Yuk Hitung Biaya Hidup yang Kamu Perlukan Selama Kuliah di Luar Negeri

70Kuliahldiuarnegeri Demi kuliah di kampus idaman, banyak orang yang harus merantau ke luar kota bahkan luar negeri. Alhasil, kamu harus menghitung biaya hidup selama kuliah, mulai tempat tinggal, makan, hingga transportasi. Walaupun biaya kuliah luar negeri super mahal, pastinya banyak diantara kamu yang pengen menuntut ilmu setinggi-tingginya. Orangtua kamu juga pastinya menilai pendidikan merupakan bekal paling berharga yang bisa mereka siapkan untuk kamu. Bicara soal menyiapkan pendidikan tinggi, pemilihan jurusan dan universitas adalah hal yang mutlak. Jangan sampai minat, ambisi, dan kemampuan kamu berseberangan dengan perguruan tinggi yang kamu impikan. Setelah urusan pemilihan kuliah selesai, kebutuhan hidup semasa kuliah juga jangan luput kamu siapkan. Apalagi, jika kamu kuliah di luar negeri. Kebutuhan seperti tempat tinggal, makan, dan transportasi menjadi biaya yang harus kamu masukkan selain keperluan akademis. Nah, agar itung-itungan biaya yang kamu persiapkan lebih cermat, berikut ini kita bakal kasih gambaran biaya hidup di sejumlah kota di luar negeri. Check em’ out! 1. London, Inggris why-london-hero-shot Sebagai ibukota Negara, biaya hidup di London relatif tinggi jika dibandingkan dengan kota-kota lain di Inggris. Untuk pengajuan visa living allowance aja di London, tarifnya £ 1.000. Bandingkan dengan kota lain di Inggris yang hanya £ 800. Tapi, Faldo Maldini, mahasiswa Imperial College London, mengatakan, besar kecilnya biaya hidup di London berpaling kembali pada gaya hidup masing-masing orang. Pengalaman dia, dengan perencanaan keuangan yang matang dan gaya hidup sederhana, banyak biaya yang bisa ditekan. Faldo yang juga Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) United Kingdom mencatat, tiap bulan dirinya menghabiskan £ 800, dengan perincian biaya transportasi £ 100, makan £ 300, dan akomodasi £ 400. Yang penting menjadi catatan, transportasi di Kota Menara Big Ben ini menerapkan system zonasi. Ada sembilan zona. Yang bersifat radial memusat ke zona satu. Transportasi, akomodasi, dan harga makanan juga terpengaruh sistem zonasi. Untuk daerah di zona satu, harganya jauh lebih mahal disbanding zona dua dan lainnya. Khusus tempat tinggal, secara garis besar terbagi menjadi akomodasi kampus dan non-kampus. Untuk akomodasi kampus, bentuknya asrama tapi bergantung pada level dan tingkatan. Makin luas kamar asrama, biayanya makin mahal. Sementara akomodasi nonkampus bisa berupa apartemen, flat, studio, atau rumah kontrakan. Tarifnya bermacam-macam, tergantung luas, fasilitas dan letaknya. Sekadar gambaran, untuk apartemen yang terletak di pusat kota, tarifnya sekotar £ 1.000-£ 2.000 per bulan. Yang perlu kamu perhatikan, di beberapa tempat tertentu ada pemilik tempat tinggal yang mensyaratkan request deposit bagi yang ingin menyewa. Jika ingin menekan biaya, sarannya adalah tinggal berkelompok. Jadi, bisa berbagi biaya tempat tinggal dan tagihan lain, seperti air, listrik, telepon, internet, dan pemanas. Faldo yang tinggal di flat bersama mahasiswa asal Indonesia lainnya mengeluarkan dana £ 380 per bulan untuk biaya tempat tinggal. Transportasi publik di London dikelola dengan baik dan professional. Ada dua jenis angkutan: bus dan kereta. Ada yang namanya Transport for London, transportasi milik pemerintah yang sangat memanjakan mahasiswa. Pasalnya, pemilik status student bisa bebas ke manapun di zona satu dan dua dengan biaya flat £ 84,1 sebulan. Kebutuhan makan juga sangat penting kamu cermati. Yang jelas, Faldo bilang, lebih hemat kalau masak sendiri. ‘Saya sering masak sendiri, jadi sebulan mungkin hanya akan habis £ 300,’ ujar Faldo. Khusus untuk fasilitas penunjang kuliah, seperti buku, fotokopi, dan jilid tugas, kebutuhan ini biasanya disediakan kampus. 2. Melbourne, Australia 930x421_TP_HQ_Melbourne Sejak dulu, Australia memang menjadi favorit pelajar Indonesia yang berminat kuliah ke luar negeri. Alasan utamanya, biaya hidup di negeri kangguru tak semahal di Inggris atau Amerika Serikat. Di Melbourne, terdapat banyak pilihan tempat tinggal yang terjangkau bagi mahasiswa. Mahasiswa asing biasanya menyewa kamar, flat, atau rumah. Harganya pun bervariasi. Makin dekat dengan pusat kota, ongkos sewanya lebih mahal. Leony Stephanie, mahasiswi Universitas Melbourne, bercerita, teman sekampusnya yang berasal dari Indonesia banyak bertempat tinggal di daerah Utara Melbourne. Alasannya, akses ke kampus yang mudah dan harga sewa relative lebih murah. Bagi mahasiswa muslim, area Utara Melbourne menjadi favorit lantaran banyak menyediakan bahan makanan dan restoran yang halal. Leony sendiri tinggal di daerah suburb Melbourne. Bersama seorang teman, dia menyewa flat dua kamar. Tarif sewanya A$ 1.300 per bulan namun belum termasuk tagihan air, listrik, gas, serta internet. Soal transportasi, mahasiswa bisa menggunakan kereta dan bus atau tram. Untuk pengguna sistem tiket terpadu, Myki, biaya maksimal per hari A$ 7,16 per orang. Sebagai penggunaa transportasi public lebih dari 20 hari per bulan, biaya rata-rata yang Leony keluarkan untuk transportasi A$ 4,4 sehari. Untuk makan, jika memasak sendiri hanya membutuhkan budget A$ 7 per hari, sedang membeli makanan jadi sekitar A$ 15. Di Melbourne juga terdapat rumah makan Asia yang menyediakan makanan dengan harga terjangkau. Porsi makanan di Australia juga dua kali lipat porsi makanan di Indonesia, sehingga banyak mahasiswa yang membeli makanan jadi untuk dimakan dua kali. Soal biaya kesehatan juga harus kamu perhitungkan. Soalnya, pemerintah Australia mewajibkan mahasiswa asing memiliki asuransi kesehatan, namanya Overseas Student Heath Cover (OSHC). 3. Seoul, Korea 930x421_TP_HQ_Melbourne Korea Selatan mulai dilirik mahasiswa internasional sebagai tujuan kuliah. Selain banyak universitas berkualitas, beasiswa di negeri ginseng juga lebih mudah dibanding AS atau Eropa. Sayang, kebutuhan hidup di Korea tergolong tinggi. Untuk tempat tinggal, ada pilihan asrama dan one room. Jika ingin irit, sebaiknya pilih asrama dengan tarif sewa 150.000 won-250.000 won per bulan. Sedangkan tarif one room berkisar 200.000 won-350.000 won tergantung lokasi dan luas kamar. Havid Aqoma Khoiruddin, mahasiswa Universitas Kookmin, menjelaskan, kelebihan one room ada pada privasi, ketenangan, dan fasilitas penunjang seperti mesin cuci. Makanan menjadi kendala bagi mahasiswa Indonesia yang kuliah di Korea. Rata-rata keluhan dating lantaran sulitnya memperoleh makanan halal. Havid sendiri memilih masak sendiri dengan biaya 150.000 won per bulan, jauh lebih murah disbanding makan di kantin kampus atau restoran yang bisa menguras kocek 3.000 won-5.000 won sekali makan. Untuk mengatasi tingginya biaya hidup, Havid memangkas biaya transportasi dengan mencari tempat tinggal yang bisa menjangkau sejumlah tempat dengan berjalan kaki. Tapi, di Seoul terdapat banyak pilihan transportasi publik, mulai bus, subway, hingga kereta cepat. Karena tetap harus naik angkutan umum ke kampus, dalam sehari, Havid mengeluarkan ongkos sekitar 1.050 won. Untuk kebutuhan pendidikan seperti buku dan modul hingga fotokopi, keperluan itu disuplai perpustakaan kampus. ‘Semuanya bisa diakses dengan gratis,’ ungkap Havid. Gimana nih guys? Udah cukup jelas kan akan gambaran biaya hidup yang perlu kamu keluarkan untuk kuliah di luar negeri? Semoga artikel ini bermanfaat yah buat kamu yang berencana kuliah di luar negeri. SUMBER: Kontan, Edisi Mei 2014. Ada hal yang ingin anda tanyakan ?  Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami

Published by

Tinggalkan Balasan