Beasiswa Pendidik LPDP S2, S3 untuk Guru dan Dosen

http://www.beasiswapascasarjana.com

Kabar baik buat para guru dan dosen yang ingin menempuh pendidikan jenjang S2 dan S3 di di tanah air.  LPDP baru saja membuka skema beasiswa baru yang dinamai Beasiswa Pendidik. Beasiswa LPDP satu ini ditujukan khusus bagi para guru di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta dosen di bawah Kementerian  Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Agama.

Para guru yang ingin mengikuti Beasiswa Pendidik LPDP ini nantinya dapat menempuh studi jenjang S2  (magister) di universitas dan perguruan tinggi tanah air. Sementara, dosen disediakan beasiswa jenjang studi S3 (doktor). Bagi Anda pelamar umum bisa mencoba Beasiswa PTUD LPDP yang juga baru dibuka.

Sebelum dapat mendaftar ke program Beasiswa Pendidik, pastikan Anda merupakan seorang guru tetap di lingkungan Kemendikbud yang telah memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK). Sementara, bagi dosen haruslah merupakan dosen tetap di bawah naungan Kemendikbud atau Kemenag yang telah memiliki Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN).

Skema Beasiswa Pendidik:
▪ Magister satu gelar (single degree) untuk Guru Tetap dengan durasi studi paling lama 24 (dua puluh empat) bulan.
▪ Doktor satu gelar (single degree) untuk Dosen Tetap dengan durasi studi paling lama 36 (tiga puluh enam) bulan, dan dapat diperpanjang selama dua semester berdasarkan evaluasi.
▪ Pendaftar BPI Pendidik wajib sudah memiliki LoA Unconditional dari Perguruan Tinggi tujuan dalam daftar LPDP.
▪ Pendaftar  BPI  Pendidik  hanya  dapat memilih  satu  perguruan  tinggi  dan program  studi  sesuai  dengan   LoA Unconditional  Perguruan  Tinggi  LPDP  yang diunggah pada aplikasi pendaftaran.
▪ Pendaftar BPI Pendidik belum memulai studi dan hanya diizinkan untuk mulai studi pada tahun 2021.
▪ Pendaftar BPI Pendidik yang telah memiliki LoA Unconditional dengan waktu mulai studi pada tahun 2020, wajib menunda studi dan memulai studi tahun 2021 serta melampirkan surat keterangan menunda memulai studi dari Perguruan Tinggi tujuan yang diunggah bersamaan dengan LoA Unconditional.

Komponen Beasiswa Pendidik:
▪ Biaya Pendidikan
√ Biaya Pendaftaran
√ Biaya SPP/Tuition Fee
√ Tunjangan Buku
√ Biaya Penelitian Tesis/Disertasi
√ Biaya Seminar Internasional
√ Biaya Publikasi Jurnal Internasional

▪ Biaya Pendukung
√ Transportasi
√ Asuransi Kesehatan
√ Biaya Hidup Bulanan
√ Biaya Kedatangan
√ Biaya keadaaan darurat
√ Tunjangan keluarga (Khusus Doktor)

Persyaratan:
Persyaratan Umum:
1. Warga Negara Indonesia
2. Telah menyelesaikan studi program diploma empat (D4) atau sarjana (S1) untuk beasiswa magister;  program  magister  (S2)  untuk beasiswa  Doktor;  atau  diploma  empat (D4)/sarjana (S1) langsung Doktor dengan ketentuan sebagai berikut:
   √ Perguruan tinggi dalam negeri yang terakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT),
   √ Perguruan tinggi kedinasan dalam negeri, atau
   √ Perguruan tinggi luar negeri yang diakui oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia atau Kedutaan Besar Republik Indonesia di negara asal perguruan tinggi.
3. Tidak sedang (on going) atau telah menempuh studi degree atau non degree program magister ataupun doktor baik di perguruan tinggi dalam negeri maupun perguruan tinggi di luar negeri.
4. Melampirkan surat rekomendasi sebagai berikut:
   √ Surat Rekomendasi dari akademisi dan dari atasan bagi yang sudah bekerja;
   √ Surat Rekomendasi dari 2 (dua) akademisi bagi yang belum bekerja;
5. Beasiswa hanya diperuntukkan untuk kelas reguler dan tidak diperuntukkan untuk kelas-kelas sebagai berikut:
   √ Kelas Eksekutif;
   √ Kelas Khusus;
   √ Kelas Karyawan;
   √ Kelas Jarak Jauh;
   √ Kelas yang diselenggarakan bukan di perguruan tinggi induk;
   √ Kelas Internasional khusus tujuan Dalam Negeri;
   √ Kelas yang diselenggarakan di lebih dari 1 negara perguruan tinggi; atau
   √ Kelas lainnya yang tidak memenuhi ketentuan LPDP
6. Mengisi profil diri pada formulir pendaftaran online
7. Menulis Personal Statement
8. Menulis komitmen kembali ke Indonesia dan rencana kontribusi di Indonesia pasca studi
9. Menulis rencana studi untuk magister atau Proposal Penelitian untuk Doktor

Persyaratan Khusus:
1. Mengunggah dokumen Letter of Admission/Acceptance (LoA) Unconditional yang sesuai program studi dan Perguruan Tinggi tujuan daftar LPDP pada aplikasi pendaftaran.
2. Mengunggah surat izin mendaftar beasiswa dari pimpinan Perguruan Tinggi bagi Dosen Tetap Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta.
3. Mengunggah surat izin mendaftar beasiswa dari Kepala Sekolah atau pimpinan Sekolah untuk pendaftar asal Guru Tetap.
4. Bersedia menandatangani surat pernyataan (format terlampir).
5. Memenuhi ketentuan batas usia pendaftar per 31 Desember tahun pendaftaran, sebagai berikut:
   √ pendaftar jenjang pendidikan magister paling tinggi berusia 40 (empat puluh) tahun.
   √ pendaftar jenjang pendidikan doktor paling tinggi berusia 47 (empat puluh tujuh) tahun.
6. Mengunggah dokumen Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dengan ketentuan sebagai berikut:
   √ pendaftar jenjang Magister memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) pada jenjang studi sebelumnya sekurang-kurangnya 3,0 pada skala 4 atau yang setara yang dibuktikan dengan transkrip nilai asli atau telah dilegalisir.
   √ Pendaftar jenjang Doktor memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) pada jenjang studi sebelumnya sekurang-kurangnya 3,2 pada skala 4 atau yang setara yang dibuktikan dengan transkrip nilai asli atau telah dilegalisir.
   √ Khusus untuk pendaftar jenjang Doktor dari program magister penelitian tanpa IPK, wajib melampirkan surat keterangan dari perguruan tinggi asal.
7. Mengunggah dokumen sertifikat kemampuan bahasa  Inggris  yang  masih  berlaku  dan diterbitkan  oleh  ETS  (www.ets.org),  PTEA cademic atau IELTS (www.ielts.org) dengan ketentuan sebagai berikut:
   √ Pendaftar tujuan Magister Dalam Negeri skor minimal kemampuan bahasa Inggris TOEFL ITP® 450, TOEFL iBT® 45, PTE Academic 36, IELTS™ 5,0;
   √ Pendaftar tujuan Doktor Dalam Negeri skor minimal kemampuan bahasa Inggris TOEFL ITP® 500, TOEFL iBT® 61, PTE Academic 50, IELTS™ 6,0;
   √ Sertifikat TOEFL ITP yang berlaku harus berasal dari lembaga resmi penyelenggara tes TOEFL ITP di Indonesia.
8. Mengunggah surat keterangan menunda memulai studi dari Perguruan Tinggi ke tahun 2021 bagi pendaftar yang memiliki LoA Unconditional dengan waktu mulai studi pada tahun 2020.
9. Pendaftar BPI Pendidik yang telah ditetapkan sebagai Penerima Beasiswa tidak dapat mengajukan perpindahan Perguruan Tinggi tujuan dan program studi tujuan.

Dokumen aplikasi:
1. Biodata Diri
2. Kartu Tanda Penduduk (KTP)
3. Surat izin mendaftar beasiswa dari pimpinan Perguruan Tinggi bagi Dosen Tetap Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta (Pendidik Dosen)
4. Surat izin mendaftar beasiswa dari Kepala Sekolah atau pimpinan Sekolah (Pendidik Guru)
5. Ijazah S1/ S2 atau SKL (Surat Keterangan Lulus) (Asli atau Legalisir)
6. Transkrip Nila S1/S2 (Asli atau Legalisir)
7. Sertifikat Bahasa Asing yang dipersyaratkan dan Masih Berlaku (Asli)
8. Letter of Acceptance (LoA) Unconditional yang masih berlaku dan sesuai dengan Perguruan Tinggi serta Program studi yang dipilih
9. Surat Pernyataan sesuai format LPDP (bermaterai) (Unduh)
10. Surat Rekomendasi dari Akademisi 1
11. Surat Rekomendasi Akademisi 2 (bagi yang belum bekerja) atau Atasan/Pimpinan Lembaga/Perusahaan (bagi yang sudah bekerja)
12. Personal Statement
13. Komitmen kembali ke Indonesia dan rencana kontribusi di Indonesia pasca studi (1.500 – 2.000 kata)
14. Rencana Studi (khusus magister) (1.500 – 2.000 kata)
15. Proposal Penelitian (khusus doktor) (1.500 – 2.000 kata)

Pendaftaran:
Bagi Anda para guru dan dosen yang ingin mendaftar Beasiswa Pendidik LPDP, lengkapi dokumen aplikasi yang diminta. Siapkan dalam format PDF untuk diunggah nantinya. Khusus poin 1, 12, 13, 14, dan 15 itu diisi secara online di laman LPDP. Jadi terlebih dahulu buat akun di laman LPDP: beasiswalpdp.kemenkeu.go.id

Setelah memiliki akun, silakan login kembali di laman LPDP untuk mengunggah dokumen aplikasi yang diminta. Daftar universitas dan perguruan tinggi yang bisa dilamar tertera di panduan yang bisa diunduh di poin 9 dokumen aplikasi di atas.

Jadwal Pendaftaran Beasiswa Pendidik:
Pembukaan pendaftaran beasiswa: 6 Oktober 2020
Penutupan pendaftaran beasiswa: 20 Oktober 2020
Seleksi administrasi: 21 Oktober – 1 November 2020
Pengumuman hasil seleksi administrasi: 2 November 2020
Seleksi substansi 4 – 20 November 2020
Pengumuman hasil seleksi substansi: 4 Desember 2020

Kontak:
Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP)
Gedung Danadyaksa Cikini,
Jl. Cikini Raya No.91A-D,
Menteng, Jakarta Pusat
[t] Call Center 1500-652
[w] https://www.lpdp.kemenkeu.go.id
Informasi dan Bantuan:
bantuan.lpdp.kemenkeu.go.id

Ada hal yang ingin anda tanyakan? Jangan ragu, silahkan hubungi kami. Konsultasi dengan kami gratis.

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami

Bagaimana Community Colleges Dapat Menghentikan Penurunan Pendaftaran COVID-19

forbes.com

Minggu ini, National Student Clearinghouse melaporkan penurunan 7,5 persen dalam pendaftaran di perguruan tinggi. Hal ini mengejutkan banyak orang di perguruan tinggi, karena masa penurunan ekonomi biasanya mendorong peningkatan pendaftaran di community college karena orang memiliki lebih banyak waktu untuk terlibat dalam pendidikan dan lebih termotivasi untuk mempersiapkan karier yang lebih stabil di ekonomi yang sedang lesu. Tampaknya tidak demikian halnya dengan penurunan ekonomi yang disebabkan oleh Covid-19 – setidaknya belum.

Penelitian lama tentang perspektif dan pengalaman konsumen dengan perguruan tinggi membantu menjelaskan mengapa hal ini terjadi.

Ketika ditanya bagaimana Covid-19 memengaruhi minat mereka untuk mendaftar di pendidikan, lebih banyak orang Amerika (25 persen) mengatakan pandemi telah meningkatkan minat itu daripada menurunkannya (17 persen), dengan peningkatan bersih 6 poin persentase. Dan di antara orang Latin dan Black Americans, ada peningkatan minat bersih yang jauh lebih besar: plus-16 poin persentase untuk orang Latin dan plus-10 poin persentase untuk Black Americans. Minat yang meningkat ini bahkan lebih intens di antara pekerja yang terganggu – mereka yang kehilangan pekerjaan, giliran kerja, atau jam kerja – dengan lompatan 20 poin persentase.

Jadi jika minat untuk mendaftar di pendidikan lanjutan telah meningkat, mengapa minat itu tidak diterjemahkan ke dalam pendaftaran perguruan tinggi yang sebenarnya?

Berikut beberapa kemungkinan penjelasannya.

  1. Preferensi dan motivasi untuk jenis pendidikan telah bergeser, sementara kepercayaan – pada diri mereka sendiri dan pada sistem pendidikan – tetap menjadi penghalang utama. Sejak pandemi Covid-19 dimulai, pelajar telah menunjukkan preferensi untuk program non-gelar, dengan 67 persen orang dewasa tanpa gelar – sebut saja mereka calon pelajar dewasa – yang sekarang mempertimbangkan pendidikan dengan mengatakan mereka lebih memilih jalur non-gelar, naik dari 50 persen tahun lalu . Selain itu, mereka ingin program ini diperhitungkan dalam derajat tertentu. Dan sementara community college, tentu saja, menawarkan program pendidikan dan pelatihan non-gelar, terkadang hal itu menjadi tambahan untuk misi utama mereka. Seringkali program-program ini dikelola melalui “Departemen Non Kredit,” sebuah nama yang tidak berkonotasi dengan nilai atau relevansi program-program tersebut. Lebih lanjut, praktik mengubah program-program ini menjadi kredit akademis aktual menuju gelar seringkali acak, buram, atau tidak ada sama sekali.
  2. Sejak Covid-19 melanda, konsumen pendidikan menginginkan program yang akan membantu mereka dalam jangka pendek untuk menghasilkan pendapatan untuk kehidupan sehari-hari. Bagi 33 persen calon pelajar dewasa, ini adalah motivasi utama mereka untuk mengejar pendidikan lebih tinggi, naik dari 16 persen tahun lalu. Hampir setengah (49 persen) orang Amerika mengalami gangguan kerja karena Covid-19, dengan orang Black Americans dan Latin mengalami gangguan yang lebih besar. Sebagian besar penduduk Amerika perlu melihat lebih jelas relevansi penawaran program pendidikan untuk membantu mereka memenuhi kebutuhan pangan dasar dan perumahan saat ini.
  3. Berlawanan dengan kepercayaan populer, biaya bukanlah penghalang utama untuk mengejar pendidikan dan pelatihan. Hambatan No. 1 adalah waktu dan logistik, dengan 55 persen dari semua orang Amerika melaporkannya sebagai tantangan utama mereka. Namun, 49 persen responden melaporkan bahwa keraguan diri adalah tantangan terbesar mereka, yang berarti mereka tidak berpikir bahwa mereka akan berhasil atau telah putus sekolah terlalu lama. Ini tidak mengherankan mengingat sepertiga dari semua orang yang pernah mencoba kuliah.
  4. Terakhir, dan mungkin yang paling penting, orang Amerika tidak yakin bahwa program pasca sekolah menengah akan memberikan nilai bagi mereka. Persentase calon pelajar dewasa yang sangat setuju pendidikan tambahan sepadan dengan biayanya telah turun dari 37 persen sebelum Covid-19 menjadi hanya 18 persen saat ini. Lebih buruk lagi untuk ekspektasi bahwa pendidikan tambahan akan membantu mereka mendapatkan pekerjaan yang baik, turun dari 56 persen tahun lalu menjadi hanya 24 persen saat ini.

Beberapa sentimen konsumen bertemu: kurangnya program yang disukai; persepsi hambatan waktu dan logistik bersama dengan keraguan diri; kurangnya pemahaman tentang relevansi pendidikan dengan kehidupan sehari-hari; dan kurangnya kepercayaan pada kemampuan perguruan tinggi untuk memberikan nilai. Akibatnya adalah menurunnya partisipasi dalam sistem pendidikan tinggi. Hal ini pada akhirnya akan memperburuk kekurangan bakat, terutama bakat yang beragam, untuk mendorong pertumbuhan dan pemulihan ekonomi serta untuk memenuhi janji mobilitas ekonomi.

Jadi apa yang harus dilakukan perguruan tinggi untuk menarik siswa ke program mereka?

Pertama, berikan pendidikan kepada konsumen apa yang mereka inginkan. Tanggapi dengan serius penawaran program non-gelar yang mengarah pada pekerjaan yang tersedia di masyarakat sehingga konsumen dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sementara pada saat yang sama membangun jalur menuju gelar dan pekerjaan dengan gaji lebih tinggi.

Kedua, kurangi waktu yang dibutuhkan dan kompleksitas proses pendidikan. Salah satu cara untuk mengurangi waktu untuk menyelesaikan kredensial adalah dengan menggabungkan pembelajaran, lebih disukai secara online, dengan pengalaman kerja yang sebenarnya. Struktur pendidikan sekuensial saat ini – belajar dulu, kemudian bekerja – bukanlah yang diinginkan atau dibutuhkan oleh calon pelajar dewasa. Pendidikan harus dibungkus dengan keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan untuk berhasil dalam pekerjaan, lebih disukai dalam waktu nyata. Kami tahu pendekatan ini menambah nilai bagi pekerja pembelajaran.

Ketiga, berikan pendampingan dan pembinaan berkelanjutan untuk menjaga siswa tetap pada jalur menuju tujuan mereka, yang berkontribusi pada kepercayaan diri yang mereka butuhkan untuk memulai dan bertahan hingga selesai.

Terakhir, berikan informasi kepada konsumen pendidikan tentang nilai program. Tunjukkan kepada mereka tingkat penempatan kerja, pendapatan yang diperoleh dari program-program tersebut, dan kepuasan konsumen dari mereka yang mengejar jalur yang sama dan serupa.

Calon pelajar dewasa telah memberi tahu kami bahwa mereka tertarik untuk mengejar pendidikan lebih lanjut untuk membantu mereka pulih dari gangguan yang ditimbulkan Covid-19 dalam hidup mereka. Sekarang community college harus menemui konsumen pendidikan ini di mana pun mereka berada, dan menawarkan fleksibilitas, dukungan, dan hasil yang dijanjikan yang membuat pengalaman pendidikan itu berharga di mata mereka.

Ada hal yang ingin anda tanyakan? Jangan ragu, silahkan hubungi kami. Konsultasi dengan kami gratis.

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami

Membangun Perguruan Tinggi. Gelar Sedang Menurun.

forbes.com

Tidak dapat dipungkiri bahwa pendaftaran di pendidikan tinggi AS akan turun selama 10 tahun berturut-turut. Perkiraan terbaru dari National Student Clearinghouse menunjukkan penurunan ’20 pendaftaran ‘2,5% dibandingkan tahun lalu. Hal ini akan melanjutkan slide musim semi ’21, yang akan berakhir dengan penurunan pendaftaran selama satu dekade bagi siswa yang mencari gelar. Secara keseluruhan, pada puncaknya pada musim semi 2011, 19.610.826 siswa terdaftar di Perguruan Tinggi AS. Pada musim semi tahun 2020, jumlah tersebut telah terkikis menjadi 17.458.306. Saya memperkirakan jumlahnya akan turun di bawah 17 juta musim semi ini – menjadikannya kerugian bersih lebih dari dua setengah juta siswa selama dekade terakhir.

Penurunan pendaftaran ini terjadi dengan latar belakang kampanye pencapaian perguruan tinggi yang bermaksud baik dan didanai dengan baik di banyak negara bagian dan dari banyak organisasi pendukung terkenal. Meskipun ada dorongan besar untuk memasukkan lebih banyak orang Amerika dan menyelesaikan perguruan tinggi, angkanya berlawanan arah. Dan mereka tidak akan meningkat dalam waktu dekat.

Data terbaru yang dilaporkan oleh Strada Education Network minggu lalu adalah pengingat yang membuka mata bahwa penurunan akan terus berlanjut. Persentase calon pelajar dewasa yang percaya bahwa pendidikan akan sepadan dengan biayanya turun dari 77% menjadi 59% sejak 2019; Mereka yang percaya bahwa pendidikan akan membantu mereka mendapatkan pekerjaan yang baik turun dari 89% menjadi 64%. Di atas penurunan terus-menerus dalam nilai yang dirasakan dari pendidikan tinggi, demografi usia populasi dari mahasiswa tradisional yang berusia lanjut akan turun sekitar 15% antara tahun 2025 dan 2030 – hampir ketika banyak perguruan tinggi berharap untuk pulih dari hantaman keuangan yang berkepanjangan yang disebabkan oleh Covid19. Mengingat semua ini, sangat mungkin penurunan pendaftaran akan berlanjut setidaknya selama satu dekade penuh.

Ada banyak alasan untuk penurunan selama satu dekade terakhir dalam pendaftaran mencari gelar dan itu sudah terlihat sejak lama. Siapa pun yang memperhatikan dengan cermat kenaikan biaya kuliah, menurunnya kepercayaan pada perguruan tinggi, dan meningkatnya jumlah alternatif perguruan tinggi bernilai tinggi dapat memperkirakan penurunan pendaftaran yang berkelanjutan. Tetapi banyak perguruan tinggi dan universitas terus berperilaku seperti biasanya – yaitu bereaksi lambat (jika ada) terhadap tren mahasiswa dan pasar, menggandakan gelar sebagai satu-satunya cara pendidikan mereka, dan memungkinkan biaya naik tanpa terkekang. Pendidikan yang lebih tinggi akan membutuhkan buku pedoman yang sama sekali baru untuk membalikkan atau setidaknya memperlambat penurunannya. Kami telah bersatu tahun ini untuk “meratakan kurva” untuk Covid. Pendidikan yang lebih tinggi perlu bersatu untuk “mengurangi penurunan” dalam pendaftaran.

Tapi bagaimana caranya? Rumusnya cukup jelas. Universitas yang telah memperluas penawaran pendidikan mereka melampaui gelar, menawarkan pendidikan gelar dan non-gelar dalam berbagai modalitas (di kampus, online, hybrid), bekerja untuk menurunkan atau membekukan biaya sekolah, dan yang telah memberikan perhatian yang cermat untuk mendukung kesiapan kerja siswa dan menyelaraskan dengan peluang kerja pertumbuhan tinggi adalah mereka yang berkembang saat ini. Seperti yang saya katakan baru-baru ini di The Economist, pendidikan tinggi sangat membutuhkan “kebangkitan relevansi”, di mana ia harus bekerja untuk mencapai empat tujuan strategis:

  1. Perguruan Tinggi tidak dapat membatasi dirinya pada pola pikir hanya pada gelar. Ada banyak penawaran pendidikan non-gelar bernilai tinggi yang dapat ditawarkan oleh perguruan tinggi dan universitas untuk memajukan misi mereka dan mendiversifikasi pendapatan.
  2. Perguruan Tinggi perlu melihat pertumbuhan dan skala sebagai pendorong kualitas yang lebih tinggi (bukan lebih rendah). Beberapa universitas paling sukses saat ini memungkinkan peningkatan investasi dalam pembelajaran sains dan kualitas pendidikan dengan meningkatkan pendaftaran secara cepat.
  3. Perguruan Tinggi perlu mengejar strategi pengurangan biaya. Dan ini jangan disamakan dengan bantuan keuangan yang meningkat. Itu adalah dua hal yang sangat berbeda.
  4. Perguruan Tinggi harus beroperasi sebagai sektor yang berpusat pada pelanggan. ‘Pelanggan’ berarti pelajar, orang tua, alumni, pembayar pajak, dan pemberi kerja.

Situasi saat ini di perguruan tinggi mirip dengan dongeng katak di dalam pot. Ada mitos yang mengatakan bahwa jika Anda memasukkan katak ke dalam panci berisi air yang perlahan-lahan dididihkan, katak tidak akan mendeteksi bahaya yang meningkat sampai semuanya terlambat. Semoga perguruan tinggi tidak melihat penurunan yang terus-menerus dalam pendaftaran ini sebagai hal lain selain krisis mendesak yang membutuhkan tindakan segera dan signifikan.

Ada hal yang ingin anda tanyakan? Jangan ragu, silahkan hubungi kami. Konsultasi dengan kami gratis.

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami

Mengapa Perencanaan di Pusat Dalam Perguruan Tinggi Tidak Berfungsi

forbes.com

Dalam ringkasan kebijakan yang sangat baik untuk Niskanen Center, Robert Orr menjelaskan bahwa mahalnya biaya perawatan kesehatan di Amerika Serikat adalah akibat dari relatif rendahnya jumlah dokter baru yang dihasilkan oleh sistem pendidikan tinggi kita setiap tahun. Kekurangan dokter bukanlah kebetulan. Sebaliknya, ini adalah hasil dari tekanan yang disengaja oleh pemerintah federal dan badan-badan lain untuk mengurangi pasokan lulusan sekolah kedokteran sebagai tanggapan atas persepsi “surplus dokter”.

Episode tersebut dan konsekuensi bencana adalah pengingat bagaimana menggunakan tangan berat pemerintah untuk mengarahkan berbagai sektor ekonomi biasanya menciptakan lebih banyak masalah daripada penyelesaiannya. Hal ini terutama berlaku di pendidikan tinggi, di mana intervensi politik dengan tujuan mencapai hasil ekonomi tertentu terus berlanjut.

Antara 1980 dan 2005, Orr menulis, “serangkaian laporan yang dinilai buruk oleh pemerintah federal memperingatkan tentang surplus dokter yang akan datang. Laporan ini mengantarkan pada periode di mana aktor swasta dan publik mengambil tindakan untuk membatasi pasokan dokter AS. ” Di bawah tekanan federal, sekolah kedokteran menetapkan moratorium pada institusi baru dan membekukan pendaftaran di institusi yang sudah ada.

Akibatnya, jumlah gelar kedokteran baru yang diberikan membeku sekitar 15.000 per tahun. Pada tahun 1986, sekolah kedokteran A.S. memberikan 66 M.D.s per juta populasi. Pada tahun 2006, angka tersebut telah turun menjadi 52 per juta, dan belum pulih sepenuhnya.

Saat ini, narasi “surplus dokter” telah didiskreditkan, dan banyak analis yang memprediksi kekurangan dokter. Menurut Bank Dunia, jumlah dokter per kapita di Amerika tertinggal dari rata-rata di negara-negara berpenghasilan tinggi lainnya. Pasokan dokter yang terbatas telah meningkatkan biaya perawatan kesehatan, merugikan orang Amerika di seluruh spektrum ekonomi. Kolega saya di Foundation for Research on Equal Opportunity menghitung bahwa keberlanjutan fiskal sistem perawatan kesehatan AS termasuk yang terburuk di negara maju, sebagian karena pengeluaran kesehatan publik yang tinggi didorong oleh melonjaknya biaya perawatan.

Keyakinan yang dipegang luas tetapi keliru — bahwa AS mengalami surplus dokter — menjadi bagian dari kebijakan pemerintah selama tahun 1980-an, dan sejak saat itu orang Amerika telah membayar harga untuk itu. Yang pasti, tekanan federal bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan kekurangan dokter saat ini, tetapi hampir pasti memperburuk keadaan.

Saat ini, politisi dari kedua belah pihak mendukung lebih banyak intervensi federal dalam pendidikan tinggi, dengan tujuan yang berbeda. Di awal masa jabatan pertamanya, Presiden Obama berjanji untuk menaikkan tingkat pencapaian gelar sarjana Amerika ke level tertinggi di dunia. Fokus kebijakan selanjutnya pada peningkatan pencapaian gelar sarjana telah menyebabkan perkembangan kredensial yang nilainya tidak membenarkan biaya mereka. Partai Republik juga menyerah pada godaan untuk membuat rencana terpusat. Negara bagian merah seperti Kentucky dan Arkansas telah menyalurkan dana tambahan ke dalam program pendidikan di bidang yang disukai para politisi, seperti STEM dan manufaktur.

Masalahnya adalah bahwa pembuat kebijakan tidak dapat meramalkan perubahan dalam kebutuhan pasar tenaga kerja, sama seperti mereka tidak meramalkan bahwa “kelebihan” dokter akan menjadi kekurangan. Bidang dengan bayaran tinggi seperti teknik perminyakan sedang populer saat ini, tetapi tidak ada jaminan bahwa kebutuhan pasar tenaga kerja untuk insinyur perminyakan akan bertahan selamanya, terutama jika kekhawatiran tentang perubahan iklim terus meningkat. Jika pemerintah campur tangan untuk mendukung atau menghalangi kredensial pendidikan tertentu, mereka akan menghadapi konsekuensi yang tidak diinginkan karena perubahan ekonomi dan kebijakan tidak mengikuti.

Pemerintah tidak bisa memprediksi masa depan. Tentu saja, perguruan tinggi dan universitas juga tidak bisa. Meskipun tidak ada campur tangan pemerintah, perguruan tinggi mungkin masih melakukan kesalahan saat harus meningkatkan atau menutup program pendidikan tertentu. Tetapi karena lebih dekat ke industri yang mereka pasok dengan lulusan, perguruan tinggi setidaknya agak lebih mungkin untuk bereaksi dengan tepat ketika tren pasar tenaga kerja menjadi jelas.

Daripada campur tangan untuk meningkatkan jumlah insinyur perminyakan atau mengurangi pasokan dokter, pembuat kebijakan harus memberikan insentif yang lebih kuat kepada universitas dan sekolah perdagangan untuk mengidentifikasi dan bereaksi terhadap kebutuhan pendidikan yang berubah dalam perekonomian. Misalnya, reformasi akreditasi dapat memberikan tekanan lebih besar pada petahana yang lesu di pendidikan tinggi untuk berinovasi. Selain itu, lembaga yang bergantung pada bantuan yang didanai pembayar pajak harus menghadapi sanksi jika lulusannya tidak berpenghasilan cukup untuk membenarkan hutang siswa yang mereka kumpulkan.

Reformasi ini akan mendorong institusi untuk menekankan jurusan dan bidang yang memiliki pendapatan tinggi saat ini, tetapi juga menginspirasi mereka untuk memperhatikan tren di pasar tenaga kerja dan mengembangkan program yang mungkin akan diminati dalam waktu dekat.

Dengan gaji dokter di stratosfer, sistem pendidikan tinggi yang lebih selaras dengan tren pendapatan dan kebutuhan pasar tenaga kerja hampir pasti akan menghasilkan lebih banyak dokter. Daripada bergantung pada politisi untuk memprediksi masa depan, kita harus mengeksploitasi kekuatan pasar yang bebas dan fleksibel di pendidikan tinggi untuk mempersiapkan generasi berikutnya untuk ekonomi masa depan.

Ada hal yang ingin anda tanyakan? Jangan ragu, silahkan hubungi kami. Konsultasi dengan kami gratis.

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami

R.B.G. Dan Masa Depan Perguruan Tinggi

Justice Ruth Bader Ginsburg – forbes.com

Sudah seminggu sejak kita kehilangan Hakim Ruth Bader Ginsburg. Seorang Amerika yang benar-benar hebat atas pengabdiannya di Mahkamah Agung, tetapi juga untuk pembelaannya yang inovatif dalam beberapa dekade sebelumnya, R.B.G. meninggal di Erev Rosh Hashanah. Hari ini dia menjadi wanita pertama dan Yahudi pertama yang berbaring di negara bagian di Capitol. Sekarang kami memulai pertempuran epik yang akan mendefinisikan ulang bukan hanya satu, tetapi dua institusi nasional yang bertugas melindungi kebebasan yang kami peroleh dengan susah payah. Di tahun baru ini, kita menjadi lebih buruk dalam segala hal tanpa R.B.G.

Perawakannya kecil, tidak ada yang lebih galak dalam mempertahankan peluang selain Justice Ginsburg. Keputusan mayoritasnya di U.S. v. Virginia (1996) menetapkan bahwa Klausul Perlindungan Setara Amandemen Keempat Belas melarang Virginia Military Institute (VMI) untuk mengecualikan wanita; VMI sama sekali gagal memberikan “justifikasi yang sangat persuasif” yang diwajibkan secara konstitusional untuk mendiskriminasi berdasarkan gender. Pada 2017, Justice Ginsburg mengunjungi VMI dan berbicara kepada taruna yang berkumpul, termasuk 200 perempuan yang tidak akan mendapat kesempatan.

R.B.G. sama ganasnya dalam pembelaannya terhadap kesempatan yang ditolak, yang paling terkenal dalam perbedaan pendapatnya yang terkenal di Ledbetter v. Goodyear Tire (2007). Lily Ledbetter bekerja di pabrik Goodyear di Alabama selama hampir 20 tahun, naik ke posisi manajer area. Pada akhir masa jabatannya, penghasilannya 15-30% lebih rendah daripada pria yang dipekerjakan dalam peran yang sama. Sementara Mahkamah Agung menguatkan keputusan Sirkuit Kesebelas bahwa kegagalan Ledbetter untuk mengajukan keluhan kepada EEOC pada saat perbedaan gaji pertama (kapan pun itu) berarti bahwa dia telah meninggalkan klaimnya di bawah Equal Pay Act, apa yang diingat dari kasus tersebut adalah ketidaksetujuan dan akhirnya persuasif Justice Ginsburg yang mendorong Kongres untuk mengesahkan Lily Ledbetter Fair Pay Act tahun 2009, yang meniadakan keputusan Mahkamah Agung.

Saat dia menulis dalam perbedaan pendapat Ledbetter-nya, “Perbedaan gaji sering terjadi, seperti yang terjadi dalam kasus Ledbetter, dalam peningkatan kecil; alasan untuk mencurigai bahwa diskriminasi di tempat kerja berkembang hanya dari waktu ke waktu … Perbedaan awal yang kecil mungkin tidak terlihat sebagai pertemuan untuk kasus federal, terutama ketika karyawan, yang mencoba untuk berhasil dalam lingkungan non-tradisional, menolak untuk membuat gelombang. ” Dalam hal ini, ia dengan tepat membedakan diskriminasi gaji dari tindakan merugikan yang lebih berbeda seperti pemutusan hubungan kerja, kegagalan untuk mempromosikan, atau penolakan untuk mempekerjakan.

R.B.G. yang terkenal jahat akan memahami krisis kelayakan kerja yang telah melanda kaum Milenial dan sekarang mencapai tingkat pandemi bagi calon pemula karir. Seperti diskriminasi, setengah pengangguran lebih merayap daripada diskrit. Mengambil pekerjaan pertama yang memungkinkan Anda melakukan pembayaran pinjaman pelajar Anda mungkin tampak seperti langkah yang tepat. Tetapi karena perusahaan kedua dan ketiga sangat peduli dengan pekerjaan pertama – mungkin lebih tentang pekerjaan pertama daripada tempat Anda belajar, apa yang Anda pelajari, atau apakah Anda kuliah dulu – pada saat Anda mencari pekerjaan baru beberapa tahun kemudian, banyak peluang di luar jangkauan.

Sementara yurisprudensi R.B.G. menjelaskan sifat berbahaya dari diskriminasi, untuk memahami ruang lingkup setengah pengangguran, kami beralih ke S.B.G .: laporan Strada-Burning Glass The Permanent Detour. Di antara jutaan lulusan setengah menganggur pada pekerjaan pertama mereka, 2/3 menganggur lima tahun kemudian, dan setengahnya setengah menganggur satu dekade kemudian. Jadi, pekerjaan pertama yang kurang optimal bisa sama merugikannya dengan perbedaan gaji pertama Lily Ledbetter, dan setiap insiden pengangguran terselubung kemungkinan akan sangat dirasakan, dan berkontribusi pada frustrasi dan permusuhan.

Itu akan menjadi perguruan tinggi atau universitas tempat mereka membayar uang sekolah dan biaya selama empat tahun atau lebih. Sayangnya, kearifan konvensional perguruan tinggi tetap membeku dalam percakapan yang saya lakukan beberapa tahun yang lalu dengan seorang Dekan di universitas negeri ternama yang mengatakan kepada saya dengan terus terang bahwa bukan masalah dia jika lulusan tidak mendapatkan pekerjaan yang baik. Itu juga tercermin dalam tweet baru-baru ini oleh salah satu suara EduTwitter yang paling terkemuka, Sara Goldrick-Rab, seorang Profesor Sosiologi di Temple University dengan hampir 50.000 pengikut akademis.

Tidak diragukan lagi bahwa perguruan tinggi bermanfaat bagi masyarakat. Manfaat publik dari perguruan tinggi termasuk lebih banyak orang Amerika dengan lebih banyak pengalaman pendidikan, lebih banyak orang Amerika dengan – seperti yang dikatakan Lumina Foundation – kredensial nilai, dan warga negara yang lebih berpendidikan. Setengah pengangguran menyangkal kesempatan untuk orang tertentu. Jadi tidak seperti rezim totaliter abad ke-20 yang siap dan bersedia menghapus kehidupan nyata demi komunitas atau ideologi, menyatakan atau menyiratkan bahwa perguruan tinggi pada prinsipnya adalah kebaikan publik menutupi perbedaan-perbedaan ini dan menyederhanakan kerusakan nyata yang dilakukan terhadap jutaan orang Amerika dan mereka. keluarga.

Ada masalah lain dalam memandang pendidikan tinggi sebagai barang publik. Jika itu adalah barang publik, siapa yang memutuskan bagaimana mengalokasikan sumber daya untuk itu dan di dalamnya? Jika tidak ada kekuatan pasar yang berperan, bagaimana hal itu dapat meningkat, apalagi menyelaraskan dengan dunia pemberi kerja yang (mungkin) tidak juga dikendalikan oleh pemerintah? Dan jika itu adalah barang publik, apakah ada rumus untuk menghitung laba atas investasi sosial? Jika ya, apakah itu? Dan jika tidak, apakah itu akibat dari jumlah yang disengaja atau nihilisme fiskal?

Satu generasi yang lalu, ketika fakultas tetap saat ini lulus dari perguruan tinggi, gelar dalam hampir semua hal, dari hampir semua sekolah, memberi lulusan kesempatan bagus untuk mendapatkan pekerjaan pertama yang baik. Dulu, bisnis tidak terlalu digerakkan oleh data dan kompetitif, dan pengusaha lebih santai tentang semuanya. Banyak yang bahkan memiliki program pelatihan untuk karyawan baru dengan anggaran yang sebenarnya.

Sementara sikap pengajar mungkin tidak berubah, dunia lain telah berubah. Dan sementara pendidikan tinggi memiliki banyak manfaat publik – karena tingginya biaya universitas negeri seperti Temple (biaya kuliah dalam negeri dan biaya $ 35,371, $ 23,536 bersih dari beasiswa dan hibah) – ini terutama merupakan barang pribadi di mana individu memutuskan untuk menginvestasikan waktu dan uang sebagai imbalan pembayaran di jalan. Dan karena kita hidup di dunia nyata – bukan di jurnal akademis – untuk hampir semua orang kecuali yang paling kaya, imbalan itu pasti ekonomis. Jadi fokus pada ROI individu tidak bisa dihindari. Alternatifnya berselisih dengan pandangan R.B.G. tentang peluang, belum lagi prinsip-prinsip dasar hak asasi manusia dan kebebasan.

“Berjuang untuk hal-hal yang Anda pedulikan, tetapi lakukan dengan cara yang akan membuat orang lain bergabung dengan Anda.”

  • Ruth Bader Ginsburg

Bagi fakultas seperti Profesor Goldrick-Rab, tidak setuju berarti menentang pendidikan, yaitu menjadi filistin. Dalam hal ini, fakultas meminjam strategi dari kanan, mencap mereka yang berpikir secara berbeda sebagai musuh. Melalui ideologi dan fitnah, mereka bertujuan untuk memastikan aliran dana dan siswa yang tidak perlu bertanya ke institusi mereka, dengan demikian memastikan keamanan pekerjaan mereka sendiri. Tetapi mereka harus mendengarkan banyak staf pengajar dan dosen tambahan di departemen mereka sendiri yang mencoba mencari nafkah dengan merangkai kursus: akses ke pendidikan tinggi – bahkan program doktoral – tidak ada jaminan stabilitas atau kesuksesan. Ketidakpedulian fakultas tetap terhadap cedera pribadi yang sangat nyata ini – tidak sama sekali akademis – tidak dapat dipertahankan.

Namun, saya serahkan bahwa sebagian besar fakultas ingin melakukan hal yang benar. Peristiwa tahun 2020 telah meningkatkan pengakuan bahwa siswa mereka berasal dari berbagai latar belakang dan menghadapi banyak tantangan dalam bertahan, menyelesaikan, dan mendapatkan pekerjaan yang baik. Kita semua dapat sepakat bahwa siswa terlalu banyak memiliki hutang, dan akan produktif jika kita dapat mengetahui bagaimana mengukur beberapa dari banyak manfaat publik dari pendidikan tinggi untuk membenarkan mempertahankan atau meningkatkan tingkat investasi publik saat ini.

Tetapi menyatakan bahwa pendidikan tinggi pada dasarnya (atau sama sekali) bukan merupakan barang pribadi adalah hal yang menggelikan. Pendapat R.B.G. dalam kasus VMI adalah tentang memastikan bahwa “manfaat pendidikan unik” dari pendidikan VMI tersedia bukan untuk beberapa kolektif amorf, tetapi untuk individu tertentu yang – terlepas dari jenis kelamin – memenuhi standar penerimaan. Ketika kekacauan pendidikan tinggi terus berlanjut di tahun-tahun mendatang, fakultas yang menyatakan bahwa pendidikan tinggi bukanlah milik pribadi, atau yang bahkan mempercayainya, akan memaksa para pemimpin perguruan tinggi dan universitas untuk melewati atau membatalkan apa yang tersisa dari tata kelola bersama. Dan itu sangat buruk. Karena ketika pendidikan tinggi mencoba memperbaiki dirinya sendiri pasca-Covid, kami dapat menggunakan semua bantuan yang kami dapat.

Lima puluh tujuh persen pemilih kelas pekerja sekarang percaya bahwa gelar sarjana akan “menghasilkan lebih banyak hutang dan sedikit kemungkinan mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang baik”. Jadi fakultas yang kesal – seperti juga saya – bahwa pergolakan politik yang dipicu oleh kelulusan RBG berarti bahwa dia tidak akan mendapatkan pengakuan abadi yang layak diterimanya harus diingat bahwa Senat ini dipilih oleh jutaan pemilih yang berjuang secara ekonomi dan tidak terpengaruh. -dilayani, terluka, dan didiskriminasi oleh sistem pendidikan tinggi kita saat ini.

Ada hal yang ingin anda tanyakan? Jangan ragu, silahkan hubungi kami. Konsultasi dengan kami gratis.

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami

Harga Kualitas Perguruan Tinggi

hospitalityinsights.ehl.edu

Sistem Perguruan Tinggi AS sedang mengalami krisis. Sangat menggoda untuk mengatakan bahwa akar masalahnya terletak pada biaya universitas yang semakin tinggi, terutama di universitas paling bergengsi, seperti yang disarankan oleh Financial Times [1].

Setelah dilihat lebih dekat, jelas bahwa harga bukanlah masalah utama yang dihadapi, sebenarnya justru sebaliknya. Pada kenyataannya, hambatan utama berkaitan dengan pendekatan pedagogis yang digunakan di universitas tradisional, yang sepenuhnya teoretis dan tidak disesuaikan dengan sebagian besar siswa. Penegasan terakhir ini mungkin tampak berlawanan dengan intuisi, tetapi ini hanya menyiratkan bahwa masalah yang berkaitan dengan pendidikan tidak dapat dianggap di luar arena pedagogis.

Sekolah Kejuruan Seharusnya tidak Gratis

Contoh kasusnya adalah walikota Chicago, Mr. Emmanuel, yang memutuskan untuk mengatasi masalah ini dengan membentuk kembali sistem komunitas perguruan tinggi. Community college AS setara dengan sekolah kejuruan Jerman dan bertujuan menyediakan pendidikan yang lebih teknis dengan tingkat keterlibatan yang lebih tinggi di industri daripada universitas tradisional. Tn. Emmanuel menggarisbawahi bahwa community college tidak perlu gratis. Data sebenarnya menunjukkan bahwa ketika sekolah kejuruan benar-benar gratis, hanya satu dari empat siswa yang mencapai kursus akhir. Seperti yang dijelaskan Profesor Austan Goolsbee dari Chicago’s Booth School of Business, harga nol meningkatkan permintaan tanpa mengubah pasokan. Kebijakan yang lebih baik untuk sekolah-sekolah ini tentunya harus mengimplikasikan kenaikan harga dan perbaikan dalam infrastruktur dan kualitas pengajaran.

Cara lain untuk memahami masalahnya adalah dengan memikirkan tentang arti menetapkan harga. Harga mencerminkan kesediaan untuk membayar, dengan kata lain, nilai yang melekat pada produk oleh pembeli. Pada saat yang sama, ini mencerminkan biaya produksi barang tersebut. Biaya universitas nol mengirimkan sinyal bahwa tidak ada biaya dalam menghasilkan layanan. Plus, ini berisiko menarik semua orang, termasuk mereka yang tidak memiliki minat yang tulus dan dalam untuk menerima jenis pendidikan tertentu. Sebaliknya, harga yang positif menunjukkan bahwa biaya pendidikan itu penting dan hanya mereka yang menghargainya yang boleh mengaksesnya. Tentu saja, dalam lingkungan seperti itu, motivasi yang kuat, dan bukan hanya kemampuan membayar, harus menjadi sangat penting. Sistem meritokratis harus memberikan preferensi kepada siswa terbaik dengan motivasi yang tepat untuk memiliki akses ke pendidikan, terlepas dari kemampuan finansial mereka.

Menggabungkan Keunggulan Akademis dan Seni Terapan

Kembali ke konsep kualitas. Apa yang kami maksud dengan kualitas pendidikan dalam konteks sekolah terapan? Menurut pendapat kami, kualitas pengajaran tercermin dalam kemampuan untuk menggunakan beberapa teknik, yang sedikit banyak diterapkan, untuk mengkomunikasikan konsep mendalam yang sama yang diajarkan di universitas yang lebih tradisional. Kualitas untuk sekolah kejuruan berarti memungkinkan siswanya untuk transit ke institusi yang lebih tradisional untuk studi pascasarjana mereka. Begitulah cara kami mempromosikan kombinasi keunggulan akademik dan seni terapan.

Di EHL, pengalaman terapan dari dosen dan Profesor klinis kami digabungkan dengan pendekatan akademis penuh dari Profesor riset kami. Berkat pengalaman praktis mereka, siswa kami dapat dengan mudah memahami bagaimana menerapkan konsep kompleks pada kenyataan. Ini memungkinkan kita untuk mengatasi kesulitan yang biasa terkait dengan pengertian abstrak, tanpa kehilangan makna yang dalam.

Seperti kita ketahui, dalam hal biaya, EHL menempatkan dirinya pada level yang sama dengan universitas terbaik AS. Apakah akan lebih baik jika sekolah benar-benar gratis? Mungkin tidak. Dalam dunia di mana informasi tidak sempurna dan kita tidak dapat mengukur dengan tepat kualitas pendidikan, harga menjadi tanda kualitas. Tentu saja, sinyal harus didukung oleh muatan akademis yang dalam, yang bagaimanapun juga, yang sangat penting bagi masyarakat yang ingin mencapai pertumbuhan struktural dan organik dalam jangka panjang.

Ada hal yang ingin anda tanyakan? Jangan ragu, silahkan hubungi kami. Konsultasi dengan kami gratis.

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami