Ketika mendaftar ke sekolah bisnis di luar negeri, membuat esai adalah salah satu syarat penerimaannya. Esai kamu tentunya bisa jadi peluang untuk keterima di sekolah bisnis idamanmu atau justru mematahkan peluang yang sudah ada, semuanya kembali lagi pada kualitas esai yang kamu buat.
Nah, kali ini kita mau ngebahas satu esai super keren yang berhasil menghantarkan seorang pemuda ke Harvard Business School (HBS). Contoh esai yang dia buat ini memberikan calon mahasiswa Harvard Business School kesempatan untuk menunjukkan panitia penerimaan mahasiswa baru tentang motif dan kepribadian sejati mereka, sehingga CV dan tes skor yang sempurna bukan satu-satunya patokan untuk dapat diterima di Harvard.
Untuk mengetahui calon mahasiswa baru mereka, Harvard Business School meminta pelamar untuk menjawab pertanyaan berikut tahun lalu:
You’re applying to Harvard Business School. We can see your resume, school transcripts, extra-curricular activities, awards, post-MBA career goals, test scores and what your recommenders have to say about you. What else would you like us to know as we consider your candidacy? (No word limit)
The Harbus, koran mahasiswa HBS, baru-baru ini menerbitkan sebuah kumpulan esai terbaik para calon mahasiswa yang berhasil bikin mereka keterima di HBS. Salah satu esai terbaik berjudul “The Giver” ada dalam kumpulan esai tersebut. Berikut esainya:
What else would I like you to know?
I am who I am today mostly because of my brother [name]. [name] was born when I was four years old, and he had an extremely rare birth defect called Robert’s Syndrome. At the time, he was one of a handful in the world to have it. He was born without arms, couldn’t walk or talk, and had many other severe physical and mental defects. It was a complete shock to my parents. He was only expected to live for a day or two, but after a few weeks in the hospital he was healthy enough to come home with us. I was too young to really understand what was going on; I was just excited to have a brother.
[name] was a full-time job for us. For his entire life he was incapable of doing anything for himself. My parents and I didn’t have much, but we did have an amazing family and group of friends to support us. We couldn’t have taken care of [name] without all of them, and seeing this level of sacrifice from so many people had a huge impact on me. No one ever complained. No one ever hesitated. We just did what we had to, and I saw first-hand at a young age how important it is to work together and help those around you. And our family (extended included), became so much closer because of how we came together for [name], and that closeness still holds today.
[name] ended up living for about four years, and I’m so grateful for the lessons I learned from him. My generosity, kindness, team work, and independence, come directly from him being in my life. And learning to deal with that level of stress and responsibility made me a much, much stronger person than I would have been without.
So my family and I have carried [name]‘s memory with us since he passed in the form of giving to others. About ten years ago, we started a charity called [institution], whose purpose is to supply beds and bedding to children in our area who are without. The thought was that [name] spent most of his life in bed, and if we hadn’t had a decent one for him his life would have been so uncomfortable. As of this year, we have supplied almost [number] kids with mattresses, blankets, and stuffed animals, and each year we are able to help more and more children.
This mentality of service has been a big part of my life since we started [institution], and as I got older I wanted to start branching out to new service opportunities. And let me tell you, [city] has been a great place to start. This city has made a serious impression on me. Anyone who’s from here either loves it or hates it, but either way, [city] is the kind of place that defines a person. [city] is the underdog, full of unrealized potential. Living in a place like this has opened my eyes to the heartache of missed opportunities (not even mentioning our sports teams…), and it’s because of this that I’ve become so involved in the community. I’ve been able to work with so many very smart, driven people, and together we’ve done a lot to make a positive impact. My work with the [institution] has allowed me to help raise over [number] for small, local NFPs, and my work with the [institution] has complemented that with a more hands-on, service based focus. And being a Big Brother through [institution] has allowed me to make a lasting, consistent impact in a more focused way.
All of these, together with working for a commercial bank, have given me a very satisfying life balance. I’m able to do so many things, and able to make a tangible impact in each of them. But sometimes I do so much that I don’t take the time to stop and look around – to process what’s happening. This was missing in my life. I know that the path I’d been taking was the right one for me, I’d just never truly felt ready to move on to the next phase.
This changed this past summer when I did my first [event]. If you’re not familiar with this, it’s a [number] mile swim followed by a [number] mile bike and then a [number] mile run. Still seems nuts to me. I’d never done a triathlon of any kind before I signed up for this, but was so overwhelmed by watching my friend compete in the same one the year before. I’ll never forget the moment: I was watching a quadriplegic go up the final – and largest – hill in his wheelchair, sweating, grunting, and crying. And finishing. I’m pretty sure everyone watching that was crying; it was one of the most moving things I’d ever seen. So I signed up.
Training for this requires a serious amount of time, most of which you’re alone with your thoughts (no music allowed during the race, so you train without). Eight hours biking, five running, and two swimming, each week for seven months, is so mentally taxing, and your mind goes to some new places. I started reflecting a lot, and really began to understand the choices I’ve made and the impact they’ve had. I thought a lot about where I was in life, why I was there, and what I would have done differently along the way. I thought about what I wanted for my future, not just career-wise, but in order to be happy. And it’s not so much that my views changed from this experience, but I feel like I’ve gained a new level of clarity. I’m much more confident in my life goals, and can pursue them with pride and conviction.
I’m now ready to move on to the next phase of my life, and am very excited to do so.
Nabil Mohamed, editor in chief koran The Harbus memberikan tanggapannya tentang mengapa esai ini dapat membuat si pembuatnya diterima di HBS, seperti yang dilansir oleh Business Insider.
“Ini merupakan hal yang sangat hebat tentang bagaimana kehidupan seseorang dapat berubah karena kelahiran adiknya, dan bagaimana seluruh lapisan masyarakat dapat bersatu membantu satu sama lain dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya, ” ungkap Nabil. “Hal ini mengubah prioritas penulis. Pengalaman ini seperti layaknya sebuah perubahan gen. Bahkan jika ia terlahir sebagai seorang pria dengan tekad tinggi yang hanya ingin mengurus dirinya sendiri, sesuatu seperti itu cukup kuat untuk mengubah tekadnya tersebut dan dapat benar-benar mengubah prioritasnya untuk mendedikasikan hidupnya untuk membantu orang lain. Itulah yang saya pikir mengapa esai ini sangat powerful. Pengalaman tersebut mengubah kodratnya sebagai manusia, prioritasnya, dan keyakinannya atas alasan mengapa dia ada di dunia ini. “
Walaupun nggak semua esai perlu menceritakan suatu peristiwa yang sangat pribadi seperti yang satu ini, esai diatas menyediakan satu contoh sukses dari apa yang setiap esai calon mahasiswa Harvard harus punya: menunjukkan siapa kamu di luar resume kamu.
Seperti yang sudah Mohamed tekankan, daripada menuliskan “Aku dan prestasiku” atau “Aku dan situasiku,” si penulis esai diatas justru menuliskan “Aku adalah seorang abang yang penuh kasih sayang.” Hal tersebut menambahkan kepribadian dalam aplikasi penulis, menunjukkan siapa dia lebih dalam daripada sekedar di mana dia telah bekerja atau berapa IPK yang ia peroleh saat kuliah S1.
“Pada akhirnya, semua orang bisa belajar dengan giat, mendapatkan beberapa surat rekomendasi, bekerja dengan baik di sebuah perusahaan, lalu mengirimkan aplikasi mereka. Tetapi, panitia penerimaan mahasiswa baru ingin mengetahui apa prioritasmu, apa yang ingin kamu lakukan dalam hidupmu, apa yang membawamu ke sini, dan mengapa kamu ingin melakukan ini sekarang.” kata Mohamed.
Esai menawarkan pelamar HBS sebuah kesempatan untuk mengungkap kepribadian mereka yang sebenarnya. Dan tanpa batas kata, terserah seberapa panjang pelamar ingin membuat esai mereka. Bahkan, Mohamed menunjukkan bahwa setiap Esai yang Harbus terbitkan memiliki perbedaan, menceritakan kisah masing-masing individu secara jelas dengan cara yang dapat dimengerti.
Pihak panitia penerimaan pastinya sudah tau di mana sekolahmu yang terdahulu, apa klub atau organisasi yang kamu ikuti, dan di mana karirmu telah membawamu sejauh ini, tapi mereka tidak tahu bagaimana pengalaman-pengalaman ini membentuk dirimu sekarang dan bagaimana pengalaman-pengalaman tersebut mempengaruhi tujuan dan prioritasmu. Di situlah esai yang kamu buat berperan penting untuk menjelaskan itu semua.
7 Pertanyaan Interview Paling Penting yang Ditanyakan Harvard Business School kepada Pelamar
Ada hal yang ingin anda tanyakan ? Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .Email: info@konsultanpendidikan.com


Universitas Buckingham di Inggris merupakan salah satu perguruan tinggi swasta favorit dengan peringkat ke 41 dunia. Survey menyatakan bahwa lulusan dari universitas ini merasa puas dengan pendidikan di Universitas Buckingham bahkan tingkat kerja dari lulusan-lulusannya pun termasuk yang paling tinggi di Inggris.
Universitas favorit yang akan segera merayakan hari ulang tahunnya ke-40 pada tahun 2016 nanti ini telah memiliki jumlah mahasiswa angkatan baru yang bisa dibilang terus bertambah banyak. Selain itu Universitas ini berusaha untuk terus memberikan fasilitas-fasilitas kampus yang berkualitas dan nyaman dengan pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan.
Contohnya, pelebaran ruang kelas serta perpustakaan, penambahan WiFi di seluruh kampus, dan renovasi kantin atau ruang makan.
Mengenal Keunggulan Universitas Buckingham Lebih Dalam
Mahasiswa di Universitas Buckingham biasanya membentuk kelompok belajar atau kelompok tutorial yang rata-rata terdiri dari enam orang siswa. Mereka melakukan kegiatan mereka di sekitaran kampus. Saat ini ada kurang lebih 1.500 mahasiswa penuh waktu di Universitas Buckingham.
Selain itu, Universitas ini memiliki kelompok-kelompok penelitian dengan anggotanya yang lebih dari 170 mahasiswa. Pendapatan yang didapat dari program penelitian mencapai 847.000 Pound Sterling di tahun 2011. Akan tetapi ada beberapa masalah yang dihadapi oleh kelompok penelitian ini yaitu kurang dapat mencapai penyelesaian program penelitian yang lebih tinggi lagi karena mereka tidak mendapat bantuan dari Research Assessment Exercise. Research Assessment Exercise umumnya terbuka hanya untuk perguruan tinggi atau lembaga yang mendapat dana dari pemerintah. Karena penelitian yang dilakukan Universitas Buckingham sejak tahun 1970 menjadikan universitas ini diterima sebagai bagian dari sistem pendidikan karena penelitian yang telah dilakukan memiliki kontribusi penting di dunia pendidikan.
Respon Universitas Buckingham terhadap mahasiswanya ditanggapi dengan pujian Quality Assurance Agency. Tidak hanya itu, Universitas ini memiliki independensi yang kuat dan bebas dari ikatan politik manapun walaupun di tahun 1992 Buckingham mempekerjakan Baroness Thatcher sebagai rektor. Di dalam pernyataannya, Universitas Buckingham mengatakan bahwa perguruan tinggi ini didirikan dengan prinsip liberalisme klasik dimana memperkenalkan pemikiran politik yang liberal.
Universitas Buckingham memberikan kesempatan bagi mahasiswanya untuk masuk di bulan Juli dan September. Tetapi Universitas ini biasanya berjalan dengan sistem kalender akademik yang berbeda dengan perguruan tinggi yang lainnya. Kebanyakan program untuk meraih gelar di Buckingham berjalan selama 40 minggu per tahun, sehingga hanya dengan 80 minggu saja mahasiswa dapat menyelesaikan studinya dan meraih gelar untuk segera mendapatkan pekerjaan.
Kebanyakan mahasiswa di Universitas Buckingham berasal dari luar negeri kurang lebih sekitar lima puluh persen, namun seiring berjalannya waktu mahasiswa yang berasal dari Inggris juga semakin bertambah. Mahasiswa yang mendaftar memiliki pilihan untuk belajar selama tiga tahun di jurusan humaniora dan bahkan banyak kampus-kampus yang mengikuti sistem tersebut.
Program Terbaru di Universitas Buckingham
Program terbaru yang ditambahkan di Universitas Buckingham meliputi jurusan kedokteran yaitu dokter gigi yang dapat diselesaikan dalam jangka waktu lima tahun. Program pasca sarjana untuk jurusan keuangan dan investasi juga ditambahkan begitu pula dengan program diplomasi. Perkembngan yang paling mencolok yang dilakukan oleh Universitas ini adalah pada program pasca sarjana kedokteran di tahun 2008. Program ini pun menarik banyak minat mahasiswa luar negeri.
Program yang ditawarkan oleh kampus Buckingham dilengkapi dengan kampus yang nyaman serta aman. Terdapat dua gedung bersejarah di kampus ini yang direnovasi ulang untuk memperlebar lingkungan kampus. Universitas Buckingham memiliki dua gedung berbeda untuk kegiatan belajar mengajar mereka di mana bisa ditempuh dengan berjalan kaki satu sama lain. Kampus ini dikenal sebagai gedung teraman di Inggris.
Ada hal yang ingin anda tanyakan ? Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .