Dewasa ini tindak kekerasan dan diskriminasi terjadi dimana-mana, adanya kelas sosial memecah berbagai ras dan suku suatu bangsa dan kemiskinan yang sangat berat melanda sebagian besar kehidupan warga, inilah periode kaum aparteid yang ada di negara Afrika Selatan.
Menanggapi fenomena ini, beberapa waktu lalu, cucu dari aktivis Mohandas ‘Mahatma’ Gandhi yakni Ela Gandhi berpidato pada acara Curtin Human Rights Day 2013. Acara ini diselenggarakan untuk memperingati hari jadi Curtin Centre for Human Rights Education yang ke-10.
Ela Gandhi menceritakan pengalamannya saat bekerja bersama mendiang Nelson Mandela dalam kegiatan pemberontakan pergerakan periode kaum aparteid yang ada di Afrika Selatan.
Setelah kepergian Nelson Mandela, Ela masih melanjutkan kegiatannya. Selain itu beliau pun berbicara tentang theory of active participation yang ada dalam masyarakat demokrasi.
“Apa yang kita lihat sekarang adalah masalah sosial yang jarang diperhatikan orang-orang, kecuali orang-orang tersebut terlibat di dalamnya,” ujar Ela Gandhi.
Dia menambahkan, “Populasi yang tertarik, memberikan informasi, dan memiliki pendidikan dapat berpartisipasi pada masalah ini.”
Pada tahun 1975, cucu dari Mahatma Gandhi ini pernah mengalami kejadian yang tida menyenangkan, Ia pernah ditahan selama lima tahun dan dilarang melakukan kegiatan aktivis selama sembilan tahun. namun, perjuangan Ela Gandhi yang gigih membuatnya tetap melanjutkan kegiatan ektivisnya di bawah tanah, walaupun Ia harus menerima kenyataan pahit karena putranya dibunh dan teman-temanya dipenjara karena melibatkan diri.
“Orang-orang dipenjara dan beberapa diantaranya dibunuh oleh sistem penindasan,” kata Ela saat menceritakan pengalamannya berjuang bersama Mandela.
Hubungan Ela Gandhi dengan Mandela diawali saat Ela pergi mengunjungi Mandela di penjara bersama United Demographic Front of Delegation sebelum akhirnya Mandela dibebaskan pada tahun 1990. Ela mengatakan, Ia sangat terkejut melihat Mandela yang masih sangat optimis walaupun sedang ditahan.
“Dia (Mandela) mengatakan kepada kita bahwa cinta adalah kunci dari pemerintahan demokrasi, dan ini hanya bisa terjadi jika kita belajar untuk mencintai, sehingga akhirnya kita bisa membawa perubahan,” ucap Ela Gandhi. “Ajarannya sangat berpengaruh, Dia adalah pahlawan kita.”
“Kakekku juga sama, putraku tebunuh saat periode aprtheid, dan Aku harus berpikr jika Aku dihadapkan dengan para pelaku, Aku akan memaafkan mereka dan menawarkan jabat tangan sehingga mereka (para pelaku) bisa bergabung dalam perubahan,” cerita Ela.
Ela Gandhi pun mengatakan, Ia kagum dengan kerja keras yang telah dilakukan oleh orang-orang di Curtin Centre for Human Rights Education.
“Salah satu alasan mengapa Aku rasa Curtin Centre for Human Rights Eduation bekerja adalah karena ini menyangkut masalah kemanusiaan,” ucapnya.
“Ini adalah model yang harus ditiru oleh universitas lainnya.”
Acara Curtin Human Rights Day 2013 diakhiri dengan beberapa pertanyaan dari para pengunjung. Seorang perempuan muda mengangkat tangannya dan bertanya, “Apa yang Anda suka dari menjadi cucu seorang Mahatma Gandhi?”
Mendengar pertanyaan tersebut, Ela Gandhi pun tersenyum dan menjawab, “Aku merasa beruntung lahir dalam keluarga ini. Aku hanya orang biasa dan memulai dari sesuatu yang kecil, ini semua tergantung pada hasrat yang kalian miliki.”
Selain Ela Gandhi, acara ini pun dihadiri oleh pembicara nasional dan internasional dan membahas seputar masalah kemanusiaan yang terjadi di dunia sekarang ini.
Siapakah Mahatma Gandhi?
Mahatma Gandhi dikenal sebagai Bapak Perubahan Pergerakan India. Gandhi menghabiskan waktunya selama 20 tahun di Afrika Selatan untuk memerangi masalah diskriminasi. Dia menciptakan konsep bernama “satyagraha”, sebuah jalan protes menentang ketidakadilan. Saat di India, Gandhi dikenal sebagai orang yang ramah, sederhana, dan disayangi semua orang. Dia menghabiskan siswa hidupnya bekerja keras untuk menghilangkan peraturan dari Inggris demi kehidupan masyarakat India kalangan bawah menjadi lebih baik dan tenteram. Berkat perjuangannya, banyak aktivis kemanusiaan kelas dunia menggunakan konsep satyagraha milik Mahatma Gandhi untuk melawan kekerasan, salah satu pengguna konsep ini adalah Martin Luther King Jr.
Nama asli dari aktivis keturunan India ini adalah Mohandas Karamchand Gandhi. Nama Mahatma sendiri memiliki arti “jiwa yang kuat”. Selain itu Gandhi juga dikenal sebagai Bapak Nasional dan Gandhiji. Mahatma Gandhi lahir pada 2 Oktober 1869 dan wafat pada 30 Januari 1948. Gandhi telah memiliki seorang istri dengan dua orang putra.
Mahatma Gandhi dikenal sebagai pekerja keras dalam memperjuangkan hak-hak manusia. Perjuangannya tersebut membuatnya menjadi terkenal. Perjuangan Gandhi tersebut sempat memenuhi headline surat kabar di Inggris dan India pada saat itu. Gandhi pun merupakan pimpinan dari komunitas masyarakat India yang ada di Afrika Selatan.
Jasa-jasa Mahatma Gandhi masih dikenang hingga kini, tak sedikit generasi-generasi penerus bangsa meneruskan langkahnya dalam memperjuangkan hak-hak manusia di muka bumi.
Ada hal yang ingin anda tanyakan ? Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .
Email: info@konsultanpendidikan.com
Hai guys buat kalian yang ingin melanjutkan pendidikan di Amerika Serikat atau mungkin sudah berkuliah di negeri paman sam tersebut ada fakta-fakta menarik yang bisa perlu kalian ketahui nih seputar perguruan tinggi di Amerika. Apa aja ya fakta menarik tersebut? Yuk simak fakta menarik yang sudah kami rangkum.. cekidot 😀
Misalnya nih, masalah pergaulan bebas. Di Negara-negara Barat, tinggal bersama sebelum menikah bukan sebuah persoalan dan nggak dianggap bertentangan dengan norma yang ada. Sementara, di Negara kita, persoalan seperti itu jelas bertentangan dengan norma. Ini yang dimaksud membedakan dengan tepat mana adaptasi, mana yang terseret arus westernisasi. Nggak melakukan hal itu, nggak lantas membuat kamu di cap kuno, kok. Begitu pula sebaliknya. Melakukan hal itu, nggak bikin kamu dianggap modern juga. Ini hanya masalah pilihan.
Kawan-kawan internasional pernah bertanya apakah saya lesbian. Tentunya saya kaget dengan pertanyaan itu. Namun, setelah ngobrol, saya paham kenapa mereka menyakan hal tersebut. Bagi mereka, perempuan tinggal sekamar dengan perempuan itu aneh, dan mengarah dengan indikasi homoseksual. Lalu, saya menjelaskan kepada mereka kenapa saya memilih roommate berjenis kelamin sama. Bukan karena saya lesbian, tetapi karena persoalan agama dan norma kebudayaan yang ada di Negara saya. Mereka pun bisa memahami alasan saya tersebut.
Baru menyadari hal ini ketika tinggal di Amerika. Pelajar Indonesia yang perempuan, punya kecendurangan suka jalan sambil bergandengan tangan. Hati-hati kalau melakukan hal ini diruang publik. Mereka bisa menganggap kamu homoseksual! Jadi, sebaiknya hindari jalan bergandengan tangan ditempat umum dengan teman yang memiliki kelamin yang sama.
Kalau kamu muslim dan termasuk pelajar yang berencana akan mencari kerja sampingan sambil sekolah nanti, sebaiknya kamu juga memerhatikan hal yang satu ini: waktu sholat. Sebaiknya, dari awal kamu menerangkan kepada bosmu ada jam-jam tertentu di mana kamu minta izin untuk melakukan ibadah. Kalau kamu nggak memberitahu mereka, lalu tiba-tiba menghilang waktu sholat tiba, hal ini bisa menimbulkan penilaian negative. Kamu dianggap mangkir. Upah kerja di luar negeri umumnya di hitung berdasarkan per-jam. Jadi jangan sampai kamu dianggap mencuri jam kerja buat bermalas-malasan.
Untuk menghemat biaya penginapan, saya menyewa satu kamar hotel. Ketika menjelang tidur, ketiga teman saya meninggalkan pakaian yang mereka kenakan. Teman perempuan saya yang berasal dari Polandia dengan cuek melepas semua pakaian hingga yang tersisa hanyalah pakaian dalam. Dua teman lelaki saya juga melakukan hal serupa. Mereka hanya mengenakan celana dalam. Saya memilih mengganti pakaian main saya dengan pakaian tidur—kaus dan celana pendek—di kamar mandi. Ketika saya keluar dari kamar mandi, kawan saya bertanya, “where will you go?”











Umumnya, siswa internasional dan orang tua mereka hanya mengenal nama universitas yang sudah mendunia atau terkenal saja seperti, Harvard University, the University of Pennsylvania, atau Stanford. Padahal, ada lebih dari 2.000 colleges dan universitas yang ada di Amerika Serikat, kesemuanya menawarkan standar kualitas pendidikan yang tinggi dan terbaik. Kebanyakan siswa internasional yang ingin berkuliah di Amerika hanya berfokus pada universitas yang terkenal, dibanding pilihan universitas lainnya yang mungkin cocok dengan kemampuan akademis siswa internasional. Selain itu, sejak banyak siswa internasional mendaftar di universitas yang sama di AS, maka persaingan akan lebih sulit. Daripada begitu, akan lebih baik jika siswa internasional melihat kesempatan dan mengembangkan kemampuannya pada universitas lain yang juga memiliki kualitas pendidikan terbaik di Ameriak Serikat, walaupun universitas atau college tersebut belum begitu dikenal.
Banyak siswa internasional bertanya mengenai daftar college mana saja yang menawarkan beasiswa penuh untuk siswanya. Faktanya, universitas-universitas di AS tidak memberikan bantuan keuangan atau beasiswa untuk siswa internasional. Siswa internasional diminta untuk sedikitnya berkontribusi pada biaya pendidikan mereka. Jumlah yang harus dibayarkan dilihat dari kondisi keuangan keluarga, asset, dan hal lain yang berhubungan dengan keuangan, pembayaran dilakukan dengan memperhatikan kenyamanan orang tua dalam membayar. Penting untuk mempelajari aturan-aturan apakah tersedia bantuan keuangan yang disediakan oleh universitas.
Walaupun nilai dan skor tes tinggi bakal menjadi faktor penting dalam penerimaan di universitas yang kalian inginkan, tapi banyak college juga melihat dari hal lainnya selain nilai dan skor tes yang tinggi. Beberapa universitas atau college akan menanyakan hal seperti surat rekomendasi dari guru, untuk mengetahui tingkat intelektual dan kebiasaan yang kalian miliki untuk bisa sukses di dalam akademis yang dipilihnya. Universitas di Amerika juga tertarik perbedaan budaya yang dimiliki siswa internasional. Petugas pendaftaran akan melihat siapa kalian sebenarnya dan apa yang akan kalian bawa di dalam kelas.

Membuat catatan tentang betapa bangsa kita pada beberapa sisi unggul dibandingkan bangsa lain. Entah itu Amerika atau Eropa. Dan ini harus nya membuat kita nggak perlulah merasa minder bergaul dengan mereka. Memang, terkadang, kita menerima perlakuan dan sikap meremehkan dari mereka. hal itu terjadi hanya karena mereka kurang memiliki wawasan internasional dan jarang berhadapan dengan orang asing. Teman-teman yang sering kali bergaul dengan siswa internasional justru memiliki penilaian tersendiri tentang pelajar-pelajar dari Indonesia ataupun Asia pada umumnya. Mereka sering berkagum-kagum dengan kita yang sekolah sampai jauh dan memiliki pengetahuan yang sebenarnya luas. Luas karena sistem pendidikan kita memaksa kita belajar banyak hal. Walaupun terkadang, setelah itu kita juga nggak tahu apa gunanya mempelajari hal itu. Well, kegunaannya: agar bisa membuat bule-bule itu terkagum-kagum ketika kita bisa menjelaskan banyak hal.
Orang-orang asing yang berbahasa Inggris sering kali kagum dengan kemampuan kita berbicara menggunakan bahasa mereka. kita bisa berbicara menggunakan bahasa Inggris, sebaliknya belum tentu mereka bisa bicara dengan bahasa kita. Itu sudah jadi poin plus buat kita,loh, di mata mereka. belum lagi ternyata kita juga meguasai bahasa lain selain Inggris. Karena merasa bahasa mereka bahasa internasional, orang-orang asing itu seringkali menganggap nggak perlu mempelajari bahasa lain. Toh, orang dari Negara lain mempelajari bahasa mereka. Hal itu disadari mereka membuat mereka kurang memerhatikan kemampuan berbicara dengan bahasa selain Inggris.
Pelajar Indonesia juga dikenal ulet dan rajin. Pekerjaan yang biasanya dikerjakan tiga orang, mampu diselesaikan seorang pelajar Indonesia dengan sangat baik dan tepat waktu. Waktu, di Holiday Inn, hotel tempat bekerja selama musim panas, pemiliknya pernah menjamu semua pelajar Indonesia yang bekerja di hotelnya makan siang di restoran cina. Dalam kesempatan itu juga, Mr. Cooper bilang, undangan makan siang ini sebagai bentuk penghargaan dan terima kasihnya kepada pelajar-pelajar Indonesia yang bekerja dengan sangat baik selama musim panas. Padahal, selain pelajar dari Indonesia, masih ada pelajar dari Negara lain yang bekerja disana. Acara hari itu pun, pertama kalinya dalam sejarah holiday Inn, Cherokee, seorang pemilik menjamu pelajar internasional yang bekerja di hotelnya sebagai bentuk penghargaan dan terima kasih.
Orang Indonesia juga terkenal kreatif. Di Amerika, orang-orangnya terbiasa menggunakan barang yang mereka beli hanya satu kali. Kalau rusak ya dibuang dan beli baru lagi. Misalnya, ban sepeda. Kalau ban sepeda mereka bocor, biasanya mereka akan membeli ban baru dan menggantinya. Mereka nggak mengenal sistem tambal ban. Kawan saya yang asli Amerika pernah terlongo-longo waktu mendapati saya dan kawan saya yang juga berasal dari Indonesia sedang memperbaiki ban sepeda saya yang bocor. Begitupula ketika mereka mendapati, pelajar Indonesia bisa memperbaiki radio atau alat listrik yang rusak. Buat mereka, kalau sudah nggak bisa berfungsi, buang dan beli yang baru. Orang kita? Kalau masih bisa dibenerin dan dipakai, kenapa harus dibuang. Lumayan kan duitnya bisa dihemat!