Tak sedikit institusi pendidikan di luar negeri yang berlomba-lomba mencari kandidat MBA terbaik, dan karenanya para pelajar yang memenuhi kriteria ini bisa memaksimalkan keuntungan mereka dengan cara mendapatkan beasiswa tunai.
Nah, apa kamu mau tahu apa saja sih yang membuat seorang pelajar begitu berpeluang mendapat beasiswa untuk kuliah di luar negeri ini?
Dalam permainan beasiswa luar negeri, khususnya untuk beasiswa kuliah jurusan bisnis, satu trik saja bisa membuatmu bisa memenangkan beasiswa favorit. Trik itu misalnya adalah “menorehkan nilai tes tertinggi” atau “perempuan” atau “sedang mengembangkan software canggih” atau bahkan “sedang berjuang dalam perang” atau “punya gelar S1 in Philosophy.”
Satu fakta utama yang mendasari penyebaran uang beasiswa adalah: selain menginginkan pelajar yang bersangkutan meningkatkan nilai, pengalaman dan sudut pandang yang menarik dalam kelas yang dimasukinya, sekolah yang memberikan beasiswa menginginkanmu untuk membuat mereka tampak bagus, untuk memoles pamor mereka dan meningkatkan ranking mereka dalam peringkat universitas terbaik.
Cara yang tercepat—meskipun bukan cara satu-satunya—untuk mendapatkan beasiswa berupa uang tunai tersebut adalah dengan lulus S1 dengan IPK tertinggi. Untuk yang mau beasiswa MBA, tentu saja harus diikuti nilai GMAT (Graduate Management Admission Test) yang tinggi pula. Sekolah-sekolah pemberi beasiswa ingin para penerima beasiswa bisa meningkatkan reputasi mereka, misalnya saja ranking mereka dalam U.S. News dan World Report Top 100 List.
Mendapatkan Nilai GMAT yang Tinggi
Orang dengan nilai GMAT 770 pastinya akan lebih berpeluang untuk mendapatkan beasiswa daripada orang yang GMAT-nya 670. Hal ini membuat seolah-olah sekolah tinggi bisnis di luar negeri ingin ‘membeli’ nilai GMAT yang tinggi itu.
Tapi sekolah juga ingin siswa yang akan memengaruhi reputasi mereka ini tampak menarik dalam hal lainnya. Kebanyakan, apa yang diinginkan pihak sekolah bervariasi. Pihak sekolah biasanya menguji kemampuan akademis, kemampuan personal dan kualifikasi profesional calon penerima beasiswa kemudian mengukur hal-hal ini berdasarkan standar mereka.
Johnson School of Management di Cornell University, misalnya, mereka menginginkan penerima beasiswa merupakan orang yang paling pintar di kelasnya.
Pengaruh perbankan
Dengan adanya keragaman pelajar yang berpotensi mendapatkan beasiswa membuat komite penerimaan mahasiswa baru dan staf pemberi bantuan keuangan menggunakan cara yang berbeda pula. Banyak yang lebih mengutamakan untuk mencari kandidat penerima beasiswa yang punya latar belakang industri, perbankan atau konsultan.
Misalnya saja MIT Sloan School of Business, menawarkan beberapa beasiswa yang memberikan kontribusi pada sekelompok pelajar termasuk Class 2004 Diversity Fellowship bagi para pelajar yang mempunyai “pengalaman kerja khusus, perjuangan berat dalam pendidikan, atau latar belakang kewarganegaraan yang belum atau kurang ada di MIT Sloan.”
Sekolah-sekolah tinggi bisnis Amerika menginginkan mahasiswa dari negara asing, khususnya dari negara-negara yang belum banyak mengirimkan mahasiswanya belajar di negara itu. Kandidat yang memenuhi kualifikasi dari Kolombia, misalnya, akan lebih berpeluang diterima daripada yang berasal dari India atau China.
Nilai tes yang lebih rendah tapi bernilai tinggi
Suatu latar belakang yang istimewa bisa sangat memengaruhi peluang seseorang untuk mendapatkan beasiswa. Amira Abou El Seoud mendapatkan nilai GMAT 650, tapi sekarang ia sudah bisa menikmati tahun pertamanya di Harvard Business School dengan bantuan keuangan mencapai $40,000 per tahun. El Seoud mengatakan kalau sampai sekarang ia belum pernah bertemu mahasiswa Harvard lainnya yang mendapat nilai GMAT di bawah 720. Ini karena El Seoud mempunyai latar belakang yang membuatnya berbeda dari kebanyakan mahasiswa lainnya di sekolah prestisius itu. El Seoud berkebangsaan Mesir, dia telah bekerja sebagai manajer utama Procter & Gamble dengan pendapatan rendah di Mesir, Nigeria dan Pakistan dan mengembangkan proyek pinjaman mikro di Mesir yang mana wanita diberikan kesempatan untuk kredit produk Procter & Gamble untuk dijual kembali sehingga mereka bisa mendapatkan penghasilan untuk hidup. Jangan lupakan pula gender perempuan El Seoud.
Dengan persentase wanita hanya 36% dari keseluruhan pendaftar sekolah bisnis pada tahun 2013/14, dan jumlah pendaftar perempuan untuk kuliah penuh program 2 tahun MBA turun hingga 37% pada tahun 2014, maka menurut Graduate Management Admission Council, banyak sekolah bisnis yang sangat ingin untuk menerima mahasiswa perempuan.
Para perempuan yang memenuhi kualifikasi untuk penerimaan beasiswa akan selalu dicari—dan bahkan diutamakan karena banyak sekolah ingin memiliki representasi gender yang lebih seimbang.
So, kalau kamu perempuan, tunggu apa lagi. Raih kesempatan untuk mendapatkan beasiswa kuliah jurusan bisnis di universitas favorit dunia.
Kuliah Bisnis di Inggris? BPP University Bisa Jadi Pilihan Kamu
Beasiswa Kuliah di Australia, Curtin University Ada hal yang ingin anda tanyakan ? Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .Email: info@konsultanpendidikan.com







Mungkin tampaknya mudah, menjadi tutor bagi anak-anak sekolah untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Tapi, menjadi tutor bisa jadi lebih sulit dari yang kamu bayangkan. Apalagi, ada kesadaran diri yang perlu dipertimbangkan: perbedaan sistem pendidikan terasa sangat jelas dalam tutoring.
Lalu, bagaimana caranya agar tutoring ini bisa dijadikan bantuan keuangan yang efektif?
Tanpa pengalaman mengajar, akan sulit bagimu untuk langsung jadi tutor.
Seorang lulusan Sastra Inggris, Katie Newman yang sekarang melanjutkan studinya di bidang hukum di London, mendaftarkan dirinya pada beberapa agensi ketika dia memulai karirnya sebagai seorang tutor. Saat itu ia merasa kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Agensi yang pernah dijajal Katie diantaranya adalah Blue Tutors, Kensington and Chelsea Tutors, Gabbitas Educational Consultants dan Tutor Hunt. Katie mengajar bahasa Inggris, sastra, creative writing dan bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Yang mengikuti tutoringnya bervariasi mulai dari anak usia 7 tahun hingga mahasiswa tahun pertama.
Katie mengatakan bahwa jadi tutor selama kuliah sangat membantu dalam menambah penghasilannya dibandingkan menjadi pelayan restoran. Dia bisa mendapat honor sekitar £20 hingga £30 per jam sebagai tutor dan setiap minggunya ada sekitar empat orang yang mengikuti tutorialnya.
Akan tetapi, tentu saja ada kelemahannya. Katie merasa kalau tutoring saat ini menjadi agak keterlaluan—banyak anak yang seharusnya masih menikmati waktu bermain sudah harus mengikuti tutoring dengan begitu ketat. Hal ini dikarenakan tingginya kompetensi untuk memasuki sekolah-sekolah terkenal. Banyak permintaan dari orang tua yang cukup penuntut yang bersedia membayar tinggi asal anak mereka bisa diterima di sekolah atau universitas yang diinginkan.
Kelemahan lainnya dari agensi adalah kurangnya pelatihan bagi tutor yang tidak berpengalaman. Banyak agensi yang meminta komisi terlalu banyak, tapi mereka tidak benar-benar berniat memberikan bimbingan atau dukungan bagi para tutor baru.
Cara lainnya dalam melakukan tutoring yang cukup efektif adalah bergabung dengan lembaga khusus. Cara ini mungkin sedikit kurang menguntungkan tetapi mungkin lebih terstruktur karena lembaga khusus tutoring ini biasanya mengelompokkan peserta bimbingannya dengan jadwal yang teratur seperti pada jam-jam setelah pulang sekolah atau pada hari libur.
Kebanyakan tutor yang aktif adalah mahasiswa. Rata-rata mereka bekerja sekitar 10-12 jam per minggu, bahkan lebih saat libur sekolah dan memperoleh honor per jam sekitar £6 dan akan meningkat sesuai dengan usia yang siswa ikut tutoring dan tanggung jawabnya. Akan tetapi persaingan menjadi tutor seperti ini cukup ketat. Suatu lembaga tutoring di London, misalnya, menerima lebih dari 1600 lamaran dalam satu kali rekrutmen.
Mahasiswa yang menjadi tutor menerima pengajaran dan pelatihan dan memiliki kesempatan untuk turut serta dalam pemasaran atau seminar-seminar di sekolah-sekolah. Banyak mahasiswa yang menggunakan peran ini sebagai batu pijakan untuk mengajar atau bekerja di bidang sosial.
Selain dua cara di atas, ada cara yang lebih mudah untuk menjadi tutor, bahkan tanpa harus repot jauh-jauh meninggalkan rumah atau asrama tempatmu tinggal. Seorang mahasiswa Bristol, Adam Lyth, contohnya, mengajar matematika dan ilmu komputer melalui MyTutorWeb. Di forum ini para pelajar bertemu dengan tutor dari universitas-universitas yang tergabung dalam Russel Group. Melalui forum ini, tutor online bisa menciptakan sebuah kelas virtual dan bisa saling berbagi dokumen, menulis, mengetik dan menggambar melalui webcam dan interactive whiteboard.
Adam memperoleh honor sekitar £10 hingga £12 per jamnya dari pekerjaan menjadi tutor online. Per minggunya ia bisa mengajar sekitar 7 jam dengan jadwal yang telah disetujui oleh siswa yang menjadi peserta bimbingannya dan keluarga siswa tersebut.
Singkat kata, dunia tutoring terus berkembang dan para mahasiswa—dengan biaya pendidikannya yang mahal, waktu luang yang banyak dan biasanya kekurangan uang—berpeluang besar untuk jadi tutor.
Jika kamu menyukai anak-anak dan merasa kamu bisa mengajari mereka, maka menjadi tutor bisa jadi opsi terbaik untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
Kalau kamu nggak tahu jurusan apa yang harus kamu pilih pas kuliah nanti, atau kamu nggak tau mau kerja apa nantinya setelah lulus kuliah, tak perlu panik.
Kenapa? Simpel, karna kamu bukan satu-satunya yang mengalami masalah seperti itu. Dan, tentu saja karna semua ada solusinya.
Jadi, jika sampai sekarang kamu masih bingung akan jurusan apa yang mau kamu ambil di universitas atau kamu bingung karna seperti ditekan orang tua untuk masuk jurusan pilihan mereka, tetaplah tenang—stay calm …
Seperti kata pepatah, banyak jalan menuju Roma, banyak cara untuk mencapai suatu tujuan. Begitu pun dengan yang namanya mendapatkan pekerjaan. Ada banyak sekali cara untuk mewujudkan pekerjaan yang kamu inginkan.
Tak banyak kok pekerjaan yang menuntut orang dengan spesifikasi khusus. Dan jika memang ada, seperti pekerjaan dalam bidang kesehatan misalnya, kamu tetap bisa mengalihkan diri belajar hal lainnya lalu ikut pelatihan khusus jika memang kamu benar-benar ingin bekerja di bidang itu.
Kalau kamu sama sekali nggak ada bayangan tentang jurusan apa yang harus kamu pilih atau pekerjaan apa yang bakal kamu ambil, maka yang perlu kamu lakukan cukuplah memilih bidang studi yang benar-benar kamu sukai, satu bidang yang membuatmu merasa nyaman dan kamu yakin bisa mengerjakannya dengan baik. Kemudian, sambil kamu belajar bidang kesukaanmu itu, cobalah untuk magang di beberapa tempat, ikut organisasi mahasiswa, kegiatan amal atau proyek-proyek lainnya.
Ingat, perusahaan lebih mengutamakan lulusan yang punya inisiatif dalam pengembangan diri lho.
Begitu kamu sudah bisa menentukan daftar pilihan bidang studi, maka kamu perlu tahu sebanyak mungkin tentang mata kuliah yang kamu ambil, dosen pengajar, orang-orang yang akan satu jurusan denganmu, fasilitas yang disediakan, universitasnya dan kota tempat universitas itu berada.
Jangan segan mengunjungi universitas-universitas yang sudah masuk daftar pilihanmu pada saat event open days mereka. Tak perlu malu banyak bertanya pada staf kampus, karna hal ini akan banyak membantumu dalam mengumpulkan informasi dengan lebih akurat.
Biasanya di setiap universitas ada staf khusus yang bertugas melayani publik. Kamu bisa menghubungi bagian ini untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Jangan sampai ada pertanyaan seputar universitas bersangkutan yang sampai terlewat. Pastikan kamu telah mendapatkan informasi selengkap mungkin.
Kamu juga bisa menanyai beberapa mahasiswa yang mungkin kamu jumpai pada masa kunjungan. Cari tahu tentang siapa dosen yang mengajar subjek favoritmu, durasi kelas dan fasilitas lainnya.
Lokasi universitas juga penting untuk diketahui. Pastikan kamu tahu benar letak kampus dan asrama atau seberapa jauh jarak antara kampus dengan kosmu jika kamu lebih suka tinggal di luar asrama.
Selain mencari tahu secara manual, tentu saja kamu bisa mencari tahu dengan cara favoritmu yaitu via online. Baca dengan cermat prosedur pendaftaran, review setiap jurusan, review alumni, reputasi universitas dan lain-lainnya.
Pilih jurusan yang lebih memotivasi
Meskipun kamu masih belum yakin akan jurusan yang kamu pilih, kamu bisa mulai memikirkan bidang apa yang kamu sukai. Dan jika kamu punya kesukaan pada lebih dari satu bidang studi, kamu bisa mencari subjek yang menghubungkan bidang-bidang favoritmu itu. Misalnya kamu suka kimia, fisika, geografi dan sejarah, kamu bisa mencoba memilih jurusan geologi.
Hal terpenting saat kuliah S1 adalah meyakinkan diri bahwa jurusan yang kamu pilih itu akan bisa menginspirasimu lebih lanjut. Pilihlah satu jurusan yang benar-benar klik di hatimu, yang saat kamu mengenalinya hatimu seolah berbisik, “Ini dia yang aku cari!”.
Jadi, temukan ‘api’ dalam bidang studi pilihanmu karna dengan ‘api’ itulah kamu akan lebih bersemangat dalam kuliah nantinya.
