2 Ahli Teknologi Muda Asal Australia yang Menjadi Miliarder

Atlassian_featureimg-e1397082261612
Scott Farquhar (kiri) dan Mike Cannon-Brookes, co-founders dan co-CEOs Atlassian. (Credit: Atlassian)
Scott Farquhar dan Mike Cannon-Brookes adalah miliarder terbaru Australia setelah perusahaan perangkat lunak mereka, Atlassian, mengumumkan bahwa pihak mereka telah menutup putaran pendanaan perusahaan mereka yang memiliki nilai sebesar $ 3,3 miliar. Farquhar dan Cannon-Brookes, yang keduanya berumur 34 tahun dan mendirikan perusahaan ini dua belas tahun lalu, tidak menjual saham apapun dalam putaran pendanaan terakhir, yang berarti diperkirakan kepemilikan 1/3 saham masing-masing di perusahaan tersebut bernilai sekitar $ 1,1 miliar. Para pemegang saham menjual kesepakatan antara karyawan dan mantan karyawan, termasuk Accel Partners, yang menginvestasikan $ 60 juta pada perusahaan di tahun 2010 dengan valuasi sebesar $ 400 juta, menurut Wall Street Journal. Atlassian mengkhususkan diri dalam pengembangan perangkat lunak bisnis online seperti Jira, produk yang membantu perusahaan-perusahaan mengelola proyek dan alur kerja bagi perkembangan mereka dan tim IT mereka. Layanan ini digunakan oleh lebih dari 35.000 perusahaan di seluruh dunia, termasuk jajaran perusahaan dari kelas berat seperti BMW, American Airlines, Cisco, Facebook dan Citigroup. Kedua pendiri yang merupakan programmer, bertemu saat kuliah di University of New South Wales di Sydney pada tahun 2000-an. Mereka magang sebelum lulus dan menolak untuk terikat dengan lingkungan kerja perusahaan. Pada tahun 2002, mereka akhirnya memutuskan untuk memulai usaha sendiri. Rencana pertama mereka yaitu menjadi third-party support untuk sebuah perusahaan dari Swedia gagal total. Tapi langkah selanjutnya yang mereka ambil, yaitu crafting software yang memungkinkan pengembang untuk melacak tugas dan kerusakan dalam proyek-proyek mereka, akhirnya menjadi JIRA. Metode pembiayaan awal mereka? Mereka membuka akun kartu kredit sebesar $ 10.000. Berbeda dengan model raksasa seperti Oracle atau bahkan Workday atau Box, Atlassian memilih untuk meminimalkan biaya dengan tidak berinvestasi dalam staf penjualan atau pemasaran, dan justru fokus pada penelitian dan pengembangan. Mereka hanya menjual produk mereka dengan harga yang kompetitif di website. “Kami merasa jika kita bisa menjual sesuatu dengan harga yang wajar dan menjualnya di internet maka kita akan mampu untuk menemukan pasar di sana, dan hal itulah yang biasanya berhasil, “kata Farquhar. Seperti banyak pemula bisnis, penjualan awal biasanya dimulai dari teman teman terdekat dan kenalan. Tetapi kedua pemuda ini tahu bahwa bisnis ini akan berkembang pesat. Sudah 12 tahun bisnis ini terus menerus tumbuh secara pesat sejak, sekarang bisnis ini memiliki pendapatan sebesar $ 200.000.000 per tahun. Perusahaan ini memiliki kantor pusat utama di Sydney dan San Francisco serta kantor-kantor di Amsterdam, Yokohama dan Manila. Perusahaan ini berencana untuk menambah 30% jumlah karyawan yang sudah ada sekarang, yaitu sebanyak 800 karyawan. “Sejak awal tujuan kami adalah untuk membangun sebuah perusahaan jangka panjang. Kami ingin membangun sebuah perusahaan yang akan bertahan seiring waktu berjalan, “kata Farquhar. “Itulah mengapa kita menghabiskan banyak waktu pada budaya perusahaan.” Salah satu nilai yang diterapkan di Atlassian adalah “Open Company, No Bullshit” – yang menekankan pada transparansi dalam perusahaan serta ketertarikan untuk tidak pernah mengecewakan pelanggan. Tapi mungkin nilai yang paling penting adalah “Be the Change You Seek,” yang menurut Farquhar adalah kunci untuk membangun sebuah perusahaan yang akan terus beradaptasi dan berkembang 50 tahun dari sekarang. “Cara perusahaan gagal adalah mereka tidak membuat perubahan. Orang tidak merasa diberdayakan untuk melakukan perubahan, “kata Farquhar. Ada hal yang ingin anda tanyakan ?  Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .

Email:  info@konsultanpendidikan.com

Alamat Lengkap Kami

Published by

Tinggalkan Balasan