Perguruan Tinggi Berada dalam Krisis, Semakin banyak Mahasiswa Memutuskan Mereka tidak Ingin Kembali

Karena universitas menutup kampus dan hanya menawarkan kelas online untuk semester musim gugur, banyak siswa memutuskan untuk tidak kembali.

Terbukti sulit bahkan bagi universitas bergengsi untuk meyakinkan siswa untuk membayar hingga $ 30.000 semester untuk kelas jarak jauh, ketika perguruan tinggi khusus online menawarkan kelas serupa dengan sebagian kecil dari biaya.

Saat mahasiswa dan perguruan tinggi AS bergumul dengan realitas pembelajaran virtual, COVID-19 mungkin meninggalkan dampak yang bertahan lama pada cara orang Amerika memandang dan menghargai pendidikan tinggi.

Harvard coronavirus
Mahasiswa Harvard di kampus pada permulaan krisis COVID-19 di AS.

Ketika perguruan tinggi di seluruh negeri memutuskan untuk memperpanjang pembelajaran online hingga semester musim gugur sebagai langkah pengamanan terhadap pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung, semakin banyak siswa yang memutuskan mereka tidak ingin membayar lebih dari ribuan biaya kuliah untuk mengambil kelas di Zoom. Perguruan tinggi merasa lebih sulit dari sebelumnya untuk meyakinkan mereka bahwa itu sepadan.

Siswa hanya tidak ingin membayar mahal untuk kelas online

“Pengalaman saya dengan kelas-kelas beberapa bulan terakhir tidak begitu bagus,” katanya, “Bagi saya, untuk kuliah, Anda benar-benar harus ada dan hadir … dinamikanya sekarang tidaklah sama.”

Perkiraan biaya kuliah Universitas San Francisco untuk tahun ajaran 2020-21 adalah $ 51,930. Tetapi membayar harga ini untuk kelas online sambil kehilangan semua kegiatan sosial perguruan tinggi – dari tinggal di asrama hingga berpartisipasi dalam olahraga sekolah, klub, dan kegiatan lainnya – tampaknya tidak adil bagi siswa yang terbiasa dengan kehidupan di kampus.

Terlepas dari upaya terbaik universitas, banyak siswa tidak puas dengan konversi ke pembelajaran online. Mengingat kurangnya akses ke sumber daya kampus, perpustakaan, laboratorium, ruang pertunjukan, dan studio kreatif, sulit bagi perguruan tinggi untuk mengharuskan siswa membayar harga yang sama untuk kelas virtual saja.

Grainger Rickenbaker, mahasiswa baru di Universitas Drexel di Philadelphia yang mengajukan gugatan class action terhadap sekolahnya untuk penggantian uang sekolah, mengatakan kepada AP bahwa banyak kelasnya telah diganti dengan video yang direkam sebelumnya.

Siswa di sekolah-sekolah di seluruh negeri, dari Columbia hingga Purdue hingga Michigan State, mengajukan tuntutan untuk meminta pengembalian uang.

Ada hal yang ingin anda tanyakan? Jangan ragu, silahkan hubungi kami. Konsultasi dengan kami gratis.

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami

Lulusan Harvard Business School yang Paling Sukses

Jika Anda ingin menjadi seorang eksekutif, miliarder, atau presiden AS, ada baiknya Anda lulus dari Harvard Business School.

Didirikan pada tahun 1908, HBS adalah lembaga pertama di dunia yang memberikan gelar Magister Administrasi Bisnis.

MBA Harvard telah menjadi ciri khas kaum elit, dengan George W. Bush, Ray Dalio, dan Sheryl Sandberg semuanya mendapatkan gelar tersebut.

Kami menyaring sejarah HBS yang luar biasa untuk menemukan lulusan paling kuat, terkemuka, dan sukses secara finansial yang keluar dari Cambridge.

jamie dimon

CEO JP Morgan Chase Jamie Dimon lulus dari Harvard Business School pada tahun 1982

walter haas jr

Walter Haas, Jr., Angkatan 1939, menggantikan ayahnya sebagai CEO Levi Strauss & Co. Dia mengembangkan Levi’s dari merek regional California menjadi salah satu perusahaan pakaian terbesar di dunia.

Robert_S._McNamara,_1961

1939 MBA Robert S. McNamara menjabat sebagai Menteri Pertahanan AS selama Perang Vietnam.

Philip Caldwell

Setelah meraih gelar MBA pada tahun 1942, Philip Caldwell mengambil alih sebagai orang non-Ford pertama yang menjalankan Ford Motor Company, di mana ia memimpin salah satu perubahan haluan terbesar dalam sejarah bisnis Amerika.

Stephen Covey

Stephen R. Covey, Angkatan 1957, menjadi orang yang sangat berpengaruh setelah menerbitkan bukunya ‘The Seven Habits of Highly Effective People’ yang laris.

robert kraft

Robert Kraft, lulusan MBA tahun 1965, adalah ketua dan CEO dari Grup Kraft, yang paling terkenal adalah pemilik New England Patriots.

Ada hal yang ingin anda tanyakan? Jangan ragu, silahkan hubungi kami. Konsultasi dengan kami gratis.

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami

5 Universitas Termahal di Dunia

Kita semua sadar betul akan pentingnya pendidikan mengingat semakin ketatnya lapangan pekerjaan, banyak yang bilang biaya pendidikan itu mahal, ya itu bisa dibilang benar bisa dibilang juga salah tergantung kemampuan setiap orang dan ada begitu banyak kampus yang menyediakan beasiswa untuk mahasiswa berprestasi.

indianexpress.com



Tapi rasanya kita semua setuju ya biaya kuliah di kampus berikut ini tehitung mahal

1. Stanford University, US
Kampus yang didirikan pada tahun 1885 semakin mahal karna lokasi yang berdekatan dengan lokasi perusahaan besar oleh karna itu selain mahal Standford juga mewah dan bergengsi dan terlah menghasilkan banyak orang luarbiasa 30 milliarder 17 astronot.
Biaya kuliah sekitar 54,015 US Rp.756.210.000 pertahun

2. Massachusetts Institute of Technology (MIT), US
MIT memiliki jurusan engineering terbaik didunia selain itu MIT juga terkenal dengan penemuan-penemuan dalan bidang science kampus yang didirikan sejak 1861 ini telah menghasilkan orang-orang hebat terbukti telah memenangkan 65 penghargaan Nobel dan 34 astronot.
Biaya yang harus kamu keluarkan setiap tahunnya kurang lebih 51,520 kalau RP. 721.128.000

3. California Institute Of Technology, US
Meski tergolong kampus termahal namun harga yang dibayar sebanding karna kampus ini selalu jadi peringkat 10 besar universitas terbaik didunia. Bukti dari kualitas nya bisa dilihat dari alumninya yang berhasil memenangkan Nobel.
Kalau kamu tertarik kuliah disini kamu harus mengeluarkan uang pertahunnya kurang lebihUSD 49,707 atau sekitar Rp.695.898.000

4. UNIVERSITY OF CHICAGO
Sesuai dengan namanya universitas yang didirikan pada tahun 1891 terkenal dengan lulusannya yang jenius pada bidang engineering and science nya banyak ahli didunia yang merupakan Alumnus Caltech.
Biaya yang harus kamu keluarkan setiap tahunnya kurang lebih 50,487 kalau dirupiahkan RP. 706.818.000

5. HARVARD UNIVERSITY
Kampus yang didirikan sejak 1636 memang sudah menjadi kampus yang terkenal di seluruh dunia jurusan unggulan dikampus ini adalah Sekolah Bisnis , sekolah farmasi dan Kedokteran Gigi , bahkan Kedokteran gigi di Harvard digadang gadang menjadi yang terbaik di dunia.
Biaya yang harus kamu keluarkan setiap tahunnya kurang lebih USD 46,340 atau sekitar Rp.648.760.000

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami

7 Pertanyaan Interview Paling Penting yang Ditanyakan Harvard Business School kepada Pelamar

28f0da6 Saat kamu mendaftar kuliah di perguruan tinggi di luar negeri, selain syarat umum seperti kemampuan bahasa dan prestasi akademis yang baik, terkadang kamu juga harus memenuhi panggilan interview oleh perguruan tinggi yang kamu tuju. Yap, beberapa perguruan tinggi di luar negeri memang mewajibkan calon mahasiswa mereka untuk mengikuti proses interview agar dapat melihat eligibilitas calon mahasiswa mereka. Salah satu perguruan tinggi luar negeri yang mewajibkan proses seleksi interview adalah Harvard Business School. Nabil Mohamed, salah satu pelamar Harvard Business School (HBS) yang berasal dari Kairo, Mesir, mengatakan pernah mengalami masa-masa menegangkan ketika ingin diinterview oleh pihak HBS. “Jantungku berdegup sangat kencang,” kenang Mohamed, yang tiba di Amerika sehari sebelum interview setelah terbang selama 20 jam. Saat interview, ia duduk berlawanan dengan dua panitia penerimaan mahasiswa baru HBS, yang satu untuk mengajukan pertanyaan sedangkan yang lain untuk mencatat. Mohamed berkata, kurang dari 60 detik kegelisahannya telah hilang. Sebuah ketenangan telah menggantikan semua kecemasan yang ia bawa ke ruang interview. Ketika ia meninggalkan ruangan interview 30 menit kemudian, Mohamed merasa ia meninggalkan kesan yang baik tapi ada satu kekhawatiran yang membuatnya cemas. Dia tidak tahu jawaban untuk pertanyaan tindak lanjut yang sama sekali tak terduga. Setelah memberitahu pewawancara bahwa ia tertarik untuk memulai bisnis daur ulang styrofoam di Kairo, pewawancara menanyakan tentang perusahaan apa yang membuat produk tersebut. Mohamed sama sekali nggak punya clue. “Saya merasa nggak terlalu baik ketika saya nggak tahu jawabannya,” katanya. Mohamed pun langsung meng-google pertanyaan pewawancara tersebut dan menemukan bahwa Dow Chemical adalah produsen styrofoam terbesar di dunia. Ia lalu menggunakan informasi tersebut untuk merangkai email pasca-wawancara ke HBS, yang merupakan bagian dari proses aplikasi yang diperlukan dalam waktu 24 jam setelah sesi interviewnya dengan pewawancara. Apa yang ia tuliskan tentunya berbuah manis. Mohamed diterima di HBS dan akan segera memulai tahun kedua program MBA nya sebagai editor-in-chief dari The Harbus, surat kabar mahasiswa. Sekarang dia mengawasi publikasi “Unofficial Harvard Business School Admissions & Interview Guide” untuk pelamar. Buku panduan yang baru direvisi ini baru saja dirilis pada tanggal 8 Juli, dengan 125 pertanyaan dan saran tentang cara menjawab setiap jawaban pewawancara dengan harga sebesar US$ 65. (Uang yang didapat dari buku panduan tersebut disumbangkan untuk yayasan yang menerbitkan surat kabar Harbus). Harvard-students-leaving--007 Edisi terbaru dari panduan ini telah direvisi, diperbarui dan terdiri 80 halaman (naik dari 68 halaman tahun lalu dan hanya 40 halaman tahun sebelumnya) dan juga edisi terbesar yang pernah diterbitkan oleh The Harbus. Semua pertanyaan mulai dari yang paling jelas seperti “Mengapa Anda ingin gelar MBA?” sampai pertanyaan yang agak tak terduga seperti “Apa yang akan Anda lakukan jika Anda tidak masuk ke HBS?”. Apa pertanyaan yang paling penting yang HBS tanyakan dalam wawancara penerimaan? Steve Hind, managing editor The Harbus, mengatakan pengalaman pribadinya dan percakapan dengan teman sekelas mengarah kepada daftar beberapa pertanyaan inti di  bawah:
  • Introduce yourself to us. Give us a short personal narrative.
  • Explain the choices you’ve made so far in choosing your undergraduate college and your major as well as your employer and your career.
  • How would a friend describe you? What is your greatest weakness?
  • Tell us about a time when you received feedback from a colleague or a boss?
  • What did you learn by working on the project or for the team you described in your essay?
  • How do you go about solving problems or leading people?
  • What can you tell us about yourself that would surprise us?
Meskipun wawancaranya sendiri terjadi lebih dari setahun yang lalu, Mohamed masih dapat mengingat pertanyaan yang ia dapatkan selama sesi wawancara:
  • What do you think you can add to the class?
  • What is your personal view of leadership?
  • What do you want to do after you get the MBA?
  • What do you like to do outside work?
  • How have the personal challenges you faced helped you grow and made you who you are today?
  • What’s one question you wish you were asked if we had more time?
Lalu bagaimana dengan satu pertanyaan wawancara tentang pabrik pembuat styrofoam yang hampir membuat Mohamed gagal? Dalam email yang ia tulis kepada HBS dalam waktu 24 jam setelah wawancara, Mohamed mengatakan pertanyaan itu membuatnya berpikir secara berbeda tentang ide untuk memulai bisnis daur ulang di Mesir. Jika ia tetap ingin mengembangkan ide tersebut, ia akan berbicara dengan Dow Chemical tentang mengubah struktur kimia styrofoam sehingga menjadi kurang berbahaya atau merusak lingkungan ketika dibakar. Dan kemudian ia menambahkan tentang pandangannya akan mengapa ia ingin belajar di HBS. “Hal ini memperluas wawasan Anda dan membuat Anda mempertanyakan asumsi-asumsi Anda,” katanya. “dan inilah hal yang saya ingin lakukan di HBS.” Ada hal yang ingin anda tanyakan ?  Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami

Ini Dia Bocoran tentang Cara Keterima di Universitas Harvard dari Presiden Universitas Harvard Langsung!

Harvard_U_Shield Semua orang pastinya tahu bagaimana caranya bisa masuk ke Carnegie Hall: belajar yang rajin. Tapi gimana caranya biar bisa masuk ke salah satu universitas yang paling top di seluruh dunia? Untuk pelajar SMA yang ambisius, trik untuk bisa masuk ke universitas top pasti keliatannya sederhana. Kebijakan umum supaya kamu bisa keterima sih yaitu dengan fokus pada kualifikasi-kualifikasi yang pihak Universitas minta kamu agar bisa sukses. Hal ini menjadikan seleksi masuk organisasi-organisasi di sekolah lebih sulit dan kelas-kelas yang diikuti pun terasa seperti sebuah renungan. Di luar jam sekolah siswa pasti menghabiskan waktunya agar bisa membuat CV yang sempurna, yaitu dengan mengikuti organisasi siswa atau kalo disini biasa dikenal dengan OSIS, National Honor Society, jadi kapten tim sepak bola atau voli, dan bergabung dengan selusin organisasi siswa lainnya. Tentu saja, itu nggak berarti bahwa nilai sempurna tidak penting. Apa kalo kita ngelakuin semua hal diatas kita bakal bisa masuk Harvard? Well… Seperti yang dibilang presidennya Harvard, Drew Gilpin Faust kepada hadirin di Aspen Ideas Festival, “kami bisa mengisi kelas kami dua kali dengan para valedictorians (siswa yang biasanya meraih nilai tertinggi di kelas dan memberikan pidato perpisahan upacara wisuda)” Itu berarti panitia penerimaan mahasiswa baru melihat kriteria calon mahasiswa mereka dari hal-hal seperti esai yang menarik atau surat rekomendasi yang tidak biasa untuk memutuskan siapa yang berhak menjadi salah satu dari 5,9% pendaftar yang diterima di Harvard. Top tipnya Faust kepada para orangtua adalah “Make your children interesting!” Bagi orang tua dan siswa, tentunya hal tersebut merupakan kabar baik dan kabar buruk. Kabar buruknya adalah tentu saja jauh lebih mudah untuk mengatakannya daripada mewujudkannya, meskipun Faust menganjurkan para orangtua untuk mendorong anak-anak mereka untuk mengikuti passion mereka sebagai cara untuk mengembangkan kepribadian yang menarik, tapi jauh lebih mudah untuk melengkapi syarat masuk, walaupun menakutkan, daripada menjadi pribadi yang menarik. Tapi, kabar baiknya nih kalo perguruan tinggi menggunakan kriteria tersebut, anak-anak jadi bisa fokus membentuk masa remaja mereka dengan cara yang tidak hanya sekedar untuk membuat CV keliatan lebih menarik, tapi lebih kepada pengertian yang lebih mendalam tentang diri sendiri, yang tampaknya merupakan suatu cara yang jauh lebih masuk akal untuk menghabiskan masa SMA daripada mencoba terlalu keras untuk mendapatkan posisi yang bikin siswa nggak bisa konsentrasi. Di lain sisi, masih ada kabar baik lainnya, jika kamu keterima di Harvard University ada kemungkinan kamu nggak perlu lagi kerja sampingan. Menurut Faust, 60% mahasiswa S1 Harvard menerima bantuan keuangan dan mereka hanya membayar rata-rata US$12,000 per tahun dari biaya normal US$60,000 per tahun untuk biaya kuliah, asrama, dan makan. Hal tersebut sekarang merupakan tren yang sering terjadi di perguruan-perguruan tinggi elit. Selama bertahun-tahun, beberapa mahasiswa mengatakan mereka telah memenuhi 100% syarat yang diperlukan untuk menerima bantuan pendidikan, tetapi dalam beberapa tahun terakhir beberapa perguruan tinggi telah mulai menawarkan kuliah gratis untuk mahasiswa dengan pendapatan keluarga di bawah rata-rata. Itu berarti walaupun  biaya pendidikan semakin tinggi, makin banyak mahasiswa yang bisa kuliah tanpa harus memusingkan biaya kuliah mereka. Kedua perubahan tersebut menunjukkan bahwa perguruan tinggi elit tidak seperti yang selalu kita bayangkan selama ini, yaitu biayanya mahal dan tidak terjangkau. Ada hal yang ingin anda tanyakan ?  Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami