Jaringan Nirkabel 5G: Download Film Hanya Butuh Waktu 1 Detik Saja!
Well, dengan pencapaian yang diraih oleh negeri asal Ban Ki-moon ini tentu saja tak mengherankan jika Korea makin banyak dilirik oleh mahasiswa asing sebagai tujuan kuliah. Dengan kemajuan teknologinya, negeri ini pun dianggap memiliki sistem pendidikan yang berkualitas. Kalau kamu juga berminat untuk menuntut ilmu di negeri ginseng ini, maka ada beberapa hal yang sepertinya perlu atau wajib kamu tahu agar kamu nantinya tak kaget begitu sudah tiba di sana. So, apa saja serba-serbi kuliah di Korea ini? Yuk, baca yang berikut ini.Awas, banyak kampus yang menginginkanmu lho!
Eits, jangan GR dulu. Memang banyak kampus yang menginginkanmu, tapi sebenarnya lebih karena mahasiswa asing memberikan pendapatan yang besar terhadap kas kampus.
Selain itu, universitas-universitas di Korea dikenal sangat kompetitif dalam penerimaan mahasiswa asing karena dengan adanya mahasiswa asing akan memengaruhi imej mereka di tingkat dunia.
Jadi, pintar-pintar saja memilih kampus ya? Dipikirkan baik-baik dan berkonsultasilah sebelum memberi keputusan final.
Harus bisa bahasa Korea
Ya benar, kecuali kalau kamu kuliah di Korea untuk program S2 yang jurusannya ada hubungannya dengan bahasa Inggris, maka kamu diwajibkan untuk bisa berbahasa Korea dengan cukup baik.
Banyak universitas di Korea yang mensyaratkan kepada para calon mahasiswanya untuk lulus TOPIK (Test of Proficiency in Korean) dengan skor minimal 4 atau lebih (yang setara dengan tingkat menengah).
Cekidot artikel soal TOPIK di artikel ini~
TOPIK – Salah Satu Syarat Untuk Kuliah di Korea
Akan ada sekitar 20-30% mata kuliah yang akan diajarkan dalam bahasa Inggris
Yup, memang benar kamu akan mendapat kuliah dalam bahasa Inggris, tapi ingat bahasa Inggrisnya ala orang Korea. Apapun jurusan yang kamu ambil (kecuali Korean Language), akan selalu ada mata kuliah yang diajarkan dalam bahasa Inggris, tapi ya itu tadi, meskipun diajarkan dalam bahasa Inggris, tapi tak menjanjikan kalau kamu bakal langsung mengerti dengan baik kuliah yang diberikan karena bisa jadi bahasa Inggris dari para dosen ini juga tidak terlalu baik. Karnanya menguasai bahasa Korea tetap diperlukan, jadi kamu bisa berkomunikasi dengan mahasiswa lokal. Dan tahukah kamu kalau motivasi utama kebanyakan mahasiswa Korea belajar bahasa Inggris kalau tidak demi TOEIC ya agar mereka bisa mengerti apa yang disampaikan dosen mereka dalam bahasa Inggris. Hmm …cek video ini biar lebih ngerti deh maksudnya gimana:Biaya kuliah dan asrama yang relatif murah
Rata-rata biaya kuliah di Korea adalah sekitar $6000 per tahunnya. Sedangkan untuk biaya tinggal bagi yang memilih asrama yang disedikan kampus, kamu cukup membayar $625 per tahunnya. Kurs mata uang asing terhadap Indonesia juga mempengaruhi di sini~
Ada 3 universitas yang diutamakan di Korea
Kalau kamu menanyakan pada anak-anak SMA di Korea tentang universitas yang jadi incaran mereka sebagai tempat kuliah maka kemungkinan besar jawabannya tak akan jauh-jauh dari 3 universitas yang bisa dirangkum menjadi S.K.Y.
Singkatan ini merujuk pada 3 unversitas yang secara tradisi menjadi universitas top di Korea yaitu: Seoul National University, Korea University, dan Yonsei University.
Meskipun salah satu dari SKY bukan merupakan salah universitas yang terbaik untuk jurusan yang kamu ambil, tapi satu gelar dari salah satu universitas ini (khususnya SNU) akan sangat membantumu jika kamu ingin sukses berkarir di Korea.
Tiga universitas ini juga saling bersaing secara ketat, terutama KU dan YU.
Gaya Hidup Bebas Mahasiswa Korea
Sebelum kuliah, para siswa di Korea telah terbiasa dengan program belajar yang bisa dibilang ekstrem. Terutama bagi mereka siswa SMA, mereka harus bekerja dengan sangat keras agar bisa masuk ke perguruan tinggi yang diinginkan karena persaingan yang suangat ketat.
Buat mengetahui soal sistem pendidikan Korea, kalian bisa ke sini:
Mengenal Lebih Dalam Tentang Negeri Ginseng – Sistem Pendidikan Korea Selatan part 1
Mengenal Lebih Dalam Tentang Negeri Ginseng – Sistem Pendidikan Korea Selatan Part 2
Karenanya ketika kemudian mereka menginjak masa kuliah dan tinggal jauh dari rumah orang tua untuk pertama kalinya mereka seperti burung yang baru lepas dari sangkarnya. Tak ada lagi tekanan untuk selalu belajar dan masuk sekolah. Dan bagi mereka ini berarti satu hal: pesta pora. Kamu mungkin akan terkejut mendapati gaya hidup mahasiswa negeri K-Pop ini karena frekuensi pesta mereka yang mungkin jauh melebihi kebiasaan anak kuliahan di negeri asalmu. Karnanya, kamu harus hati-hati juga dengan pergaulan saat kuliah di negeri ini.Tekanan dari kakak kelas/senior
Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, beberapa mahasiswa merasakan yang namanya kekuatan. Saat SMA, mereka jarang mempermasalahkan senioritas, tapi saat universitas, lain cerita.
Menjadi senior di universitas membuat mereka merasa istimewa sehingga mereka memiliki has istimewa dan kesempatan untuk berbuat seenaknya. Junior mereka menganggap senior sebagai mentor dan panutan sehingga mereka akan melakukan apapun yang senior katakan.
Hal ini termasuk kegiatan berpesta pora tadi. Benar-benar perlu diwaspadai deh …
Email: info@konsultanpendidikan.com




Hey guys para pencinta manga! Sebentar lagi kita ada event workshop manga yang diadakan oleh
So, tunggu apalagi ayo segera daftar! Tempat terbatas lho 😀

Ke perpustakaan. Pergi ke perpustakaan adalah cara yang konvensional tapi cukup ampuh.
Padahal, di luar sana, kita akan dihadapkan dengan banyak tantangan, mulai dari hal sepele kaya jenis makanan, kebiasaan teman sekamar, hubungan dengan yang lain, sampai sistem perbankan. Hey, this is for real! Kita akan dihadapkan dengan persoalan sistem perbankan. Mulai dari transfer uang dari orang tua atau lembaga pemberi beasiswa, kartu kredit, sampai menabung. Kita juga bakal berhadapan dengan hukum Negara mengurus perpanjangan paspor dan visa membuat kita harus siap menghadapi birokrasi dan aturan apa pun yang berlaku disana.
Ketika memutuskan akan sekolah ke luar negeri, artinya, kita sudah siap dengan semua persoala yang akan muncul, terutama budaya. Anggap ini semua tantangan. If you cant speak well, that’s normal. Bukannya itu salah satu tujuan kita belajar ke sana, mengasah kemampuan berbahasa? Ketika kita berhasil melewatinya, artinya kita telah menjadi lebih baik. Bagaimana mungkin kita berharap orang-orang asing di Negara tersebut akan memahami kita, bersimpati, dan menolong kita walau kita sendiri pun nggak bergaul sama mereka. jangan cengeng. Ubah persepsimu. Mempelajari budaya mereka dan memiliki banyak teman justru bisamengurangi culture shock-mu dan tentunya perasaan homesick. Orang bule nggak seegois yang kita kira, kok! Mereka juga memiliki ketertarikan yang tinggi dengan siswa internasional. Mereka juga ingin tahu budaya kita, dan mereka nggak pernah mengolok-olok kalau bahasa kita nggak selancar mereka.
ü Sebelum meninggalkan rumah, biasakan dirimu dengan budaya yang baru di Negara tujuan. Baca buku, cari tahu dengan orang-orang yang pernah kesana atau tinggal disana, lihat website-nya. Cari tahu mengenai kondisi lingkungan setempat, situasi politik, mata uang, iklim, dan seperti apa makanan tradisionalnya. Ambil pharse-book dan mulai berlatih menghitung dan menggunakan bahasa sapaan yang sederhana.
ü Bangun prespektifmu tentang sekolah dan tinggal di luar negeri. Bahwa ini adalah kesempatanmu untuk mengenal dunia dengan lebih luas. Yakinkan diri, kamu bisa mengatasi persoalan yang muncul. Bersikap mandiri sudah harus kamu pupuk sejak dalam pikiran.
ü Bicaralah dengan seseorang mengenai persaanmu. Apakah itu dengan pasangan, teman sejawat, atau temang yang di kampong halaman tentang rumah barumu, baik maupun buruk. Jika ini tidak membantu, cari konsultan khusus yang menangani cross cultural dan yang paling bisa mengerti situasi yang sedang kamu alami serta cara mengatasinya. Berbicara dengan orang yang pernah mengalami hal yang sama juga akan membantu menormalkan perasaan itu. Perasaan ini adalah sesuatu yanga wajar dan semua itu akan berlalu.
Ketika menaiki rollercoaster culture shock, para pelajar benar-benar mengikuti pola kurva, mereka mencapai titik tertinggi dan terendah. Poin tertinggi di raih oleh kegembiraan dan ketertarikan akan hal baru akan diimbangi dengan poin terendah yang di capai oleh perasaan depresi, terasing, dan frustasi. Setiap pelajar akan mengalaminya secara naik turun dengan tingkay intensitas dan jangka waktu yang berbeda-beda satu sama lainnya. Proses ini dibutuhkan para pelajar dalam masa transisi dari suatu budaya ke budaya lainnya; hal ini snagat membantu mereka dalam masa penyesuaian dan mengimbanginya.


Perpustakaan ini merupakan perpustakaan yang memiliki usia yang sudah sangat tua. Perpustakaan ini sudah berdiri sejak tahun 1928 dan kini sudah memiliki lebih dari ratusan koleksi buku termasuk koleksi buku digital.
Eleanor Abbott Ford Center for the Fine Arts








