Sebenarnya setiap orang bisa dibilang punya masalah dengan psikologis, hanya saja kadarnya berbeda-beda pasa setiap individu.
Hal seperti ini juga berlaku pada mahasiswa. Dalam suatu studi yang diadakan the guardian, dimana peneliti meminta para mahasiswa untuk berbagi kisah tentang masalah psikologi, studi tersebut berhasil mengumpulkan lebih dari 200 cerita tentang masalah kesehatan mental dari para mahasiswa hanya dalam kurun waktu 5 hari!
Di sini beberapa kisah tersebut akan diungkapkan sehingga diharapkan akan membantu mereka yang memiliki masalah sama.
Percayalah, jika kamu merasakan memiliki masalah yang sama, kamu tak sendirian di dunia. Ada orang lain sepertimu. Dan akan ada yang bisa menolongmu.
Studi yang awalnya dijadwalkan dilakukan selama 2 minggu ini akhirnya diakhiri lebih cepat karena peneliti kewalahan akan data yang diterimanya.
Setiap pagi mereka mendapati kisah-kisah baru yang lebih banyak dari para mahasiswa yang membuka diri dan menceritakan masalah psikologis mereka.
Banyak mahasiswa yang berbagi cerita tentang depresi, kegelisahan, melukai diri sendiri (self-harm) dan bahkan pikiran untuk bunuh diri. Beberapa diantaranya membicarakan bahwa mereka mengidap penyakit mental seperti compulsive disorder dan bipolar disorder, serta akibat yang mereka dapatkan dalam hubungannya dengan pendidikan mereka.
Dan saat ada yang menyinggung masalah yang agak langka seperti borderline personality disorder, para mahasiswa ini menyampaikan kebingungan mereka tentang masalah kejiwaan yang satu ini dan apa yang sebenarnya mereka sedang alami.
Yang lainnya menyampaikan rasa malu yang mereka rasakan jika mereka meminta bantuan. Beberapa di antaranya masih belum terdiagnosa sejara jelas tapi dengan jelas menunjukkan tanda-tanda yang menjurus pada masalah psikologis juga.
“Setiap malam aku tak bisa tidur dan selalu menangis” adalah kalimat yang sering dijumpai dalam kisah dari banyak mahasiswa ini.
Tak ada seorangpun yang mengatakan kalau menjadi mahasiswa itu sulit. Yang kamu dengar justru semua kisah menarik dan kebebasan pertemanan dalam suasana yang menyenangkan—tak ada secuil pun kisah tentang kesepian atau kekecewaan.
Salah seorang mahasiswa yang enggan disebut namanya mengatakan bahwa sebagai seorang yang baru masuk kuliah, mahasiswa tahun pertama selalu diingatkan bahwa tahun pertama kuliah merupakah sebuah momentum. Dan saat mereka merasa bahwa tahun-tahun pertama kuliah seperti moment terburuk dalam hidup maka mereka cenderung akan merasa tertekan oleh rasa bersalah dan akhirnya justru membuat diri berpikiran negatif.
Mahasiswa yang lainnya menyatakan bahwa dia menghabiskan beberapa minggu di universitas dengan bersembunyi di asrama sambil menangis hingga matanya bengkak. Dia begitu rindu rumah dan tak yakin bahwa dia telah mengambil keputusan yang benar dengan kuliah di universitas yang bersangkutan.
Masalah psikologis bisa berawal dari masa kanak-kanak, dan banyak mahasiswa yang mengungkapkan cerita tentang depresi atau self-harming yang kemudian bertahan hingga mereka memasuki bangku kuliah. Dan kehidupan baru di universitas menambahkan tekanan pada kondisi mental yang sejak awalnya sudah bermasalah itu.
Salah seorang di antara mahasiswa yang berpartisipasi dalam studi ini mengungkapkan bahwa depresi dan kegelisahannya telah bermula sejak ia belum masuk ke universitas, tapi tinggal jauh dari rumah, berada di lingkungan yang membutuhkan banyak biaya dan menjadi bagian sebuah universitas besar dengan berbagai tekanan yang ada membuatnya benar-benar seperti terhimpit.
Yang lainnya lagi mengatakan bahwa mereka merasa seperti terkucil dan serba tidak pasti. Ada yang merasa sesak dan tersiksa tapi tidak tahu bagaimana cara mengatasinya sementara orang-orang di sekitar mereka mengatakan bahwa mereka hanya gelisah biasa.
Berusaha untuk tetap belajar dengan baik sementara dalam diri mengalami masalah atau tekanan psikologis merupakan suatu hal yang sangat sulit. Kepanikan yang diikuti depresi sering mengakibatkan seseorang seperti kehilangan kendali. Dan saat tekanan ini memuncak, segalanya terasa menjadi sangat buruk.
Para mahasiswa mengungkapkan suatu kesamaan pendapat akan dukungan yang diberikan pihak kampus cukup membantu mereka –hanya jika mereka bisa menggunakan dukungan itu. Setelah menderita kegelisahan akut, salah seorang mahasiswa ada yang memutuskan untuk menghubungi pihak konseling yang disediakan universitas tempatnya belajar.
Mereka yang kemudian memberanikan diri untuk memanfaatkan jasa konseling kampus merasa jauh lebih baik setelah mereka mengungkapkan semua masalah psikologis yang mengganggu mereka kepada terapis.
Meskipun kesembuhan total tidak langsung secara cepat didapatkan, namun para mahasiswa yang telah memanfaatkan konseling kampus mengaku bahwa mereka sudah lebih merasa lega saat ada orang lain yang bisa mengerti keadaan mereka alih-alih menyuruh mereka untuk mengabaikannya.
Masalah psikologis bukanlah sesuatu yang memalukan. Jadi jika ada di antara kalian yang merasakan sindrom-sindrom atau gejala seperti kepanikan, kegelisahan atau kesedihan yang tak wajar, perubahan mood yang sangat tidak stabil, perasaan kesepian yang menyesakkan, merasa terkucil dan sebagainya yang berhubungan dengan emosi dan kejiwaan, jangan pernah merasa sungkan untuk berbagi cerita dengan pakarnya.
Adalah sesuatu yang awajar bagi setiap orang untuk merasa aneh atau bermasalah dengan dirinya sendiri. Jangan ragu untuk mendatangi konseling di kampus atau di tempat lainnya karena ini benar-benar diperlukan supaya kamu tidak makin tersiksa. Karena itu, kenali dirimu lebih baik dan yakinlah bahwa setiap masalah ada jalan keluarnya.
Ada hal yang ingin anda tanyakan ? Jangan ragu , silahkan hubungi kami . Konsultasi dengan kami gratis .
Email: info@konsultanpendidikan.com
Published by