Email: info@konsultanpendidikan.com
Hari: 10 Agustus 2021
Kharkiv National University of Radio Electronics
Anak Supir Angkot Lulus S1 di Taiwan

Sebuah unggahan viral di TikTok mengisahkan Dian yang berhasil lulus kuliah S1 di Taiwan. Dian Nursiati, nama lengkapnya, mematahkan omongan para tetangga di tempat asalnya Karawang, Jawa Barat.
Dian diremehkan saat memilih berkuliah di Taiwan. Para tetangganya menyebut Dian hanya akan berakhir menjadi pembantu. Dengan mengenakan baju toga dan mata berkaca-kaca, Dian menceritakan kisahnya.
“Waktu itu ada orang yang ngomong begini sama gue. Anak sopir angkot saja mimpinya ketinggian ingin kuliah luar negeri,” ujar Dian.
Dian mengatakan, dia sangat sabar menghadapi cibiran para tetangga. Selain meremehkan keinginan Dian untuk kuliah, tetangganya juga menganggap Dian tidak akan punya karir bagus dan segera pulang kampung.
“Alah bu, paling banter juga ye dia juga di sono jadi pembantu, cuma emaknya malu makanya bilang program kuliah. Begitu. Sabarin aje,” kata Dian.
“Alah paling kata juga kagak kelar, pulang mana bisa bapaknya biayain sampai lulus. Enggak apa-apa, sabarin aje,” ujar Dian lagi.
Selepas mengenang pembicaraan pahit para tetangga, Dian memperlihatkan ijazah S1 dari almamaternya. Dian menunjukkan namanya yang tertera jelas dalam ijazah, setelah empat tahun kuliah di Taiwan.
“Cuma sekarang gue mau ngomong doang satu ye. Mah, Bah, neng lulus. Nih lu tengok baek-baek, Meiho University!” ujar Dian.
“Kagak percaya lu, tengok baik-baik. Dian Nursiati. Nama gue! Gue lulus, lu jangan sekate-kate ngomong ye, gue lulus. Gue lulus. Makasih sudah pernah ngomongin gue empat tahun gue lu hina kemampuan gue, gue lulus!” kata Dian.
Cerita Dian yang diupload di TikTok tersebut menuai reaksi positif dari para netizen. Dian bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang ingin kuliah namun terganjal kondisi ekonomi dan keluarga.
Kisah Dian juga menjadi contoh pentingnya mengabaikan omongan yang tidak bermanfaat untuk pengembangan diri. Dian berhasil mematahkan anggapan remeh, pikiran negatif, dan cibiran hingga berhasil jadi sarjana.
Sumber: detik.com
Email: info@konsultanpendidikan.com
University of California, San Diego

University of California, San Diego, biasa disingkat UCSD, adalah sebuah institusi pendidikan tinggi negeri, yang ditempatkan di jantung komunitas La Jolla, San Diego, Amerika Serikat. Didirikan pada tahun 1960 dengan sumbangan dari kota dan perusahaan kedirgantaraan Amerika General Dynamics.
Lembaga ini adalah bagian dari sistem Universitas California di seluruh negara bagian, bersama dengan 9 lembaga publik semi-otonom lainnya. UCSD adalah salah satu perguruan tinggi Ivy Publik AS, yang bertujuan untuk memberikan siswa dengan kualitas pendidikan yang sama seperti yang dapat ditemukan di perguruan tinggi swasta Ivy League.
Sebagai kontributor penting dalam kegiatan penelitian, universitas terdiri dari 6 sekolah sarjana. Ini juga memiliki 3 perguruan tinggi pascasarjana, 2 pusat medis dan Scripps Institution of Oceanography yang terkenal, yang merupakan institut ilmu geologi dan kelautan terbesar di dunia.
Sebuah fitur penting dari universitas adalah banyak lembaga penelitian yang menerima dana publik yang cukup besar. Investasi ini telah menghasilkan hampir 30.000 pekerjaan baru, keuntungan penting yang dihasilkan dari penjualan teknologi berlisensi dan peluncuran lebih dari 600 perusahaan baru yang dioperasikan oleh afiliasi UCSD.
Untuk memaksimalkan tingkat kolaborasi dan merangsang diskusi, mahasiswa dan anggota fakultas menghuni area perumahan yang sama, bagian dari kampus utama universitas yang dibangun di atas lahan seluas 1500 hektar. Siswa juga dapat menikmati mengunjungi beberapa fasilitas rekreasi UCSD, yang meliputi hutan kayu putih, akuarium, dan museum.
Kehidupan mahasiswa di UCSD dapat menjadi hal yang menarik bagi pecinta musik, yang dapat menghadiri festival musik Hallabaloo bulan November, yang pernah menampilkan artis-artis seperti Macklemore dan Snoop Dogg di masa lalu. Penggemar olahraga memiliki kesempatan untuk mendukung atau bahkan bergabung dengan beberapa dari 23 tim kompetitif yang mewakili universitas, dalam olahraga seperti rugby, hoki es, dan tenis.
UCSD memiliki jaringan lebih dari 170.000 lulusan dan anggota fakultas, termasuk lebih dari 15 Pemenang Nobel.
Sumber: timeshighereducation.com
Email: info@konsultanpendidikan.com
Lulus UC Berkeley – Kerja di Silicon Valley

Pemilik akun @aciiidcia atau Cecilia Astrid Maharani jadi viral di TikTok. Astrid membagikan pengalaman dirinya yang berhasil berkuliah di University of California, Berkeley, Amerika Serikat hingga bekerja di Silicon Valley, California sebagai software engineer.
Di dalam video viral itu, pemilik akun @aciiidcia membagikan percakapannya bersama sang ayah. Sang ayah menyuruh dirinya untuk berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Enggan mengikuti jejak ayah, Astrid pun membalas dirinya ingin masuk jurusan teknik. Dan si ayah terlihat meragukan sang putri dengan mengatakan, “Mau jadi apa nanti?”
Menepis perkataan sang ayah, Cecilia berhasil diterima di UC Berkeley jurusan Electrical Engineering dan Computer Science pada April 2014 yang dibuktikan dengan acceptance letter di akun TikToknya.
Perjuangannya masuk UC Berkeley tak mudah. Ia lebih dulu masuk ke ke community college bernama Diablo Valley College (DVC) saat masih berusia 16 tahun
“Jadi sebelum ke UC Berkeley, saya ke community college dulu yang namanya Diablo Valley College (DVC) itu di usia 16 tahun. Saya kesana pakai ijazah IGCSE (kurikulum cambridge) yang saya ambil di SMA kelas 1,” ujar Astrid pada detikEdu, Selasa (10/8/2021).
Saat di DVC, Astrid belajar ekstra untuk mewujudkan mimpinya masuk ke UC Berkeley. Hasil memang tak pernah mengkhianati usaha kerasnya. “Kemudian di DVC itu baru apply ke UC Berkeley dan akhirnya diterima.”
Setelah menuntaskan kuliah dengan mendapat predikat Cumlaude, Astrid berhasil bekerja di salah satu perusahaan yang berada di Silicon Valley sebagai software engineer.
“Jadi aku bersekolah 2 tahun di DVC, 2 tahun di UC Berkeley. Kemudian pada semester terakhir saya apply kerja di Silicon Valley dan akhirnya keterima sehingga bekerja di sana. Nama company-nya MyVest,” ujar Astrid
Setelah lima tahun tinggal di negeri Paman Sam, ia memutuskan untuk pulang ke negara kelahirannya. Astrid mengaku kembali tanah air karena ingin berkontribusi untuk Indonesia.
“Kembali ke Indonesia karena mikir marketnya start up di Indonesia lagi di inflection point, mau contribute ke Indonesia aja karena gak banyak orang yang seberuntung saya bisa masuk ke UC Berkeley dan punya kesempatan bekerja di Silicon Valley,” kata Cecilia.
Hanya saja banyak yang menyayangkan langkahnya itu. Astrid yang saat ini menjadi Head of Data Science di Mekari itu menuturkan keputusan tersebut sering dianggap sebagai suatu kesalahan. Talenta yang dimilikinya dinilai akan sia-sia jika bekerja di negeri sendiri.
” Yang mau saya bilang adalah jangan terlalu fokus sama uang yang banyak karena kebahagiaan yang lebih full justru didapat disaat kita bisa membantu atau berguna bagi orang yang membutuhkan,” kata pemilik video viral di TikTok tersebut.
Sumber: detik.com
Email: info@konsultanpendidikan.com