Hey guys para pencinta manga! Sebentar lagi kita ada event workshop manga yang diadakan oleh Yokohama Design College lho! 🙂
Catet yah tempat dan waktunya :
Tempat: Jakarta Design Center, JL Gatot Subroto Kav 53 Jakarta Pusat 10260
Waktu: Minggu 8 Juni 2014, 13.00 – selesai
HTM: 50 ribu / orang (RSVP)
Cara Daftarnya~
Kamu langsung aja SMS ke nomor: 08818040285 dengan format nama_tanggal lahir_jenis kelamin_email (contohnya: Putri Kembang Citra_03 Mei 1995_P_putriKC@yahoo.co.id) Dari sana akan didata dan kamu nantinya akan dikontak langsung soal RSVP 😉Trus disana ngapain aja sih acaranya?
Yang pasti sih seru banget deh! ada perkenalan dengan representatif dari Yokohama Design College yang juga merupakan salah satu screentoner handal di Jepang, seminar mengenai manga dan Screentoning, tanya jawab pertanyaan, dan workshop screentone tentunya 😀 Kalo mau liat gimana kece nya jurusan Manga di Yokohama Design College kamu bisa liat disini nih oh ya, kalo masih bingung screentoning itu apa, bisa dilihat ilustrasi dibawah ini ya :
So, tunggu apalagi ayo segera daftar! Tempat terbatas lho 😀
Ada hal yang ingin anda tanyakan ? Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .
Email: info@konsultanpendidikan.com
Ke perpustakaan. Pergi ke perpustakaan adalah cara yang konvensional tapi cukup ampuh.
Padahal, di luar sana, kita akan dihadapkan dengan banyak tantangan, mulai dari hal sepele kaya jenis makanan, kebiasaan teman sekamar, hubungan dengan yang lain, sampai sistem perbankan. Hey, this is for real! Kita akan dihadapkan dengan persoalan sistem perbankan. Mulai dari transfer uang dari orang tua atau lembaga pemberi beasiswa, kartu kredit, sampai menabung. Kita juga bakal berhadapan dengan hukum Negara mengurus perpanjangan paspor dan visa membuat kita harus siap menghadapi birokrasi dan aturan apa pun yang berlaku disana.
Ketika memutuskan akan sekolah ke luar negeri, artinya, kita sudah siap dengan semua persoala yang akan muncul, terutama budaya. Anggap ini semua tantangan. If you cant speak well, that’s normal. Bukannya itu salah satu tujuan kita belajar ke sana, mengasah kemampuan berbahasa? Ketika kita berhasil melewatinya, artinya kita telah menjadi lebih baik. Bagaimana mungkin kita berharap orang-orang asing di Negara tersebut akan memahami kita, bersimpati, dan menolong kita walau kita sendiri pun nggak bergaul sama mereka. jangan cengeng. Ubah persepsimu. Mempelajari budaya mereka dan memiliki banyak teman justru bisamengurangi culture shock-mu dan tentunya perasaan homesick. Orang bule nggak seegois yang kita kira, kok! Mereka juga memiliki ketertarikan yang tinggi dengan siswa internasional. Mereka juga ingin tahu budaya kita, dan mereka nggak pernah mengolok-olok kalau bahasa kita nggak selancar mereka.
ü Sebelum meninggalkan rumah, biasakan dirimu dengan budaya yang baru di Negara tujuan. Baca buku, cari tahu dengan orang-orang yang pernah kesana atau tinggal disana, lihat website-nya. Cari tahu mengenai kondisi lingkungan setempat, situasi politik, mata uang, iklim, dan seperti apa makanan tradisionalnya. Ambil pharse-book dan mulai berlatih menghitung dan menggunakan bahasa sapaan yang sederhana.
ü Bangun prespektifmu tentang sekolah dan tinggal di luar negeri. Bahwa ini adalah kesempatanmu untuk mengenal dunia dengan lebih luas. Yakinkan diri, kamu bisa mengatasi persoalan yang muncul. Bersikap mandiri sudah harus kamu pupuk sejak dalam pikiran.
ü Bicaralah dengan seseorang mengenai persaanmu. Apakah itu dengan pasangan, teman sejawat, atau temang yang di kampong halaman tentang rumah barumu, baik maupun buruk. Jika ini tidak membantu, cari konsultan khusus yang menangani cross cultural dan yang paling bisa mengerti situasi yang sedang kamu alami serta cara mengatasinya. Berbicara dengan orang yang pernah mengalami hal yang sama juga akan membantu menormalkan perasaan itu. Perasaan ini adalah sesuatu yanga wajar dan semua itu akan berlalu.
Ketika menaiki rollercoaster culture shock, para pelajar benar-benar mengikuti pola kurva, mereka mencapai titik tertinggi dan terendah. Poin tertinggi di raih oleh kegembiraan dan ketertarikan akan hal baru akan diimbangi dengan poin terendah yang di capai oleh perasaan depresi, terasing, dan frustasi. Setiap pelajar akan mengalaminya secara naik turun dengan tingkay intensitas dan jangka waktu yang berbeda-beda satu sama lainnya. Proses ini dibutuhkan para pelajar dalam masa transisi dari suatu budaya ke budaya lainnya; hal ini snagat membantu mereka dalam masa penyesuaian dan mengimbanginya.


Perpustakaan ini merupakan perpustakaan yang memiliki usia yang sudah sangat tua. Perpustakaan ini sudah berdiri sejak tahun 1928 dan kini sudah memiliki lebih dari ratusan koleksi buku termasuk koleksi buku digital.
Eleanor Abbott Ford Center for the Fine Arts








