
Menurut data baru yang dirilis oleh UNESCO, jumlah mahasiswa internasional yang berpindah-pindah mencapai hampir 6,9 juta pada tahun 2023, menandai peningkatan sebesar 228% dari 2,1 juta mahasiswa pada tahun 2000.
Data UNESCO menunjukkan bahwa Eropa dan Amerika Utara terus menjadi tujuan pilihan utama. Dengan menampung 4 juta mahasiswa internasional pada tahun 2022, kedua kawasan tersebut mencakup lebih dari setengah dari total mahasiswa dunia.

Porsi mahasiswa internasional dalam total pendaftaran perguruan tinggi juga meningkat, dari 2,1% pada tahun 2000 menjadi 2,7% pada tahun 2022, yang menggarisbawahi meningkatnya internasionalisasi sistem pendidikan tinggi di seluruh dunia.
Menurut UNESCO, lebih banyak mahasiswa yang terdaftar di pendidikan tinggi sekarang daripada sebelumnya. Pendaftaran pendidikan tinggi global terus meningkat dengan 264 juta mahasiswa pada tahun 2023, dengan jumlah mahasiswa di pendidikan tinggi di seluruh dunia meningkat lebih dari dua kali lipat selama 20 tahun terakhir, meningkat dari 19% pada tahun 2000 menjadi 43% pada tahun 2023.
Namun, data UNESCO menyoroti ketidaksetaraan yang signifikan dalam akses ke pendidikan tinggi, dengan tingkat pendaftaran berkisar dari 79% di kawasan dengan kinerja tertinggi Eropa dan Amerika Utara hingga hanya 9% di Afrika Sub-Sahara, berdasarkan data tahun 2021.

UNESCO juga melaporkan bahwa jumlah perempuan di jenjang pendidikan tinggi di dunia kini lebih banyak daripada laki-laki. Sejak 2015, proporsi mahasiswa perempuan meningkat di semua kawasan. Pada 2023, terdapat 113 perempuan yang terdaftar di jenjang pendidikan tinggi untuk setiap 100 laki-laki.
Asia Tengah dan Selatan telah membuat kemajuan pesat, meningkatkan rasio perempuan terhadap laki-laki di jenjang pendidikan tinggi dari 68 perempuan per 100 laki-laki pada 2000 menjadi mencapai kesetaraan gender pada 2023.
Sebaliknya, Afrika sub-Sahara tertinggal, dengan hanya 78 perempuan yang terdaftar untuk setiap 100 laki-laki di jenjang pendidikan tinggi.
Laporan tersebut menyoroti kesenjangan mencolok lainnya, dengan data UNESCO yang menunjukkan bahwa pendaftaran pengungsi di pendidikan tinggi tetap sangat rendah antara tahun 2000 dan 2023. Hingga Oktober 2023, hanya 7% pengungsi yang terdaftar.
Hambatan utama bagi pengungsi untuk mengakses pendidikan tinggi dan pekerjaan adalah kurangnya pengakuan atas kualifikasi mereka sebelumnya.
Angka terbaru UNESCO telah dirilis bertepatan dengan Konferensi Antarpemerintah tentang Konvensi Global tentang Pendidikan Tinggi, yang berlangsung di Markas Besar UNESCO di Paris pada tanggal 24-25 Juni.
Sumber: thepienews
Email: info@konsultanpendidikan.com
Published by