-
Makan Makanan Pencuci Mulut Tradisional khas Korea di Hotel Terkenal
Jika kalian ke Korea, ada satu tempat makan di sebuah hotel yang sangat terkenal di Korea. Shilla Hotel adalah hotel dimana Bill Gates, George W. Bush, dan Michael Jackson pilih selama menetap di Korea. Hotel ini pun menjadi pilihan diadakannya gelaran pesta mewar ala selebritis Korea. Shilla Hotel masuk ke dalam salah satu peringkat dari 500 hotel terbaik dunia versi majalah Travel and Leisure. Hotel ini memiliki dessert tradisional Korea yang sangat terkenal memiliki rasa enak namanya Patbingsoo (팥빙수). Patbingsoo ini merupakan makanan pencuci mulut yang terkenal di Korea saat musim panas. Makanan ini merupakan kombinasi dari serutan es krim, susu, potongan kue beras, dan kacang merah yang manis. Kemudian ditambahkan dua sekop potongan mangga yang rasanya sangat manis. Dijamin membuat musim panas kamu akan jadi lebih berwarna 😀
-
Mengunjungi Gereja Terbesar di Dunia
-
Berjalan-jalan Hingga ke Korea Utara
Ingin merasakan sensasi berjalan-jalan dan mengambil foto di negara paling rahasia di dunia? Bisa kok! Caranya kalian bisa mengikuti Demilitarized Tour (DMZ) dari Seoul, Korsel. Para turis asing bisa mengunjungi Korea Utara dan kembali dengan selamat. Bagaimana mungkin? Mungkin aja kok kalau kalian datangnya ke area yang bernama Panmunjum. Panmunjum ini merupakan area keamanan berbagi antara Korea Selatan dan Korea Utara. Di area tersebut kalian bisa berdiri di bangunan milik Korsel dan berdiri langsung di tanah Korea Utara. Asyik ya!
-
Tarian Gangnam di Distrik Gangnam
-
Tinggal di Rumah Tradisional Korea
Jika kalian berpikir ingin tinggal di luar Seoul selama berada di Korea, kalian bisa pergi ke daerah Gyeongju. Disana kalian bisa tinggal di Sarangchae yang terletak sekitar 5 menit dari Royal Domb dan dekat dengan Cheomseongdae, salah satu kawasan observasi tertua di Asia. Tinggal di rumah-rumah tradisional Korea yang sudah berdiri pada zaman kerajaan memiliki sensasi tersendiri. Tidur langsung di atas lantai dengan dinding yang masih terbuat dari lapisan kertas. Seru deh pokoknya 😀
-
Mengunjungi Museum Kimchi
-
Boryeong Mud Festival
Ada hal yang ingin anda tanyakan ? Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .
Email: info@konsultanpendidikan.com
Kalau bicara dengan culture gap, biasanya justru akan bikin kita senyum-senyum sendiri. Ketimbangan budaya biasanya bisa jadi lelucon seru ketika ngobrol tentang pengalaman kamu. Tapi, kalau inget-inget pas kejadian, kadang kali menimbulkan sakit hati juga, sih! But nothing is wrong with culture. We just have to suit ourselves, jangan buru-buru mengambinghitamkan budaya kalau suatu hari, kamu justru jadi salah tingkah karena persoalan culture gap ini.
Sebagai gambaran nih, ketika ditawarin sesuatu, kadang kita suka sungkan untuk bilang iya atau nggak. mau bilang iya, takut dikira rakus, mau bilang nggak, ko ya kepingin. Akhirnya, kita memilih untuk menjawab “Thanks”. Kita mengira ini tindakan paling tepat saat itu. But thefact, justru bertolak belakang!
Sikap jujur mereka nggak bakal bikin mereka tersinggung, kok. Mereka besar dengan budaya itu. Ngomong apa adanya. Mau bilang mau, enggak bilang enggak. Kamu nggak perlu sungkan. Memang, seperti Adhit, awalnya kita merasa agak risih dengan sikap terbuka mereka. kadang kita menganggap omongan mereka kelewat kasar, padahal buat mereka itu biasa saja. Kalau sudah begini, yang harus kita lakukan adalah beradaptasi. Kalau kita nggak bisa beradaptasi, tinggal di sana Cuma bisa sakit hati setiap harinya. Akhirnya, kita jadi orang yang gampang tersinggung dan kuper!
Berbeda lagi dengan di Jepang. Budaya orang Jepang sangat mirip dengan budaya Solo-Jogja, penuh ungguh-ungguh, ada hubungan yunior-senior, tua-muda. “di dalam kampus, sensei/professor punya kekuasaan yang luar biasa. Mereka bisa memberikan legitimasi atau delegitimasi yang berlaku di seluruh Jepang, “ tulis Zamroni yang mengambil program doctoral di Nagoya, Jepang lewat e-mail.
Ritme hidup memang slaah satu gap yang cukup luar biasa. Nggak Cuma antarnegara. Bahkan antarnegara bagian dalam satu Negara pun memiliki ritme hidup yang berbeda. Kalau tadi Jeffri menceritakan tentang kultur Australia yang cendrung santai dibandingkan Indonesia, khususnya Jakarta, maka akan lain pula dengan Negara lain. Di Amerika, ataupun Chicago. Namun kalau kita berkunjung ke kota-kota kecilnya, maka kesan ramah dan homey pun akan terasa. Orang masih punya waktu untuk saling menyapa dan bertanya kabar. Masih saling mengenal satu sama lain. Namun, kalau urusan kerja, ritmenya memang sangat cepat.
Bukan rahasia umum kalau perbedaan yang paling kentara antara Negara maju dengan Negara berkembang adalah teknologi dan fasilitasnya. Culture gap paling besar justru di rasakan Roni pada persoalan teknologi dan fasilitas yang ada di Negeri Matahari terbit ini. Jepang yang memang terkenal dengan teknologinya membuat siswa internasional yang berasal dari Negara berkembang harus bisa menjembatani ketimpangan budaya di bidang ini.
Sambil tertawa terbahak-bahak, dia naik ke atas kursi dan menekan tombol yang ada didekat smoke detector. Otomatis bunyi berhenti. Ruangan dipenuhi ikan asin gosong dan asap. Ketika bunyi berhenti, dia dan temannya tertawa terbahak-bahak. Beberapa bertanya, apa yang digoreng sehingga menyebabkan smoke detector berbunyi. Setelah rungan nggak dipenuhi asap, para pelajar dan kawan kita menyantap ikan asin yang digoreng bersama kawan-kawan lainnya sambil ngobrol tentang masakan asli Negara masing-masing.
Saat itu, merasa beruntung karena sempat bertanya kepada pemilik trailer bagaimana cara menghentikan smoke detector bila berbunyi ketika pertama kali mendiami trailer tersebut.
Selain kasus kran air, saya pernah kebingungan dengan sistem flush toilet di sebuah airport di Amerika. Sayang, saya lupa airport di Negara bagian mana. Sehabis buang air kecil, saya berusaha mencari tangkai atau tombol flush untuk menyiram.pastinya, nggak ada gayung atau pun ember untuk menampung air di sana. Semua restroom di sana adalah jenis yang kering. Saya cari-cari, bagian mana yang harus saya tekan. Putus asa karena nggak berhasil menemukannya, akhirnya saya jongkok di depan toilet. Sinar merah berkedip-kedip, seperti sebuah detektor. Saya gerakan tangan saya. Tetap nggak ada reaksi. Sampai kemudian saya teringat tentang kran di Jepang yang bekerja dengan mendeteksi telapak tangan. Lalu, saya gerakan telapak tangan saya di depan detektor itu. Splassssh….. flush toilet itu pun bekerja. Selain jenis begini, ada juga flush toilet yang bekerja secara otomatis begitu kita ke luar dari bilik.




