Mitch Dunay, siswa tahun terakhir di Cicero-North Syracuse (CNS) High School dan juga running back serta linebacker All-CNY, secara resmi diterima sebagai mahasiswa dan pemain football di Princeton.
Hal ini merupakan kebahagiaan sekaligus kesedihan bagi Mitch dan ayahnya. Mereka yakin jika Bonnie masih hidup, pasti wanita itu akan menggelar pesta untuk mensyukuri diterimanya anaknya di universitas elit Amerika itu. Dengan keadaan mereka yang sekarang, mereka hanya bisa merayakannya dengan makan steak di Outback.
“Ini bukan sekedar seorang anak yang masuk ke Princeton,” ucap Joe Sindoni, kepala pelatih football C-NS. “Ini adalah semua tentang kerja keras yang telah lama ia lakukan, apa yang telah ia hadapi dan bagaimana ia bekerja keras untuk itu. Itulah bagian terbaiknya.”
Mitch Dunai bermain football di tahun terakhir sekolahnya sementara kesehatan ibunya terus menurun. Ketika musim berakhir, ibunya telah lumpuh tapi tetap datang menyemangatinya dari atas kursi rodanya. Ibunya selalu hadir di setiap pertandingannya kecuali satu kali, dan itu adalah saat di harus opname di rumah sakit karena infeksi dan menjalani operasi.
Mitch menyatakan bahwa ibunya sangat gigih untuk menyemangatinya meskipun para dokter melarang ibunya itu untuk berada di luar ruangan di tengah keramaian seperti itu.
Game yang dilewatkan Bonnie adalah kemenangan pertama C-NS musim itu melawan Corcoran pada tanggal 29 September. Ibu dari quarterback C-NS Owen Dziados, memberikan kabar kemenangan itu pada Bonnie melalui sms.
Inilah sepintas kisah Mitch Dunay akan bagaimana ia berjuang agar diterima di Princeton.
Mitch memasuki tahun terakhir football di SMA-nya dengan pelatih kepala yang telah membimbingnya selama 3 tahun. Sindoni mengatakan pada Mitch sejak musim pertamanya bahwa hal pertama yang harus dilakukan Mitch adalah menurunkan berat badannya sampai 20 pon (sekitar 10 kg).
Mitch melakukannya dan kemudian berkembang menjadi fullback dan linebacker tangguh. Setahun setelah menjadi pemain football, Mitch memimpin Northstars dengan 1313 yard rushing dan 19 touchdown. Dalam hal pertahanan lapangan, dia mencetak rekor 150 tackle. Dan dia melakukan semua ini sambil berkompromi dengan cedera pundak, masalah kram serta ketidakpastian akan kesehatan ibunya.
Mitch berniat untuk masuk ke tim universitas dan untuk hal itu dia perlu menarik perhatian pelatih tim dari universitas yang dia minati.
Sebelumnya tidak ada yang melirik Mithc, tapi performanya yang terus meningkat di lapangan mengubah semuanya. Pelatih Princeton datang ke sekolah. Dua dianataranya pernah bekerja di Syracuse University—Dennis Goldman dan Jim Salgado. Para pelatih Syracuse University, mengundang Mitch untuk bergabung dengan The Orange. Selain itu ada juga yang menginginkan Mitch bergabung di Bentley College.
Semuanya merupakan pilihan yang bagus, tetapi Mitch mulai bertanya-tanya apakah ia tidak sebaiknya kuliah yang dekat rumahnya agar ia bisa dekat dengan ibunya. Ia menanyakan hal ini pada ayahnya, sekolah mana yang harus ia pilih.
Tanpa ragu ayahnya menyarankan pada Mitch untuk memilih Princeton. Mengatakan pada Mitch bahwa adalah suatu kebanggan bagi setiap orang tua jika anaknya sampai diterima di universitas sepresitisius Princeton.
Masalah bagi Mitch adalah waktu dan mendapatkan poin dalam hal ACT. Universitas-universitas yang tergabung dalam The Ivy League memiliki band system yang terbatas untuk jatah atlit di kampus mereka. Bagi Mitch, ia perlu mencetak nilai 27 agar diterima Princeton. Dan dalam tes ketiganya di bulan Desember, Mitch mencetak nilai 26. Karenanya Mitch merasa bahwa ia tak akan pernah bisa kuliah di Princeton.
Akan tetapi pelatih Princeton masih menginginkan Mitch untuk datang ke Princeton. Mereka meminta Mitch untuk mengikuti tes ACT sekali lagi pada bulan Februari. Masalahnya adalah bahwa tes tersebut tak ada di New York pada bulan itu. Tetapi, Pennsylvania menawarkan tes tersebut di bulan Februari. Mitch mendaftar di Kings College di Wilkes-Barre untuk menjalani tes ACT untuk yang ke-4 kalinya.

Email: info@konsultanpendidikan.com
Published by