai penyesuaian jam biologis yang baru. Dan termasuk bagaimana mempertahankan kebiasaan baik yang biasa dilakukan ketika di Indonesia. Hal terbaik yang kamu lakukan adalah, mencobalah berbaur dengan masyarakat Jepang. Karena mereka lah yang akan menjadi orang terdekat yang akan membantumu untuk lebih mengenal budaya mereka.

Bahasa

305173_463767103677428_615067827_n Kalau waktu belajar di Indonesia, maka kita hanya butuh memahami materinya saja, mengingat pendidikan tersebut disampaikan dengan bahasa Indonesia. Sedangkan jika di Jepang, kita harus melewati dua tahapan memahami, yaitu memahami apa yang dimaksudkan sensei, baru kemudian memahami materi kuliah itu sendiri. Kemampuan bahasa Inggris sensei juga bervariasi, ada yang fasih, malah ada yang sering campur dengan nihonggo. Bahasa Inggris lebih sering digunakan ketika dalam forum zemi (seminar), jyugyou (kuliah), dan akademi lainnya. Selama itu berada dalam lingkungan akademik (lab, kelas, seminar), bahasa Inggris biasa jadi pengantar. Tapi, jika di luar itu, orang-orang Jepang kerap menggunakan bahasa lokal. Tidak peduli kepada orang asing sekalipun, nampak tidak ada rasa bersalah di wajah mereka saat orang asing kebingungan karena tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Sebagai solusinya, kamu harus mengikuti kelas nihonggo. Semua akan lebih mudah jika kamu menguasai atau fasih nihonggo (bahasa Jepang).

Kehidupan sehari-hari

Japan-in-a-Day

Bisa dibilang malam di Jepang sangat pendek dan otomatis membuat waktu siang menjadi lebih panjang. Mau ga mau, jam biologis kita ikut berubah drastis. Biasanya pagi-pagi kamu akan belajar nihonggo baru kemudian kuliah dan riset. Menariknya, sebagian besar kuliah itu tidak ada ujian (Good news apa badnews nih?? :P). Yang ada cuma tugas dan laporan akhir. Awal datang ke Jepang kamu mungkin selalu mengkonversikan harga. Harga berapa yen selalu dikonversikan ke rupiah. Jadinya, setiap barang pasti kerasa mahal dan akhirnya ga jadi beli. Mau belanja juga sangat perhitungan karena dikonversikan ke rupiah. Memang harganya segitu, kalau dikonversikan terus yang ada malah ga akan belanja-belanja dan makan. Intinya, apa  yang mau dibeli, dibeli aja. Tidak usah terlalu perhitungan kalau memang butuh. Bagaimanapun juga, harga segitu memang harga yang wajar untuk masyarakat Jepang. IMG_0822Dan ini yang ga kalah penting, mumpung lagi di Jepang, manfaatkan setiap kesempatan yang ada. Jangan terlalu perhitungan dengan uang sehingga melewatkan kesempatan jalan-jalan. Jangan terlalu sibuk dengan tugas-tugas, sehingga melewatkan kumpul dengan teman-teman. Jangan menutup diri sehingga melewatkan acara yang cuma ada di Jepang. Manfaatkan waktu untuk hal-hal di luar kuliah. Make friends everywhere, jalin pertemanan lewat media organisasi dan olahraga. Mumpung lagi ada kesempatan di luar negeri, manfaatkan sebaik-baiknya.

Homesick

homesick-illus_optHomesick ini wajar, tapi ga usah lebay. Ingat tujuan awal kamu ketika ingin merantau, dan berterimaksihlah karena kamu telah diberi kesempatan menuntut ilmu ke negeri orang. Kalo saran saya, kalau kamu diberi pilihan: diberi liburan, ingin jalan-jalan di Jepang atau pulang ke Indonesia~ Lebih baik kamu memilih jalan-jalan. Mumpung lagi ada kesempatan di luar negeri, manfaatkan untuk menjelajah XD Di era teknologi komunikasi yang makin modern ini, ada banyak “obat” untuk penyakit homesick tersebut. Kamu bisa ber-skype-an dengan keluarga atau teman-teman di Indonesia. Bergaulah selalu dengan orang-orang Jepang karena mereka memiliki pemikiran yang positif sehingga kamu akan ikut terbawa optimis. Saat homesick melanda, teman-temanmu di Jepang akan saling menguatkan dan menghibur. Konon, gejala homesick ini akan berubah menjadi homeshock saat kita kembali ke tanah air kita Indonesia dan ujung-ujungnya kamu malah harus adaptasi lagi (^.^) Nah, setelah membaca semua ini, udah ga ada alasan buat kamu untuk canggung berada dalam masyarakat Jepang. Dekatlah dengan mereka, karena hal ini secara tidak langsung akan membantumu dalam menimba ilmu di negeri sakura ini. Ganbareba dekiru! Ada hal yang ingin anda tanyakan ?  Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami

Pengen ke Jepang? Cekidot Budaya Mahasiswa di Jepangnya Dulu~ part I

Moshi-moshi~ 220px-Japanese_dialects-en Pengen banget kuliah di Jepang? Kalo iyah, banyak banget hal-hal yang kamu persiapkan untuk memuluskan langkahmu kepada negeri matahari terbit ini. Ada baiknya kamu coba cek artikel ini dan di link ini juga untuk nambah informasi agar kamu siap terbang ke Jepang ^o^ Tapi nih, sebelum itu semua, ada baiknya nih buat kamu untuk mengenal kultur masyarakat Jepang, terutama siapa dan bagaimana sih kebiasaan mahasiswa mereka, dan kehidupan sehari-hari akademiknya. Biar kalo kamu udah tiba di Jepang, kamu ga kaget dan dapat berbaur dengan mereka. Mumpung di Jepang, inilah moment yang tepat untuk menambah jumlah temanmu, khususnya yang berasal dari Jepang. Saatnya me-heterogen-kan daftar temanmu sembari meraih pendidikan.. ^^ Ganbatte!!

Pertama, kamu harus mengetahui apa yang menjadi kelebihan dari mahasiswa Jepang

ato-u16844063 Pada dasarnya, mereka itu manusia yang terfokus. Maksudnya, mereka menguasai suatu bidang secara khusus alias telaten. Misalnya seorang mahasiswa tertarik di bidang fisika maka dia akan memfokuskan dirinya hanya pada fisika, khususnya penelitian yang ingin dipelajarinya. Mereka tidak tertarik pada bidang-bidang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan fisika. Mereka juga terbiasa menguatkan pondasi. Dasar-dasar ilmu diutamakan sebelum beranjak ke tahap penerapan.

WS_KaizenWay__70789.1333645928.1000.1000

Mereka memiliki pola pikir “kaizen” yang bagus. Kaizen itu bisa disebut sebagai evaluasi dan perbaikan. Khususnya dalam penelitian, mereka akan berusaha untuk menghasilkan yang lebih dan lebih baik lagi. Dari poin-poin diatas, mari kita tarik kesimpulan lagi apa yang dimiliki oleh mahasiswa Jepang tapi tidak dimiliki mahasiswa Indonesia pada umumnya.

Fokus dan konsentrasi

Mereka tidak rakus ingin bisa menguasai semua bidang, tapi mereka fokus untuk menguasai satu bidang secara maksimal.

Kesabaran (Nintairyoku)

Mereka mampu menghabiskan waktu yang lama di laboratorium untuk mengerjakan penelitian dengan efisiensi yang tetap bagus. Walaupun mereka gagal, hal itu tidak akan membuat mereka putus asa, mereka segera mengulanginya hingga berhasil.

Teratur dan tepat waktu

Mereka terbiasa mengatur dan memanfaatkan waktu dengan baik.

Kerja keras

Ini sudah menjadi kebiasaan bagi semua lapisan masyarakat Jepang.

Punya tujuan

Bagi mereka yang tujuannya menjadi seorang peneliti maka kesehariannya selalu diisi dengan belajar dan belajar. Bagi yang ingin menjadi pemain sepakbola, mereka akan terus berlatih  dan mengolah skill secara maksimal, walaupun nilai belajarnya hanya pas-pasan.

Mereka nggak ribut soal politik

Walaupun situasi politik dan ekonomi Jepang sedang ketar ketir, mahasiswa Jepang hampir tidak pernah meributkannya. Kondisi ini sungguh berbeda dengan mahasiswa Indonesia dimanapun berada.

Kedua, kamu harus mengetahui  dahulu kebiasaan-kebiasaan orang Jepang

Meskipun dirasakan cukup bertentangan dengan kebanyakan kebiasaan orang Indonesia, kamu harus memegang prinsip ini “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”.

 Bangga akan bahasa Jepang

_44249503_print_ap203 Konon orang Jepang itu memiliki kemampuan bahasa Inggris yang buruk, jadi mereka kerap berbicara dengan bahasa Jepang, sekalipun itu terhadap orang asing. Ini sangat berbeda dengan orang Indonesia, meskipun kurang paham bahasa Inggris, orang Indonesia tetap berusaha berbicara bahasa Inggris kepada orang asing, meskipun itu terbata-bata. Ini menandakan bahwa orang Indonesia sangat terbuka kepada orang asing.

Santun

figure13-1 Di Jepang, kamu akan merasakan kesantunan yang mungkin tidak akan kamu dapatkan di Indonesia terutama di jalanan. Kamu tidak perlu takut atau waspada ketika menyeberang jalan karena mobil tidak akan mendahului sepeda motor dan sepeda, sepeda motor mengalah pada pesepeda, dan pesepeda takluk pada pejalan kaki. Disini, pejalan kaki adalah Raja Jalanan! Bagaimana dengan Indonesia, khususnya Jakarta? Well, saya rasa kamu tau sendiri jawabannya.

Gemar berolahraga

sports1 Kebanyakan mahasiswa Jepang yang suka memakai celana training. Ketika di kelas pun, ada saja yang memakai celana training. Apakah ada hubungan antara celana training mereka dengan olahraga?? Yang pasti, orang Jepang tidak akan betah jika tidak menggerakan tubuh mereka. Bahkan, orang tua pun gemar berolahraga. Di Jepang, kamu pasti akan sering melihat para orang tua mengajak jalan-jalan anjing mereka ke taman-taman. Maka, jangan heran jika kamu bertanya kepada mereka siapa saja anggota keluarganya, anjing-anjing mereka pun akan mereka hitung.

Toilet yang kering

t4 Setiap kamar kecil atau toilet sepertinya didesain dengan konsep kering dan serba otomatis. Lantai basah sedikit saja langsung dikeringkan oleh janitor. Sedikit banyak akan menyulitkan kamu yang lebih terbiasa dengan toilet basah seperti di Indonesia. Dan ini juga menyulitkan bagi yang muslim, karena harus berwudhu dengan air. Untuk berwudhu, kamu bisa berwudhu dari wastafel jika sedang di kampus. Dan jika lantai sampai basah, cepat-cepat dikeringkan.

Makan banyak tapi tetap langsing

Spread-2 Melihat orang Jepang yang gemuk mungkin akan sulit untuk kamu temui. Rata-rata berbadan kurus dan proporsional. Paling banter berbadan gempal, itupun bisa dihitung dengan jari. Padahal, orang Jepang bisa makan sampai 10 tumpuk piring sushi malah sampai habis 30 piring. Tapi, anehnya badannya tetap saja kurus, mungkin karena memang makanan orang Jepang kebanyakan mengandung protein. Mungkin ada hubungannya dengan kebiasaan mereka yang gemar olahraga. Mungkin juga masalah gaya hidup?

Tidak biasa bersalaman

japanese-greetings Secara umum, perkenalan biasanya selalu diiringi dengan salaman. Tapi, di Jepang ini tidak berlaku. Yang kamu perlukan hanya menyebutkan nama, kemudian membungkukkan badan sembari mengucapkan “yoroshiku onegai shimasu”. Untuk moment lainnya pun, kamu cukup membungkukkan badan.

Budaya mengantri

201010-2 Orang-orang Jepang sangat loyal terhadap peraturan dan santun kepada orang lain, termasuk untuk urusan mengantri. Antri sudah menjadi budaya disiplinnya orang-orang Jepang.

Risih duduk bersebelahan

images (9) Mungkin mayoritas dari orang Indonesia lebih nyaman untuk duduk bersebelahan ketika mengobrol. Karena merasa lebih bebas ,tidak canggung, dan lebih santai. Tapi, kebiasaan orang Jepang lain lagi. Justru mereka risih jika duduk bersebelahan. Mereka lebih memilih duduk berhadap-hadapan. Jikapun ada orang yang duduk disampingnya, bisa jadi karena keterbatasan kursi atau memang harus duduk dengan posisi seperti itu (seperti di bis, kereta). Oke sekian dulu part Inya…episode selanjutnya akan segera ditayangkan. Cekidot lanjutannya di Pengen ke Jepang? Cekidot Budaya Mahasiswa di Jepangnya Dulu~ part II 😉 Ada hal yang ingin anda tanyakan ?  Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami