Saat pertama ia mendaftar di Ivy League ia hanya berharap diterima di salah satu kampus paling bergengsi di dunia tersebut. Tapi ternyata dewi fortune berpihak padanya, ia diterima sekaligus di delapan kampus Ivy League.
Padahal jika kita lihat latar belakang Stefan 10 tahun lalu, ia adalah seorang imigran dan tidak bisa berbahasa Inggris. Bahkan saat pertama kali ia masuk sekolah, ia sampai menangis karna tidak mengerti apa yang dibicarakan orang disekelilingnya. Ternyata pengalamannnya sebagai imigran menjadi motivasi untuk ia masuk di salah satu kampus bergengsi di dunia.
Saat ini ia mengaku tertarik dengan economics atau history, dan itu mungkin akan menjadi salah satu jurusan yang akan ia ambil saat kuliah nanti. Selain itu ia juga tertarik dengan pelajaran fisika dan kimia.
Saat ini yang harus ia pikirkan adalah memilih salah satu kampus yang terbaik baginya dari delapan kampus terbaik tersebut.
Ada hal yang ingin anda tanyakan ? Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .
Email: info@konsultanpendidikan.com
Published by